logo text

8. Diam yang mulai berarti

Hari-hari di kantor H&Co Consulting berjalan seperti biasa. Tapi bagi Arabella, semuanya mulai terasa berbeda.
Liam tak lagi sering muncul di sekitar mejanya. Tidak ada lagi tatapan lembut dari balik kaca ruangannya, tidak ada lagi ucapan singkat seperti “Jangan lupa makan siang” atau “Kerjanya cukup untuk hari ini.”
Semua terasa… sepi.
Padahal dulu ia sering mengeluh kalau Liam terlalu kaku. Tapi sekarang, saat pria itu menjaga jarak, Arabella justru merasa ada ruang kosong yang aneh di dadanya.
Sementara Julian — seperti sedang berlari mengejar waktu. Ia makin perhatian, makin sering muncul di momen-momen kecil seperti membawakan makanan ringan, menjemput kalau hujan, atau sekadar menyelipkan sticky note lucu bertuliskan, “Jangan stress, Miss Marketing!”
Arabella berusaha tetap tersenyum, tapi di hatinya, perasaan itu bercampur aduk.
*
Keesokan paginya, Arabella memutuskan untuk belanja kebutuhan mingguan. Ia mengenakan kaus santai dan celana jeans, rambutnya diikat asal.
Saat di bagian frozen food, ia melihat seorang ibu paruh baya yang kesulitan mendorong trolley yang penuh dan mencoba mengangkat tiga kantong plastik belanjaan yang besar.
Arabella, yang memang ramah dan penolong, langsung menghampiri.
“Permisi, Bu. Saya bantu bawakan ya kantongnya?” tawar Arabella tulus.
Ibu itu menoleh, wajahnya terlihat lelah namun ramah. “Ya ampun, Nak! Kamu ini baik sekali! Ibu sampai kerepotan! Makasih banyak ya, Nak!”
“Sama-sama, Bu. Ibu mau saya antarkan sampai kasir?”
“Tentu! Kamu ini seperti malaikat penolong! Kamu sendiri belanja apa, Nak? Trolley kamu kok kosong?”
“Belum selesai, Bu. Ini baru mau cari stock mie instan pedas, cold brew, dan marshmallow!” kata Arabella, tertawa.
Mereka berjalan menuju kasir. Ibu itu terus bercerita.
“Ibu itu lho, Nak. Punya anak satu, tapi kaku sekali! Sudah weekend begini, bukannya temani mamanya belanja, malah bilang ada meeting mendadak di apartemen-nya. Kerja terus! Ibu sampai bosan!” keluh Ibu itu, memutar bola matanya.
Arabella mengangguk penuh simpati. “Aduh, kasihan sekali Ibu. Anak Ibu itu pasti workaholic ya, Bu? Kalau di kantorku ada juga tuh, Bos Kaku kayak gitu. Kerja melulu, tidak kenal lelah, tapi aneh banget.”
Ibu itu tertawa terbahak-bahak. “Lucu sekali! Anak Ibu juga aneh! Kalau nggak ada kerjaan, dia cuma stalking feed Instagram orang, katanya analisis tren. Kalau sama Ibu, dia cuma bicara efisiensi dan ROI!”
“Persis, Bu! Anak Ibu pasti CEO juga ya?”
“Iya, Nak. CEO H&Co Consulting. Namanya Liam. Aduh, pokoknya Ibu pengen banget punya menantu yang pengertian, yang nggak kaku, yang suka membantu orang tua di supermarket kayak kamu ini. Kamu ini auranya hangat sekali, Nak!” puji Ibu itu, memegang lengan Arabella.
Wajah Arabella langsung memerah karena pujian itu. Liam? H&Co Consulting? Tunggu sebentar!
“Nama Ibu siapa, kalau boleh tahu?” tanya Arabella, mulai merasa curiga.
“Oh, ya ampun, Ibu lupa kenalan! Kenalkan, Ibu Ratna. Panggil aja Bu Ratna,” kata Bu Ratna, tersenyum lebar.
DEG! Arabella merasa kakinya lemas. Bu Ratna? Mama Liam?
“B-Bu Ratna?” Arabella terbata-bata.
“Iya. Kenapa, Nak? Wajah kamu kok tiba-tiba pucat?” tanya Bu Ratna, khawatir.
“T-tidak, Bu Ratna. Cuma... saya pikir Ibu itu orang yang sangat beruntung karena punya anak CEO,” Arabella berusaha menutupi kepanikannya.
Bu Ratna menghela napas. “Beruntung sih, Nak. Tapi kurang kasih sayang dari menantu. Makanya, kalau kamu nggak keberatan, boleh dong ibu minta nomor ponsel kamu? Kita bisa hangout! Ibu butuh teman curhat yang hangat dan pengertian seperti kamu!”
Arabella menelan ludah. Ia baru saja mendengarkan curhatan Mama Liam, tanpa ia tahu! Dan ia baru saja menggosipkan Liam di depan ibunya sendiri!
“T-tentu, Bu Ratna. Saya Arabella,” ujar Arabella, salting tingkat dewa, sambil memberikan nomornya.
“Arabella! Nama yang cantik! Semoga anak Ibu bisa dapat pacar sebaik kamu, ya, Nak! Kamu itu ideal banget buat jadi menantu Ibu!” seru Bu Ratna, tulus.
Usai mengantar Bu Ratna ke parkiran, tak lama kemudian seorang pria turun dari mobil. Liam datang — rambut sedikit basah, jasnya lembap karena hujan. Tatapannya langsung jatuh ke Arabella dan Mamanya.
“Ma! Maaf saya terlambat,” katanya cepat. “Ada meeting online mendadak.”
“Sudah, sudah. Mama nggak apa-apa kok. Tuh, lihat, ada Arabella yang nemenin Mama.”
Liam menoleh ke Arabella, sedikit terkejut. “Kamu… di sini?”
Arabella tersenyum kikuk. “Iya, tadi saya lihat Bu Ratna kesulitan membawa belanjaan. Jadi... saya hanya sedikit membantu.”
Ada sesuatu di wajah Liam yang melunak — campuran lega dan kagum.
“Terima kasih,” katanya pelan. “Kamu nggak harus repot-repot.”
Arabella menatapnya lembut. “Bukan repot, Pak. Saya cuma nggak bisa lihat Ibu kesulitan.”
Bu Ratna tersenyum penuh arti. “Lihat, Liam? Perempuan kayak gini yang hatinya lembut. Kamu tuh jarang sekali dikelilingi orang yang benar-benar tulus.”
Liam menatap Mamanya, lalu ke Arabella. “Mama…”
“Sudah, sudah. Mama cuma ngomong fakta,” kata Bu Ratna sambil tertawa kecil. “Sekarang antar Mama pulang dulu, ya.”
Liam mengangguk, tapi sebelum mereka pergi, Bu Ratna menatap Arabella dan berkata pelan, “Mampir ya, Nak, ke rumah ibu kapan-kapan. Biar kita bisa ngobrol lebih lama.”
Arabella tersenyum hangat. “Dengan senang hati, Bu.”
*
Mobil Liam berhenti di depan apartemen Arabella malam itu. Liam mengantar Arabella setelah mengantar Mamanya pulang.
Hujan sudah reda, tapi udara masih lembap.
“Terima kasih ya, Pak,” ucap Arabella sambil melepas sabuk pengaman. “Mama Bapak orangnya baik banget.”
Liam menatapnya dari kursi pengemudi. “Dia juga suka kamu.”
Arabella menatapnya cepat. “Hah? Kok Bapak tahu?”
“Tadi waktu saya antar pulang, Mama bilang… kamu mengingatkan beliau pada masa muda. Ceria, tulus, dan punya cara bicara yang hangat.”
Arabella tersenyum kecil. “Wah, Mama Pak Liam manis banget.”
Liam diam sejenak, lalu berkata pelan, “Aku… juga berpikir begitu.”
Arabella terpaku. “Hah?”
Liam segera berdehem, berusaha menyamarkan. “Maksudku, kamu memang… orang yang tulus.”
Hening sejenak, hanya suara hujan tipis di luar yang terdengar.
Arabella tertawa pelan, berusaha mencairkan suasana. “Bapak kalau ngomong manis gini, saya jadi curiga.”
Liam menatapnya, kali ini tanpa tersenyum. “Saya jarang bilang hal yang nggak saya maksud, Arabella.”
Tatapan itu membuat waktu seperti berhenti. Ada sesuatu yang bergetar di udara, halus tapi nyata.
Arabella buru-buru menunduk, membuka pintu mobil sambil membawa paper bag berisi belanjaannya. “Saya… masuk dulu ya, Pak. Makasih udah nganter.”
Liam hanya mengangguk pelan, menatap punggung Arabella yang berjalan masuk ke lobi.
Dan entah kenapa, malam itu ia menyalakan mobil tanpa langsung pergi. Ia hanya diam beberapa saat, menatap kaca depan yang basah, seolah mencoba mengatur detak jantungnya sendiri.
*
Keesokan harinya, Bu Ratna menelepon Liam pagi-pagi.
“Liam, kamu sibuk?”
“Sedikit, Ma. Ada apa?”
“Mama cuma mau bilang… Arabella itu gadis yang langka. Kalau kamu nggak buru-buru sadar, nanti disambar orang.”
Liam terdiam. “Mama…”
“Mama bukan mak comblang, Nak. Tapi kadang, hidup ini bukan soal siapa yang lebih tepat di atas kertas. Kadang soal siapa yang hadir di saat kamu butuh, tanpa kamu minta.”
Kalimat itu menancap dalam di pikirannya sepanjang hari.
Dan di tengah kesibukan kantor, saat ia melihat Arabella tertawa kecil bersama Julian di pantry, Liam merasakan sesuatu yang asing di dadanya — bukan sekadar cemburu, tapi takut. Takut kehilangan sesuatu yang belum sempat ia miliki.
*
Sore itu, Arabella sedang berjalan ke lift ketika Liam tiba-tiba memanggil, “Arabella, sebentar.”
Ia berbalik. “Ya, Pak?”
Liam terlihat ragu, tapi kemudian ia mengulurkan sesuatu — sebuah kotak kecil berisi kue cokelat.
“Dari Mama. Katanya kamu harus coba. Dia bikin khusus buatmu.”
Arabella menerima kotak itu dengan senyum hangat. “Mama Bapak… benar-benar perhatian banget, ya.”
Liam menatapnya. “Mungkin karena kamu juga perhatian pada beliau.”
Arabella menatap balik, lembut tapi penuh rasa. “Saya cuma melakukan hal kecil, Pak. Tapi rasanya… Bapak dan Bu Ratna terlalu baik.”
Liam menunduk pelan, tersenyum samar. “Mungkin yang kecil itu, bagi orang lain, berarti besar.”
Suasana mendadak hening — hening yang manis, hening yang membuat dada hangat.
Lift berbunyi ding, pintunya terbuka, tapi tak ada yang bergerak.
Sampai akhirnya Arabella berkata pelan, “Terima kasih, Pak. Untuk semuanya.”
Liam hanya menjawab dengan satu kalimat yang hampir tak terdengar,
“Terkadang, diam adalah cara saya bilang… hati-hati, ya.”
Dan saat Arabella melangkah masuk ke lift dengan senyum kecil, Liam masih berdiri di tempatnya, memandangi pintu yang perlahan tertutup.
Dalam diam, ia tahu — perasaannya sudah terlalu dalam untuk disebut sekadar “perhatian.”

Komentar Buku (8)

  • avatar
    AlichaAlicha

    bagus

    27/01

      0
  • avatar
    AgasaaBina

    Bagusss... selera aku bangeett🤩

    01/12

      0
  • avatar
    Ranti

    bagus

    13/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru