logo text

Bab 41. Untuk Apa Validasi?

"Tidak usah mengemis dan merendahkan diri, hanya demi sebuah validasi. Kamu tidak butuh validasi apapun dan dari siapapun. Jadilah versi terbaik dirimu. "
[Asoka - MATA CUAN]
***
ASOKA POV:
Dunia terasa aneh dan asing bagiku, entah mengapa Intuisiku mengatakan jika ada banyak orang yang sedang mengawasi ku.
Entah apa salahku?
"Mungkin karena twittku tentang Women's Perspektif kemarin kali ya?" Dibalik jendela kamar aku bergumam. Tanganku kembali Mengetuk-ngetuk meja belajarku.
"Hem.. baca ulang kali ya," Kataku lalu membuka gawaiku namun entah mengapa sandi yang biasanya kugunakan tak dapat berfungsi.
"Kok aneh, masa sandinya nggak bisa dipakai? aku yakin loh ini bener. Masa enggak bisa? ini aneh benar-benar aneh. Kok aku bisa lupa sih" Dengan kesal aku membanting gawaiku, bagaimana tidak telah lebih dari 10 kali aku mencoba membuka akun twitter dan memasukan kata kunci yang sering kugunakan namun mengapa tak kunjung bisa?
Masih segar dikapalaku, tempo hari aku baru saja menulis sebuah thread yang berjudul "MATA CUAN" disana aku menulis tentang sudut pandang Wanita terkait realita kehidupan.
Mata cuan bukan sekedar tulisan wanita dan uang melainkan lebih menekankan pada sudut pandang tentang stereotip masyarakat yang kerap kali menyudutkan wanita.
Entah dari segi privilege beauty atau privilege sosial. Menurutku ini nggak adil.
Stereotip perempuan harus kalem dan diam dirumah mengurus rumah, mengasuh anak dan memenuhi hasrat suami terdengar sangat kolot ditelingaku.
Stereotip perempuan nakal hanya karena ia keluar malam, atau pulang malam dan bahkan pulang pagi bukankah sangat tidak manusiawi?
Stereotip mata duitan hanya karena perempuan menuntut memiliki pasangan yang mapan apakah itu salah?
Ya, jawab saja sendiri..
Dan aku hanya menulis tentang itu kemarin, namun mengapa akunku bahkan sandiku tak bisa digunakan?
Dan lagi, siapa Om-om aneh itu?
Mengapa ia menatapku seperti seorang singa lapar?
Apakah dunia memang bersikap seaneh ini pada gadis desa sepertiku?
Ah tidak tahu, aku juga tidak butuh keramahtamahan sekitar.
"Assalamu'alaikum" Aku mendengakan wajah saja mendengar pintu kamarku diketuk bersamaan dengan suara perempuan yang terdengar sangat lembut.
"Siapa ya?" Dalam kebingungan aku bergumam.
Aku beranjak dan membuka pintu, disana ada seorang wanita cantik dan seorang lelaki yang bisa dibilang tampan.
"Asoka" Katanya ramah, aku menyerngit heran saat wanita itu memanggil namaku dengan begitu fasih.
"Siapa dia?" Tanyaku dalam hati. Mataku hanya mampu menatap dia dengan tanda tanya besar. Entah mengapa aku melihat senyumnya memudar lalu terganti oleh mata sayu penuh kecewa.
"Maaf, mbak sama mas tau darimana nama saya? " Gumamku, bukannya menjawab wanita itu justru menangis memeluk lelaki yang di panggil "Fin".
"Emm.. Mohon maaf sebelumnya mbak, teman saya tau nama embak dari ibu kost." Kilah lelaki itu, sementara wanita itu terlihat memeluk erat tubuh lelaki itu.
"Fin.. " Gumam wanita itu lagi, aku memutar kedua bola mataku jengah.
"Apa-apan deh kedua orang ini? mau pacaran apa gimana? hei ini jomblo" Teriak jiwa jombloku yang meronta-ronta.
"Mbak, ada yang bisa saya bantu? " Tanyaku heran, emm lebih tepatnya berbasa-basi saja.
***
Semakin hari, aku semakin merasa ruang lingkup kehidupan ku sungguh sepi. Temanku Sarah mulai sulit dihubungi bahkan nomornya saja sulit dihubungi.
Saat di kampus ia bersikap acuh tak acuh padaku seolah aku tak ada.
"Aku punya masalah apa sama dia?" Aku kesal, dan kekesalan ini semakin muncak manakala Sarah temanku terlihat jalan dengan kekasihnya.
