logo text

Bab 27 Prestasi

Aku melajukan motor dengan kecepatan tinggi melewati beberapa jalan agar segera sampai di tempat tujuan. Harusnya aku sudah berada di sana karena acara sudah dimulai.
"Papa udah sampai di mana?" tanya Riska saat aku menjawab panggilannya.
Padahal ini masih di jalan raya dan aku terpaksa menepi karena sejak tadi ponsel bergetar tiada henti. Sudah satu jam Riska menunggu dan aku belum datang.
"Acara utama udah mau selesai. Fajar mau naik ke panggung sebentar lagi."
"Iya, Ma. Ini juga lagi di jalan!" teriakku dia antara bunyi bising kendaraan lain yang berlalu-lalang.
Aku mengabaikan omelan itu dan langsung memutuskan sambungan. Kuselipkan ponsel di saku, lalu kembali melaju. Hati ini berdebar sejak tadi karena aku akan menyesal jika sampai tidak menyaksikannya.
Hari ini adalah hari kelulusan Fajar di Sekolah Menengah Pertama. Putraku yang akan maju memberikan sambutan mewakili teman-teman satu angkatan, karena dia menjadi siswa terbaik tahun ini.
Tadi Riska berangkat duluan karena hendak ke salon pagi-pagi. Jadi aku membiarkannya pergi berdua dengan Fajar. Aku berjanji akan menyusul secepatnya.
Begitu hendak berangkat, ban motorku bocor karena terkena paku di depan gang. Terpaksa aku mendorongnya untuk mencari bengkel terdekat dan meminta bantuan.
Kami tak menyangka jika Fajar ternyata sangat berprestasi di sekolah. Kejadian yang cukup memalukan saat dia menyentuh salah satu murid waktu itu, ternyata menjadi pemacu baginya untuk semangat belajar.
Katanya ingin membuktikan bahwa sekalipun pernah bermasalah dan ditegur oleh guru, kelak sebuah prestasi gemilang akan diraihnya.
"Maaf Mas telat. Tadi ban motor bocor," ucapku saat duduk di sebelah Riska.
Aula sekolah penuh sesak dengan kehadiran siswa, guru juga para orang tua siswa yang sedang berbahagia hari ini.
"Aku kan udah bilang tadi. Harusnya Mas ikut kami. Jadinya gak kayak gini, kan?"
"Sudah jangan berisik. Yang penting Mas udah nyampai," bujukku.
Riska terlihat masih kesal sehingga aku mengelus pundaknya untuk menenangkan. Untunglah giliran Fajar belum tiba sehingga aku tak mendapatkan amukan darinya.
Setelah acara persembahan dari siswa kelas lain, kini tiba saatnya Fajar dipanggil maju dan memberikan kesannya selama di sekolah.
Anak itu dengan percaya dirinya maju ke depan dengan menggunakan toga dan senyuman lebar di bibir. Dengan percaya dirinya dia mengucapkan kata-kata tanpa bantuan teks.
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua. Papa dan Mama," ucap Fajar sembari melambaikan tangan ke arah kami.
Riska meneteskan air mata haru, sementara aku membalas lambaian itu. Para orang tua siswa lain menoleh ke arah kami dan berdecak kagum.
"Juga kepada guru-guru dan teman-teman semua. Kita akan berpisah, namun kenangan di sekolah ini tak akan terlupa." Suara Fajar terdengar sedikit serak.
"Saya ingin meminta maaf jika selama ini ada sikap yang menyinggung perasaan kalian. Sampai bertemu di lain kesempatan. Bye-bye," katanya, kemudian turun dari panggung dan langsung menemui kami
Riska memeluk Fajar dengan air mata bercucuran. Aku menepuk pundaknya karena rasa bangga yang teramat sangat.
Lihatlah, Damar. Putramu kini tumbuh sebagai seorang remaja yang membuat semua orang bangga karena pernah mengenalnya. Semoga kamu tenang berada di sana. Begitulah doaku dalam hati.
"Ma, aku mau bilang sesuatu," ucapnya setengah berbisik.
"Ada apa?" tanya Riska sembari melirikku.
"Aku mau kenalkan sama Mama gadis yang waktu itu aku sentuh," ucapnya malu-malu.
Riska menutup mulut karena tak percaya. Sementara aku tertawa kecil menanggapinya.
"Katanya dia lebih tua? Harusnya dia udah lulus tahun lalu. Terus sekarang udah SMA, dong," terka Riska.
Sekolah ini dikelola oleh sebuah yayasan besar, sehingga dari pendidikan dasar sampai menengah umum berada di satu kawasan. Hanya saja berbeda gedung.
Kami sengaja memilihnya agar memudahkan untuk memantau perkembangan Fajar.
Seingatku sewaktu rapat karena kasus Fajar dulu, gadis itu duduk bersama orang tuanya dan sedang menangis tersedu karena perbuatan putra kami.
"Benar, tapi dia ada di sini. Duduk paling belakang," kata Fajar senang.
"Bawa pacarmu ke sini. Kenalkan sama kami, Nak," ucapku sembari mengulum senyum.
Sejak tadi aku ingin tertawa melihat ekspresi Riska yang terkejut, tetapi menahannya karena tak enak hati jika didengar yang lain.
"Tunggu sebentar, Pa."
Fajar berpamitan dan berjalan menuju ke belakang. Mata kami mengikuti langkahnya ketika berhenti pada kursi paling ujung. Seorang gadis manis tampak duduk sendirian.
"Mas tau?"
"Tau apa?"
"Fajar punya pacar."
Aku mengangguk dan kekesalan semakin tampak di wajah Riska.
"Kenapa Mas gak ngasih tau aku?"
"Rahasia lelaki," jawabku menggodanya.
Riska membuang pandangan, lalu aku mencoba meminta maaf dan merayunya kembali, agar tak menggerutu. Acara masih berlangsung dan akan menjadi tak nyaman jika dia marah-marah terus.
Untungnya para orang tua siswa yang lain sedang fokus ke arah panggung, di mana beberapa siswa sedang mengadakan pertunjukan musik. Suara omelan Riska juga tak kentata terdengar karena sound sistem yang cukup kencang.
"Udahlah, Ma. Jangan marah-marah terus. Apa Mama mau kulitnya banyak kerutan?" keluhku.
Dalam situasi begini, harusnya Riska pandai menempatkan diri, bukannya bersikap kekanakan.
"Aku bisa beli skincare untuk perawatan," jawabnya.
Aku menggeleng dan membiarkannya berbicara sendiri. Laku, kembali fokus menyaksikan acara panggung di depan.
Kami saling mendiamkan cukup lama, hingga Fajar datang.
"Ma, Pa. Kenalin ini pacarku."
Kulihat gadis itu mengulurkan tangan dan Riska menyambutnya dengan canggung.
"Riska" kata gadis itu memperkenalkan diri.
Aku tersenyum dan membalas uluran tangannya. Riska berbisik dan bertanya kepadaku. Sepertinya dia masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Nama kamu sama dengan Mama?" tanya Riska tak percaya.
"Iya, Ma. Nama saya Riska. Fajar cerita soal itu waktu bilang cinta. Karena itu saya menerimanya," ucap gadis itu malu-malu.
Aku tergelak karena sudah tak dapat menahannya. Fajar pernah bercerita alasan mengapa dia menyukai gadis ini. Nama yang sama, juga sosok yang mirip secara tampilan fisik dengan Riska, membuat anak itu jatuh hati.
"Oke. Senang berkenalan dengan kamu, Riska," ucap istriku sambil tersenyum.
"Fajar, ingat apa pesan Papa dulu?"
"Masih ingat, Pa."
"Jangan macem-macem," ucap Riska cepat.
"Iya, Ma. Gak. Kan aku juga cuma ketemu di sekolah," jawabnya.
Aku sudah memberi Fajar restu saat dia meminta izin untuk berpacaran. Awalnya aku melarang, tetapi dia merajuk dan mendiamkanku berhari-hari.
Akhirnya aku menyerah dan memberi restu dengan catatan mereka harus tahu diri dan tidak boleh melakukan hal-hal di luar batas. Aku mengancam akan mengusirnya dari rumah jika berani berbuat asusila.
Di masa pubertas biasanya para remaja akan menjadi sangat penasaran akan hal-hal yang belum mereka ketahui, juga ingin mencobanya. Itu yang harus diperhatikan para orang tua agar jangan sampai lepas pengawasan.
Mereka berbicang cukup lama untuk saling mengenal. Riska menanyakan secara detail mengenai asal usul gadis itu dan pekerjaan orang tuanya.
Aku dan Fajar memilih menyingkir dan membahas tentang hal lain. Biarkan saja dua wanita itu asyik berbincang sehingga bisa lebih akrab.
"Kalau udah lulus SMA nanti mau ambil jurusan apa, Nak?" tanyaku kepada Fajar.
"Kedokteran, Pa."
"Yakin kamu sanggup? Berat, loh."
"Semoga aku mampu, Pa."
Aku tertegun menatapnya. Putraku baru berusia enam belas tahun tetapi sudah cukup dewasa. Dia bahkan sudah tahu apa yang kelak akan dicapainya dalam hidup.
"Kalau begitu belajar lebih keras. Papa dan Mama akan dukung sepenuhnya. Soal biaya kamu gak usah pikirkan. Kami yang akan siapkan."
"Siap, Pa."
"Jangan pacaran terus."
"Habisnya cantik sih, Pa."
Kami tergelak dan melanjutkan perbincangan hingga acara selesai. Acara ditutup dengan makan-makan yang sudah tersaji di meja prasmanan. Beberapa orang petugas katering sudah bersiap melayani kami.
Aku memeluk bahu Fajar dan mengajaknya mengambil makanan, sementar Riska bergandengan tangan dengan Riska kecil menuju ke tempat yang sama.
Sepertinya tak lama lagi, aku akan memiliki menantu dan cucu.

Komentar Buku (361)

  • avatar
    Anandita Kurnia

    ceritanya bagus

    10/07

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    keren banget thor 👍👍👍

    20/06

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , happy ending..

    26/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru