"Tulisanmu mencerminkan isi hatimu, itulah mengapa jika kamu ingin menulis sesuatu hal yang bermanfaat mulailah dari memperhatikan tatanan kosakatanya" [Ika - MATA CUAN] *** Kesalah-pahaman antara Arimbi dan Bu Rt terjadi ketika Arimbi tanpa sengaja menolong Pak Rt yang hampir saya terbunuh oleh salah seorang tak di kenal yang Arimbi yakini sebagai dalang dibalik pembunuhan berantai yang kerap terjadi di lingkungan kompleks mereka. Keduanya menjadi dekat, bukan tanpa alasan Arimbi yang seorang psikologi memiliki intuisi jika Pak Rt memiliki peran penting dalam kasus ini. Jika ia diserang Arimbi berfikir pasti Pak RT memiliki sesuatu hal yang bersangkutan dengan kunci dalam pembunuhan tersebut. Arimbi lalu berinisiatif untuk melakukan hipnoterapi pada Pak Rt, tentunya dengan kesepakatan Pak Rt. Arimbi di bantu salah satu assistennya, tak lupa Arman kakak posesif nya juga turut andil dalam melakukan pengawasan. Hingga Arimbi menemukan fakta yang membuatnya tercengang, tak ingin membuat nyawa Pak Rt dalam bahaya, Arimbi lalu melakukan hipnotis dan memburamkan ingatan Pak Rt demi keamanan beliau. "Mbak Arimbi ini dokter umum ya? atau apa to? " Kata beliau setelah terbangun dan sadar dari hipnoterapi nya. "Saya dokter umum Pak, saat ini saya berpindah tempat kerja di salah satu rumah sakit yang ada di daerah Sleman Pak. " Jawab Arimbi ramah, ia menyodorkan secangkir teh hangat. "Woalah, di RS Sleman mbak? " Kata Pak Rt sembali menyeruput teh manis hangat nya. "Bukan Pak, saya di Grasia" Tutur Arimbi. "Woalah.. ohh ya ya ya" Kata Pak Rt seolah paham dengan jenis pekerjaan Arimbi. Dokter umum untuk pasien penderita kejiwaan mungkin. "Wah ini terimakasih sekali ya, maaf tadi tensi bapat rendah jadi pingsan didepan rumah Mbak dan Mas, kalau gitu Bapak dulu ya." Kata Pak Rt. Arimbi tersenyum, ia memang sengaja menghipnotis Pak Rt seolah-olah ia baru saja pingsan. Tanpa Pak Rt sadari jika beliau telah berasa di rumah Arimbi dan Lukman selama 3 hari. Tak lama setelah Pak Rt pamit, Arimbi segera bergegas untuk menjemput Lukman. Ia harus memastikan kondisi abangnya ini kembali membaik namun, tanpa diduga sepulangnya dari menjemput kakaknya ia justru di labrak oleh seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah istri dari Pak Rt. Arimbi menjelaskan sekedarnya, dengan tujuan agar keluarga mereka aman. "Sudah, nggak perlu di pikirin apa kata orang. Kamu nggak salah, udah biarin aja toh kamu udah jelasin kan kalau kamu enggak godain Pak Rt?" Kata Asoka, entah mengapa ia sangat berapi-api ingin membuat sebuah tread tentang topik ini. *** "Bikin apa Ka? " Ika datang mengejutkan Asoka yang tengah sibuk dengan ponsel genggamnya. "Eh ada mbak Ika, biasa lagi nulis tread baru. Mau tau nggak temanya apa?" Kata Asoka terlihat bersemangat. "Bikin kehebohan apa lagi kamu? " Tanya Ika seolah mampu membaca fikiran Asoka. "Hem.. biasa, Bad Topic is a Good news. PE-LA-KO-R" Jawab Asoka sembari mengunyak makaroni pedas yang baru dibeli secara daring. "Udah bukan mata cuan lagi nih? kapok? " Goda Ika, pasalnya dulu Asoka getol sekali menulis berita terkait ini. "Em.. em.. tidak!! Ini tuh Badnews tapi Good news, why? " Kata Asoka hiperbolis, "Ya karena jaman sekarang orang tu kebanyakan begitu dengar istilah pelakor yang di salahin pasti perempuannya. Padahal coba deh kak perhatikan baik-baik polanya, fair nggak kak? " Tanya Asoka, Ika tersenyum menanggapi. Asoka kembali berceloteh ria, ia lalu menjelaskan argumentasinya terkait 'Pelakor' sementara Ika yang nampak setia berdiri didepan kamar Asoka dengan tangan yang disilangkan dikedua dadanya kini terlihat mulai lelah berdiri. Ia berjalan mendekati Asoka dan mengambil tempat duduk di salah satu kursi yang ada didekat jendela kamar Aoka. Sesekali Ika mengangguk menimpali, tanganya terulur menggapai sebuah kertas kosong milik Asoka dan mulai melipat kertas itu menjadi bagian-bahian kecil. "Pelakor, atau perusak laki orang sebenarnya ada karena apa sih? Nah, kadang kala orang hanya melihat pelakor sebagai objek negatif tanpa mereka sadari terciptanya pelakor ya karena ada andil dari masing-masing personal. Gimana kak? masuk akal nggak? " Tanya Asoka, Ika mengangguk 10 burung bangau kertas berhasil Ika buat dengan baik dan simetris. "Ihh.. kakak nggak dengerin pasti, dari tadi ngangguk-ngangguk tapi nggak ngerti ngangguk apa. Iya kan? " Tebal Asoka. "Aduhhh.. kok di timbuk" Kesal Asoka. Matanya menatap kesal Ika. "Otak mu ini dari dulu nggak berubah ya, kesel aku tuh" Jawab Ika, rasanya ia ingin kembali menggetok otak Asoka, sampai retak sampai hancur biarkan saja. "Aku udah baca tulisanmu, twitt mu dan adu argumentasi mu di media sosial. Tapi, ada beberapa hal yang menurut aku harus kamu benahi. Contoh 1, pola kalimatmu dalam tulisan-tulisanmu sebelumnya terlihat dan terkesan sangat diskriminatif. Contohnya, ketika kamu menulis part (Pelakor ada karena kita, pelakor ada karena laki-laki tak puas dengan satu wanita dan ingin menikmati wanita yang lain.) Aku tau maksud kamu tuh ingin memberi tahu kedapa khalayak umum jika pelakor tak sepenuhnya salah, namun konteks pernyataannya ini loh.. Salah-salah orang lain bisa justru mikir kamu pro dengan pelakor, kosa katamu dibenerin dulu. Lihat dan pahami konteks mu nulis sebagai apa? bukan malah mencocoklogikan pemahamanmu. Menyuruh orang lain juga ikut andil dalam pola fikirmu? ya jelas jadinya ramai gini. Lihat, akhirnya kamu diserangkan? panikan? nahhh.. " Jelas Ika, sementara Asoka kembali meninjau hasil tulisanya ia mengangguk. "Huum, banyak typonya juga. Auto teks juga, Arggghhhh... kesel! "Teriak Asoka, Lagi-lagi Ika menimbuk kepala Asoka, kali ini lebih keras. " Kak Ika!!! Sakit, dari tadi coba di timbuk mulu. Aku tuh, astaghfirullah amnesia nanti aku tuh. " "Halah, lebay! " "Ka, Tulisan mu itu bagus. Ditambah dengan keberanian mu berpendapat juga bagus, namun akan jauh lebih bagus lagi jika mulai hari ini kamu fokus menjadi mediasi mereka untuk merenung, dan memikirkan sebenarnya tindakan yang mereka lakukan benar atau tidak? Tumbuhkan kesadaran di hati mereka, jangan terburu-buru dalam mengejar cocoklogi. Asoka. Tulisanmu mencerminkan isi hatimu, itulah mengapa jika kamu ingin menulis sesuatu hal yang bermanfaat mulailah dari memperhatikan tatanan kosakata mu terlebih dahulu. Jika tulisan mu baik, dan dapat menghasilkan kebaikan bukankah kamu juga yang akan menuai hasilnya? Jangan tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu yang bias, salah-salah kamu justru akan tergilas didalamnya. " Kata Ika, mata Asoka memerah namun dengan sekejap ia kembali menormalkannya. Ia tak ingin menangis didepan siapapun. Namun, entah mengapa perkataan Ika justru membawanya kedalam ingatan masa lalu, ingatan yang terasa begitu pilu dan menakutkan. Ingatan ketika ia berada di salah satu bangsal entah dimana itu.. Gubrak!!! "Asoka!! ka!! Asoka kamu kenapa? " Ika terkejut, ia panik melihat Asoka tiba-tiba jatuh pingsan. *** Bersambung...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
18/06/2025
0seruu mbgtt ceritanyaa
29/05/2025
0suka baca nya bagus menarik juga
21/03/2025
0Lihat Semua