Chapter 48.

Mereka masih saling diam, Banyu dan Celine. Mereka telah sampai di sebuah tempat. Di mana Celine dan Banyu biasa saling bercengkrama dan melepas penat dari banyaknya tugas sekolah dulu, semasa SMP dan SMA. Tempat ini Banyu yang pertama kali menunjukkan dan pernah menjadi tempat favorite Celine juga. Walau Celine tidak menyukai Banyu secara hati, tapi pertemanan mereka Celine tulus. Dulu, sudah lama juga mereka tidak ke tempat ini. Memang Celine menyukao Raka tapi pertemanan ini awalnya tulus buat Celine sampai akhirnya dia ditolak terus. Tidak terima membuatnya selalu memanfaatkan Banyu. Memang, cinta Banyu akhirnya hanya sebuah pemanfaatan bagi Celine. Yang masih belum mendapatkan apa-apa. Tapi, meski begitu Celine enggak akan pernah menyerah akan hal itu. Dia tidak mau terbelenggu hanya karena Raka belum menyukai dia. Tekatnya sudah bulat.
"Tumben kamu mau menerima hadiah dari Bening?" tanya Celine penasaran. Dia tidak tahan mereka berdiam-diam saja sejak tadi.
"Iya, aku ingin berdamai dengan diri sendiri aja. Udah capek juga kan ngelarang Bening untuk gak memberikan apa pun ke aku. Sebenarnya aku merenung juga beberapa hari ini. Sejak keluar dari rumah sakit kemarin. Sebenarnya aku juga gak ngerti kenapa selama ini aku terus saja menolak Bening -- padahal, kalau bisa berdamai rasanya lebih menyenangkan," ujar Banyu menghembuskan napasnya.
Celine hanya mengangguk. Tapi kemudian dia menyadari, kalau Banyu pun berubah dia harus gimana? Tidak!! Sepertinya dia tidak bisa membiarkan kalau Banyu berubah sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
"Kamu berubah," ujar Celine pelan.
Banyu menoleh kepada Celine, dia mengangguk. Dia pun bingung, apalagi hatinya cukup dilema. Tapi dia juga tidak menyangkal perkataan Celine.
"Aku justru merasa berubah sudah lama Line. Bahkan, dulu aku tidak pernah berbuat kasar sama Bening, walau tidak suka dia selalu menempel kepadaku. Dia terus saja berbuat baik. Sekarang? Rasanya aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri," ujarnya menjelaskan. Dia menatap ke depan, menerawang bahwa selama ini yang dilakukannya kepada Bening cukup jahat.
"Kamu enggak apa-apa kan?" tanya Banyu. "Tapi, bukannya selama ini kamu justru yang mendukung ku untuk baik kepada Bening? Ya kan, bagaimana pun dia memang masih anak delapan belas tahun yang masih saja terbawa arus perasaan, cinta monyett lah istilahnya," jelas Banyu. Celine hanya mendengarkan dia membenarkan itu. Tapi, selama ini dia tidak benar-benar ingin melakukan hal itu. Dia hanya berakting, kamuflase semata.
"Iya, aku harus bagaimana? Gak mungkin melarang juga kan? Lebih baik begitu emang. Tapi, apa kamu sudah memutuskan apa yang akan kamu lakukan dengan hubungan kita setelah ini?" tanya Celine.
"Aku masih berusaha untuk meminta mam berasabar. Aku mau meminta Mama untuk dekat sama kamu. Laras juga bahkan cukup mendukung," ujar Banyu antusias.
"Hem, tapi aku gak yakin," jelas Celine.
"Kita coba dulu ya?" pinta Banyu, memegang tangan Celine dan menggenggamnya erat-erat. Mau tak mau Celine akhirnya meneyetujui saja.
"Habis ini kita kemana?" tanya Celine.
"Kamu maunya kemana?" tanya Banyu balik,
"Aku sih terserah kamu aja," balas Celine mengedikkan bahunya.
"Oke, kita jalan-jalan aja yuk? Sekalian ke apartemen kamu, biar kamu siap-siap. Buat nanti malam datang ke rumah. Bareng aku aja. Nanti, aku antar pulang lagi," ujar Banyu.
"Kamu gak capek?"
"Ehm, buat kamu ya jelas enggak dong," senyum Banyu membuat Celine terpesona. Padahal, sudah sering sekali dia melihat senyum itu, tapi tidak pernah terpesona seperti kali ini. Apa, benar dia sudah jatuh cinta kepada Banyu? Tapi Raka? Batinnya tidak bisa diprediksi. Lebih baik, dia mempercepat rencananya.
***
"Apaan sih Nay? Lo narik-narik gue?" ujar Rain tak percaya.
"Bantu gue dong Rain," pinta Naya memohon.
"Apaan sih?"
"Bening, dia … Bening dalam bahaya," jelas Naya.
"Nay, jangan main-main!" sergah Rain tidak percaya dengan apa maksud Naya.
"Gue serius Rain, ..." ujar Naya menjeda. "Gue gak bisa bilang ini ke Bening, tapi gue mohon sama loe untuk selalu ada di dekat dia. Untuk beberapa waktu ini Rain, plis" mohon Naya sekali lagi.
"Iya kenapa Nay? Pelan-pelan. Tarik napas dan buang, baru loe bilang ke gue apa yang terjadi," jelas Rain.
Naya melakukan apa yang dikatakan oleh Rain. Akhirnya dia cukup tenang, dan memulai mengatakan yang sebenarnya.
"Gue denger waktu di rumah sakit, waktu itu gue lihat ada Bening di sana dan keluarganya. Gue enggak tahu apa yang terjadi. Sampai akhirnya, gue mendengar seseorang—Celine pacar Banyu untuk mencelakakan Bening. Gue enggak tahu itu benar apa enggak Rain, tapi gue melihat ada dua preman, dan berwajah sangar. Celine memerintahkan mereka untuk mencelakakan Bening, ini gue denger sendirian. Dan, gak ada yang tahu. Hanya saja gue berPapasan dengan Celine, dia natap gue kaya mau nelan gue aja. Cuma gue sih gak terlalu peduli. Dan, gue takut ini enggak baik buat Bening," ujar Naya mencoba menjelaskan secara detail kepada Rain.
"Kenapa loe gak bilang langsung?" tanya Rain.
"Gue gak tega Rain, loe gak liat senyum nya hari ini? Dia jarang banget senyum semenjak Banyu selalu berlaku kasar, walau cuma ucapan. Padahal, Bening hanya menyukai dia. Dulu, saat Bening menyukai Banyu dan entah tahu atau tidak Bening suka sama dia semua baik-baik saja. Ketika Celine dan Banyu berpacaran semua berubah. Gue gak bilang Banyu begitu karena Celine sih, tapi mau gak mau, dampak nya pasti ada," ujarnya menghela napas.
"Terus loe mau gue gimana?" tanya Rain.
"Loe kan dekat sama dia, Bening maksud gue. Loe bisa kan jaga dia?" Naya meminta persetujuan.
"Setidaknya jaga dia buat gue Rain, atau sebagai teman loe," ujar Naya lagi.
"Loe gak takut Naya?"
"Takut apa?"
"Kalau ternyata gue juga punya niat sama Bening? Atau berbuat jahat?"
"Gue percaya loe gak akan punya niat jahat sama Bening. Tapi niat, maksud loe apa? Jangan – jangan … Rain? Loe gak suka Bening kan?" Naya tak percaya kalau itu terjadi.
Tapi Rain justru mengedikkan bahunya. "Gak ada yang tahu soal hati," jawabnya.
"Rain?" Naya tak percaya.
"Rain," panggil Bening.
Rain menoleh ke arah Bening dan Bening juga sama, menoleh ke arah Rain juga kepada Naya secara bersamaan. "Kalian ngomongin apa?" tanya Bening.
"Ah … enggak ada," jawab Naya.
"Beneran?" tanya Bening ke arah Rain. Bening mendengar sekilas ketika Rain berbicara masalah hati, tapi dia gak yakin apa yang mereka bicarakan.
"Bukan apa-apa," jawab Rain.
"Udah? Ayo pulang, biar aku antar kalian berdua" ujar Rain, Bening menatap Rain tak percaya. Tapi akhirnya dia mengangguk, menghembuskan napasnya. "Ayo, kalau gitu," jawab Bening. "Ayo … aku kangen banget tahu cerita sama kamu," ucap Bening menggandeng lengan Naya.
Naya dan Rain sempat saling pandang dan Rain hanya memandangnya lalu mengangguk. Naya akhirnya menghembuskan napas pelan agar Bening tidak tahu.
"Aku belum cerita ya?" ujar Bening. "Mas Banyu ajak aku makan di rumahnya. Rame- rame sih, tapi kan hari ini dia sidang, tadi pagi aku kasih hadiah. Mas Banyu gak nolak lho," ujar Bening lagi.
"Aku seneng deh Nay. Mas Banyu gak perlu balas perasaan aku sih, tapi cukup berbuat baik aja. Aku seneng dia kembali seperti Banyu yang dulu, waktu kecil kita bareng-bareng," ungkap Bening.
Naya hanya memandang Bening lalu jalanan mereka. Memang, Banyu bukan orang jahat kok, dia hanya kesal aja kalau Bening selalu mengganggunya. Tapi, bukan berarti dia langsung bisa menolak. Tidak!! Banyu Mungkin menolak Bening tapi tidak pernah kasar. Begitu juga dengan orang lain, hanya saja Banyu akan keras kepada anak-anak lain kalau sudah menganggu Bening dan adiknya Laras. Tapi, semakin lama dia merasa Banyu berubah. Ketika nendengar Banyu menerima hadiahnya sebenarnya Naya gak heran. Karena saat itu, Naya yang baru tahu kalau Banyu dirawat, datang ke rumah sakit setelahnya dia memberi tahu rencana Celine kepada tante Rere dan tante Dinda.
