Bab 30 Kabar Baik

Annisa mengancingkan baju Bima dengan sabar lalu merapikan letak kerahnya. Wanita itu sudah bangun sejak subuh dan menyiapkan sarapan seperti biasanya.
Attar masih tertidur di boks dengan nyenyak. Sudah beberapa hari ini anak itu kembali ke rumah. Annisa sendiri sudah resign karena Bima diterima bekerja. Sekalipun ada rasa cemburu di hati wanita itu, tetapi dia berterima kasih kepada Dyara. Berkat bantuannya, kehidupan mereka kembali normal seperti dulu.
"Papa ganteng gak, Bu?"
"Iya, ganteng."
"Pasti nanti banyak cewek yang naksir kayak dulu," goda Bima.
"Terserah Papa aja. Kalau mau naksir balik ya silakan," kata Annisa seraya mengusap kedua lengan baju suaminya dan memastikan bahwa semua sudah rapi.
"Ibu cemburu?" goda Bima lagi.
"Gak."
"Gak salah lagi. Ya, kan?"
Annisa tersenyum dan menarik lengan Bima menuju dapur, lalu menyuruh suaminya duduk.
"Makan yang banyak, ya," ucapnya seraya mengambilkan nasi.
Bima mengambil sendok dan menyuapkan cukup banyak makanan ke mulut. Lauk pagi ini hanya ada telur dadar dan sambal. Keuangan mereka menipis. Hanya saja Annisa memilih sabar dengan tidak banyak menuntut.
"Kamu gak makan juga?" tanya Bima heran. Biasanya Annisa akan duduk dan menemani, lalu mereka saling berbincang.
"Nanti. Kamu habiskan saja dulu. Aku mau lihat Attar," katanya sembari berjalan ke dalam.
Saat memasuki kamar, terlihat bayi mungil itu bergerak gelisah dalam tidurnya. Annisa tahu bahwa sebentar lagi putranya akan bangun.
"Anak ganteng. Sini Ibu gendong," ucapnya seraya mengangkat tubuh mungil itu. 
Attar yang masih terpejam, menggeliat saat digendong. Anak itu lalu terdiam seolah-olah menikmati ayunan tangan sang ibu.
Annisa tersenyum senang dan mulai melantunkan nyanyian agar putranya kembali terlelap. Sebenarnya Attar sudah terbangun saat Subuh tadi, lalu terlelap kembali setelah menghabiskan sebotol susu.
"Shalatullah Salamullah Alla Toha Rasullilah. Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah."
Suara Annisa yang mengalun merdu membuat Bima yang sudah selesai makan sejak tadi, mengintip dari balik pintu. Aktivitas seperti itu memang sudah menjadi bagian dari rumah ini, tetapi dia tetap saja suka saat melihatnya.
"Tawassalna Bibismillah Wabil Hadi Rasulillah. Wakulli Mujahidilillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah."
Annisa meletakkan Attar di ranjang dan menutupi sebagian tubuh putranya dengan selimut. Jika sudah siang begini, si mungil itu tidak akan ditudurkan ke dalam boks karena suka berguling dan dikhawatirkan akan terjatuh.
"Aku berangkat dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah," ucap Bima saat masuk ke kamar.
Annisa memeluk erat tubuh suaminya, yang dibalas Bima dengan sebuah kecupan di dahi. Mereka saling bertatapan lekat lalu tersenyum.
"Assalamualaikum," ucap Bima saat berpamitan. Laki-laki itu melambaikan tangan ke arah sang istri, sebelum menghilang bersama deru motornya.
Setelah mengantar Bima ke depan rumah, Annisa bergegas ke dapur dan menatap sajian di meja. Telur dadar yang dia buat tadi hanya tersisa sedikit. Wanita itu sengaja mengalah, dan membiarkan suaminya makan duluan.
Annisa mengambil piring dan makan dengan lahap. Di dompet hanya tersisa satu lembar uang berwarna biru dan itu akan dia gunakan untuk membeli susu. Hari ini adalah hari pertama Bima bekerja. Tadi, dia sudah menyelipkan uang saku untuk makan siang dan transport suaminya.
"Semoga hari ini Ibu mengirim sayur," ucapnya dalam hati seraya menghabiskam suapan terakhir.
Annisa dengan cekatan membersihkan dapur sebelum Attar bangun, lalu memasak bubur untuk sarapan putranya nanti. Wanita itu melirik sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. 
Tadinya Annisa hendak menjual benda itu untuk biaya hidup mereka sampai gaji pertama Bima dibayarkan. Namun, niatnya urung karena suaminya pasti tak menyetujui. Di tengah kegalauan, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Annisa bergegas ke depan dan meraih benda pipih itu yang terletak di meja.
"Assalamualaikum, Pak," kata Annisa saat menerima telepon sang ayah.
"Waalaikumsalam, Nduk," jawab Pandu di seberang sana.
"Bapak gimana kabar?"
"Sehat. Kamu sendiri gimana? Lama ndak nelpon Bapak. Apa sudah lupa sama orang tua?" tanya Pandu.
Ada banyak kejadian dan aktivitas yang menyita waktu, sehingga Annisa sering lupa untuk menghubungi Pandu. Padahal sesibuk apa pun, sebagai anak hendaknya dia mengabari sang ayah sebagai pelepas rindu karena tinggal berjauhan.
"Alhamdulillah sehat. Nisa baru resign, Pak. Bima udah mulai masuk kerja hari ini," jelasnya.
"Syukurlah. Gimana kabar cucuku? Biasanya video call sama kakek."
"Masih tidur, Pak. Nanti kalau sudah bangun, Nisa telepon Bapak balik, ya," janji wanita itu.
"Ya sudah. Bapak mau ke sawah. Nanti saja agak soren kalau Bapak sudah pulang."
"Iya, Pak. Nanti habis Asar aja."
"Oh iya, Nduk. Minta nomor rekeningmu sekarang," ucap Pandu sebelum memutuskan panggilan.
Annisa tersentak mendengarnya, lalu bertanya, "Untuk apa, Pak?"
"Ini ada sedikit hasil panen. Bapak mau ngasih Attar buat beli susu."
Annisa merasakan haru yang menyusup ke dadanya secara perlahan. Di saat dia melupakan orang tua dengan berbagai alasan, justru ayahnya selalu ingat akan mereka.
Betapa malunya dia telah mengecilkan keberadaan sang ayah, padahal sejak dulu beliau yang mengasihinya sejak lahir.
"Alhamdullillah. Makasih ya, Pak," ucap Annisa dengan air mata berlinangan. Wanita itu mengusap pipi dengan pelan agar isaknya tak nyaring terdengar.
"Bapak mau pergi dulu. Jangan lupa nomor rekening. Bapak titip uang cash sama Bude Lastri. Dia yang bantu transfer," kata Pandu gugup.
"Sebentar, Pak. Nanti Nisa ketik saja nomornya biar Bapak gak lupa."
"Oh iya. Ada satu lagi. Itu--" suara Pandu tertahan karena merasa malu untuk mengatakannya.
"Apa, Pak?"
"Bude Lastri itu kan janda. Bapak--"
Annisa langsung memaklumi apa yang hendak disampaikan oleh ayahnya.
"Nisa merestui siapa pun yang Bapak pilih asal dia baik dan bisa mengurus Bapak," katanya dengan tegas.
Sejak dulu Lastri memang menaruh hati kepada Pandu. Annisa sering mendengarnya setiap kali berkunjung untuk menikmati semangkuk rawon. Hanya saja, laki-laki itu masih menyimpan cinta untuk mendiang istrinya, sehingga sulit membuka hati.
Annisa sendiri tak merisaukan jika ayahnya menikah lagi. Dia sendiri menyadari bahwa tak menemani di hari tua karena sudah memiliki keluarga sendiri. Niat untuk pulang dan menetap di tanah kelahiran sendiri juga harus dikubur dalam-dalam. Sebagai seorang istri, dia wajib ikut ke mana pun sang suami berada.
"Kamu ndak marah?"
"Ya gaklah Pak. Nisa malah senang kalau Bapak ada yang menemani. Masakan Bude Lastri itu mantap, loh. Jadi Bapak bisa makan enak setiap hari."
"Alhamdulillah," ucap Pandu seraya mengusap wajah. Laki-laki itu kini yakin untuk memulai hidup baru karena putrinya merestui.
Setelah panggilan mereka terputus, Annisa kembali menyelesaikan pekerjaan rumah sembari menunggu Attar terbangun.
***
Dua bulan kemudian.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Sulastri binti Bagaskoro dengan mas kawinnya yang tersebut tunai!"
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah. Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir."
Semua orang di ruangan itu mengangkat tangan dan mengaminkan doa-doa, juga ikut merasakan kebahagiaan bagi kedua mempelai.
Annisa dan Bima menjadi salah satu yang hadir, menyaksikan ayah mereka mengucap janji suci kepada wanita yang duduk di sebelahnya.
Acara akad nikah ini dilangsungkan sederhana dan dihadiri oleh keluarga dekat. Ratih tidak bisa datang dan hanya menitip salam kepada Pandu, sekaligus mengirimkan kado untuk Lastri.
"Selamat, Pak," kata Bima setelah semua selesai.
"Terima kasih, Nak Bima. Akhirnya Bapak bisa bernapas lega," ucap Pandu malu.
"Deg-deg ser ya, Pak. Apalagi nanti malam," goda Bima, yang membuat gelak tawa Pandu bergema.
Annisa memilih untuk menyingkir karena tak mau mendengarkan pembicaraan para laki-laki tentang itu. Dia menghampiri Lastri dan memeluk ibu sambungnya dengan hangat. Mereka berbincang sembari menikmati hidangan yang tersedia.
Attar sedang dijagakan oleh salah satu keluarga mereka, sehingga Annisa bisa sedikit bebas membantu mengurus pernikahan ayahnya. Mereka berdua datang satu minggu sebelum acara, sedangkan Bima baru tiba kemarin pagi dengan menggunakan kereta.
"Bude masih tetap jualan setelah menikah?" tanya Annisa. Dia tetap menyebut Lastri dengan panggilan yang sama atas permintaan sang ayah.
"Ya masih, lah. Nanti Mas Pandu bantu aku di warung. Jangan ke sawah lagi. Biar saja orang lain yang kerjakan. Sudah tua ndak usah kerja berat," jelas Lastri.
Mereka melanjutkan perbincangan hingga acara selesai dan beberapa keluarga beranjak pulang.
Annisa mengajak anak dan suaminya masuk ke kamar agar tak mengganggu pengantin baru yang ingin berduaan.
"Bapak enak, ya?" ucap Bima saat mereka bertiga sedang berbaring di ranjang. Sekalipun tubuh terasa lelah, tetapi hati merasa lega karena semua berjalan lancar.
"Ya enak, lah. Sekarang ada yang ngurusin," jawab Annisa sembari menemani Attar bermain.
"Bukan itu."
"Terus apa?"
"Habis nikah langsung malam pertama," kerling Bima. Dia memang sering menggoda Annisa dengan ucapan seperti itu karena senang melihat rona di wajah sang istri.
"Kalau sudah sah, kan gak apa-apa," elak Annisa karena tak mau membahas itu lebih panjang.
"Beda sama aku dulu. Udah berbulan-bulan baru ngerasain.malam pertama. Pas dapat aku rapel sekalian," kerlingnya lagi.
Annisa membuang pandangan dan berpura-pura mengambil mainan untuk menutupi rasa malu.
"Attar bobok, yuk. Udah malam," Annisa mengalihkan pembicaraan dan meraih putranya ke dalam pelukan.
"Bobok yang cepat, Nak. Nanti giliran papa," kata Bima sembari mengulum senyum.
Annisa mengabaikan ucapan sang suami, agar rona merah di wajahnya tak semakin kentara. Dia menepuk punggung Attar agar segera lelap. Wanita itu ikut memejamkan mata. Tak lama dengkur halusnya terdengar.
"Ibu. Ibu. Jangan tidur dulu," bisik Bima untuk membangunkan istrinya. Sudah satu minggu mereka berpisah dan dia rindu ingin bermesraan. Sepertinya malam ini niatnya gagal.
Bima akhirnya memeluk Annisa dari belakang dan ikut terlelap karena kelelahan.

Komentar Buku (376)

  • avatar
    RahmanAlip

    semoga bermanfaat buat uang

    21/06/2025

      0
  • avatar
    Anis

    bagus ceritanya

    14/06/2025

      0
  • avatar
    Mifta Kuroji

    suka sama ceritanya

    17/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru