Bab 31 Kembali

Dara terpekur di makam itu dengan sebuah Buku Yaasin di tangan. Sejak tadi dia melantunkan ayat-ayat dengan merdu di depan batu nisan bertuliskan nama adiknya, Asyifa Laura.
Bersama Ibu, Bapak juga Ciara, mereka berkunjung kesini. Lama dia tidak datang, sejak musibah beruntun menimpa keluarga mereka. Ketika dia tiba di tanah air setelah bertemu dengan Dewa, Dara memutuskan untuk pergi ziarah.
Ciara menaburkan bunga di makam 'mamanya'dan memeluk batu nisan dengan mengucapkan kata-kata rindu. Bagaimanapun juga, Laura pernah ada dan cukup lama mengisi hari-hari anak itu.
"Ayo kita pulang. Udah sore," ajak ibu.
"Bapak ibu duluan. Aku masih mau disini sebentar," katanya.
"Kalau gitu kami nunggu di pintu gerbang," kata bapak.
Kini tinggalah dia sendiri. Dara mengusap batu nisan dan memeluknya, sama seperti yang Ciara ucapkan tadi. Ada rasa rindu yang mendalam kepada mendiang adiknya. Dulu mereka saling berbagi cerita dan canda.
Lama dia termenung, lalau akhirnya berucap. "Dek. Maafin kakak kalau ada salah."
Hanya itu yang dapat dikatakannya, kemudian kaki kecil itu berjalan meninggalkan komplek pemakaman.
"Sudah?" tanya ibu.
"Sudah, Bu," jawab Dara.
"Ibu pikir mau lama."
"Mau lama ngapain, Bu. Masa aku ngobrol disana. Lebih baik bacakan Surah Yaasin sama Infaq buat Laura kalau asa rezeki," katanya.
"Mama ayo pulang. Ciara lapar."
"Pulang ke rumah nenek, ya."
"Tapi besok Cia sekolah. Nanti gak ada baju," katany dengan polos sambil menatap sang nenek.
"Mama udah bawain baju. Kita malam ini nginap di rumah nenek. Tapi besok harus bangun pagi. Kan jaraknya jauh kalau mau ke sekolah. Oke?"
Tos!
Anak itu setuju dan menganggguk senang. Dia menggandeng lengan bapak dan berjalan sambil bernyanyi menuju parkiran motor. Sejak Dewa tidak ada, Ciara selalu senang jika ada sosok laki-laki lain yang memanjakannya, seperti Bapak atau Arya.
Namun sekarang kakak iparnya sudah semakin sibuk semenjak memiliki kekasih baru. Anita, bidan yang lembut dan santun dalam berbicara telah mencuri hatinya. Dan Dara mengucap syukur akan hal itu.
"Nenek masak apa?" tanya anak itu sambil melirik ke samping. Sekarang dia bergandengan tangan dengan nenek dan kakeknya.
"Ikan goreng sama sayur bening bayam," jawab ibu.
"Cia gak suka ikan," katanya kecewa.
"Tapi ikan yang nenek goreng rasanya enak, loh. Pakai bumbu lengkap."
Lalu pertanyaan itu terus menglir dari bibir mungil Ciara dan dijawab oleh ibu dengan sabar. Dara mengucap syukur akan hal itu. Sekalipun dia berjauhan dengan Dewa, masih ada orang tua yang sehat dan mendampingi.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Tunggu aku pulang." Begitulah yang Dewa ucapkan saat mengantarnya di bandara.
Dara memeluk tubuh itu dengan erat, rasanya tak mau berpisah. Tiga hari disana sangat berarti untuknya. Dewa berjanji akan pulang secepatnya.
"Jangan ngelamun bawa motor, Nak." Ibu menegurnya karena Dara sejak tadi tak menyalakan mesin.
"Iya, Bu."
"Ayo jalan."
Dua motor itu melaju ke daerah pinggir kota. Sepanjang perjalanan Ciara menyanyi untuk mengusir rasa kantuk. Motor bapak mengikuti dari belakang, khawatir jika Dara termenng lagi.
Sesampainya di rumah, Ciara langsung berlari dan duduk duluan di kursi teras sambil menunggu ibu membuka pintu.
Dara membuka jaket dan meletakkan helm di cantelan motor. Sementara itu bapak mengunci pagar. Mereka masuk ke dalam bersama-sama.
Rasanya sudah lama dia tidak datang ke rumah ini. Dara disibukkan dengan banyak kegiatan sehingga jarang menjenguk orang tuanya. Dengan tidak adanya Dewa, mungkin itulah jalan baginya untuk kembali mengurus bapak dan ibu yang semakin menua.
"Ayo Ciara mandi. Kan habis dari makam. Terus nanti kita makan. Nenek mau bikin sayur," kata Ibu.
Dara membawa tas besar berisi baju ganti dan menggandeng putrinya masuk ke kamar. Saat melewati kamar Laura, dia menatapnya lama. Namun, belum berniat masuk. Perut mereka minta diisi lebih dahulu.
Selesai mandi, empat orang itu duduk di meja makan menghadap nasi yang masih mengebul. Aroma sambal terasi buatan ibu membuat bapak segera mengambil bagiannya.
"Masakan ibu memang gak ada lawan," puji Bapak.
"Memang enaaakkk!" Ciara memasukkan potongan ikan goreng ke dalam mulutnya.
"Hayo dihabiskan. Nanti nenek gorengkan lagi."
Dara menyendok cah kangkung dan menambah seekor ikan. Siang itu semua makan dengan lahap.
***
Jemarinya menyusuri semua foto yang terletak di meja. Foto mendiang Laura beserta anak dan suaminya. Dara meraihnya satu persatu dan memandang dengan cukup lekat.
Lalu dia mengembalikkannya ke tempat semula namun dengan posisi ditutup. Biarlah kebersamaan mereka menjadi kenangan karena dia yang akan melanjutkan hidup, seperti kata Dewa dulu.
"Dek. Maafkan kakak kalau ada salah. Kakak akan jaga sesuai permintaan kamu. Bukan cuma Dewa tapi juga Ciara." Dara menutup pintu dengan pelan.
"Loh, kamu disini?" tanya ibu yang membuatnya kaget.
"Ngeliatin kamar Laura, Bu," jawabnya.
"Ibu udah lama gak buka. Sedih tiap kali masuk ke situ."
"Ya dibuka jendelanya, biar udara masuk. Dibersihkan juga, biar gak pengap," saran Dara.
"Ya besok pagi," jawab wanita paruh baya itu, lalu berjalan ke dapur.
"Ibu mau makan lagi?" tanya Dara.
"Mau bereskan sisa tadi."
"Dara ikut. Pengen makan lagi. Tapi ikannya dibakar ya, Bu. Yang ungkepan masih ada?"
"Ada di kulkas. Ayo." Ibu meraih lengan putrinya dan menggandeng dengan erat.
Berdua mereka duduk di meja makan. Ibu menatap Dara yang makan dengan lahap sambil tersenyum.
"Kamu sekarang lebih berisi. Makannya juga banyak, gak kayak dulu."
"Udah gak mau mikir apa-apa, Bu. Jalani aja," jawabnya.
"Gimana hasil pertemuan kamu dengan Dewa?"
Dara menatap ibunya dengan lekat, memilih diam dan menyelesaikan makan dengan cepat. Lalu mencuci piring di wastafel kemudian duduk kembali.
"Mas Dewa mau bertahan disana dulu, Bu."
"Sampai kapan?"
"Belum tahu. Dia mau mencoba. Kalau gagal ya kembali," jelasnya.
"Kamu sanggup?"
"Insyaallah, Bu. Aku menghargai keputusannya. Walaupun rasanya berat. Orang tua Mas Dewa juga kan mampu, pasti bisa bantu modal usaha. Tapi dia gak mau," lanjutnya.
"Kalau begitu kamu haru kuat hati. Gak selamanya berpisah itu buruk. Bisa jadi nanti membawa banyak kebaikan."
Dara meraih jemari ibu dan menggengamnya erat.
"Maaf kalau aku selama ini sibuk dan kurang perhatian sama Bapak Ibu."
Wanita paruh baya itu tersenyum dan berkata, "Kamu kan sudah berkeluarga. Ya wajar. Ibu gak mempermasalahkan. Asalkan kalian sehat."
"Sementara Mas Dewa belum pulang, aku nginap disini tiap weekend, ya. Kangen ke pasar sama Ibu."
Wajah tua itu mengharu biru mendengar ucapan putrinya. Mereka berpelukan lama dan saling mengungkapan rasa sayang.

Komentar Buku (852)

  • avatar
    saputraIndri

    baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍 semangat terus yaa Thor 💪💪

    26/06/2022

      3
  • avatar
    Anandita Kurnia

    ceritanya bagus

    10/07

      0
  • avatar
    Sumira

    suka sekali dengan cerita novela nya bagus alir ceritanya ....

    05/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru