logo text

Bab 21 Bertemu Lagi

"Anak-anak demikian pelajaran kita hari ini. Jangan lupa tugas yang ibu berikan dikumpul minggu depan. Seperti biasa juga, bagi yang tidak mengerjakan maka akan membantu ibu mengoreksi tugas teman-temannya," ucap Dara tegas.
"Huuuu ...."
Terdengar riuh suara sebagian murid yang merasa keberatan dengan 'hukuman' yang Dara terapkan. Dia memang tegas tapi selalu dirindukan.
"Yang komplain nanti tugasnya double," katanya.
"Huuuu ...."
Dara melipat kedua tangannya di dada dan memandang satu persatu dengan galak.
"Kalau gue sih, mau aja dihukum kayak gitu. Asal bisa berduaan dengan Bu Dara," kata seorang siswa yang disambut dengan suara riuh oleh yang lain.
Wanita itu menarik napas panjang. Sekarang kalian bereskan buku.alu pergi ke aula. Jam pelajaran terakhir ditiadakan karena ada sosialisasi dari dinas kesehatan.
Kali ini suara sorak senang terdengar kencang. Sejak zaman Dara sekolah dulu, jika ada jam pelajaran yang ditiadakan, maka para murid akan senang termasuk dirinya. Karena itulah, sedikit banyak dia sudah mengerti.
"Ingat, yang tertib saat masuk aula. Sepatu dibuka. Yang kakinya bau lebih baik cuci dulu di toilet terus pakai sendal. Seluruh kelas akan ikut jadi kita lesehan di karpet." Begitulah pesannya.
Saat para murid sibuk memasukkan buku ke dalam tas, dia berpesan lagi. "Jangan ada yang terlambat. Jam 2 teng sudah berkumpul karena pintu akan ditutup. Ini penting untuk kesehatan kita semua."
Dara mengambil tas dan berjalan keluar dengan sedikit cepat. Dia tidak boleh terlambat karena para guru harus hadir duluan.
"Bareng, Ra."
Berdua Riri mereka berjalan menuju aula yang letaknya di samping. Sambil berjalan mereka bercerita. Paling sering tentang kelakuan murid yang bandel, hingga menghadapi murid yang nilainya anjlok.
Sesampainya di aula. Dara duduk di tempat yang sudah disediakan. Satu persatu para murid berdatangan, begitu pula dengan guru-guru.
Lalu suara MC terdengar. Tema yabg aakn diangkat dan dibahas dalam sssialisasi kali ini adalah mengenai pentingnya menjaga organ reproduksi akibat banyak terjadi pergaulan bebas di kalangan remaja. Juga mengenai kesehatan mulut.
Tak berapa lama, muncullah beberapa orang yang disebut dari Dinas Kesehatan. Mata Dara terbelalak saat melihat salah satu nara sumber yang memakai jas putih. Itukan ... Radit.
Lelaki itu jelas saja tak melihatnya di antara ratusan orang yang memenuhi ruangan. Dara sendiri lebih memilih fokus dengan materi yang disampaikan.
"Dokternya ganteng ya, Ra," kata Riri dengan mata berbinar.
"Yang mana? Nara sumber kayaknya dokter semua." Dara berpura-pura tidak tahu.
"Yang paling muda, lah. Dokter gigi itu. Dokter Radit," jawab Riri.
"Kamu naksir?"
"Ganteng gitu siapa yang gak naksir."
Dara menggelengkan kepala. "Nanti aku kenalin. Dia teman SMA."
Mata Riri terbelalak karena tak percaya. "Benaran?"
Dara mengangguk. "Sssttt, jangan berisik. Nanti kalau udah selesai kita samperin."
Riri tersenyum senang. Mereka mengikuti acara hingga selesai. Gadis itu bahkan sengaja mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab dengan Radit untuk mencari perhatian. Dara menutup mulut untuk menahan tawa saat melihatnya.
Para murid juga cukup antusias dengan sosialiasasi kali ini. Sekolah mengharapkan hasil yang positif terutama menekan angka kehamilan diluar pernikahan yang banyak dilakukan oleh remaja.
***
"Ra!"
Dara dan Riri serentak menoleh saat seseorang memanggil. Radit berjalan dengan sedikit cepat agar segera sampai.
"Hai, Dit."
"Pangling aku. Sekarang tampilannya beda." Radit memandang Dara dari atas hingga ke bawah, dan semoat speechless melihat pakaiannya yang tertutup rapat.
"Eh, iya," jawab Dara malu.
"Ketemu lagi kita. Tadi agak ragu itu benar kamu apa bukan," kata lelaki itu dengan senang.
"Aku gak nyangka kamu yang ngisi materi hari ini," kata Dara.
"Aku juga gak nyangka ternyata kamu ngajar disini. Memang jodoh ketemu lagi."
Wajah Dara memerah. Sementara itu Riri menyikut bahu sahabatnya.
"Eh, Dit. Kenalin, ini teman aku Riri. Guru juga disini." Dara memperkenalkan.
"Oh, hai. Yang tadi tanya, ya?" kata Radit.
"Iya. Makasih, loh udah dijawab," kata Riri dengan antusias.
Dara kembali menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya, dan membiarkan mereka berdua berbicara. Mana tau berjodoh. Rasanya, Riri lebih cocok dengan Radit dibandingkan dengan Arya. Ah, kenapa dia malah ingat kepada lelaki itu?
"Aku antar pulang mau? Biar sekalian jalan," tawar Radit.
"Makasih. Aku sama Riri aja," tolaknya halus.
Dara tetap tak diizinkan membawa motor oleh suaminya. Dewa bersikeras bahwa dia tak boleh berkendara sendirian. Alasannya satu, jika terjadi sesuatu di jalan, maka Ciara yang akan menjadi korban. Dewa trauma dengan kecelakaan yang menimpanya.
Jadinya, Riri yang menjadi ojek setiap hari. Untunglah jarak rumah mereka tak terlalu jauh.
"Ayolah, Ra. Lama kita gak jalan bareng," bujuknya.
Wajah Riri berubah dan menatap sahabatnya dengan penuh tanda tanya. Tentu saja Dara menjadi tak enak hati. Kenapa di saat kondisi Dewa seperti ini, justru banyak laki-laki yang mendekatinya?
"Aku duluan kalau gitu, Ra." Riri melambaikan tangan sambil mengedipkan mata. Sepertinya, Dara akan berhutang penjelasan besok.
"Ayo."
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Dara membalas beberapa sapaan dengan anggukan kepala. Ada banyak pasang mata yang menatapnya karena bersama laki-laki itu.
"Kita makan dulu. Oke?" Radit menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Aku belum izin Mas Dewa, Dit," tolaknya halus.
"Oke kalau gitu kita langsung pulang, nih? Padahal aku pengen ngobrol dulu." Nada suara laki-laki itu sedikit kecewa.
"Baiknya begitu."
"Ciara gimana kabarnya?"
"Sehat. Makin manja," jawab Dara.
"Suami kamu?"
"Mas Dewa di rumah. Pemulihan. Kakinya patah."
Radit melirik sekilas. Dalam hati menaruh iba kepada wanita ini. Juga salut karena Dara begitu tegar menghadapi cobaan yang datang beruntun.
Dia mengetahui bahwa putra Dara meninggal saat dilahirkan setelah melihat rekam medis pasien di rumah sakit. Radit sedikit mencari info mengenai kecelakaan yang menimpa Dewa. Namun kaget ketika mengetahui kenyataan itu.
Sehingga pada saat membesuk Dewa, dia tak banyak bertanya, karena sebelumnya sudah mengirimkan pesan turut berduka cita.
"Kalau kamu kerja, siapa yang ngurusin suami di rumah?"
"Ada Bibik. Ibu mertua juga datang. Mas Dewa belum bisa jalan, jadi harus dibantu terus," katanya.
"Harus kuat ya, Ra."
"Mau gak mau. Mungkin ini jalannya," jawab wanita itu lesu.
"Eh sebentar aku mampir disana dulu, ya. Ada yang mau dibeli." Radit memarkir mobilnya di depan sebuah mini market.
Dara memilih untuk menunggu saja. Pikirannya ada di rumah.
"Nih!" Laki-laki itu meyodorkan sebungkus es krim. Dulu, jika Dara dirundung sedih karena ada masalah, biasanya mereka akan makan es krim krim sambil bercerita.
"Kamu masih ingat aja, Dit."
"Ingatlah. Masa-masa waktu bareng kamu dulu sangat berkesan," katanya santai.
Mobil kembali melaju. Dara menikmati lezatnya es krim itu sambil menatap jalanan.
"Makasih, ya."
"Sama-sama, Ra. Gimana? Feel better?"
"Yap."
Lalu suasana hening kembali hingga tiba di pintu gerbang sebuah komplek perumahan. Radit menepikan mobilnya dan berhenti sebentar atas permintaan Dara.
"Kenapa?"
"Sampai disini aja, Dit. Gak enak sama orang rumah."
"Loh, kok gitu? Kamu jalan kaki dong ke dalam?"
"Gak terlalu jauh kok. Ada satu kilo aja," jawab Dara.
"Janganlah. Aku yang mau antar kamu, sampai depan rumah, lah."
"Nanti Mas Dewa salah paham."
Dia sudah menolak mati-matian diantar Arya dengan alasan bukan mahrom. Jika sampai Dewa tahu bahwa Radit yang mengantarnya pulang, suaminya pasti marah besar.
Dewa hanya tahu dia diantar jemput oleh Riri setelah komplain hari itu. Sejak kecelakaan, suaminya sangat sensitif. Apalagi memang dasarnya dia pencemburu.
"Okelah kalau begitu. Hati-hati."
"Oke."
"Jangan lupa ambil batu. Nanti kalau ada anjing galak, lempar aja."
Dara tergelak mendengar itu. Dulu sewaktu sekolah mereka pernah mengalami hal itu. Dara yang ketakutan berlindung di balik tubuh besar Radit. Laki-laki itu mengambil batu dan melempar si anjing kemudian mereka berlari sambil berpegangan tangan.
"Oke. Bye."
"See you."
Wanita itu melangkahkan kaki setelah mobil menghilang dari pandangan. Sesampainya di rumah, Dara membuka pagar yang tidak dikunci dan mengucap salam.
"Sore banget pulangnya?" tanya Dewa saat dia masuk ke ruang tamu. Setiap hari, Dewa akan duduk menunggu istrinya datang.
"Ada sosialisasi dari Dinas Kesehatan, Mas."
"Mana motor Riri? Kok gak kedengaran."
Deg!
Jantung Dara berdetak kencang, bingung harus menjawab apa.
"Tadi bocor di depan gerbang. Jadi aku jalan kaki," ucapnya berbohong.
"Oh." Hanya itu komentar Dewa.
"Mamaaaa ...." Ciara keluar dari kamar dan memeluk Dara dengan erat.
"Anak cantik sudah makan belum?"
"Sudah, Ma."
"Bikin PR?"
"Belum."
Dara tersenyum. "Kalau gitu habis makan malam kita kerjain bareng, ya. Mama istirahat dulu sebentar. Oke?"
Tos!
Ciara kembali masuk ke kamarnya dan menonton film. Untunglah hari ini tidak terlalu rewel. Sama seperti orang dewasa, anak-anak memiliki mood yang naik turun.
"Mas mau ke kamar," kata Dewa.
Dara mendorong kursi roda dan masuk ke dalam. Dia juga membantu suaminya duduk di tempat tidur. Wanita itu lalu meletakkan tas di nakas dan berganti pakaian.
Melihat itu Dewa menelan ludah berkali-kali. Hasratnya sebagai seorang laki-laki muncul. Ingin rasanya mendekap tubuh sang istri dengan erat dan memadu kasih seperti dulu. Hanya saja dia belum bisa melakukannya.
Dara yang melihat itu menyadarinya. Setelah memakai piyama dia berjalan mendekat.
"Kangen, Mas," bisiknya.
"Kangen juga," jawab Dewa.
Kedua mata saling menatap lekat. Dewa meraih istrinya ke dalam dekapan.
"Aku mungkin gak akan bisa ngasih kamu keturunan, Ra."
"Jangan bilang gitu ya, Mas. Kita usaha lagi biar kamu sembuh."
"Kalau gak bisa?"
"Insyaallah bisa. Mas harus bertekad."
"Kamu yakin mau mendampingi aku?"
"Kenapa gak?"
"Mungkin ada yang lain yang lebih baik, Ra."
"Astagfirullah."
Dara menyentuh bibir Dewa dengan jari terlunjuknya. Jangan sampai terucapkan lagi kata-kata itu.
"Aku gak berguna, Ra," lirih Dewa.
"Aku gak akan ninggalin kamu, Mas. Aku udah janji."
"Tapi ini pasti berat buat kamu."
"Aku gak peduli, Mas. Aku mau kita sama-sama selamanya. Sampai Jannah."
Mereka kembali berpelukan erat, dengan tetesan air dari dua pasang mata.

Komentar Buku (852)

  • avatar
    saputraIndri

    baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍 semangat terus yaa Thor 💪💪

    26/06/2022

      3
  • avatar
    Anandita Kurnia

    ceritanya bagus

    10/07

      0
  • avatar
    Sumira

    suka sekali dengan cerita novela nya bagus alir ceritanya ....

    05/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru