Beranda/Swapped Position/
Episode 30
# Nickolas
Saat ini posisi Nickolas sudah sampai pada titik lokasi sesuai yang dia lihat sebelumnya didalam Chat Grup-Kiriman GPS. Sesampainya disana dia tidak mendapati satu orangpun apalagi kelompok bertampang khas balap liar.
"Lah, mana orang-orangnya?" menolah-noleh ke seluruh penjuru arah.
Posisi disana sendirian lantaran sebelumnya saat berkendara dia melalui jalur alternatif, sehingga tidak terjangkau oleh tiga teman yang mengejarnya menggunakan roda empat (Renz, Samuel dan Dion)
Lokasi yang ia datangi tersebut berada sangat jauh-sudah keluar dari Ibu Kota, sedangkan lokasi yang diperuntukkan balap oleh Bryan sebenarnya masih berada di sekitaran Ibu kota.
Bryan memang sengaja mengatur strategi-perpindahan tempat secara mendadak untuk melancarkan siasatnya (Sepi, minim terjangkau oleh polisi)
Nickolas masih duduk di atas motor seraya menghubungi Yoshua. Sudah lebih dari tiga kali coba menghubungi tidak kunjung di terima oleh Yoshua, lantas beralih hendak mengetik nama teman lainnya--Gevariel.
Tapi sebelum dia menghubungi Gevariel, perhatian teralihkan sejenak kala melihat Foto Nathan yang dikirim oleh Chen beberapa jam yang lalu didalam Chat Grup.
Tersenyum, melihat Foto Nathan benar-benar mirip dengannya membuatnya seakan melihat dirinya sendiri di wajah pemuda itu. Tidak lama tertegun melihat paras Nathan, dia teringat kembali Konflik yang membelitnya apalagi kini harus dihadapi oleh Nathan.
"Tidak, tidak akan pernah ku biarkan semua itu terjadi!" Negative thinking, apabila Bryan sampai salah sasaran berujung melukai Nathan. Lantaran konflik sebelumnya si Bryan memang sudah pernah mengancam (Hendak dijadikan anak buah/jongos) berkedok tanding balap Liar.
Berlanjut ia hendak menghubungi Gevariel, tapi Semasih dia coba menghubunginya, tiba-tiba …
"Haish, Sial!"
Kesal, lantaran hape-nya tiba-tiba mati akibat kehabisan daya. Membuatnya teramat bimbang, mencoba redamkan pikiran sejenak tapi tak henti-hentinya berpikir.
Terngiang segala kalimat percakapannya dengan seorang pemuda di daerah luar propinsi itu (Zatra) yang mengungkapkan seperti apa kehidupan Nathan (Tidak pernah terlibat perkelahian) dengan segala sifatnya (pendiam)
Membuatnya semakin terpacu untuk segera menuju ke ibu kota lagi untuk menyelamatkan dia. Dengan cara hendak menelusuri semua tempat yang biasa dijadikan arena balap liar, lantaran saat ini hape dia mati dan juga dia tidak hapal semua Nomor ponsel teman-temanya.
"Semoga belum terlambat," Melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh.
Brum … Brumm …
____
# Nathan.
Semasih mobil dikemudikan oleh Yoshua, Nathan perlahan sadarkan diri. Sebelum sepenuhnya membuka kedua mata, di alam bawah sadarnya masih terus-menerus mendengar suara-suara yang perlahan dia kenali siapakah gerangan suara-suara itu.
'Vincent, Segitu besarkah rasa konyolmu padaku, hingga kau memperlakukanku keji seperti ini?'
Kemudian teringat juga kalimat yang sangat menyayat hatinya dari orang yang paling dia cintai dan hormati.
'Ayah … Begitu menjijikankah aku bagimu hingga engkau muak telah membesarkanku?'
Perlahan namun pasti dia membuka kedua matanya, Ia telah mendapatkan kembali ingatannya mengingat segala yang terjadi dalam hidupnya, membuatnya kembali merasakan sakit didalam hatinya.
Kini pertama-tama yang dilihatnya adalah jalan aspal melalui kaca mobil lekas menoleh perlahan ke arah seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Nick, Puji Tuhan Syukurlah loe dah sadar" Ucap Yoshua semasih fokus mengemudi, tak memperhatikan jeli air mata Nathan berlinang membasahi kedua pipi.
Nathan diam menghapus air mata berlinang, di sertai dalam hatinya bergumam.
'Nickolas … siapakah Nickolas ini? Bukan, Aku bukan Nickolas. Ya, Ya, Ya, aku Nathan bukan Nickolas, tapi … Bagaimana bisa aku sekarang menjadi Nickolas, apakah wajahku sama dengan dia?' Terheran dan penasaran hingga leguhan frustasi akibat sakit hati perlahan pergi dari pikiran.
Terngiang adegan yang terjadi pada kedua pemuda itu (Simon dan Jovan) Di berlakukan secara brutal, menjadikan empati sosialnya tumbuh membara, lantaran sesungguhnya dirinya tak jauh beda dengan Nickolas yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi apalagi mengingat dirinya jua sering kali dianiaya.
"Apa yang terjadi?" Tanya-nya secara spontan pada Yoshua.
Yoshua pun menjawab "Kita udah pasti kalah di pertandingan kali ini Nick, Semoga Tuhan masih melindungi kawan kita, melihat dari segi jumlah pasukan yang kita miliki, masih kalah jumlah sama kelompok Bryan men, dan … yang paling utama Gua khawatirkan malah elo Nick, loe mau dijadiin budak sama si keparat Bryan itu."
Kini mobil yang dikemudikan oleh Yoshua pun sudah sampai di garis Finish. Segera Yoshua melaju ke arah kelompoknya berada.
Sementara disisi lawan, tampak mobil Bryan sudah sampai disana lebih dulu mungkin sudah sekitar beberapa menit yang lalu, mereka berkumpul sekaligus anggota gangster yang berjumlah 10 orang (Anggota inti) sekaligus kawan-kawan lain lebih dari 40 orang (Total gelobal)
Posisi Bryan berdiri tegak paling tengah nan petantang-petenteng, sementara satu kawan-nya (Zack) memegang rantai yang mesih mengikat leher kedua teman mereka (Simon dan Jovan) jongkok di depan mereka layaknya se'ekor anjing.
Degup jantung Yoshua terpacu tak menentu, tetapi dia coba meredamkan itu dengan mengatakan, "Yakinlah Men kita pasti akan bantu elo, Gua akan atur strategi lagi." Lekas beranjak keluar dari kendaraan bersama-sama Nathan.
Seluruh perhatian teman menuju ke arah mereka (Yoshua dan Nathan) Lantaran terkejut kenapa yang keluar dari bagian kemudi malah si Yoshua bukan Nickolas?
"Bro, apa yang terjadi? ke-kenapa kalian?" Dave hendak bertanya tentang itu.
"Ada sedikit kendala di jalan tadi Men, nanti kita bicarakan. Sekarang yang kita pikirkan adalah bagaimana cara kita menyelamatkan Simon kawan kita." Jelas Yoshua lantaran situasinya kalah dalam pertandingan.
Melihat Nickolas samasekali tak andil dalam Strategi seperti biasanya, maka Yoshua-lah yang ambil peran untuk mengaturnya. Namun, semasih hendak diskusi sejenak, Bryan sudah menyuarakan kata cukup lantang.
"Woi bajingan kecil!" Melangkah maju ke arah mereka diiringi menyeringai rasa bangga atas kemenangannya.
Semua kelompok Yoshua saling menghadap ke arah dia tampak geram penuh amarah.
"Sesuai janji yang udah loe sepakati. Loe udah kalah dari pertandingan ini, Sekarang … loe sudah resmi jadi jongos gua. Kemari lo jongos! Hahaha" Pinta-nya diiringi tawa iblis saling bersahutan dari kelompok mereka termasuk si Zamry.
"Hahahaha"
Perhatian Nathan tak lepas pandang penuh geram melihat lelaki arogan itu, tak lupa melirik prihatin ke arah pemuda yang berlakukan layaknya binatang tersebut (Simon dan Jovan)
"Hei jongos kecil, kenapa loe masih diam saja, apa loe tuli? atau … loe mau mengingkari janji yang udah loe sepakati sendiri hah? ingatlah Men, lelaki sejati tak akan pernah mengingkari janjinya sendiri, Hahaha" Cetus Bryan dengan bangganya.
Nathan masih terdiam seribu bahasa.
Bryan melangkah pelan mengelilingi Nathan sembari melanjutkan kalimatnya. "Masih belum menjawab perkataan gua rupanya loe ya? mana kejantanan seorang Nickolas yang selama ini selalu tampil sok jadi pahlawan kesiangan itu? atau … jangan-jangan inilah sejatinya seorang Nickolas, yang lobang pantatnya udah sering disumpelin Kontol hah? Hahaha" Olok-nya mengartikan tentang Nickolas bukan pria sejati yang tak memiliki keberanian untuk menepati janji.
Sontak, seluruh teman Nickolas melotot geram mendengar kata-kata itu "Tutup mulut loe, bangsat!" Umpat mereka serempak.
"Diam! Gua lagi ngebacot sama bangsat kecil ini, bukan sama kalian!" Pekik Bryan menelunjuk sengit ke arah mereka.
Nathan jua geram, mendengar kalimat itu keluar dari mulut lelaki ini, teringat Video yang ia lihat berisikan adegan tak Lazim dialami oleh Jovan beberapa saat yang lalu (sodomi rame-rame) yang dilakukan oleh kelompok Bryan, maka dia lirik Jovan yang kini masih belum berhenti meneteskan air mata itu, menumbuhkan siasat untuk segera menyelamatkannya.
Didalam batin ia berkata, 'Entah bagaimana aku sekarang bisa menjadi dirimu Nickolas, aku mungkin tak akan bisa setara denganmu, tetapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik menjadi dirimu untuk menyelamatkan temanmu, sekaligus menyelamatkanmu.'
Karena sudah terjebur kedalam masalah Nickolas mau tak mau Nathan harus menjalaninya meski ingat dan sudah tahu kalau dirinya bukanlah Nickolas serta tak tahu-menahu letak titik permasalahan tersebut.
"Lepaskan kedua teman kami, maka aku akan menuruti perintahmu" Ucapnya pada Bryan.
Sontak seluruh teman sekelompok Nickolas terkejut mendengarnya, lantaran kalimat itu 'mengartikan' alias sama saja dengan mengakui kekalahan atas pertandingan yang tak etis ini, (Jebakan/penuh siasat Bryan belaka)
"Nick, Nickolas!" Mereka saling menyuarakan kalimat masing-masing (Mencegah) tetapi, tak sekalipun Nathan mendengarkan itu.
"Hahaha, apa loe bilang, melepaskan kedua anjing itu? baiklah akan gua lepaskan. Tetapi gua perintahkan loe hajar semua teman lo itu dengan tangan loe terlebih dahulu, hahaha" Bryan dengan segala kelicikannya menyuruh Nathan menyerang teman Sekelompok Nickolas yang terdiri dari (Yoshua, Dave, Chen dan Gevariel)
"Apa maksudmu!" Ekpresi Nathan kian berubah mendengar itu, tak sekalipun dia menjumpai manusia begitu licik seperti si Bryan ini.
"Apa loe tuli hah! gua perintahkan sekarang loe hajar empat teman lo itu, cepat lakukan!" Ulang Bryan.
Seluruh teman Nickolas tak kuasa menahan amarah yang sudah memuncak di kepala, darah bagaikan mendidih, tak mau basa-basi mereka langsung maju menyerang. Bagi mereka tak peduli perbandingan jumlah yang signifikan, kalah ataupun menang urusan belakangan!
__
Yoshua maju menendang Bryan yang posisinya berdiri disebelah Nathan.
Bugh!
Sampai Bryan tersungkur, Dave lari menuju Simon dan Jovan, Chen mengiringi Dave menuju teman yang disandra itu, sementara Gevariel mundur kebelakang hendak melakukan strategi yang sudah direncanakan sebelumnya. Yakni, menggunakan cara klasik berupa kode petasan yang tak bersuara di luncurkan ke atas langit.
Setelah petasan itu meluncur ke langit, seluruh kelompok Yoshua yang sudah di kumpulkan muncul dari seluruh penjuru arah, lalu ... terjadilah perkelahian sengit cenderung brutal lantaran mayoritas para gangster dari pihak Bryan menggunakan senjata tajam beraneka ragam, begitupun para kelompok Yoshua.
Semasih perkelahian brutal berlangsung, angin bertiup kencang, disertai kilat petir diiringi guntur menggelegar, rintik hujan jua perlahan turun ke bumi menambah suasana ekstrim dalam arena perkelahian brutal itu.
Sementara Nathan masih berdiri di posisi yang sama lantaran dia samasekali tidak pernah terlibat dalam perkelahian, maka … Ketika Bryan berdiri, dia langsung memukul Nathan tepat di perutnya.
Bugh!
Nathan langsung tersungkur ke tanah. Bryan hendak menghabiskan amarahnya pada pemuda yang amat dia benci ini, dia ayunkan pukulan, hendak menghujam wajah Nathan.
Namun sebelum pukulan itu mendarat di wajah Nathan, Bryan sudah di tendang dulu oleh Yoshua dari belakang.
Bugh!
Begitu Bryan tersungkur, Yoshua meraih tangan Nathan sampai berdiri.
"Nicko, loe cepat bawa teman sekolah loe pergi dari sini, gua pastikan loe dan dia aman. Cepat pergi, Simon dan semua orang-orang ini biar kita yang atur." Perintahnya.
Nathan pun mengangguk kemudian melangkah menuju ke arah Jovan untuk menyelamatkannya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (86)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Bagus banget critanya
11/05/2025
0you
07/11/2024
0👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
27/10/2024
0Lihat Semua