Aku tidak mengenal siapa lelaki itu sebab ini bukan urusanku, yang jadi pokok permasalahannya ialah hampir selama 1 minggu ini Sarah selalu menghindariku dengan sejuta alasan.
"Cewek kalau udah ketemu budak cintanya tuh kayak gini ya? cukup tau" Kesalku.
Aku meluapkan kekesalanku dengan cara kembali menulis Twitt.
"Wanita, sudah selayaknya hidup bahagia.
Mencintai dan mendamba Makhluknya.
Namun, terkadang lupa pada karib dan sahabatnya" Tulisku pada lambang burung biru.
Aku tersenyum saat sebuah akun anonim membalas kicauanku.
"Wanita? bukankah selayaknya dan semahsyurnya membantu dan mendukung wanita?" Balas akun anonim tersebut.
Aku tersenyum kecut saat akun lainya membalasku dengan emot kotoran, aku sudah memperhitungkan sebelumya.
"Jangan sok iya nder, sok cakep loe nder" Balas akun anonim yang lain.
Aku tersenyum saat satu persatu akun-akun yang tak kukenal mulai menyerangku. Bahkan salah satu akun dengan nama aneh memakiku dan meneriakiku jalang, bahkan sebuah kata pedas dan umpatan terkait kejiwaan ku.
"Skizofrenia?" Aku tertawa saat membaca salah satu twit mereka.
"Orang gila, gak waras" Kata akun yang lain, tapi ku tanggapi.
Aku bukanlah seorang yang gila pansos, aku tidak gila validasi dan aku juga tidak butuh validasi dalam bentuk apapun dalam semua twitt ku.
Entah itu kicauan yang bersifat membangun ataupun sebaliknya, aku tidak butuh itu semua.
"Tidak usah mengemis dan merendahkan diri, hanya demi sebuah validasi. Kamu tidak butuh validasi apapun dan dari siapapun. Jadilah versi terbaik diri ini. Aku nggak butuh mereka"
Asoka Pov Off:
***
Dengan kekesalan yang memuncak Asoka berjalan menuju kamar mandi dan berteriak kesal. Ia tak sengaja menggeser vas bunga hingga membuat cermin pada kamar mandi miliknya tergeser.
Asoka terkejut saat matanya melihat ada begitu banyak barang-barang abstrak yang tersimpan dibalik cermin tersebut.
"Waw.. yang punya kamar sebelumnya kek psikopat kayaknya, masa ada gorok disini" Gimana Asoka tak habis fikir.
"Apa ini?" Mata Asoka tak sengaja menemukan selembar foto berisi 3 gambar anak manusia yang terlihat beelumusan darah.
"Siapa orang ini? dan siapa orang-orang yang ada dibalik foto ini? Argghhh aku penasaran" Teriak Asoka marah.
"Nggak habis fikir banget sama pemilik kost ini sebelumnya, bisa-bisanya ada potongan kain setengah berdarah kek gini disini? saiki banget orang itu" Gumam Asoka sembari melihat serta mengeluarkan satu persatu barang-barang aneh tersebut.
"Kalung semanggi? seperti milik Sarah?" Gumam Asoka, ia lalu mengambil kalung itu dan membawanya kedalam kamar.
"Aneh, mengapa ada kalung semirip ini?" Gumam Asoka tak habis fikir. Ia tertawa alam seolah mengejek jiwanya bersamaan dengan notifikasi Pop-up Twiternya yang semakin ramai di datangi penduduk Burung biru.
"Sarah beli kalung ini dikota ini kah? Tapi bukanya kalung Sarah itu satu-satunya ya? mengapa bisa ada 2?" Gumam Asoka.
Asoka ingat, Sarah pernah bercerita jika kalung miliknya adalah satu-satunya didunia ini. Sebab, kalung ini sengaja kekasihnya buatkan langsung untuk nya sebagai hadiah hari jadi satu bulan hubungan mereka.
"Jadi, bukankah ini sangat aneh?" Gumam Asoka sekali lagi.
Tak sadar, sebuah pop-up berisi video masa lalu Sarah terbongkar hal itulah yang pada akhirnya jiwa nya meronta.
***
Bersambung...

Komentar Buku (166)

  • avatar
    Anis

    bagus

    18/06/2025

      0
  • avatar
    PratiwiAyuning

    seruu mbgtt ceritanyaa

    29/05/2025

      0
  • avatar
    prasefirman

    suka baca nya bagus menarik juga

    21/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru