Beranda/Perfect Or Imperfect/
74 - Tentang Kesepian Dan Kehilangan
Suasana malam yang mencekam tak membuat Callisa meninggalkan tempatnya,tetap duduk di kursi mobil memandang keluar dengan tatapan kosong. Sudah berapa jam Callisa disini? Berapa jam ia menonaktifkan ponselnya demi menghindari semua orang,melelahkan berperang dengan pikiran sendiri ya? Callisa benar-benar merasakannya.
Ada apa,mengapa,bagaimana dan kenapa. Callisa bosan kata itu terus saja menari-nari dalam pikirannya. Kenapa Allah mengambil bayinya? Ada apa dengan pernikahannya? Bagaimana Callisa menghadapi semua ini? Lalu kenapa harus ia dan Aydan yang mengalaminya?
Di dunia ini,banyak orang yang ingin melarikan diri dari hidupnya,menjadi orang baru di tempat asing tanpa dikenali oleh siapapun. Callisa tidak tau dimana mobilnya menepi sekarang,seharian mengemudi tanpa tau akan kemana. Hanya mampir shalat jika waktunya,membeli air putih setelahnya melanjutkan perjalanan.
Apakah ini berhasil mengenyahkan semua pikiran buruknya? Maka jawaban Callisa adalah tidak. Pikirannya makin menjadi-jadi,mata Callisa memandang anak remaja didepan sana,duduk diatas tanah tanpa adanya alas.
Kalau tidak salah ingat Namanya Marsan,pemuda itu berjalan bak orang bodoh di pinggiran jalan makanya Callisa menampungnya.
“Kamu mau kemana? Inikan masih jam sekolah?” tanya Callisa siang tadi.
“Tidak tau,aku tidak punya tujuan kecuali berjalan.” Keadaan yang hampir sama dengan Callisa jadi memutuskan menampungnya,dan disnilah mereka. Callisa didalam mobil dan pemuda itu menyendiri diluaran sana. Mereka berdua sama-sama sibuk dengan pikiran sendiri.
Menutup pintu mobil dengan pelan,Callisa berjalan mendekat lalu duduk. Ikut memeluk lutut sendiri memandang langit malam beserta pepohonan yang begitu banyak,apa ini hutan? Maka jawabannya tetap sama,Callisa tidak tau sedang berada di mana.
“Menurut kakak apa itu rumah?”
“Rumah?” pertanyaan itu dipertanyakan juga untuknya,apa itu rumah? Mengapa Callisa disini bukannya kembali kerumah? Mengapa Callisa berakhir disini bukan tidur atau berlindung didalam rumahnya?
“Sejak dulu aku selalu bertanya apa itu rumah,tapi aku tidak pernah menemukan jawabannya. Setiap harinya ada yang berisi kehampaan,kekosongan dan memuakkan. Melihat penampilan kakak,pasti kakak akan mengatakan aku kurang dekat dengan Tuhan,lucu ya?”
Walaupun tidak tau lucunya dimana,Callisa tersenyum. Menarik napas lalu hembuskan,begitu terus sampai pikirannya yang tadinya memburuk kembali tenang.
“Padahal tidak selamanya hal di dunia ini disangkut pautkan dengan agama,mau di jelaskan bagaimanapun pasti ada situasi dimana tidak memerlukan persepsi agama sama sekali.”
Ada benarnya juga,Marsan benar. Tidak selamanya kejadian di bumi atau semesta harus di sangkut pautkan dengan agama atau Allah,akan ada kejadian dimana terjadi begitu saja membutuhkan alasan pasti. Callisa enggan menjawab,pikirannya tidak tau sedang berada dimana.
Apakah di sisi Aydan? di sisi lukanya? Atau di sisi ketidakpercayaan dirinya? Atau disini? Bersamanya? Callisa tidak tau.
“Dan kadang juga ada yang bilang ini fase dewasa,lucu ya kak? Sebagian manusia terlalu gampang menyepelekan sesuatu atau menyamakan kita dengan prosesnya. Menurut kakak mengapa ada manusia modelan begitu tinggal di sekitaran kita?” Marsan menoleh menatap Callisa,perempua berkerudung itu menggeleng.
“Tidak tau,saya benar-benar tidak tau.”
Marsan tidak memusingkan lagian mereka berdua sama-sama lari dalam hidup tak berarah. Ia kenal Callisa,memangnya siapa selama seminggu ini tidak mengenal Callisa? Perempuan yang kini dikenal sangat menyedihkan di kalangan masyarakat. Dijatuhkan,dipermalukan lalu dibuat kehilangan. Lalu Marsan? Ia hanya berlari dari dunianya yang terlalu hambar dan membosankan.
Suara-suara mobil yang lewat terdengar jelas,tentu saja. mereka sangat dekat dengan jalan raya.
“Dulu sewaktu muda,kakak ingin bercita-cita menjadi apa?” ia membuka percakapan kembali,terserah mau dijawab atau tidak.
“Cita-cita? Aku tidak terlalu memikirkan akan menjadi apa mengingat betapa cukupnya aku dulu.”
Marsan terkekeh,ia juga ya? Kenapa juga ia harus bertanya padahal tau Callisa ini adalah anak orang kaya? Kakaknya pengusaha dan suaminya soerang dosen.
“Kalau kamu? punya cita-cita?” giliran Callisa bertanya,sekilas menatap Marsan lalu kembali menatap kedepan.
“Aku ingin jadi perenang tapi dikasi kejutan penyakit paru-paru. Dunia memang selalu menyebalkan untuk orang-orang yang tau tujuannya hidup untuk apa dan sangat beruntung bagi kumpulan orang yang selalu menyia-nyiakan hidup beruntungnya,tidak adil kan? Aku kadang ingin memarahi modelan orang begitu,tidak bersyukur sekali.” Ada nada sarkas di kalimat itu,Callisa tau.
“Haha,kamu menyindir saya ya?”
“Kakak merasa? Padahal aku tidak pernah berpikiran begitu.”
Keduanya sama-sama tersenyum,kompak memandang langit malam polos tanpa adanya hiasan bintang. Callisa jadi penasaran kemana perginya semua bintang padahal semalam bintang bertaburan memenuhi langit.
“Semua orang pasti mengira saya menyedihkan ya?”
“Sangat.”
Callisa mendengus kesal mendengarnya,kenapa Marsan harus jujur segala sih?
“Semua perempuan yang ada di kelasku selalu membicarakan kakak,katanya sangat disayangkan dan tidak akan sanggup menjadi kakak. Sudah capek-capek berubah dan bahagia,eh foto jaman dulunya mengganggu. Tak lama malah kehilangan bayinya. Mereka bilang pemikiran media terlalu bodoh,perempuan memang lemah soal perasaan namun perempuan tidak semudah itu berubah apalagi inikan tentang agama,yakali berubahnya demi laki-laki? Aneh kan? Sampai segitunya mau mendapatkan penonton jadinya menumbalkan privasi orang lain.” Katanya santai,terkekeh padahal Callisa bingung tidak tau lucunya dimana.
Apa humor Marsan memang sereceh itu ya?
“Aku tidak terlalu paham apa maksud mereka yang tidak mudah berubah padahal menurut pengamatanku banyak perempuan yang rela lemah demi pria. Kakak juga merasa?”
“Jadi kamu setuju dengan tuduhan media padaku?” kaget Callisa,dasar Marsan menyebalkan.
“Tidak juga,aku malah merasa lucu dengan media. Anak orang kaya seperti kakak pasti sudah mewah sejak lahir,masa demi laki-laki berbuat sejauh itu? setahuku harga diri anak orang kaya sangatlah di junjung tinggi. Masa orangtuanya menikahkannya dengan sembarangan ornag?”
Rasa kesal Callisa menguap entah kemana,membenarkan dalam hati apa yang Marsan katakan. Papi Mami-nya selalu meminta Callisa menjaga nama baik keluarga atau harga diri,dan Callisa masih ingat betapa sewotnya Maminya saat Aydan melamarnya.
“Aku berusaha memikatnya bukan lewat penampilan tapi wara-wiri di sekitarnya.”
“Hah? Apa kak?”
“Lupakan.” Acuhnya,mengibaskan tangannya ke udara.
Marsan memggelengkan kepalanya beberapa kali,yaudahlah kalau memang Callisa enggan membahasnya terlalu jauh lagian tidak ada gunanya juga mengetahui kisah orang lain sedang masalahnya saja sudah sangat rumit untuk di selesaikan.
“Kamu lari dari orangtuamu ya?” tanyanya mencoba memecahkan keheningan.
“Tidak,mereka sudah lama berpisah malah sudah punya keluarga baru.”
Mencoba berpikir,”masalah sekolah?”
“Tidak juga,sekolahku baik-baik saja.”
“Terus? Bertengkar dengan kakak atau adikmu?”
“Sebelumnya aku anak tunggal tapi sekarang sudah punya satu adik tiri dari pihak ayah sedang dua saudara tiri dari pihak ibu,” jawaban santai itu membuat Callisa bingung,masalah Marsan atau silsilah keluarganya malah lebih rumit.
“Saya bisa mendengar ceritamu sembari menunggu malam semakin larut,Mas Aydan pasti kelimpungan mencariku atau mungkin para kakakku sudah meminta bantuan orang-orangnya. Untuk sementara saya ingin berlari,sehari saja.” untuk sekarang,Callisa akan mengesampingkan perasaan orang,biarkan saja.
Sedang Marsan menatap jauh kedepan,matanya seolah memandang jauh.
“Aku Lelah berada diantara mereka semua,terlalu memuakkan dengan sandiwara. Nenekku,baik orang tua ayahku atau ibuku. Mereka memberikan semua apa yang mereka punya padaku,semuanya. Jadinya semua orang berusaha baik,memuakkan bukan? Aku muak berada diantara mereka yang haus akan uang.” Ceritanya,lagian sehabis ini Callisa akan melupakan cerita ini masing-masing sibuk dengan keseharian.
“Mereka? Ayah dan ibu kandungmu?”
“Ya,mereka.”
“Benar-benar menyebalkan.” Respon Callisa beberapa saat kemudian,mereka sama-sama tertawa.
Callisa berdiri menepuk-nepuk bajunya beberapa kali lalu memandang Marsan,ia tidak salah mengajak Marsan bersamanya setidaknya punya teman cerita walaupun tidak memberinya solusi. Lagian dari yang Callisa tau,sebagian orang tidak terlalu membutuhkan yang Namanya solusi hanya didengarkan saja.
“Kakak mau pulang?”
“Belum,masih lama. Aku pengen cari jajanan,” jawbanya enteng,tak perlu capek-capek mencari di seberang jalan ada banyak jejeran warung yang menyuguhkan gorengan bahkan warung makanan.
Ambil dompet lebih dulu barulah barulah menyebrang membeli beberapa gorengan dan air mineral untuk Marsan juga,sehabis itu duduk kembali di tempat yang sama.
“Kakak tidak ada niatan pisah kan?” pertanyaan itu membuat Callisa memandang Marsan cepat,tidak salah juga Marsan berpikir begitu.
“Tidak,saya sangat mencintai Mas Aydan malah saya yang mengejarnya lebih dulu. Malah ngejarnya lama banget terus ujian sebelum nikah ada juga. cuman untuk sekarang saya mau sendiri sebentar saja,menikmati suara pikiran dan suasana sibuk Jakarta. Apa ini masih Jakarta ya? Engga taulah.” Masa bodo,Callisa mending makan gorengan saja.
“Engga salah sih banyak temanku yang suka sama kakak,orangnya memang lucu dan ramah.”
Kunyahan Callisa terhenti sebnetar lalu makan lagi,lucu? Sudah berapa kali Marsan menyebutkan kata itu smenejak mereka duduk bak orang hilang di pinggir jalan sini? Untung pekarangannya agak luas jadi tidak menghalangi jalan raya. Callisa menyodorkan air mineral pada Marsan untungnya diterima.
“Menurut kakak aku harus gimana?”
“Tentang?”
“Kedepannya?”
Berpikir sebentar.”Di sekolah ambil jurusan apa?”
“Otomotif.”
Kepala Callisa mengangguk beberapa kali,”Kenapa engga coba pas lulus nanti bangun bengkel atau lanjut kuliah dengan jurusna yang sama? Jadinya warisan dari para nenek kamu berguna,mereka bakal bangga banget. Mereka akan bersyukur karena memberikan warisan itu ke tangan yang tepat karena kamu pergunakan untuk masa depan kamu. mereka memberikan itu untuk masa depanmu kan?” Marsan mengangguk sebagai jawaban,”Nah itu,bisa kamu gunakan kesana.” Lanjutnya,
“Kalau misalnya aku lanjut kuliah pas wisudanya gimana?”
“Sehabis wisuda maksudnya?” ralatnya.
“Iya,itu maksud saya kak.”
“Ya tetap bangun bengkel atau buka toko yang sesuai jurusan kamu, atau bangun perusahaan yang bergerak dibidang itu. untuk tabungan,mungkin pas kamu kuliah bisa sambil investasi ke beberapa tempat?” setelah mengatakannya Callisa meneguk airnya,capek.
“Lalu bagaimana dengan orangtuaku?” bingung Marsan,selama ini ia masih sering bergantung dengan mereka tapi hanya sesekali.
Memiringkan badannya,jarak keduanya agak jauh jadinya Callisa bisa leluasa memandang Marsan yang terlihat kebingungan di tempatnya,”Selama ini kamu tinggalnya dimana?” tanyanya mencoba memberikan solusi terbaik untuk Marsan,lagian malas saja terus menerus memikirkan urusannya.
“Tinggal dirumah peninggalan nenekku kak,sendirian. Sesekali ibuku dateng atau ibu tiriku datang kerumah memeriksa keadaanku,padahal ujung-ujungnya mereka membujukku untuk menjual rumah agar bisa tinggal Bersama mereka. Padahal aslinya mereka pengen uang penjualan rumah itu.”
Callisa memandang kasihan Marsan,benar-benar dianggap alat oleh keluarganya sendiri.
“Sehabis lulus mending tinggal di apartemen aja yang dekat dengan kampus kalau memang niat kuliah,kalau engga cari kontrakan atau rumah baru yang bisa kamu tempati mandiri. Mulai dari awal dan jangan terlalu pedulikan mereka, rumah nenekmu? Kamu bisa menyewa orang sesekali untuk membersihkannya,janga dijual. Kenangannya terlalu banyak.” Sarannya Panjang,mengunyah gorengan sebagai pengganjal lapar.
“Masalah orangtuamu? Kenapa kamu harus memikirkan mereka sedang mereka saja sudah lama menganggap kamu adalah alat untuk dapat warisan? Andaikan mereka menyayangimu mereka memberikan kamu jalan aman bukan bersandiwara. Saya bukannya mengajarimu durhaka tapi untuk apa tinggal di suasana toxic? Melelahkan,” berdecak kesal,memikirkannya saja membuat Callisa kesal.
Ternyata ada orangtua sejahat itu.
Di tempatnya Marsan diam,ada benarnya juga solusi yang Callisa berikan padanya. Ia menunduk menatap jam yang ada di pergelangan tangannya sudah hampir jam setengah 10 tapi sepertinya Callisa masih enggan pulang.
“Kakak pasti kehilangan banget.”
Callisa tersenyum tipis,”Sangat. Saya merasa ada yang hilang dalam diri saya seakan ikut terbawa pergi padahal saya sudah berusaha kuat.” Menunduk menatap gorengan yang tinggal sedikit,ia memakannya sampai habis,membahas kehilangan tidak akan pernah ada ujungnya.
Siapa yang tidak sedih atau terguncang saat kehilangan? Perempuan mana yang menerima saat mendengar dokter mengatakan ia keguguran,dunia seakan runtuh saat itu juga. menghabiskan airnya lalu melemparnya ke tong sampah tak jauh darinya,haruskah Callisa pulang sekarang? Cukupkah pelariannya hari ini?
“Aku tidak akan pernah melupakan semua saran yang kakak berikan padaku,tidak perlu mengantarku pulang karena rumah kita tidak searah. Aku berharap di kemudian hari saat kita bertemu kita sudah sama-sama bahagia dengan jalan kita sendiri kak,kakak menerima kehilangan dengan pikiran terbuka sedang aku menikmati hdiupku dan akhirnya mempunyai cita-cita.”
Saat Marsan berdiri,Callisa berdiri sama-sama membersihkan baju masing-masing takutnya keliatan kotor karena duduk tanpa alas di tanah.
“Terimakasih kak Callisa karena telah membawaku Bersama kakak kemari berpikir jernih,setidaknya sekarang aku sudah mempunyai sedikit bayangan untuk melanjutkan hidupku. Aku berharap kakka juga demikian,suami kakak juga pasti menunggu kakak dirumah.” Marsan tersenyum,membuka jam tangannya lalu memberikan pada Callisa.
“Apa ini?” bingungnya.
“Sebagai tanda terimakasihku,dan janji bahwa aku akan sukses seperti saran kakak. Anggap jam itu adalah aku,jadinya saat kita bertemu lagi nanti,aku yakin bisa membanggakan kakak.” Menunduk sopan barulah Marsan meninggalkan Callisa disana,merasa dunianya lebih berwarna. Andai Marsan mempunyai kakak seperti Callisa pasti hidupnya akan lebih baik.
Callisa menunduk menatap jam tangan milik Marsan,bermerek? Berarti Marsan termasuk orang kaya juga tapi Callisa lupa menayakan nama belakangnya. Hanya memandang sekilas pada name tag-nya saja,memasukkan jam tangan itu di tas selempangnya barulah membuang kantongan gorengan ke tempat sampah.
Ponselnya sejak siang sengaja Callisa matikan dengan dalih tidak mau di ganggu,setelah mempersiapkan diri untuk ditelepon atau ditanya dimana,Callisa menyalakan ponselnya semenit kemudian panggilan telepon masuk,
Mas Aydan Calling,
Selama semenit sampai deringan itu berhenti,Callisa hanya menatapnya. Panggilan berikutnya masuk kembali.
“Assalamualaikum,alhamdulillah Ya Allah. Callisa!”
Callisa tertawa kecil,merasa lega bisa mendengar suara itu. Marsan tadi menanyakan soal rumah padanya bukan? Maka jawaban Callisa adalah ia mempunyai rumah. Namanya Aydan Atthallah,orang yang akan selalu mencari Callisa kemanapun Callisa pergi atau selamapun ia pergi,tidak kenal Lelah apalagi menyerah.
“Waalaikumussalam,maaf mas. Callisa lama,” jawbanya dengan suara pelan.
“Tidak papa sayang,tidak papa. Mau selama apapun waktu yang kamu butuhkan,aku akan tetap menunggu kamu kembali karena aku tau,kamu akan selalu kembali kepadaku.” Callisa tersenyum,mengucap syukur.
Kata siapa sendiri ataupun lari dari rumah adalah pertengkaran hebat antara suami istri? Menurut Callisa tidak,ia tetap melakukannya bukan tidak mau membahasnya hanya membutuhkan waktu sebentar sebelum kembali kesana,ke suaminya.
“Sudah merasa lega?”
“Alhamdulillah Mas.”
“Alhamdulillah.”
“Mas sudah makan?”
“Haha,kamu lapar?”
“Hmm,mungkin.”
Musim semi dan musim gugur mana yang paling indah? Badai ataukah panas yang begitu terik?
Maka jawaban Callisa tidak ada,menempatkan diri pada pilihan berarti ragu tapi Callisa tidak pernah ragu akan statusnya sebagai istri. Itulah kejujuran pada diri sendiri.
Princess Callisa,3 Juni(Memories)Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (49)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Bagus banget kakk
07/06/2025
0Keren bgttt recommend untuk dibaca
04/06/2025
0bagus banget
27/04/2025
0Lihat Semua