Beberapa hari berikutnya, Arabella merasa aura di sekitar mejanya sedikit berbeda. Semua karyawan tersenyum padanya, seolah ia baru saja memenangkan lotre, atau paling tidak, memenangkan hati CEO. Naura sudah menunggunya dengan senyum lebar. Kali ini tidak ada kopi, melainkan tatapan serius yang jarang ia tunjukkan. “Bella, aku punya update penting dari medan perang,” bisik Naura, mendekat. Arabella menaikkan alis. “Medan perang apa lagi? Jangan bilang soal Sakti lagi, please.” “Ini jauh lebih genting,” kata Naura. “Ini soal Pak Liam. Dia cemburu, Bella. Parah.” “Dari mana kamu tahu?” tanya Arabella, mencoba menyembunyikan senyumnya. “Semalam setelah kamu pulang, aku kebetulan di pantry dan ketemu dia,” jelas Naura. “Aku cuma bilang ‘Pak Liam, Sakti itu perhatian banget lho sama Bella, sampai tahu kopi kesukaannya.’ Dan reaksi dia? Matanya langsung berubah jadi singa yang kehilangan mangsa. Dia cuma bilang ‘Semua orang di kantor ini seharusnya fokus pada pekerjaan, bukan pada selera kopi rekan kerja.’ Dingin, tapi fragile.” Arabella tertawa tertahan, menutupi mulutnya. “Astaga, dia lucu banget kalau cemburu.” “Lucu dari mana! Itu alarm bahaya!” Naura menjitak pelan kening Arabella. “Ini artinya dia sebentar lagi meledak. Kamu harus siap.” Tepat saat itu, Sakti datang. Kali ini ia tidak membawa kopi, tapi sekotak donat homemade dengan taburan almond kesukaan Arabella. “Pagi, Bella,” sapa Sakti ramah. “Semalam aku iseng bikin ini. Khusus buat kamu, biar loading pagi nggak terlalu berat.” “Wah, Sakti! Homemade?” Arabella terkejut. “Makasih banyak! Repot-repot lho!” Naura langsung bergerak cepat, mengambil salah satu donat itu. “Perfect timing, Sakti! Bella butuh energi buat meeting sama Pak Liam nanti!” Naura sengaja menekankan nama Liam. Sakti tersenyum tipis, tapi matanya beralih ke Naura dengan sedikit curiga. “Pasti. Pokoknya Bella, jangan ragu kalau butuh bantuan apa pun, ya.” Ia lalu pergi. Begitu Sakti menjauh, Naura bersorak pelan. “Mantap! The Game is On! Coba lihat ponsel kamu!” Arabella membuka ponselnya, dan ada dua pesan baru. Satu dari Sakti: [Semangat meeting-nya, Bella. Jangan lupa donatnya dimakan.] Satu dari Liam: [Ara, ke ruanganku sekarang. Urgent.] Naura menyeringai. “Tuh kan! Dia pasti lihat donat itu atau Sakti. Singa sudah lapar!” Arabella hanya bisa menggelengkan kepala, terhibur sekaligus gugup. Ia bergegas menuju ruangan Liam. Begitu Arabella memasuki ruangan, Liam sudah berdiri di depan meja, memegang secangkir kopi hitam. Wajahnya yang kaku seperti biasa, tapi matanya terasa lebih gelap dari biasanya. “Duduk, Ara,” katanya, nadanya datar. Arabella duduk, mencoba bersikap normal. “Ada masalah, Pak? Soal laporan analisis risiko?” Liam tidak menjawab soal laporan. Ia justru mencondongkan tubuh sedikit di atas meja, menatap Arabella intens. “Donatnya enak?” Arabella tersentak kaget. “Hah? Eh… iya, lumayan. Sakti pintar masak ternyata.” Rahang Liam mengeras. “Kenapa kamu biarkan dia membawakan makanan ke mejamu? Itu mengganggu fokus kerja.” “Pak, dia cuma bersikap baik,” bela Arabella. “Lagipula, Bapak sendiri yang kasih bolu kukus dari tante kemarin.” “Itu beda,” potong Liam cepat. “Itu dari Mama. Itu official. Ini? Dari rekan kerja yang tiba-tiba tahu selera caramel latte dan donat kamu? Itu bukan good manners, itu namanya pendekatan yang agresif.” Arabella menahan tawa, menyadari