Naya masih ingat saat Banyu terkejut dia datang.
"Kamu?" tanya Banyu tak percaya.
"Iya, maaf Mas Banyu saya baru tahu kalau mas Banyu sakit. Tahu dari Bening sekilas saja."
"Apa yang membawa kamu kemari?"
"Mas, saya cuma mau minta. Mas bisa gak jangan terlalu kasar sama Bening?"
"Maksud kamu?" Pertanyaan Banyu membuat Naya cukup geram. Tapi masih bisa dia tahan.
"Aku gak tahu Mas Banyu pura-pura gak tahu atau hanya sekedar mengelak," ujar Naya
"Tapi, aku mohon mas Banyu kan lelaki, punya adik perempuan dan seorang ibu. Bisa kan baik sedikit aja mas sama Bening. Jangan kasar lah, kalau Bening suka sama mas Banyu, emang mengganggu banget ya?" tanya Naya dengan raut serius.
Banyu yang mendapatkan pertanyaan itu bukan masalah takut atau tidak. Tapi selama ini pun dia emang gak terganggu selain risih aja kalau Bening menempel kepadanya.
"Kalau Mas risih, bisa kok bilang sama dia pelan-pelan. Jangan bentak dia kaya gitu, dia manusia lho Mas. Gimana perasaan mas Banyu kalau seandainya Laras yang berada di posisi itu?" tanya Naya telak.
"Sebenarnya kamu mau bilang apa?" tanya Banyu to the point.
Walau dia tau maksud Naya tapi dia ingin mendengar langsung.
"Mas Banyu, biarkan Bening menyukai Mas Banyu sebagaimana seorang anak remaja jatuh cinta. Naya mohon, demi Bening. Mungkin mas Banyu mengira Naya beginu tidak masuk akal. Tapi, biarkan Bening sendiri yang pada akhirnya menjauh dari ma Banyu kalau dia tahu perasaannya memang tidak terbalaskan. Jangan pernah membenci Bening karena perasaan seseorang tidak bisa dipaksa mas. Naya tahu itu. Jika suatu saat Bening memang sudah menjauh, dan dia sadar mas Banyu tidak usah berkata apa-apa. Cukup doakan saja dia. Karena, rasanya saat kita mencintai dan jatuh cinta kepada orang lain itu memang indah Mas. Tapi saat kita tahu juga kalau perasaan kita takkan terbalas pasti akan mundur sendirinya. Mas Banyu cukup jangan kasar kepada Bening aja," jelas Naya.
Naya meminta begitu bukan karena apa-apa. Dia merasa Banyu juga berubah bukan karena keinginannya. Seperti Banyu selalu kasar kepada Bening seolah ada emosi yang tersimpan dan itu bukan untuk Bening sebenarnya. Hanya saja Banyu selalu melampiaskan kepada Bening.
Dan Naya sekarang mengingat perkataan Bening tadi, bukanlah hal besar. Suara Rain dan teguran Bening yang menyentuh pundaknya menyadarkan Naya kalau mereka sudah sampai di komplek perumahan mereka.
"Udah sampai," seru Rain.
"Nay, kita udah sampai. Kamu mau diantar Rain langsung atau mau di jemput Adit?" tanya Bening,
"Eh … udah gue antar aja!" ajak Rain langsung.
"Oke, jagain ya," ujar Bening.
"Deket juga kok, apa yang mau dijagain sih," balas Naya sewot. "Lo tuh yang harus jaga diri. Janga. Suka teledor. Tulalit," ujar Naya yang membuat Bening tersenyum lalu memeluk Naya. Ternyata benar. Sahabatnya sudah kembali.
"Ya udah aku turun dulu ya," ujar Bening. Rain dan Naya hanya mengangguk. Setelah Bening turun, dia menatap kepergian mobil Rain. Bening merasa ada yang berbeda dengan Naya begitu juga Rain yang tertangkap beberapa kali memandang Naya. Sedangkan Naya banyak melamun tadi.
Bening belum bisa bertanya banyak, sebab waktunya juga belum tepat. Ah, hari ini dia akan ke rumah Banyu. Padahal, rumah ini dekat dengan rumah Banyu. Bening menatap rumah di sebelah rumah orang tuanya. Memang rumah Banyu paling besar, halaman luas dan berlantai tiga. Dia merindukan bercengkrama dengan orang yang ada di rumah itu.

Komentar Buku (24)

  • avatar
    tiwisaya

    novel ini bagus banget

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Widiasiti Lestari

    baguss bgt kak

    15/05/2025

      0
  • avatar
    Isma Cimma

    mantap

    05/02/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru