Beranda/Dear Senin, Aku Jatuh Cinta/
Bab 35
Tawa kecil muncul lagi.
Lia menatap mereka sebal. “Kalian tuh ngomong kayak nggak mikir perasaan orang.”
Tapi Nara tiba-tiba berdiri dari kursinya.
“Udah, Li,” gumamnya pelan. “Nggak apa-apa.”
Ia berjalan keluar kelas tanpa menoleh.
---
Nara berdiri di lorong samping perpustakaan. Tempat yang sepi. Tempat favoritnya kalau ingin hilang beberapa menit dari dunia.
Ia menunduk. Tangan memegang ujung roknya. Nafasnya pelan tapi tidak stabil.
Ia memikirkan semua komentar tadi.
Masuk telinga, tapi tidak bisa keluar lagi.
Ia tahu mereka tidak berniat jahat. Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kata-kata mereka menusuk, terutama ketika mereka tidak tahu betapa rendah dirinya ia rasa setiap kali berhadapan dengan kimia yang rumit.
“Nara?”
Suara itu muncul.
Pak Dani, satpam sekolah, sedang lewat dengan membawa termos kopinya.
“Kenapa bengong di sini?” tanyanya sambil menghentikan langkah.
Nara buru-buru tersenyum. “Nggak apa-apa, Pak.”
“Kamu dari tadi di sini?”
“Iya… cuma ambil udara.”
Pak Dani mengangguk. “Jangan dipikirin omongan teman, ya.”
Nara kaget. “Bapak dengar?”
“Suaranya kedengeran sampai parkiran.”
Wajah Nara langsung merah.
Pak Dani tersenyum. “Ibu Yani itu kalau milih murid pasti ada alasannya. Kamu itu anak baik, sopan, belajar juga bisa. Kalau kamu mau coba, Bapak yakin kamu bisa. Pelan-pelan saja.”
Nara tersentuh—lebih dari yang ia perkirakan.
“Terima kasih, Pak,” katanya pelan.
Pak Dani mengangguk dan melanjutkan jalan.
Nara berdiri lagi, diam, menatap lantai keramik yang dingin.
Satu bagian dari dirinya ingin menolak. Menghindari rasa takut. Menjauhi hal yang tidak ia pahami.
Tapi bagian lainnya… bagian yang kecil tapi keras kepala… ingin mencoba.
Bukan untuk menang.
Bukan untuk membuktikan apa-apa pada orang lain.
Tapi…
Untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak selemah itu.
Ia tidak seburuk yang mereka pikirkan.
Ia tidak seburuk yang ia pikirkan.
---
Istirahat kedua.
Bu Yani memanggilnya lagi ke ruang guru.
“Nara, kamu sudah pikirkan?”
Nara duduk perlahan. Jantung berdebar.
Ia teringat Risa.
Ia teringat komentar sekelas.
Ia teringat dirinya sendiri yang selama ini merasa “gagal.”
Ia teringat bagaimana ia selalu bersembunyi dari hal yang membuatnya takut.
Ia teringat wajah Dira yang bilang, “Kak Nara bisaaaa~”
Ia teringat tatapan Rafa dari kejauhan tadi pagi—yang seperti ingin bicara, tapi juga takut mendekat.
Nara menarik napas panjang.
“Bu…”
Bu Yani menatapnya.
Nara menggigit bibirnya.
Kemudian berkata, perlahan tapi pasti—
“Saya ikut, Bu.”
Bu Yani tersenyum kecil. Senyum yang jarang muncul.
“Bagus. Ibu bangga kamu mencoba.”
Hati Nara bergetar.
Bagian dirinya yang kecil dan rapuh itu seperti diberi cahaya.
“Mulai besok, kamu latihan dasar-dasar dulu,” lanjut Bu Yani. “Dan Ibu sudah pilih satu teman yang akan jadi partner kamu. Tapi nanti dulu. Hari ini kamu pulang saja, istirahat.”
Nara mengangguk.
Saat ia keluar dari ruang guru, langkahnya ringan dan berat sekaligus.
Ringan karena ia akhirnya memutuskan sesuatu.
Berat karena ia tidak tahu apakah ia akan menyesalinya.
Ketika ia membuka pintu kelas, Lia langsung berdiri.
“Kamu tadi dipanggil Bu Yani lagi. Ada apa? Kamu gimana? Kamu nolak? Kamu cerita dong, aku penasaran—”
Nara menatap Lia.
Kemudian tersenyum kecil.
“Aku ikut lomba, Li.”
Seisi kelas langsung hening.
Beberapa detik kemudian—
“EH SERIUS??”
“WOOOOY NARA!!!”
“HEBATTTT!!”
“GILAAA KEREN!!!”
“YOU GO GIRL!!”
Risa melirik ke arah lain, pura-pura tidak peduli. Tapi ia jelas terkejut.
Nara menghembuskan nafas.
“Kayak gini rasanya, ya…” bisiknya pelan.
“Rasanya apa?” Lia menaruh tangan di bahunya.
Nara tersenyum.
“Berani.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Nara merasa dirinya… cukup.
***
Hari pertama setelah Nara memutuskan ikut lomba kimia terasa seperti hari Senin, padahal hari itu hari Kamis. Semua terasa lebih berat, lebih lambat, dan lebih bising dari biasanya. Bahkan suara kursi yang digeser Karin terdengar seperti pengumuman kematian harapan.
XI IPA 2 sedang ribut-ributnya karena Pak Adi belum datang padahal jam pelajaran sudah dimulai. Anak-anak memanfaatkan kesempatan itu untuk bergunjing tanpa batasan.
“Ra, jadi latihan hari ini?” Lia langsung duduk di meja Nara tanpa permisi. “Bu Yani bilang latihan jam pulang, kan?”
“Iya…” Nara mengangguk pelan. “Katanya mau dikenalin sama partnerku.”
“Nah!” Lia tersenyum lebarnya.
“Tapi katanya bukan anak kelas kita,” lanjut Nara pelan sambil memutar bolpen. “Jadi aku nggak tahu siapa.”
“Paling anak kelas XI juga.”
“Mungkin…”
“Mungkin anak kelas XII.”
“Jangan-jangan—”
“ANAK KELAS X, GIH?” potong Lia sambil tertawa.
Nara terdiam.
Eh.
Jangan-jangan?
Sebelum sempat membayangkan lebih jauh, Pak Adi masuk sambil membawa map dan minumannya yang tidak pernah lepas: es kopi susu dari kantin.
“Anak-anak, perhatikan,” katanya sambil menurunkan map. “Yang ikut program persiapan UTBK, nanti pulang sekolah langsung kumpul di aula kecil. Ada pengarahan dari guru-guru mata pelajaran.”
Murmer langsung memenuhi ruangan.
“Heh, baru kelas XI udah dikejar UTBK,” gumam Dinda.
“Emang harus, dong!” sahut Salsa. “Biar nggak nyesel nanti.”
Pak Adi menatap Nara sebentar—tatapan halus, seolah ia tahu Nara sedang menjalani sesuatu yang berat.
Kemudian pelajaran dimulai, tapi fokus Nara sudah tidak stabil. Setiap jam pelajaran terasa dua kali lebih lama. Setiap guru terasa bicara dua kali lebih cepat. Setiap halaman buku teks terasa dua kali lebih membingungkan.
Ia minum air tiga kali. Menghela napas enam kali.
Lia memukul bahunya dua kali.
“Nara. Kamu kenapa.”
“Deg-degan.”
“Kayak mau lomba besok?”
“Kayak mau hukum mati,” jawab Nara cepat.
Lia ngakak. Tapi Nara tidak.
Jam pulang sekolah akhirnya datang.
Anak-anak berebut keluar kelas, dan aula kecil di lantai dua mulai terisi siswa-siswa dari berbagai kelas. Para guru sudah berjaga: Bu Yani guru kimia yang sudah mengabdi di sekolah dengan jangka waktu lama, Bu Ara guru kimia baru yang baru sebulan mengajar, Bu Rani guru fisika, Pak Adi, dan beberapa tentor les eksternal.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (5)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bguss
11/01
0ga tau pengen aja banb
30/12
0semangat teruss
15/11
0Lihat Semua