betapa parahnya cemburu Liam. “Oke, oke. Saya akan bilang ke dia untuk tidak repot-repot lagi.” Liam menghela napas, menyandarkan tubuhnya, mencoba menenangkan diri. “Bukan itu intinya. Intinya adalah… Aku tidak suka. Aku tidak suka ada pria lain yang mencoba mendekatimu. Terutama dengan makanan.” “Bapak takut kalah saing sama donat?” goda Arabella, tersenyum lebar. Liam menatapnya, bibirnya melengkung tipis. “Aku takut kamu nyaman dengan perhatian orang lain, padahal kamu tahu perhatian yang paling serius datang dariku.” Liam berjalan ke sudut ruangan, mengambil cangkir yang lain. Ia kembali dan meletakkannya di depan Arabella. Isinya kopi hitam pekat. “Caramel latte itu terlalu manis,” kata Liam. “Mulai sekarang, kamu minum ini. Biar kamu tahu, perhatianku nggak melulu manis kayak Sakti, tapi strong dan selalu ada. Minum. Aku mau kamu fokus.” Arabella terkekeh. Ia mengambil cangkir kopi hitam itu. “Possessive banget, ya?” Liam menatapnya lurus. “Aku tidak akan minta maaf karena ingin kamu jadi milikku sepenuhnya, Ara.” * Siang harinya, di tengah hiruk pikuk kantor, Naura menyenggol lengan Arabella. “Bella, gawat! Ada project meeting mendadak di Sky Lounge sore ini. Dan tahu nggak siapa yang ngadain?” “Siapa?” “Bu Ratna! Dan dia bilang ini meeting ‘Strategi Ekspansi Bisnis Masa Depan’ yang harus dihadiri semua calon pendukung utama keluarga.” Naura menoleh ke Arabella dengan mata berbinar. “Dia udah all-out! Kita harus siap!” Sore itu, di Sky Lounge hotel bintang lima, pemandangannya luar biasa. Hanya ada Bu Ratna, Liam, Arabella, dan Naura (yang diminta Bu Ratna untuk mendampingi Arabella, katanya ‘Bella butuh emotional support’). Bu Ratna membuka meeting dengan senyum hangat, tapi sorot matanya tajam. “Oke, kita mulai. Intinya, Tante ingin tahu sejauh mana kalian berdua serius. Saya nggak mau Liam terlalu lama menahan perasaannya, dan saya nggak mau Bella kehilangan peluang karena terlalu takut dengan status. Tante dukung kalian seratus persen.” Liam menatap Mamanya, rahangnya mengeras. “Ma, ini terlalu cepat.” “Cepat apanya, Liam? Kalian udah setahun lebih main kucing-kucingan di kantor! Jangan sampai terlambat kayak Pamanmu dulu, yang nembak istrinya setelah 10 tahun friendzone!” Bu Ratna menunjuk Arabella. “Bella itu aset yang harus segera diamankan! Jadi, Naura, mana rencanamu?” Naura, yang tampak seperti event organizer dadakan, langsung bersemangat. “Siap, Bu Ratna! Aku sudah buat flowchart rahasia!” Naura membuka tabletnya, menampilkan slide dengan judul: "Proyek Misi: Confession Day Liam & Bella" * Tujuan: Liam menembak Arabella malam ini. * Aktor: Liam (Wajib), Bella (Target), Naura (Kompor), Bu Ratna (Pendana & Penekan). * Langkah 1 (Persiapan): Bu Ratna harus mengalihkan perhatian Bella dengan cerita masa kecil Liam yang memalukan. * Langkah 2 (Eksekusi): Naura harus menyuntikkan keberanian pada Liam. * Langkah 3 (Klimaks): Liam harus menggunakan kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Arabella menutupi wajahnya dengan kedua tangan, salting maksimal. “Ya Tuhan, ini beneran meeting ekspansi bisnis?” “Tentu saja! Ekspansi keluarga kita!” jawab Bu Ratna gembira. Bu Ratna mulai bercerita. “Bella, kamu tahu nggak? Dulu waktu Liam kelas dua SD, dia pernah nangis di depan sekolah karena boneka beruang kesayangannya hilang? Padahal bonekanya dia sembunyiin sendiri di laci lho!” Liam mendesis pelan. “Mama!” Arabella tertawa terbahak-bahak. “Boneka beruang? Ya ampun, Liam!” Setelah suasana cair, Naura menyenggol Liam. “Ayo, Bos! Sekarang giliran Anda. Jangan biarkan Sakti mencuri spotlight!” Liam menatap Arabella. Semua tawa di ruangan itu seakan menghilang. Ia menghela napas, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan meja. “Ara,” kata Liam, suaranya kini kembali lembut, hanya fokus pada Arabella. “Aku nggak pandai main game. Aku juga nggak suka rencana yang bertele-tele. Aku nggak peduli lagi sama rules di kantor, sama Sakti, atau bahkan sama Mamaku sekarang.” Ia meraih tangan Arabella di atas meja, menggenggamnya erat. “Aku nggak bisa lagi pura-pura. Aku nggak bisa cuma jadi atasan yang flirting lewat chat atau cemburu gara-gara donat,” katanya, matanya memancarkan keseriusan yang membuat Arabella terpaku. “Sejak dulu, sejak kamu pertama kali berani menantangku soal laporan, aku tahu kamu beda.” “Aku nggak mau kamu cuma jadi ‘orang yang membuatku nggak benci hari Senin’,” lanjut Liam, mengulang kalimat chat lamanya. “Aku mau kamu jadi orang yang bikin aku selalu senang di hari apa pun. Aku mau kamu jadi alasan aku bangun pagi, dan alasan aku pulang cepat.” Naura dan Bu Ratna menahan napas, menatap momen itu. Liam menatap Arabella dalam-dalam. “Aku mencintaimu, Ara. Dan aku nggak mau kamu pulang malam ini tanpa kepastian. Aku nggak mau ada lagi Julian, Daniel, atau Sakti yang bawa caramel latte atau donat ke mejamu. Aku yang akan bawain kamu kopi setiap hari.” Ia memejamkan mata sesaat, mengambil napas, lalu membuka mata dan berkata, “Jadilah kekasihkj, Ara. Dan kalau kamu bilang iya, aku janji, aku akan jadi pria yang paling sweet, paling protektif, dan paling posesif yang pernah kamu kenal.” Air mata Arabella menetes. Bukan karena sedih, tapi karena ledakan emosi bahagia yang ia tahan. Ini bukan gombal kantor. Ini pengakuan. “Aku…” Arabella terdiam. Ia menatap Naura yang memberikan isyarat ‘jawab-sekarang-atau-Liam-pingsan’. Ia menatap Bu Ratna yang tersenyum penuh harap. Lalu ia menatap Liam, pria yang wajahnya terlihat tegang menunggu jawaban. Arabella tersenyum lebar, air matanya menetes bahagia. “Iya, Pak Liam. Aku mau.” Ruangan itu mendadak riuh. Bu Ratna bersorak keras. Naura langsung berteriak, “YEEEES! Proyek Confession Day Sukses!” Liam menghela napas panjang, senyumnya akhirnya merekah, lega. Ia mengangkat tangan Arabella dan mengecup punggung tangannya lembut. “Terima kasih, my Ara,” bisik Liam. “Sama-sama, Bosku yang posesif,” balas Arabella, tertawa. Bu Ratna dan Naura langsung berpelukan, merayakan keberhasilan mereka. Liam menoleh pada Arabella, matanya berbinar. “Mulai sekarang, Peraturan Kencan Undercover No. 4: Tidak ada lagi kopi atau donat dari Sakti. Kopi pagimu, cuma dariku. Hitam, tapi manis karena aku yang bawain.” Arabella tertawa. “Dan kalau aku mau caramel latte?” Liam tersenyum nakal. “Aku akan bawakan. Tapi kamu harus cium aku dulu sebelum diminum. Itu Peraturan No. 5.” Malam itu, di tengah kota yang ramai, di Sky Lounge hotel bintang lima, Arabella akhirnya menemukan rumahnya, di samping pria yang sangat kaku tapi mampu menggerakkan hati, dan didukung oleh dua wanita yang paling bersemangat dalam hidupnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
27/01
0Bagusss... selera aku bangeett🤩
01/12
0bagus
13/11
0Lihat Semua