logo text

63 - Suka Duka Istri Aydan

Mataku memincing saat menemukan Pak Aydan sibuk berkutat di dapur,padahal tadi kan sudah bilang padanya agar menunggu sebentar untuk makan malam. Menyeret kakiku malas,aku berdiri disampingnya yang di sambut tawa kecil.
“Maaf ya,aku liat kamu sibuk banget makanya mutusin aku yang masak malam ini,duduk aja disana sebentar lagi selesai.” Tanpa menjawabnya,aku menurut. Duduk di kursi memandang Pak Aydan malas.
Kami baru sampai rumah sore tadi,disambut rumah kosong tak berpenghuni. Dan yang membuatku happy adalah cat kamarnya Pak Aydan sudah berubah sesuai kenginanku,di kamarnya juga sudah terdapat meja rias besar,lemarinya aja ukurannya sudah lebih besar. Terus apa yang aku lakukan sampai-sampai Pak Aydan memasak? Aku sibuk menata pakaian di lemari,memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci dan menyapu sebentar.
Jangan mentang-mentang aku anak orang kaya berarti aku Taunya urusan mall dan sebagainya ya,aku biasa menyapu kalau mau kalau tidak mau tidak akan ku kerjakan sampai kapanpun.
“Melamunkan apa malam-malam gini? Aku bisanya masak nasi goreng dadakan soalnya sudah malam banget. Kamu belum ganti baju juga,saking sibuknya ya urus perintilan rumah tangga? Hahaha,mandi aja belum kan? Padahalkan aku keluarnya sebentar tadi.” Sekali lagi tak kujawab,hanya menarik sepiring nasi goreng buatan suamiku lalu memakannya dalam ketenangan hanya dentingan sendok yang terdengar.
Sehabis isya tadi,Pak Aydan memang keluar katanya mau beli barang-barang di supermarket dekat sini yaudah aku biarkan. Pulang-pulang minta di masakkan,aku jawabnya tunggu sebentar eh malah masak sendiri. Inilah Pak Aydan,mungkin terbiasa sendiri makanya begini. Tau ah,pusing.
“Besok ahad kan?”
Kubalas anggukan.
“Kamu tidak mau ke pasar beli bahan makanan? Biasanya tukang sayur keliling daerah sini datangnya agak siang. Besok hari pasar,mau pergi?”
Diam sebentar,lalu mengangguk.
“Hahah,habiskan makanannya.” Kurasakan Pak Aydan mengacak rambutku entah apa tujuannya,sudah seperti oppa-oppa korea yang sering melakukan ini pada perempuan di sekitarnya,eh perempuannya baper. Sudah terbaca kan? Untung yang melakukannya padaku adalah suamiku sendiri.
“Bapak kapan mulai ngajarnya?” tanyaku setelah menghabiskan semua makananku.
Aku berdiri dengan cepat saat Pak Aydan berniat menyimpan piringnya di wastafel,kuambil alih lalu mencucinya.
“Haha,jadi begini rasanya ya kalau sudah punya istri. Hmm hari senin nanti insyaallah aku kembali bekerja,tidak bisa lama-lama cuti soalnya aku engga punya asisten malas urus. Aku duluan ke kamar untuk ganti pakaian,” Pak Aydan mendekat padaku,agak memiringkan kepalanya agar bisa leluasa menatap wajahku kali ya?
“Aku rasanya masih bermimpi menemukan kamu di dapurku hari ini,Lisa. Atau menemukan kamu menata pakaian di kamarku,” sekali lagi Pak Aydan mengacak rambutku barulah meninggalkan Kawasan dapur.
Keningku berkerut bingung,malas memikirkan apa yang terjadi pada suamiku itu.
Sehabis cuci piring,aku membersihkan sisa masak Pak Aydan tadi barulah ke kamar,malah tertegun menemukan Pak Aydan terbaring tidur di ranjang masih lengkap dengan pakaiannya yang tadi. Katanya tadi mau ganti baju malah tidur dianya.
“Pak,kok belum ganti baju sih?” tanyaku,sembari mengambil kaos dan celana pendek untuknya di lemari.
“Aku rasanya mulai terbiasa disiapkan bajunya,Lisa.”
Aku tertawa kecil mendengarnya,padahal baru seminggu kami menikah tapi aku sudah menemukan Pak Aydan dalam mode manja.”Ini bajunya sudah aku siapkan,sana ganti baju habis itu aku. Bapak jangan lama-lama memakai baju sehabis keluar,biasanya bawa penyakit. Sana ih,” kupukul lengannya pelan karena Pak Aydan tak kunjung bangun.
