logo text

Kecurigaan Aksa

*****
Di dalam sebuah kamar. Sepasang suami istri tengah duduk di balkon kamar mereka.
Mereka berdua terpaku pada foto seorang wanita cantik yang tersenyum manis di balik hijabnya.
Sambil mengelus foto tersebut dengan jari-jemarinya yang gemetar, wanita itu berusaha keras menahan derai air mata yang mengalir tanpa henti. Setiap tetes air mata yang jatuh menambah beban pada hatinya yang telah retak, seolah setiap kenangan bersama sang wanita dalam foto tersebut semakin menusuk jantungnya.
" Sudah lama kita mencari keberadaan nya. Akhir nya sekarang kita bisa menemukan nya." Ucap Yudha.
" Iya, mas. Kita sudah berhasil menemukan nya. Anak yang selama ini kita cari." Kata Maya.
Wanita itu adalah Maya, ibu kandung dari Lian yang selama ini menjalan kan perusahaan mereka sendiri bersama dengan suami nya.
*
*
*
Begitu sampai di kantor, Lian berjalan dengan cepat menuju meja sekretaris nya.
" Ada kiriman untuk saya?" Tanya Lian pada sekretaris nya.
" Tidak, pak. Oh ya pak. Buk Maya sudah menunggu bapak di dalam ruangan."
" Terima kasih."
Lian pun bergegas menuju ruangan nya. Di dalam mama nya sudah duduk menunggu kedatangan Lian.
" Ma... Sudah lama?"
" Belum. Baru juga smpai."
" Lihat ini." Maya meletakkan amplop coklat ke atas meja Lian.
" Apa ini?" Tanya Lian penasaran.
" Lihat saja." Jawab Maya.
Lian pun mengambil amplop itu dan membuka nya. Mengambil kertas yang ada di dalam amplop. Membaca nya dari atas sampai bawah. Lalu membaca lembar berikut nya juga.
" Nggak mungkin. Ini nggak mungkin, ma." Gumam Lian menggelengkan kepala.
" Tadi nya mama juga berfikir seperti itu. Tapi itu kenyataan nya. Itu hasil tes DNA yang terbaru. Anak buah mama sudah menemukan nya. Menemukan adik kamu." Jawab Maya.
" Tapi kenapa harus dia, ma?"
Lian terlihat frustasi. Dia meletakkan kertas situ kembali dengan asal.
" Bagaimana nanti aku akan bersikap saat kami bertemu. Apa ini? Mungkin anak buah mama salah. Bisa saja kan mereka salah mendapat kan informasi?" Bantah Lian menolak kebenaran yang dia terima.
" Ini bukan sekali, Lian. Tapi sudah di lakukan tiga kali. Dan hasil nya sama. Dia itu adik kamu. Kamu harus terima itu." Ucap Maya tegas.
" Oke. Aku bisa terima. Bagaimana dengan dia? Mama pikir dia akan menerima nya begitu saja? Nggak mungkin, ma. Di tidak akan percaya dengan semua ini."
" Mama juga tidak tahu harus jika itu terjadi. Mama kesini karena mama pikir kamu bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Cuma kamu yang bisa menemui nya. Temui dia. Dan kata kan yang sebenar nya. Kata kan tentang semua kebenaran ini, Lian. "
Mata Lian menatap serius ke manik mata sang mama. Mencari sebuah kebohongan di sana. Tapi dia tidak menemukan nya.
" Aku tidak bisa, ma." Tolak Lian.
" Kalau kamu tidak bisa, berarti tidak ada yang bisa melakukan nya. Biar papa sendiri yang turun tangan." Sahut Maya.
Lian terdiam tanpa membalas nya. Dia menghempaskan punggung nya ke sandaran kursi. Kenyataan yang harus dia terima belum mampu di cerna dengan baik. Bahkan tidak bisa di terima oleh akal nya begitu saja.
*
*
*
" Loe kenapa lagi?" Tanya Reno.
Aksa hanya diam.
" Aksa. Loe itu kayak angin tau nggak. Kadang ke barat, kadang ke timur. Kadang mood loe itu bagus. Kadang... ya seperti ini. Bad mood. Loe kenapa lagi? Cerita sama gue. Jangan di pendam sendiri." Tambah Reno.
" Seperti nya Lian sudah bermain curang di belakang gue." Ucap Aksa.
" Ngomong apa sih loe? Mana mungkin dia bermain curang dengan loe. Dia itu teman baik kita man." Bantah Reno.
" Teman baik? Kalau dia teman baik gue. Nggak mungkin dia diam - diam menghubungi Almira di belakang gue."
" Lian menghubungi Almira di belakang loe? Loe tahu dari mana? Jangan asal nuduh, Aksa." Tanya Reno penasaran.
" Gue nggk nuduh. Gue lihat sendiri di hp Almira.  Ada beberapa panggilan masuk yang di jawab dan tidak di jawab Almira. Untuk apa Lian menghubungi istri gue? Ada perlu apa dia sama istri gue? Kalau bukan untuk bermain curang."
" Harus nya loe tanya Almira. Ada urusan apa Lian menghubungi dia. Semua itu bisa di bicara kan baik - baik, Aksa. Bukan dengan cara di pendam sendiri terus loe menuduh yang belum tentu apa yng loe pikir kan itu yang terjadi." Saran Reno memberikan angin dingin untuk Aksa.
" Apa itu arti nya loe dan Almira lagi nggak baik - baik aja nih?" Tebak Reno.
Aksa hanya diam. Tapi diam nya Aksa membuat Reno yakin tebakan nya benar.
" Loe nggak seharus nya menuduh Almira ada scandal di belakang loe. Ini hanya salah paham saja, Aksa. Bicara kan lah baik - baik dengan Almira dan Lian."
" Gue nggak nuduh. Gue punya bukti." Jawab Aksa.
Reno mendesah panjang. Membiarkan Aksa diam sendiri dalam pikiran nya.
*
*
*
*****
" Almira... Almira..." Panggil Aksa.
" Ada apa sih mas? Pagi - pagi sudah ribut saja? Kenapa? Mas Aksa perlu apa?" 
" Hp saya masih di cas. Saya mau pinjam hp kamu buat telpon mama dan papa. Mereka sudah sampai apa belum." Kata Aksa.
Tanpa Aksa memberitahu kedua orang tua nya soal kondisi Galang. Kedua orang tua nya memutuskan untuk kembali ke Jakarta sore itu juga. 
" Nih... Lagian mas Aksa kalau mau pakai barang Almira tinggal ambil saja. Nggak usah pakai jerit - jerit kayak tadi ya." Kata Almira memberikan ponsel nya pada Aksa.
Aksa mengangguk pelan.
" Almira ke dapur dulu. Masih mau masak."
Almira meninggalkan Aksa saat Aksa menghubungi kedua orang tua nya. 
Setelah Aksa selesai menghubungi mereka, Almira menghampiri Aksa.
" Mas Aksa. Sudah selesai?"
" Sudah."
" Ayo, kita sarapan." Ajak Almira.
" Almira. Saya boleh tanya sesuatu?" Tanya Aksa.
" Tanya saja mas. Mau tanya soal apa?" Jawab Almira.
" Tadi saya lihat ada beberapa panggilan dari nomor nya Lian. Apa Lian sering menghubungi kamu di belakang saya? Ada urusan apa Lian sampai harus menghubungi kamu?" Tanya Aksa.
" Tidak ada urusan apa - apa, mas. Tapi Almira tidak pernah menjawab telpon dari mas Lian. Pernah sekali Almira angkat. Mas Lian mau ngajak ketemu, tapi Almira langsung tolak kok mas. Setelah itu Almira tidak pernah jawab telpon mas Lian lagi." Jawab Almira.
" Apa itu arti nya kamu dan Lian sering bertemu di belakang saya? Seperti apa hubungan kalian?" Tanya Aksa.
" Tidak ada hubungan apa - apa, mas. Kita pernah beberapa kali bertemu. Dan saat pertama bertemu, Almira juga sudah pernah bilang sama mas Lian kalau Almira susah menikah. "
" Ah... Sudah lah. Saya nggak mau dengar penjelasan kamu lagi. Saya kecewa sama kamu. Kamu tidak pernah cerita soal ini dengan saya."
Aksa meletakkan ponsel Almira di atas lemari hias dan pergi berlalu dari hadapan Almira.
*****
*
*
*
" Almira..." Teriak Lian memanggil Almira.
Almira baru saja keluar dari supermarket saat Lian melihat nya di sana. Lian memanggil nama Almira dan berlari mengejar nya.
Almira menolah ke arah datang nya suara.
" Mas Lian." Gumam Almira.
" Syukur lah. Akhir nya saya bertemu kamu di sini. Saya sudah berulang kali menghubungi kamu, tapi tidak kamu angkat."
" Maaf, mas. Mas Aksa sudah salah paham dengan telpon dari mas Lian. Dan saya nggak mau membuat suami saya kecewa dengan itu."
" Tapi sekarang ini saya perlu bicara penting dengan kamu." Ujar Lian.
" Penting? Soal apa mas?" Tanya Almira penasaran.
" Saya nggak bisa bilang di sini. Mungkin kita bisa bicara di sana. " Tunjuk Lian ke salah satu cafe yang ada di area itu.
" Sebentar saja, Almira. Saya tidak akan mengganggu waktu kamu." Desak Lian.
" Baik lah, mas. Hanya sebentar saja kan?" Tanya Almira memastikan.
" Iya. Sebentar." Jawab Lian dengan yakin.

Komentar Buku (9)

  • avatar
    Arjuna Adi P

    terimakasih sangat bagus

    21/06

      0
  • avatar
    Vikrifirman VI

    like

    31/01

      1
  • avatar
    yunieeennrl

    bagus sangat

    30/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru