Daritadi Zidan sudah berkeliling mencari tukang bakso. Ia mengacak rambut frustrasi. Sebenarnya sudah banyak penjual bakso yang ia temukan, tetapi penjualnya tidak ada yang botak. Sesulit inikah menjadi penjual bakso yang berkepala pelontos? Lagipula ngidam istrinya sangatlah aneh. Zidan menyesal menganggap ini hal yang mudah. Telepon Zidan berdering. Nama Zidny muncul di layar, buru-buru Zidan mengangkatnya. "Halo, Zid?" "Kamu ke mana aja, sih? Kok nggak pulang-pulang." Lah? Pertanyaan macam apa itu? "Aku lagi beliin bakso buat kamu." "Oh, iya. Terus, udah dapat belum, Mas?" "Belum. Penjualnya berambut semua. Gapapa, ya, yang berambut?" "Nggak mau!" "Ya udah, aku keliling lagi, nih." "Oke, Mas." Telepon pun dimatikan. Zidan kembali memutar setir mobilnya. Ke mana lagi ia harus mencari penjual bakso yang tak berambut? Siapa pun tolong beritahu Zidan, di mana ia harus mencarinya. Zidan lelah. *** Acara syukuran sudah selesai. Sekarang di rumah pun sudah sepi. Hanya tinggal Sansan dan Wanti. Seperti biasa, setelah selesai acara pasti rumah berantakan. Sansan membantu Wanti membersihkan dan merapikan rumah kembali, tetapi Wanti menolak. Ia takut menantunya itu kelelahan. "Nggak pa-pa, kok, Sayang. Mama bisa sendiri, kamu istirahat aja, ya, di kamar." Ya itulah yang dikatakan oleh Wanti saat Sansan ingin membantunya membereskan rumah. Alhasil, sekarang Sansan hanya diam di kamar, menunggu Zidan yang tak kunjung pulang. Sesulit itukah mencari penjual bakso yang botak? Sansan menghela napas pelan. Tangannya mengotak-atik HP-nya. Satu pesan belum terbaca. Sansan segera membuka pesan itu. [Raqib] Gue otw rumah lo, ya. Pesan itu dikirim empat puluh menit yang lalu, artinya sebentar lagi pasti Raqin sampai. Benar saja, dua menit setelah Sansan melihat-lihat foto di galerinya, suara Raqib terdengar dari balik pintu kamar. "Zidny Sandika, ini gue. Buka, dong!" Sansan segera bangkit, lalu membukan pintu kamar untuk sepupunya yang heboh itu. Setelah masuk, Raqib dengan santainya langsung rebahan di kasurnya. Ah, anggap saja seperti kamar sendiri, begitukah yang harus diucapkan oleh Sansan? "Gila lo, San. Mertua lo sibuk di luar, lo malah asyik di kamar. Nggak lo tolongin?" "Udah, tapi nggak dibolehin, kata Mama Wanti, gue istirahat aja." "Mentang-mentang lo lagi hamil? Udah, tolongin sana!" suruh Raqib. "Ih, kok malah lo yang ribet. Udah gue bantuin tadi nyapu, tapi nggak dibolehin." "Ya udah, deh, terserah. Bumil, mah, beda," oceh Raqib. "Lo ngapain ke sini? Mendadak banget." "Ya gue mau lihat keponakan gue, lah." Keponakan? Alis Sansan mengernyit. Raqib lalu bangkit dan segera mendekati Sansan. Ia lalu mengelus perut Sansan. "Ini, kan, ponakan gue!" kata Raqib. "Hm. Anak gue keknya nggak mau punya tante kayak lo." "Dih, enak aja. Gue udah siap jadi Aunty yang baik untuk dia." "Terserah, deh," dengkus Sansan. "Eh, suami lo mana?" "Lagi beliin bakso buat gue." "Ciee, pasti lo ngidam." "Hmm." Sansan tiba-tiba terpikirkan soal bayi di kandungannya. Apakah sebaiknya ia menceritakan ini pada Raqib? Agar ia bisa dibantu untuk mencari jalan keluarnya. "Mmm ... Ra." "Kenapa?" "Lo ke sini cuma kangen sama gue, atau emang ada hal lain?" tanya Sansan. Lebih baik ia mencari tahu tujuan Raqib terlebih dahulu. "Hmm ... ada hal lain, sih, tapi gue yakin lo udah tau dan ... please, jangan kepedean. Gue nggak kangen sama lo." Raqib mencibir singkat. "Hal lain, apaan?" "Tentang ... Alvian." Sudah lama ia tak mendengar nama itu. Terakhir ia bertemu mungkin dua minggu yang lalu, saat Alvian datang dan malah bertengkar dengan Zidan. "Ya, gue udah tau, kok. Gue ikut senang kalau kalian cocok," ucap Sansan jujur. "Gue ngerasa bersalah aja, mencintai mantan sepupu sendiri, apalagi pas lo masih pacaran sama dia." Sansan menghela napas sebentar. "Sudah terbukti, kan? Kalau pacaran belum tentu berjodoh. Artinya, Alvian bukan jodoh gue, makanya kita nggak jadi bersatu." "Tapi lo nggak marah sama gue, kan?" "Ya, nggaklah. Ngapain? Toh, Alvian juga bukan siapa-siapanya gue, kok." "Syukurlah." Raqib bernapas lega. "Terus, gimana? Udah jadian?" "Emm ... belum, sih. Tapi, dia udah mulai PDKT sama gue. Ya ... gitu, deh." "Oh, oke. Nggak pa-pa, kok, Ra. Santai aja," ucap Sansan tersenyum. Raqib pun ikut tersenyum. "Lo kan juga udah punya suami yang baik kayak Pak Zidan, San, apalagi udah hamil sekarang," goda Raqib. Apakah sekarang saatnya Sansan memberitahu Raqib? "Ra, sebenarnya ada yang ... emm, tapi, bentar ...." Sansan lalu beranjak mendekati pintu, membukanya dan melihat ke luar—memastikan aman, tidak ada yang mendengarkannya. "Kenapa, sih?" tanya Raqib. "Oke, aman," kata Sansan menghela napas. "Ada satu hal yang gue sembunyiin dari lo." "Apa?" tanya Raqib penasaran. "Sebenarnya ...." *** Mata Zidan melebar saat melihat sang penjual bakso di pinggir jalan. "Wah, kebetulan, nih," ucap Zidan, lalu memarkirkan mobilnya. Ia pun berjalan menghampiri tukang bakso itu. Kebetulan pembelinya sedang sepi. "Mas, jual bakso, ya?" tanya Zidan dengan polosnya. Sudah jelas di gerobak itu tertampang jelas tulisan bakso. "Nggak, Mas, saya jual nasi padang." Zidan terkekeh singkat, mendengar gurauan penjual bakso itu. "Maaf, Mas. Sebelumnya, nama Mas siapa?" "Parjo, Mas. Eh, ini nggak ada kamera, kan, Mas? Saya lagi kucek, nih." Zidan menghela napas. "Nggak ada, Mas. Saya datang bukan buat wawancara Mas, kok. Tapi hanya butuh kerjasamanya." "Kerja sama apa, Mas? Asalkan bukan buat ngegodain istri orang, mah, gapapa. Kalau disuruh godain janda, mah, ayuk atuh." Zidan hanya bisa menghela napas. Sabar sajalah. Demi istrinya. "Mas nggak ada kepikiran buat botak?" tanya Zidan. "Hah? Gimana, Mas?" "Itu, anu ...." Zidan terdiam sebentar. Bagaimana, ya, cara bilangnya? "Kalau Mas mau cukur rambut sampai botak. Saya kasih uang lima ratus ribu," ucap Zidan yang sudah tak tahu harus apa. Ia sudah terlalu lelah berkeliling. Ia juga tak mungkin menyerah saat Zidny ngidam pertama kali. "Kurang, Mas." "Eh?" Sepertinya Parjo ingin mengambil kesempatan. "Tambahin, dong, jadi delapan ratus ribu. Saya botak licinin, nih." "Lima ratus ribu, Mas. Kalau nggak mau, saya cari orang lain aja," ucap Zidan. "Yah ... ya udah, deh. Mana duitnya?" "Potong rambut dulu, Mas. Baru saya kasih." "Oke, Mas." Parjo lalu menghampiri adiknya yang ikut membantunya berjualan. Mungkin pamit untuk pergi pangkas. Zidan pun menunggu saja di sana. Eh, iya. Dia lupa memesan baksonya. "Dek, baksonya dua bungkus, ya." "Baik, Mas!" ucap adiknya Parjo. Ya, mungkin seperti inilah cara terbaik untuk memenuhi ngidam istrinya. *** Setelah menceritakan semuanya. Raqib tak membuka suara. Air matanya lolos begitu saja dari pelupuk mata. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Raqib menarik tasnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Sansan. Apakah Raqib kecewa? Apakah Raqib marah? Apakah Raqib benci dengan Sansan? Entahlah. Sansan hanya bisa menangis, karena sudah merusak kepercayaab sepupunya. Respons Raqib saja seperti itu. Bagaimana pula dengan Zidan dan Wanti? *** Bersambung *** Hai, semua. Aku ingatkan, ya, cerita ini belum tamat, masih ada kelanjutannya. Jadi, buat yang nanya ini ada lanjutannya nggak? Masih. Sebelum ada kata Tamat di akhir chapter, berarti ceritanya masih ada kelanjutannya gengs. Mohon sabar, ya. Aku usahakan up cepat. Terima kasih yang udah mau baca. Lope sekebon. Salam hangat, ~Amalia Ulan
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (778)
SaputriAprilia
aduh ceritanya seru deh pake banget, plisss lanjut dong lagi,. bener" gue pantengin terus dah ini.
22/12/2021
0
Okta Wiradana
Saya suka sekali cerita ini, karakternya terasa nyata dan konfliknya menarik. Tidak membosankan sama sekali, setiap bab selalu bikin ingin tahu kelanjutannya. Terima kasih sudah menulis karya yang bagus seperti ini!
30/06
0
Angger Narasman
mantap ceritanya.. bikin penasaran untuk membacanya.. terus berkarya..
aduh ceritanya seru deh pake banget, plisss lanjut dong lagi,. bener" gue pantengin terus dah ini.
22/12/2021
0Saya suka sekali cerita ini, karakternya terasa nyata dan konfliknya menarik. Tidak membosankan sama sekali, setiap bab selalu bikin ingin tahu kelanjutannya. Terima kasih sudah menulis karya yang bagus seperti ini!
30/06
0mantap ceritanya.. bikin penasaran untuk membacanya.. terus berkarya..
23/11
0Lihat Semua