logo text

Bab 36 Berbicara dari Hati ke Hati

“Kalian kok duduk di luar? Kenapa nggak masuk?”
Angelica dan Ferdinand yang baru tiba di lantai lima belas sedikit terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka. Zendaya dan Christo tidak masuk ke kamar perawatan Guntur. Keduanya justru asyik mengobrol di kursi tunggu yang ada di depan kamar.
Christo yang melihat kedatangan kedua orangtuanya, lantas bangkit dari posisinya. Pria itu berjalan menghampiri keduanya, kemudian meraih barang bawaan yang dibawa oleh Ferdinand.
“Anak-anak lagi kangen-kangenan sama Papanya, Ma. Makanya kami di luar dulu,” jelas Christo. Kening pria itu berkerut saat melihat banyaknya bawaan orangtuanya. “Papa bawa apa aja sie? Banyak amat,” komentarnya.
“Tanya Mamamu, Chris! Tugas Papa cuma bawain aja,” sahut Ferdinand santai.
Zendaya yang semula berdiri di belakang Christo, melangkah maju untuk menyapa kedua sahabat orangtuanya itu.
“Halo, Om, Tante.
Angelica mendorong putranya menjauh, kemudian langsung memeluk Zendaya dengan hangat. “Tante minta maaf, Aya!” gumam perempuan paruh baya itu lirih, sehingga hanya Zendaya yang bisa mendengarnya.
Zendaya membeku di tempatnya, terlalu terkejut, sampai dia bingung harus bereaksi seperti apa. Namun, sepertinya bukan hanya dia yang terkejut. Christo dan Ferdinand pun menatap keduanya dengan tatapan heran.
Belum sempat Zendaya bereaksi, Angelica sudah melepaskan pelukannya, kemudian melingkarkan tangannya di lengan Zendaya.
“Ada yang mau Mama bicarakan dengan Aya. Berdua aja!” ucapnya tegas. “Kalian berdua masuk dulu ke kamar Guntur. Di dalam tas itu ada makanan untuk kalian semua dan juga untuk anak-anak. Minta Rissa untuk menyiapkannya.”
Bahkan tanpa menunggu jawaban dari kedua pria di hadapannya, Angelica langsung menyeret Zendaya menuju ke lift. Tak punya pilihan lain, Christo dan Ferdinand memutuskan untuk melangkah menuju ke kamar Guntur.
“Mama mau bicara apa sama Aya, Pa?” tanya Christo, heran dengan sikap aneh Mamanya.
Ferdinand hanya mengendikkan bahunya. “Urusan perempuan, mungkin. Mamamu sangat menyayangi Aya. Dia nggak mungkin menyakitinya.”
Christo hanya menganggukkan kepalanya, kemudian membuka kamar Guntur. Sementara itu. Zendaya dan Angelica berdiri berdampingan di dalam lift yang membawa mereka kembali turun ke lantai satu.
“Kita mau ke mana, Tante?” tanya Zendaya, berusaha memecah kesunyian yang membuatnya canggung.
“Temani Tante ke restoran yang ada di depan rumah sakit, ya?” ucap Angelica lembut.
Tanpa bertanya lagi, Zendaya mengikuti langkah Angelica. Tak sedetikpun perempuan itu melepaskan tangan Zendaya. Bahkan, hingga mereka tiba di restoran yang dimaksud.
“Selamat siang. Untuk berapa orang, Bu?” sambut pelayan restoran yang menyambut kedatangan Angelica dan Zendaya.
“Untuk dua orang. Saya minta private room.”
Kening Zendaya kembali berkerut saat mendengar jawaban Angelica. ‘Apa yang mau dibicarakan Tante Angel? Kenapa sampai memesan private room segala?’ batin Zendaya.
“Silakan ikut saya, Bu.”
Saat itu jam makan siang, restoran nampak cukup ramai. Zendaya mengira Angelica tidak ingin pembicaraan mereka terganggu oleh keributan di sekitarnya. Karena itulah, perempuan itu meminta private room.
“Silakan, Bu.”
Setelah keduanya duduk, pelayan itu menyerahkan buku menu kepada keduanya.
“Kamu mau pesan apa, Ya?” tanya Angelica sembari membolak balik buku menu yang ada di tangannya.
“Es lemon tea aja, Tante,” jawab Zendaya.
“Kamu nggak mau makan sekalian?”
Zendaya mengangkat wajahnya, menatap Angelica yang duduk tenang di hadapannya. Raut wajah wanita paruh baya itu sungguh sulit dibaca.
“Makan siang sekalian, ya? Temani Tante makan di sini. Kamu masih suka cumi pedas kemangi? Atau mau udang asam manis?” tawarnya.
Zendaya merasakan ada kehangatan menjalari hatinya. Dia sungguh tidak menyangka, Angelica masih mengingat makanan kesukaannya. “Tante masih ingat makanan kesukaanku?” gumamnya.
“Mana mungkin Tante lupa. Kamu mau yang mana, Sayang?” tanya Angelica lembut.
“Yang mana aja boleh, Tante. Aya suka semuanya.”
Angelica lantas memesan beberapa menu untuk makan siang mereka. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Angelica menanyakan kesibukan Zendaya selama dua tahun di Korea Selatan. Sesuatu yang selama ini ingin diketahuinya, namun belum sempat ditanyakannya.
“Nggak banyak yang Aya lakukan di sana, Tante. Aya cuma mengurus restoran Mama di sana. Sesekali, Aya ke Jepang juga untuk memantau perkembangan restoran Mama di sana."
Pembicaraan mereka terhenti saat makanan yang mereka pesan diantarkan. Setelah memastikan semuanya sudah diantarkan, para pelayan itu lantas keluar dan menutup pintu.
Angelica lantas bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Zendaya. Wanita paruh baya itu lantas menjatuhkan dirinya di hadapan Zendaya. Membuat Zendaya terkejut setengah mati.
“Tante! Tante ngapain? Ayo bangun, Tante!” seru Zendaya sembari menarik tubuh Angelica supaya bangkit berdiri.
Namun, Angelica tetap di posisinya sambil menggelengkan kepalanya. “Tante merasa bersalah sama kamu, Ya! Maafkan Tante!”
“Tante! Tante bangun dulu, ya! Jangan seperti ini, Tante! Tante nggak ada salah sama Aya. Kenapa Tante harus minta maaf?”
Zendaya masih berusaha membuat Angelica untuk bangkit berdiri, namun wanita itu masih tetap diam di tempatnya.
“Tante salah, Ya! Tante sudah bikin kamu banyak menderita. Maafin Tante, Sayang!”
Detik selanjutnya, tangis Angelica pecah seketika. Zendaya yang tak mampu membuat Angelica bangkit dari posisinya, kini ikut menjatuhkan dirinya di hadapan wanita itu.
Zendaya mengulurkan tangannya, memeluk tubuh Angelica yang masih menangis terisak.
"Maafin Tante, Ya! Tante sudah bikin kamu banyak menderita," ucap Angelica di sela isak tangisnya.
Zendaya tidak memahami ke mana arah pembicaraan Angelica. Dia hanya terus memeluknya dan mengusap punggungnya perlahan. Masih dengan posisi berlutut di lantai.
Selama beberapa menit, hanya isak tangis Angelica yang terdengar memenuhi ruangan itu. Dengan Zendaya yang masih tetap memeluknya erat.
"Tante! Kita bicara sambil duduk, ya?" ajak Zendaya saat isak tangis Angelica mereda.
Kali ini, Angelica tidak menolak sama sekali. Wanita itu menurut saja saat Zendaya membimbingnya untuk bangkit berdiri.
Zendaya mendudukkan Angelica di kursi, kemudian dia ikut duduk di sisinya. Tangannya terulur, meraih tissue yang ada di meja. Dengan telaten, dibersihkannya sisa air mata yang masih membekas di wajah Angelica.
"Kenapa kamu masih begitu baik sama Tante? Tante sudah jahat banget sama kamu, Ya," ucap Angelica lirih.
Zendaya tersenyum kecil kemudian meraih kedua tangan Angelica untuk digenggamnya.
"Tante nggak punya salah apapun sama Aya. Kenapa Tante terus minta maaf?" tanyanya lembut.
"Tante tahu bagaimana perasaanmu pada Christo. Tante juga tahu bahwa kamu sangat terluka saat melihat dia menikahi Jemima," ucap Angelica lirih. Pandangan matanya tertunduk, menatap kedua tangannya yang masih digenggam oleh Zendaya.
"Tapi, saat itu Tante bahkan nggak punya keberanian untuk menghampirimu dan memelukmu. Tante nggak bisa mengatakan kalau pernikahan itu palsu. Tante nggak bisa mengatakan kalau Christo tidak benar-benar menikahi Jemima. Maafkan Tante, Ya."
Detik berikutnya, tubuh Angelica bergetar dan isak tangisnya kembali terdengar memenuhi ruangan. Tanpa ragu sedikitpun, Zendaya langsung memeluk tubuh Angelica.
"Tante, Aya nggak pernah nyalahin Tante," ucap Zendaya pada akhirnya.
Zendaya mengusap sudut matanya yang ikut basah. Dia sampai menggigit bibir bawahnya supaya tidak ikut menangis terisak.
"Aya memang kecewa dan marah sama Mas Christo. Saat dia justru menikahi Jemima, padahal dia berjanji untuk menikahiku," ucap Zendaya dengan suara parau.
"Karena itu…." Zendaya berusaha keras menguasai emosinya, sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Karena itu, Aya memilih untuk pergi jauh. Aya nggak sanggup melihat Mas Christo bersama Jemima."
Zendaya tak mampu lagi menahan isak tangisnya. "Tapi, bahkan setelah dua tahun menyendiri di tempat yang jauh. Aya tetap nggak bisa melupakan Mas Christo. Aya masih sangat mencintainya," lanjutnya di sela isak tangisnya.
Kali ini ganti Angelica yang mengusap kepala dan punggung Zendaya.
"Seandainya saat itu Tante mengatakan kenyataannya, mungkin kamu nggak akan terluka sedalam itu. Maafin Tante, Sayang."
Zendaya melepaskan pelukannya di tubuh Angelica. Tangannya bergerak naik, mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Semuanya sudah terjadi, Tante. Mungkin memang seperti itu jalan yang harus Aya dan Mas Christo lalui. Tante jangan menyalahkan diri lagi, ya."
Angelica mengusap lembut sisi wajah Zendaya. "Tante lega, semuanya sudah berakhir. Tante bisa melihat Christo mulai kembali seperti dulu, sebelum menjalani pernikahan palsu dengan Jemima."
"Memangnya, seperti apa Mas Christo selama dua tahun ini, Tante?"
Angelica membuang nafas kasar. Hatinya terasa sakit mengingat betapa menderitanya putra sulungnya selama dua tahun terakhir ini. Menjalani pernikahan palsu dengan Jemima. Ditambah lagi, ditinggalkan oleh Zendaya.
"Dia seperti mayat hidup, Ya. Hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. Bahkan di akhir pekan sekalipun, dia tetap menghabiskan waktunya di kantor. Atau mengurung diri di dalam kamarnya."
"Seburuk itu hubungannya dengan Jemima?" tanya Zendaya.
Angelica menganggukkan kepalanya. "Mereka hanya dua orang asing yang tinggal dalam satu atap. Chris bahkan memasang kunci tambahan di kamarnya dan tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya."
"Chris hanya akan keluar kamar, saat hendak berangkat kerja. Dia tidak pernah menyentuh apapun yang diberikan Jemima. Walaupun itu hanya secangkir kopi."
Ingatan Zendaya kembali pada saat dia menginap di rumah Christo. Saat hendak menyiapkan pesta ulang tahun Bianca.
"Jemima menyembunyikan semuanya dengan rapat. Dia pergi sesekali ke luar rumah, tapi tidak ada yang mencurigakan. Dia tidak pernah bertemu dengan siapapun. Atau mengunjungi tempat yang aneh."
"Sekarang dia sudah ditangkap polisi, Tante. Semua kejahatannya akan terungkap. Dia nggak bisa melarikan diri lagi."
"Tante sungguh nggak mengira, dia perempuan yang begitu jahat. Di depan kami, dia terlihat begitu lemah lembut. Tante nggak mengira, ternyata dia begitu tega menyiksa Benny dan Bianca. Dia juga tega membunuh keluarganya sendiri. Bahkan…"
Angelica bergidik ngeri, tidak mampu melanjutkan ucapannya.
"Nggak perlu dibahas lagi, Tante. Dia akan mendapatkan hukumannya sekarang."
Angelica menganggukkan kepalanya. "Jadi… kamu sudah memaafkan Tante?"
Zendaya mengerucutkan bibirnya, sambil bergaya seperti sedang berpikir keras. "Enaknya gimana, ya? Dimaafin atau nggak, ya?" tanyanya menggoda Angelica.
"Apa yang harus Tante lakukan supaya kamu mau maafin Tante?"
"Kita makan yuk, Tante! Aya udah laper banget. Apalagi udang sama cuminya keliatannya enak banget. Kalau Aya boleh habisin semuanya, Aya bakalan maafin Tante," sahut Zendaya.
Angelica tertawa mendengar jawaban Zendaya. "Gampang banget ya bikin kamu maafin Tante."
Zendaya ikut tertawa kemudian kembali memeluk Angelica. "Kita lupakan semua yang sudah berlalu ya, Tante. Aya ingin memulai semuanya lagi dari awal. Nggak ada gunanya terus menyesali masa lalu. Karena toh kita nggak akan bisa mengubahnya."
Tidak ada lagi kesedihan dan air mata di wajah kedua perempuan itu. Setelah mengeluarkan isi hati masing-masing, keduanya lantas menikmati makan siang mereka berdua.
"Jadi, setelah ini kalian bakal langsung ke Bromo?"
Kedua perempuan itu melanjutkan obrolan sambil melangkah santai kembali ke rumah sakit.
"Mas Christo ngajaknya gitu, Tante. Jatah liburnya tinggal dikit. Dia pengen liburan dulu, sebelum kembali ke Jakarta."
"Jaga diri baik-baik ya, Ya! Kalian sekarang bisa kembali bersama. Tapi, jangan sampai melewati batas," pesan Angelica.
Zendaya langsung salah tingkah mendengar pesan Angelica. Wajahnya bersemu merah saat mengingat malam yang dihabiskannya bersama Christo di villa.
Beruntung, setelah mengucapkan pesannya tadi, ponsel Angelica berbunyi. Wanita itu kini terlihat sibuk berbicara di telepon, sampai tidak menyadari perubahan pada diri Zendaya.

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Ros Wani

    lanjutkan lagi sambungannya... ceritanya macam tergantung...

    06/05/2023

      0
  • avatar
    Raditia

    ah dah tamat ada Yg kurang deh heppy ending ya zenaya dan cipto udah bersama tapi harus nya di berikan momongan pengganti bayi Yg mendinggal tuh yg namanya ega lengkap deh bahagian ya 😊

    20/03/2023

      1
  • avatar
    Destia Putri

    Sangat bagus

    06/02/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru