Alisya berangkat ke kampus bersama dengan Aina. Mereka naik taksi, dan saat keluar mereka terus mengobrol. Wajah mereka terlihat ceria dan semringah karena sebelum berangkat mereka mendapatkan banyak ucapan terima kasih dari tetangga kos Aina atas makanan yang mereka bagikan semalam. "Aku baru tahu loh ya kalau mendapatkan ucapan terima kasih yang tulus dari orang-orang ternyata bisa membuat bahagia juga. Rasanya, aku seperti jadi manusia yang berguna gitu," ucap Alisya semangat. Aina tertawa mendengar itu. "Sebenarnya, kebaikanmu semalam berada di tempat yang tepat. Maksudku, tetangga kosanku semuanya baik-baik jadi pemberian sekecil apapun mereka terima dengan baik. Sulit loh mendapatkan tetangga dan ibu kos yang baik," balas Aina. Mereka hampir dekat dengan gerbang, dan Aina langsung berhenti melangkah. "Sya, itu-" Aina tak melanjutkan perkataannya karena Alisya langsung melihat ke arah yang dimaksud Aina. Alisya memicingkan mata dan memutar bola matanya bosan. Benar sekali, itu keluarganya. Para orang tua dan juga semua kakak tirinya, kecuali Radit. "Bagus sekali. Harusnya aku tidak masuk kuliah hari ini," gerutu Alisya kesal. Walau enggan bertemu dengan keluarganya, Alisya tetap menghampiri mereka yang terlihat khawatir. "Alisya! Ya Tuhan! Mama sangat takut kamu kenapa-kenapa!" pekik Diana senang. Dia langsung berlari dan memeluk Alisya dengan erat. Alisya hanya bergumam dan membalas pelukan ibunya sekilas. "Kalian sedang apa di sini? Pulanglah. Jangan membuatku malu karena jadi pusat perhatian," ujar Alisya ketus. Semuanya terkejut mendengar itu. "Malu?! Kamu tidak berpikir bagaimana kami khawatir semalaman karena kamu hilang?!" seru Axel kesal. Alisya mendesis kesal mendengarnya. Oke, sekarang dia merasa bersalah. "Baiklah. Aku minta maaf. Aku hanya butuh waktu untuk menyendiri. Itu saja. Nanti pulang kuliah aku akan ke rumah. Kalian tunggu saja," ucap Alisya. Dia menatap para orang tua, namun menghindari tatapan Andra. Setelah mengatakan itu Alisya pun mengajak Aina untuk segera ke kelas. Sementara Andra, hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Melihat sikap Alisya barusan, Andra sadar sudah membuat gadis itu kecewa. *** Kali ini, rapat dua keluarga besar dilakukan. Alisya merasa tak nyaman sendiri karena semua anak Sarah hadir. Tapi, tak apa. Hari ini dia akan mengatakan tujuan hidup yang dia inginkan. Semoga saja tak ada lagi yang menentang keputusannya kali ini. "Seperti yang pernah aku katakan, aku tak ingin tinggal di rumah ini lagi. Karena itu, aku akan tinggal sendirian, aku tak mau ditemani siapapun termasuk oleh Kak Axel. Aku benar-benar ingin tinggal sendirian agar tak menimbulkan masalah lagi untuk kalian," ucap Alisya. Dengan berani dia menatap Vina yang terlihat membencinya. Entah kenapa, harusnya Alisya lah yang membenci gadis itu. "Aku akan mencari tempat tinggal di dekat kosan Aina agar kami bisa berangkat dan pulang kuliah bersama. Aku sebenarnya tak keberatan tinggal di kosan juga. Tapi, kosan yang satu tempat dengan Aina sudah penuh," lanjut Alisya. Hari ini, dia terlihat sangat kuat dan tegar. Berbeda sekali dengan semalam. "Sya, tapi itu terlalu berbahaya. Ayah tak akan bisa tenang jika kamu tinggal sendirian di luar sana," ucap Hendra keberatan. Diana pun mengangguk, setuju dengan pendapat mantan suaminya. Dia juga tak setuju Alisya tinggal sendirian di luar sana tanpa pengawasan keluarga. "Lalu aku harus bagaimana? Tetap tinggal di sini dan terus di salahkan begitu? Aku gak mau dituduh merebut perhatian kalian lagi. Jadi lebih baik aku mengalah dan pergi. Karena aku sadar diri siapa diriku di rumah ini," desis Alisya. Lagi, Vina menjadi tatapan semua orang. Dia terlihat marah namun tetap diam tak mengatakan apa-apa. "Kalau begitu kembalilah bersama kami." Diana langsung bicara. Namun Alisya langsung menggeleng. "Aku tidak mau." "Alasannya? Kami menyayangimu dan Axel pun selalu menyayangimu," ujar Diana gemas sendiri pada anaknya. "Justru itu. Kak Axel selalu fokus padaku hingga akhirnya selalu bermasalah dengan pacar-pacarnya. Akhirnya, aku juga disalahkan oleh semua mantan pacar Kak Axel," jawab Alisya dengan jujur. Axel membelalak kaget mendengar itu. Dia tak menyangka Alisya mengetahui hal itu. "Pokoknya, aku ingin tinggal sendirian. Aku ingin mandiri," ujar Alisya tegas. Dari sorot matanya, dia terlihat serius dengan keinginannya tersebut. "Aku tak mau penolakan lagi," lanjut Alisya. Semua yang ada di sana terdiam, bingung harus berkata apa. Andra pun hanya bisa mendengarkan tanpa bisa berbuat apa-apa. Sejak tadi, Alisya terus menghindarinya. Untuk bertatapan pun gadis itu terlihat enggan. Setelah pembahasan disertai perdebatan yang panjang dan cukup melelahkan, akhirnya para orang tua setuju dengan keinginan Alisya untuk keluar dari rumah dan tinggal sendirian. Setelah pembahasan selesai, Alisya langsung mengajak Rama dan Axel untuk menemaninya mencari tempat yang cocok. Alisya melewati Andra begitu saja, seolah tak melihat pria itu. Diana dan David pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Mereka tak bicara apa-apa lagi pada keluarga Hendra dan pergi begitu saja. Hendra pun ikut berdiri dan memilih masuk ke dalam kamarnya. Dia masih marah pada Vina yang menjadi alasan Alisya ingin pergi dari rumah. Sedangkan Sarah, diliputi rasa malu dan bersalah. Karena ulah anaknya, suaminya harus kembali tinggal terpisah dengan anak kandungnya. Padahal Sarah tahu selama apa Hendra menunggu agar bisa tinggal bersama dengan putrinya. "Vina, kamu masih diam saja? Minta maaf pada semua orang. Perkataanmu itu-" "Terus. Dia lagi yang Ibu bela. Aku capek dengernya. Memangnya siapa sih anak Ibu yang sebenarnya? Dia atau aku?" Bukannya menurut dan mengaku salah, Vina malah menantang. Mata Sarah melebar kaget mendengar itu. "Vina, berani-beraninya kamu bicara seperti itu?!" "Terus saja salahkan aku. Dia yang manja! Masalah sepele kok dibesarin. Dasar caper," desisnya. "Alvina! Kau harusnya sadar diri! Bukan malah terus menyalahkan Alisya!" Vino bersuara dengan lantang. Lama-lama dia kesal juga melihat tingkah laku adik kembarnya tersebut. Vina menatap Vino penuh kebencian dan langsung pergi dari sana dengan kaki menghentak. Bukannya sadar, dia malah tambah membenci Alisya. Baginya, Alisya itu masalah bagi keluarganya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lanjutannya di tunggu kak 👍
13/06
0bagus
19/03
0good
23/02
0Lihat Semua