Dara terbaring lemas di tempat tidur. Sudah satu bulan ini kondisinya drop. Sejak dinyatakan positif hamil oleh dokter, dia bed rest total. Jangankan bangun, berjalan saja dia tidak mampu. Sama seperti kehamilan dulu, hanya saja statusnya sekarang berbeda. Dia sudah tak lagi bekerja karena Dewa meminta untuk berada di rumah. "Pijat, Bu," katanya dengan manja. Sudah dia hari ini juga ibu menginap untuk menemani putrinya. Dewa menjadi semakin sibuk sejak dipindahkan. Dia dipercayakan oleh Mr. William untuk mengelola kantor konsultan miliknya. Bukan hanya dia sendiri, tapi ada beberapa orang yang dikirim kembali ke Indonesia. Penghasilan yang sekarang juga belum sebesar pekerjaan yang sebelumnya. Boleh dibilang, Dewa memulai semua dari nol. Namun, dia menyukuri hal itu. Baginnya harta yang paling berharga adalah keluarga. "Kamu ini tiap hamil manja banget," kata Ibu. "Kalau pusing ya mau gimana lagi, Bu. Bukan sengaja begini," keluhnya. Harusnya Dara tidak boleh banyak mengeluh, tapi memang tubuhnya terasa tidak nyaman. "Kamu mau makan apa?" tanya ibu dengan sabar. Wanita itu menggeleng. Jika hamil pertama dia masih bisa memasukkan beberapa jenis makanan ke dalam mulut, kali ini sama sekali belum bisa. "Mau bubur?" Lagi-lagi dia menggeleng. "Mau Mas Dewa," lirihnya. "Suamimu lagi kerja. Nanti tunggu pulang," jawab ibu. "Mau sekarang, Bu," rengeknya seperti anak kecil. "Astagfirullah, kamu ini. Sudah tidur lagi saja. Pejamkan mata pelan-pelan," usul ibu. Dara melakukannnya. Lama kelamaan dia benar terlelap. Ibu mengusap dada tanda lega. Sejak putrinya mengalami gejala ini, wanita paruh baya itu tinggal disini atas permintaan menantunya. Bibik sudah tidak mau kembali dan memilih untuk tinggal di desa, menghabiskan masa tua bersama keluarga. Ibu berjalan menuju dapur. Sebentar lagi bapak akan datang bersama Ciara, jadi dia akan memasak untuk makan siang mereka. Tangan tua itu membuka kulkas dan mengmbil beberapa bahan. Dengan cekatan ibu membersihkannya di keran air yang mengalir deras. Kepiting, cumi, udang, dan juga kerang. Semua akan diolah menjadi seafood saus asam manis. Tak lupa memotong jagung sebagai tambahan. Harum aroma bawang putih tercium di seluruh dapur saat proses penumisan. Perpaduan mentega dan bumbu-bumbu membuat rasanya menjadi sempurna. "Makan, Bu. Laper." Dara datang dan duduk di kursi makan. Itu membuat Ibu menjadi kaget. Termyata aroma bumbu yang ditumis membangunkannya. Biasanya wanita itu akan mual mencium aroma seperti ini, namun ketika melihat ada kepiting di dalam penggorengan, seleranya tiba-tiba saja muncul. "Kamu gak mual?" "Gak. Kayaknya kepiting enak." Dara mengusap perutnya yang masih datar. Jika kehamilan dulu dia sangat suka makan es krim, kehamilan yang ini berbeda. "Tunggu sebentar, sedikit lagi matang. Masih dikeringkan bumbunya biar meresap." Ibu kembali mengaduk isi panci. Setelah dirasa cukup, kini di hadapan Dara tersaji sepiring besar seafood saus asam manis. Tangan mungil itu mulai menyendok satu persatu, mengambil kerang dan udang. Begitu menyentuh lidah, Dara langsung melahapnya dengan cepat hingga satu porsi habis dalam sekejap. Ibu menggelengkan kepala melihat itu dan melanjutkan menggoreng ayam kesukaan Ciara. "Assalamualaikum." Terdengar suara Bapak memberi salam. "Waalaikumsalam." Ibu meletakkan sendok penggorengan dan membuka pintu. Dara sendiri tetap cuek dan melanjutkan makan. "Masak apa, Bu? Harum banget baunya." Bapak masuk ke dapur sambil menggandeng Ciara. "Ada kepiting, ada ayam goreng." "Cia mau, Nek." "Ganti baju dulu baru makan." Anak itu berlari ke kamar dan mengganti baju sendiri. Semakin hari Ciara semakin mandiri karena didikan Dara, walaupun ada beberapa hal yang masih tetap dibantu. Empat orang itu duduk di meja makan dan menikmati sajian. Setelah selesai, Dara langsung mencuci tangan dan masuk ke kamar. Lagi-lagi ibu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya. "Mama. Main, yuk!" Ciara mengetuk pintu kamar Dara namun tak ada jawaban. "Mama lagi tidur. Cia main sama Nenek, yuk," bujuk Ibu. "Cia mau sama Mama," rengeknya. "Mama lagi kurang sehat. Kan ada dedek bayi di perut. Jadinya lemes," jelasnya. "Dedek jahat, bikin mama sakit," katanya. Ibu tersenyum, lalu mencoba menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. Akhirnya Ciara tidak jadi merajuk dan main bersama nenek. *** Dara menggeliat saat merasakan ada sentuhan di pipinya. Wanita itu membuka mata dan nampaklah sang suami sedang menatapnya dengan mesra. "Pules banget tidurnya," kata Dewa kembali mengusap wajah istrinya. "Habis makan kenyang." "Enak?" "Iya. Nambah dua kali," jawabnya. Dewa tergelak lalu berbaring di samping istrinya. "Besok mas kan libur. Kita mau jalan apa di rumah aja?" "Di rumah. Aku gak bisa bangun." Setitik air mata menetes. Ingin mengeluhkan tubuhnya yang payah namun tak boleh terlalu sering. "Sabar, Sayang. Nanti kalau dia lahir, kita juga yang bahagia," kata Dewa. Dara mengangguk lalu memeluk suaminya erat. Jika kehamilan sebelumnya dia tak suka berdekatan dengan Dewa. Kali ini berbeda. Dia malah tak mau berjauhan dengan sang suami. Bahkan jika perlu Dewa tak usah bekerja setiap hari. Jika hari libur, maka Bapak dan Ibu akan pulang. Sehingga tinggal mereka bertugas di rumah. "Gimana kerjaan, Mas?" "Lancar. Cuma ada beberapa kendala. Namanya perusahaan baru, kami semua harus beradaptasi. Persaingan ketat," jelas Dewa. Tak mudah baginya untuk memulai semua. Dulu dia bekerja sendiri bersama rekan-rekan. Kini, harus ikut dengan orang lain dan bekerjasama dengan rekan baru. "Aku kangen ngajar." "Nanti kalau adek sudah lahiran, kamu boleh kerja lagi. Sekarang, dijaga dulu jangan sampai lepas kayak dulu." Dewa mengeratkan rengkuhannya. Rasanya begitu nyaman berada di pelukan sang istri. "Iya, Mas. Semoga dia lahir dengan selamat." Wanita itu mengusap perutnya. Melihat itu Dewa ikut melakukan hal yang sama. Mereka berdua tersenyum senang. "Mas kangen mamanya adek. Boleh gak, ya?" Kedipnya menggoda. Dara memukul bahu suaminya, sedangkan Dewa tergelak senang. Tawa mereka terhenti saat terdengar ketukan di pintu. Laki-laki itu bangun dan mendapati putrinya berdiri dengan wajah cemberut. "Cia mau main sama mama." Dewa menggendong putrinya masuk dan menaikkannya ke ranjang. Dara memeluk Ciara. "Maaf ya, Sayang. Mama bukannya gak mau. Tapi badan mama gak enak." "Kalau gitu, Cia main sama papa. Mama liatin aja," katanya. Dewa yang baru pulang bekerja menjadi sasaran kuda-kudaan oleh Ciara. Mau tak mau dia menuruti karena selama lima hari full bekerja dari lagi hingga malam. Dua hari ini dia akan membagi waktu untuk keluarga. "Alhamdulillah Ya Allah. Puji syukur atas rahmat dan karunia-Mu." Dara menatap dua orang yang dia sayangi itu dengan rasa haru sambil mengusap perut. Berdoa agar kelak sang buah hati lahir dengan selamat dan sehat. *** Bunyi tangisan bayi menggema di ruangan bersalin. Dara terlihat lemas setelah melahirkan anak keduanya. Jika dulu berjenis kelamin laki-laki, yang ini perempuan. "Lucunya adikku," kata Ciara sambil mencium bayi mungil itu. "Mirip mama ya, kan?" kata Dewa. "Mirip siapa aja yang penting sehat," kata Dara. "Kita kasih nama siapa?" tanya Dewa sambil mengusap helai ranbut istrinya yang basah karena peluh yang bercucuran. "Sarah Laurania," ucap Dara dengan senyum di bibir. Dewa tersentak dan tak menyangka jika istrinya akan menamai putri mereka dengan gabungan dua nama itu. Setitik air matanya menetes karena haru yang membuncah di dada. Sejak mereka mengetahui jenis kelamin di usia kandungan 24 minggu, Dara terlihat tenang dan tak sibuk mencari nama, seperti lazimnya ibu-ibu yang euforia menyambut kelahiran bayinya. Ternyata diam-dia. Dia sudah menyiapkan. "Makasih, Sayang." Dewa mengecup lembut bibir yang pucat itu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Muncullah orang tua mereka yang datang bersamaan. Dara mengalami kontraksi saat tengah malam, karena Dewa merasa panik jadinya dia langsung membawa istrinya ke rumah sakit bersama Ciara dengan menggunakan taksi. Setelah lahiran, barulah dia memberi kabar, namun keluarga mereka sepertinya masih tertudur. Itu terbukti dari telepon yang tidak diangkat dan pesan yang belum terbaca. "Aduh, cucuku." Kedua ibu saling berebutan ingin mengendong. Begitu juga dengan kedua bapak yang memberikan selamat. "Selamat, Wa." Arya memeluk adiknya. "Kapan nyusul, Bro?" "Doakan secepatnya. Tinggal lamaran," jawab Arya. Mereka lalu duduk di sofa. Dewa menceritakan dari awal kontraksi hingga proses persalinan. Suara riuh, camda dan tawa terdengar di ruangan itu. Hari yang dinanti telah tiba. Semua orang berbahagia.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (852)
saputraIndri
baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍
semangat terus yaa Thor 💪💪
26/06/2022
3
Anandita Kurnia
ceritanya bagus
10/07
0
Sumira
suka sekali dengan cerita novela nya bagus alir ceritanya ....
baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍 semangat terus yaa Thor 💪💪
26/06/2022
3ceritanya bagus
10/07
0suka sekali dengan cerita novela nya bagus alir ceritanya ....
05/07
0Lihat Semua