Beranda/CIKA: Gadis Kecil yang Kuat/
Bab 30 Proses Penulisan Buku Cika
Malam sekitar pukul sepuluh, Novi sudah dua kali membaca catatan milik Rina. Ada sedikit pusing di kepala yang mendera. Catatan kasar yang diberikan Rina hanya membantu sedikit. Perempuan beranak satu tersebut mungkin tak begitu ingat kejadian apa saja yang sudah terjadi pada sang anak karena tekanan.
Yang bisa dilakukan Novi hanya mereka-reka saja sekarang. Ia yang tidak terlalu biasa mengembangkan outline cerita, mulai membuat apa saja kejadian yang direka terjadi pada Cika. Ada sekitar 25 bab yang dirancang. Dalam pikirannya ada beberapa outline yang bisa menjadi dua bab.
Pagi harinya dipanggilnya kembali Rina yang datang untuk membeli sampo ke rumah.
“Selesai mandi ke mari sebentar, Na. Baca ini. Jika ada kesalahan, koreksi, ya,” pintanya.
Tak tergambarkan betapa gembira perempuan itu terlihat. Ia bergegas pergi, menurut Novi setengah berlari menghilang di depan lapau.
Novi baru selesai mengedit satu halaman A4 saat perempuan itu muncul dengan anaknya dan duduk di kursi plastik.
“Baca apa, Ni?”
Novi terlonjak kaget. Ia lalu membuka file outline yang sudah dibuat malam hari dan mendorong laptop untuk bisa berada di depan Rina. Selanjutnya ia berdiri dan menyuruh Cika bermain dengan kedua anaknya di dalam kamar. Diingatkan pada anak sulungnya—Fathir untuk terlebih dulu membuka sepatu Cika sebelum naik ke atas kasur.
Ia berbalik ke dapur dan membuat senug besar kopi. Matanya agak mengantuk setelah begadang semalam, sementara banyak file cerpen baru yang masuk pagi ini. Beberapa kontributor—pemilik cerpen bahkan sudah mengirim pesan menanyakan kelanjutan naskah.
Hal yang cukup melelahkan, tetapi juga menghibur bagi perempuan single parent ini. Dengan kesibukan yang ditekuninya jauh hari sebelum Rina datang ke Padang, ia tak lagi merasa kesepian. Ia menghabiskan waktunya membantu orang-orang dengan merevisi banyak cerpen. Berharap setiap koreksian yang dikirim membuat pengirim file belajar lebih baik lagi, kalau bisa lebih hebat dari dirinya. Ada beberapa nama yang menarik perhatiannya karena kualitas tulisan dan ada juga yang membuatnya frustasi karena kekeraskepalaan.
Ia meletakkan mug berisi kopi di sudut meja yang berbatasan dengan dinding. Rina masih berkonsentrasi membaca, hampir tak bisa diinterupsi. Ia lebih memilih mengambil buku untuk membaca dari pada bermenung menatap Rina.
“Sudah pas?” tanyanya saat Rina sudah hampir akan menutup layar laptop.
Novi melihat Rina mengangguk dan tersenyum.
“Kapan bisa jadi buku, Ni?”
Seketika Novi cemberut. Inilah yang tidak disukainya jika membantu menulis kisah orang lain. Ditanya tiap sebentar kapan selesai, padahal untuk membuat outline saja harus memeras otak sampai begadang.
“Na, yang Uni mau bikin itu novel. Kalau pun Uni full menulis, maka akan menghabiskan tiga minggu, itu belum termasuk revisi cerita,” terangnya. “Kamu mau Uni habis nulis masuk rumah sakit?” Mata Novi menyipit.
“Na, tidak sabar Uni. Na ingin sekali mendapatkan buku Cika segera.” Mata Rina berkaca-kaca.
“Insya Allah, Uni akan berusaha keras untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Tapi Uni tidak janji besok, ya. Segera. Ini tiga puluh ribu lebih kata, Na?” Rasanya Novi ingin menangis saat menerangkan.
Rina mengangguk.
Rina masih belum beranjak saat Novi membaca ajakan teman-temannya untuk ikut Parade LovRinz, sebuah kegiatan menulis selama beberapa hari nonstop yang kemudian berbuah manis buku. Kali ini kegiatan itu berhadiah.
“Na, cerita Cika Uni lombakan, ya?” tanyanya meminta izin. “Tema “amazing” sepertinya cocok dengan cerita anakmu.”
Rina mengerjap tak paham.
“Tapi jangan desak Uni cepat menyelesaikannya kalau ikut even ini. Ini nulisnya paling lama 30 hari loh, Na.” Novi lebih memperjelas apa yang akan diikuti.
“Terapi Cika akan berakhir bulan Maret 2021 Uni. Sebelum itu apa sudah selesai?”
Novi berpikir sebentar. “Mungkin belum.”
“Kalau begitu, kirimkan Na bukunya jika sudah selesai ya. Na, tidak mau apapun, cuma mau bukunya.”
“Ya.” Novi berujar sambil menepuk bahu Rina.
Ia merasa memiliki seorang adik perempuan jika berbicara dengan perempuan beranak satu ini. Sebenarnya Rina memang jauh lebih muda darinya.
***
Seminggu setelah pendaftaran pada akhir Januari, Novi mulai menyicil Bab yang akan disetorkan pada parade. Prosesnya berjalan cukup lambat di bab awal. Pertama, karena ia hampir tidak pernah menyaksikan bagaimana gejala penyakit ini pada Cika. Satu-satunya informasi yang bisa ditemukan adalah artikel-artikel di google. Selanjutnya ia sibuk mereka-reka perasaan yang dirasakan Rina saat mengetahui kondisi sang anak.
“Na, coba baca dulu dua bab yang sudah Uni tulis,” suruhnya pada suatu siang.
Rina baru selesai menyapu pekarangan rumah yang dipenuhi daun-daun dari pokok rambutan. Ia meletakkan sapu di samping rumah dan berjalan cepat masuk.
“Yang mana Uni?” tanya setelah sampai di depan laptop.
Itu yang ada di tampilannya. Kalau mau ke bawah, kayak gini.” Novi mengajari sedikit Rina dalam pemakaian dan kemudian pergi makan.
Rina membacanya dan mengangguk-angguk paham. Saat Novi lewat lagi dengan piring kosong di tangan dan mug besar yang isinya telah tandas, ia berkata, “Cika ndak kejang Uni, cuma badannya semua kaku dan matanya melotot.”
“Nanti Uni perbaiki.”
“Kapan bukunya terbit Ni?” tanyanya penasaran.
“Na, kan Uni sudah bilang kalau bukunya bakal lama terbit. Apalagi kalau dilombakan. Insya Allah, pasti terbit, kok. Yang jelas Na harus sabar, ya?”
Novi mengatupkan kedua bibirnya. Ini sudah tiga kali pertanyaan yang sama diajukan Rina minggu ini.
“Pasti terbit, kan, Ni?” Kembali Rina bertanya minta diyakinkan.
Jika saja Novi adalah orang jahat yang dengan mudah menjilat ludah sendiri, ia akan berhenti menulis. Hanya saja dalam kamusnya, tidak ada kata tak bisa. Hanya ada kata bisa.
“Ya, Insya Allah. Na harus sabar, ya?”
Rina mengangguk. Ia lalu berjalan keluar dan bermaksud mengabari Uni Rika tentang kabar buku anaknya.
“Dia memang begitu, nyinyir. Apa boleh buat, sejak kecil tidak punya Ibu. Kakaknya juga jauh di Jakarta.”
Novi mengangkat bahu. Ia hanya harus menepati janji pada perempuan itu. Insya Allah akan dikerjakannya sungguh-sungguh biar tak menyesal.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (23)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
suka cerita ini,,
17/06/2025
0seru dan menyenangkan sampai aku aku begadang
17/08/2024
0😑😑😑👍
29/06/2024
0Lihat Semua