“Callisa.”
“Iya Pak,Callisa disini.” Jawabku dengan nada enggan,meninggalkan ranjang lalu mengambil baju tidur. Okelah kalau Pak Aydan masih malas ganti baju,biar aku duluan.
“Kamu tidak ada niatan jadi asistenku di kampus?”
Langkahku yang sebentar lagi sampai di kamar mandi terhenti,memutar badan menatap Pak Aydan yang kukira melantur. Namun tidak,dari ekspresi wajahnya Pak Aydan benar-benar serius untuk menjadikanku asistennya.
“Pak,jurusan aku pas kuliah fashion bukan jurusan kayak yang bapak ajarkan. Kenapa memangnya? Kan banyak mahasiswa yang bisa bapak jadikan asisten,”
“Rasanya engga bisa pisah sama kamu,Lisa.”
Mataku mengerjap kaget,masa cowok kaku sekelas Pak Aydan menggombal sih? mana respon jantungku luar biasa banget lagi. Tidak mengatakan apapun,aku berlari kecil masuk ke kamar mandi untuk mandi sebentar setelahnya ganti baju. Sehabis mandi keluar,Pak Aydan masih di tempat yang sama. Kenapa suamiku mendadak malas begini sih?
“Pak,ini semakin malam dan bapak belum ganti baju sama sekali.” Tak ada pergerakan,
“Pak? Bangun ih,kok jadi manja gini. Aku engga bisa kalau bapak serius soal asisten,ini bukan perkara malu atau engga,aku malah senang karena bisa dekat terus. Masalahnya itu di jurusannya,mau ku ajarkan apa mahasiswa bapak itu? yakali aku ajarin dia pilih baju yang pas dan warna yang senada tanpa harus tabrak warna?” celotehku Panjang lebar,namun Pak Aydan hanya membalas iya habis itu tidak bersuara lagi.
“Nanti aku bawain makanan deh,Pak.”
Sedetik setelah aku mengatakannya,Pak Aydan langsung bangun lalu memelukku erat, aku tertawa menepuk-nepuk punggungnya beberapa kali,
“Duh suamiku manja sekali,”
Alih-alih menyangkalnya,Pak Aydan malah tertawa mendengarnya. Untungnya pelukannya terlepas dan segera ganti baju. Aku tersenyum memandang punggung Pak Aydan lalu menggidikkan bahu tak peduli,menuju meja rias untuk skincare malam.
“Lisa,handuk wajah aku simpannya dimana tadi?”
“Di belakang pintu kamar mandi,Pak.” Jawabku tanpa memandangnya sama sekali.
“Kalau cuci muka? Kamu taruhnya dimana?”
“Ada di rak dekat wastafel,itu barang gede loh Pak masa engga liat sama sekali?” kayaknya aku mulai kesal deh,masa barang gituan aja Pak Aydan engga liat sih?
“Kalau sabun cuci tangan?”
Kubuang kapas ke tong sampah dan membalikkan badan kesal,aku langsung tertawa saat melihat kepala Pak Aydan di penuhi busa menyembul di balik pintu,ais!
“Pak,hahaa. Apasih kok jadi manja,semua barang tetap aku simpan di tempat seharusnya loh.” Jangan kesal Callisa,dia adalah suamimu,
“Tadi aku ambil cuci muka eh malah yang aku ambil punya kamu,karena sudah terlanjur tertuang jadi aku pakenya itu. ini aja pake sampo kamu juga,barang-barang kamu kebanyakan dalem sini,Lisa. Aku jadi bingung punyaku yang mana,kan kamu ganti botolnya jadi botol cantik katanya.”
Kutepuk dahiku cepat,duh aku lupa.
Aku memang sudah mengganti semua botol-botol didalam sana jadi botol cantik senada dengan warna cat kamar mandi. “Punya bapak yang biru,kalau punyaku yang putih.”
Pak Aydan kembali masuk kedalam kamar mandi,aku tertawa kecil mengingat wajah kebingungan Pak Aydan. jahat sekali kamu Callisa,kamu membuat suamimu bingung perihal dunia kamar mandi,handuknya juga sudah kuganti dengan alasan sudah lama dipakai. Kenapa bisa lupa gini sih? pasti sehabis ini Pak Aydan tidak langsung tidur melainkan periksa kerjaan dulu.
Seminggu menikah dengan Pak Aydan membuatku hapal satu hal,Pak Aydan suka minum jahe hangat saat malam hari,menemaninya bekerja. Menuju dapur,aku memanaskan air dulu memasakkan jahe hangat ditemani madu.
“Lisa? Lisa? Kamu dimana?”
“Disini Pak,habis buatin suami tercinta minuman. Bapak pasti mau kerja dulu kan?”
“Iya,mau liat jadwal.”
“Yaudah,selamat bekerja.”
***
“Ummi dulu seringnya masak perkedel deh,” gerakanku ingin mengambil sayur terhenti,memandang Pak Aydan heran. Apa hubungannya sayur dengan perkedel?
“Lanjutkan,pertanyaan itu hanya untuk diri sendiiri.”
Tak mau ambil pusing,kubeli sayur-sayuran yang sering kumasak dulu. Membayarnya pada ibu-ibu itu barulah pindah ke lapak sebelah,kini bumbu-bumbuan. Semua bumbu dirumah mulai kosong jadi apa yang mataku tangkap maka aku akan membelinya,Pak Aydan yang sejak tadi menemaniku hanya diam saja katanya terserah aku mau membeli apa.
Ya,sehabis shalat duha Bersama. Kami memutuskan untuk ke pasar membeli bahan makanan kata Pak Aydan lebih lengkap. Yaudahlah selaku istri yang baik mending nurut saja,sekarang saja sudah ada tiga kantong belanja yang di tenteng pak Aydan.
Tapi,sesekali Pak Aydan menyuarakan pendapatnya.
“Lisa,kamu engga beli cumi?”
“Itukan penjual udang,kamu engga beli?”
“Kamu tadi lewatin penjual ikan,aku sering beli ikan begitu dulu.”
“Bagusan yang kanan,kalau yang kiri kurang segar. Kita harus beli ikan yang segar biar tahan lama dan engga membusuk.”
Dan masih banyak komentar-komentar lain yang Pak Aydan katakan dengan suara pelan.
“Beli kangkung engga pak?” tanyaku padanya saat didepan sana ada penjual kangkung.
“Lain kali saja,kamu sudah beli banyak yang hijau-hijau. Yuk kesana,ada banyak buah-buahan disana,mataku langsung berbinar tiap lihat buah-buahan segar.” Tangan Pak Aydan yang satunya menarikku pelan,aku hanya menggelengkan kepalaku,sebenarnya siapa yang antusias disini. Pak Aydan atau aku?
Ada banyak stan penjual yang kami singgahi hingga saat sampai di parkiran,aku hanya bisa meringis melihat banyaknya hal yang kami beli. Pak Aydan juga sama,dia hanya tertawa kecil menganggap ini adalah hal baru untuk kami berdua, sama-sama belajar untuk membangun rumah tangga yang indah,eaaa.
Sok pamer ya guys? Engga papalah. Sekali-kali harus memamerkan pada banyak orang kalau menikah itu indah jika menikah dengan orang yang tepat. Kamu akan di ratukan jika kamu merajakan suamimu,dan aku melakukannya begitupun dengan Pak Aydan.
Aku tertunduk saat ada seseorang yang menghampiri kami,menyapa Pak Aydan padahal kami sudah siap pulang ke rumah. Kakiku sudah sangat pegal karena keliling di pasar selama 2 atau 3 jam lamanya entah membeli apa saja,yang kami beli bukan hanya bahan makanan namun ada juga barang-barang lain yang kuanggap perlu.
“Kamu duluan saja masuk kedalam,ini teman lama aku.” Bisikan Pak Aydan segera ku turuti,aku bergegas masuk kedalam mobil lagian Pak Aydan tipikal orang yang langsung cerita setiap kali bertemu dengan seseorang,katanya gini saat kemarin aku bertanya dan memintanya tidak perlu cerita sebegitunya.
“Selama ini aku selalu memimpikan bisa punya seseorang yang mendengar ceritaku,merespon setiap kali ada yang salah. Dan sekarang aku sudah mempunyai kamu,makanya aku selalu ingin bercerita padamu,daripada di pendam?” dan setelah kupikir-pikir ada benarnya juga,Pak Aydan dulu selalu sendiri sekarang kan sudah punya aku jadi bebaslah.
Pintu mobil terbuka dan Pak Aydan masuk,aku menunggunya bicara namun Pak Aydan tak membahasnya sama sekali hanya terus menerus diam tak bicara sama sekali.
“Pak? Ada yang salah?” tanyaku
“Oh lupa,maaf Lisa. Yang tadi itu keluarga dari pihak nenek Nining,mamanya tidak suka dengan kamu katanya,mengundang aku ke acara pindah rumah namun tidak mau kamu datang. Aku menolak,”
“Pak?”
“Callisa,mereka hanya keluarga jauh sedang kamu istri aku. Andai yang mereka permasalahkan adalah perkara yang patut di permasalahkan mungkin aku akan mempertimbangkan,tapi apa? Yang mereka perkarakan soal ilmu agama kamu yang kurang. Haha,kenapa aku harus mengucilkan istriku demi ilmu yang sebenarnya bisa kamu dapatkan seiring waktu? Kamu adalah istriku,orang yang paling dekat denganku sekarang. Satu-satunya orang yang mau menerimaku,merawatku,ada di sisiku terus menerus. Nenek,adikku saja tidak sedekat aku dan kamu,Lisa.”
Aku tersenyum,mau memaklumi tapi rasanya ada yang mengganjal.
“Lisa,yang aku utamakan adalah istriku. Mereka memang salah,aku tau apa yang benar dan salah,aku bukan anak remaja yang salah jatuh cinta atau salah mengambil langkah dalam memilih seorang istri. Umurku sudah setua ini,bukan anak-anak yang perlu diberikan petuah dalam membina rumah tangga. Aku yang kenal kamu dan kamu yang kenal aku,sudah ya?” menghela napas pelan lalu mengangguk.
Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan lingkup keluarga yang lebih luas,dengan kata lain. aku tidak bisa memaksa semua keluarga menerimaku,begitupun keluargaku. Aku tidak bisa memaksa mereka menerima Pak Aydan yang katanya bukan orang kaya.
“Lisa,aku boleh minta sesuatu?”
“Bolehlah pak,”
“Saat nenek menelpon soal acara ini,katakan saja kamu tidak bisa datang karena sibuk menata rumah atau alasan lain. aku belum sekuat itu membawa kamu ke ranah keluarga besarku karena sebagian dari mereka enggan memaklumimu. Aku tidak suka istriku di pandang rendah,merendahkan istriku sama saja deng-“
“Pak,aku tidak pernah mempermasalahkan soal itu.” potongku cepat,memandangnya dengan senyuman tenang.”Oma Nining adalah salah satu orang yang bapak anggap sebagai orangtua,pengganti ummi dan abi. Aku tidak bisa berbohong padanya,aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
“Lisa.”
“Pak,percaya sama aku? Bisa kan?” aku tersenyum senang saat Pak Aydan mengangguk setuju.
“Bapak tau tidak kenapa aku tidak tersinggung soal kata mereka?” aku akan mencoba mengajaknya berbincang agar melupakan masalah tadi.
“Tidak tau,memangnya apa?”
“Karena ada Pak Aydan dan yang lainnya.”
Dan rencanaku berhasil,Pak Aydan kini tertawa sesekali melirikku lalu fokus mengemudi. Soal ilmu agama ya? Aku kira semua yang memakai cadar atau menutup aurat pemikirannya akan seluas pak Aydan dan nenek Nining,Qeisya,Qabir dan Yaksa. Ternyata tidak semuanya,ada sebagian dari mereka yang mengutamakan ilmu agama yang tinggi dalam memilih pasangan,terutama keluarga Pak Aydan yang tadi.
Yang mereka liat pertama kali adalah ilmu agamanya,semisal dimana dia sekolah dan bagaimana orangtuanya. Hal seperti ini memang penting sih agar tak ada tabrakan pemahaman suatu hari nanti,namun Pak Aydan pernah bilang padaku cara mereka berlebihan dalam memilih.
Sudahlah,aku tidak terlalu paham. Mau berapa kalipun Pak Aydan berusaha menjelaskan aku tetap kurang paham soal ini,yang terpenting kan ada suamiku,ada nenek mertuaku dan saudara-saudaraku yang memahamiku. Bahas soal agama ternyata rumit ya? Kukira perjuanganku sudah selesai tapi ternyata tidak.
Kesempurnaan dan ketidaksempurnaanku akan tetap dipertanyakan mau sejauh apapun aku berjalan,orang-orang akan terus memberikan suara penilaiannya. Bahkan mungkin saat aku mencapai puncak karir,menjadi perempuan luar biasa di bisnis dan memakai cadar. Pemahaman luas,tau agama,paham orang sekitar. Tetap ada yang mengatakan masih kurang.
Karena sempurna atau tidak,itu tidak akan pernah ada jawabannya. Selalu ada ini itu. banyak sekali ya? Aku saja bingung.

Komentar Buku (49)

  • avatar
    Mita Mita

    Bagus banget kakk

    07/06/2025

      0
  • avatar
    Rizki Rahmawati

    Keren bgttt recommend untuk dibaca

    04/06/2025

      0
  • avatar
    santiimayaa

    bagus banget

    27/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru