Dengan panik pria bertopi hitam membuat panggilan pada telepon genggam hitam putihnya. Ia merasa sedikit kesal karena seseorang di seberang sana tak ada yang menjawab teleponnya. Si pria kembali pada Malini yang masih terbaring. Wajahnya masih pucat. Ia mencoba sekali lagi dengan doa yang penuh harap. Ditekannya dada Malini sekuat tenaga. Berbisik di telinga cantiknya bahwa ia harus kuat demi anak-anaknya. "Malini ... Ayo! Buka matamu! Masih ada anak-anakmu! Kasihan mereka! Kau harus tetap hidup! Di mana dirimu yang kuat, keras kepala dan tak takut dengan semua keadaan yang mendera. Bangun!" Pria bertopi hitam mendekatkan wajahnya pada hidung Malini. Mencoba memeriksa dengan cermat dan seksama. Tak ada perubahan. Wajah itu masih pucat. Bibirnya tak berwarna sama sekali. Tidak menarik. Malini yang terbujur kaku terlihat oleh mata-mata awam. Padahal dalam dunia yang lain Malini tengah bergembira. Ia berlarian di sebuah tempat tanpa ada perasaan sedih dan luka hatinya. Malini tertawa, bersenandung, seraya menikmati alam dan nyanyian. Ia lupa bahwa Suma dan Kanaya menantinya. Sebuah suara memanggilnya. Malini menyebutnya suara ibu. Suara ibu itu memintanya untuk kembali. Ia enggan awalnya. "Malini .... Malini ...." "Ibu. Apa itu ibu?" tanyanya menyongsong sebuah suara. "Iya. Ini ibu, Nak!" "Ibu ...." teriak Malini seraya memeluk sebuah suara. Air matanya luruh satu satu. Menumpahkan segala keluh kesah yang ada. "Mengapa ada di sini, Nak? Di sini bukan tempatmu!" "Ibu ... Di dunia sana, semua orang sangat kejam, sangat jahat. Tidak seorangpun memiliki hati yang baik!" "Tidak seorangpun?" tanya ibunya lirih. Keduanya lalu saling berpelukan. Malini duduk bersimpuh. Sementara ibunya duduk dalam sebuah singgasana yang bergemerlapan. Membuat sepasang mata Malini yang cantik sesekali mengerjap "Ya ... Ibu ...." "Bagaimana dengan anak-anakmu. Dengan Suma dan Kanaya? Apakah akan membiarkan mereka tidak memiliki hati juga? Seperti yang lainnya? Ketika nama Suma dan Kanaya disebut, Malini terkesiap. Seolah telah meninggalkan keduanya dalam jangka waktu yang lama. "Suma ... Kanaya ... Suma ... Kanaya ...." "Iya, Malini. Kembalilah ... Kembalilah ... Ibu akan mendoakan terus dari sini. Ibu tahu baik kamu, Suma dan Kanaya adalah manusia-manusia berhati baik dan kuat!" Banyak doa-doa baik terlambung di atas langit. Doa orang-orang yang merasa iba melihat tangisan anak-anak Malini dan juga doa-doa dari Kanaya dan Suma tentunya. "Uhuk!" Malini terbatuk. Menyemburkan banyak air. Kepalanya mungkin masih terasa pusing. Matanya mengerjap sesekali. Belum bisa menantang puluhan mata yang memandangnya dengan penuh tanya. Wajah Suma dan Kanaya juga sempat tertangkap matanya. Sebelum semuanya memudar, menjadi gelap dan dingin kembali. "Bawa ke rumah saya saja juragan! Di sini terlalu banyak orang," pinta Mbok Jumenah pada pria bertopi hitam. "Iya juragan!" sambung suami Mbok Jumenah. Pria yang dipanggil Juragan itu menoleh sebentar pada kedua orang anak yang menangis. Ada perasaan iba mendesir dadanya. Dengan sigap di bopongnya tubuh Malini yang basah dan dingin. "Sudah ... Sudah bubar!" pinta suami Mbok Jumenah pada warga sekitar. Mereka menurut. Kembali ke aktivitas mereka masing-masing, walau beberapa orang masih terdengar kasak-kusuk. Dalam tempat tidur bilik di sebelah warung pria bertopi hitam membaringkan Malini perlahan. Suma masih menangis. Ditangannya masih terpegang es bungkus rasa sarsaparilla kesukaan ibunya. Mbok Jumenah mengambil pakaian kering dan kain. Juga minyak gosok dalam botol kaca berukuran kecil. "Maaf juragan. Saya ganti pakaiannya dulu! Kasihan nanti bertambah dingin." "Iya, Mbok. Silakan!" jawab pria bertopi hitam dengan tatapan mata yang cemas. "Mari ikut ke sana dulu, Nak!" ajak seseorang yang dipanggil juragan itu. "Suma mau jagain Ibu!" tolak anak laki-laki itu masih sambil menangis. "Ayo, Dik. Ke sana dulu. Biar ibu diganti pakaiannya sama simbah." Akhirnya Suma menurut. Duduk di bilik luar. Sambil memandang ke arah jembatan. "Suma menyesal meninggalkan ibu sendirian, di sana!" tunjuknya ke arah jembatan. "Tak apa. Sekarang ibu kalian baik-baik saja," ucap pria bertopi gamang. "Nak ... Nak ... Ibumu sudah berganti pakaian. Simbah ingin membuat teh hangat. Kalian bisa bantu simbah?" "Iya ... Mbah," sahut Kanaya kembali masuk ke dalam kamar bilik bersama Suma dan pria bertopi hitam. Suma menggosok telapak kaki ibunya yang masih terasa dingin. Sementara Kanaya mengeringkan rambut ikal panjang ibunya yang basah. Pria bertopi hitam memandang Malini yang sudah berganti pakaian. Rasanya ingin menunjuk-nunjuk wajah wanita itu dengan segudang wejangan yang akan meluncur dari bibirnya. "Bodoh!" rutuk pria itu dalam hatinya. Malini bernafas dengan pelan dan teratur. Suhu tubuhnya mungkin kembali menghangat. Terlihat dari bibir dan wajahnya yang kembali segar. "Suma ... Suma ...." erangnya perlahan. Suma mendekat. Mencium punggung tangan ibunya. "Jangan menangis. Nanti ibumu bersedih!" bisik pria bertopi hitam. Suma mengelap ujung matanya dan berkata dengan lantang. "Suma di sini, Bu! Jagain ibu. Ibu jangan takut, ya! Tidurlah jika ibu ingin tidur. Es bungkus ibu tetap akan Suma jaga!" Pria bertopi hitam tersenyum. Ia juga mengusap puncak kepala Kanaya dengan pelan. Setelah Mbok Jumenah membuatkan teh hangat, mereka menunggu Malini tersadar agar bisa merawatnya lebih baik. "Mbok. Saya ingin bicara sebentar!" bisik pria bertopi hitam. "Ada apa juragan?" tanya Jumenah dengan suara yang bergetar. "Saya mau minta tolong! Bicaranya di luar saja." Jumenah berjalan pelan menuju ke warung depan. Untungnya tidak ada pembeli. Hanya ada suami Jumenah yang sedang sibuk membolak balik ikan kering. "Ono opo toh, Juragan? Nampaknya ada sesuatu yang penting!" "Saya titip mereka. Tolong di jaga. Buatkan mereka makanan atau berikan jajanan pasar dari jualanan simbok." "Oalah saya pikir ada apa, Juragan. Ndak usah bilang seperti itu juga pasti tetap akan saya jaga, juragan. Kasihan! Apa juragan kenal sama mereka?" Pria bertopi hitam itu diam. Membuka dompet panjangnya, mengeluarkan beberapa lembar uang. Lalu memberikan dalam genggaman Jumenah. "Besok saya ke sini lagi. Jika wanita itu belum pulih nanti akan saya bawa ke puskesmas." "Iya juragan. Jangan khawatir!" "Baiklah. Saya pulang dulu!" "Berikan saya seikat ikan bakar itu!" pinta pria bertopi hitam kepada suami Jumenah. Pria bungkuk itu menurut. Menurunkan ikatan ikan bakar tradisional yang harumnya sangat semerbak. Membuat indera penciuman yang merasakan mengantarkan rangsangan ke perut dan kerongkongan. "Terima kasih, Pak, Mbok. Saya pamit dulu." Kedua orang suami isteri yang mulai renta itu menatap kepergian pria bertopi hitam dengan sebuah senyuman. Senyuman dan hati ringan karena mendapatkan beberapa lembar uang. "Uangnya disimpan nggih, Bu!" "Iya, Pak. Saya simpan. Juragan Chandrakanta baik sekali sama kita ya, Pak?" "Iya, Bu. Beruntung kita bisa mengenal juraga. Mobil kesayangan Chandrakanta melaju pelan. Meninggalkan rumah-rumah bilik di pinggir sungai. Melewati jalanan panjang yang sepi. Melewati bagian belakang gunung dan hutan kecil. Menuju ke sebuah tempat di mana seorang pria masih terbaring dalam gelap dan dingin. Tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaanya. Bahkan wanita yang digadang-gadang kerap tidur dengannya selama beberapa musim belakangan. "Malini aku ada urusan sebentar. Semoga keadaanmu baik-baik saja. Aku tahu kau sangat kuat. Kapan-kapan akan aku balas kan rasa sakit hatimu kepada pria yang tak bertanggung jawab itu!" gumam Chandrakanta dengan mata tajam dan rahang yang bergemeretak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Menyukai
20/11/2024
0lebih semangat lg berkarya Thor..
13/11/2024
0suka dengan alur ceritanya...lanjutkan
11/11/2024
0Lihat Semua