Beranda/Karena Bau Terasi/
Bab 61 tidak salah
....
Almira berbincang banyak hal dengan Melati. Dari hal yang disukai Lyan hingga tidak, serta apa saja yang Lyan alami sedari kecil, Almira sudah tahu dari sang Ibu Lyan itu.
"Jika sembuh nanti, bawa Almira main lagi ya, Lyan?" ucap Melati saat Almira pamit hendak pulang diantar Lyan.
"Insya Allah."
Almira yang baru keluar kamar Melati dan hendak pulang dengan Lyan, dicegah Ardhana. "Tunggu!"
Almira berhenti sedangkan Lyan sudah tahu apa yang hendak ayahnya katakan karena dia sempat mendengarkan keluhan sang ayah tadi saat keluar kamar.
"Ai, saya tunggu di mobil. Silahkan bicara dalam waktu 10 menit dan tidak lebih," tegas Lyan.
Lyan berjalan meninggalkan Ardhana bersama Almira berdua di ruang tamu. Almira merasa takut dihadapkan dalam tatapan menilai Ardhana.
"Ada apa, Om? Apa Almira ada salah? Maaf jika kedatangan Almira membuat Om tidak nyaman," ucap Almira membuka pembicaraan.
"Tidak, Almira. Om hanya mau meminta maaf padamu karena sudah salah menilai sejauh ini sehingga membuat Lyan marah padamu. Sebagai sosok ayah yang payah, Om merasa jika tak pantas rasanya mengatakan ini langsung padamu. Namun, melihat kebahagiaan Lyan yang hanya ada padamu, Om harap kamu bisa sedikit menerima."
"Apa yang Om maksud?" Mira benar-benar tak faham."
Ardhan menghela nafasnya. Lagi-lagi ia kalah dengan Lyan dan harus menjalankan syarat agar Lyan mau kembali pada dirinya. Ancaman Lyan saat sedang marah, sungguh nyata dan pasti Lyan lakukan. Hingga mau tak mau, ia harus menurutinya.
"Menikahlah dengan Lyan. Dia mencintaimu dan Om harap, kamu juga mencintainya."
Almira tampak begitu kaget saat mendengar Ardhana melamarkan langsung dirinya untuk Lyan dan itu menjadi sebuah kabar membahagiakan di hatinya. Almira diam saking senangnya, tetapi mulutnya masih belum siap berucap bahwa dia juga sangat mencintai Lyan.
"Kapan Om bisa bertemu keluargamu?" tanya Ardhana.
"Orangtua saya sudah tidak ada. Saya hanya punya keluarga angkat, Om Gemal dan Tante Vivian. Mereka yang menjaga Almira selama ini. Ayah saya anak tunggal, jadi hanya ada kakek dan juga paman dari ayah saya. Mereka juga sudah meninggal. Jika Om hendak bersilaturahmi dan mengutarakan niat baik itu, Om bisa datang ke rumah Om Gemal, ayahnya Meysila. Saya tinggal di sana selama ini," jawab Almira santun.
"Baiklah. Besok malam keluarga Om dan Lyan akan ke sana. Om harap kamu sudah menyiapkan jawaban yang diinginkan Lyan. Karena dia, bagian dari kehidupan kami meski dia sendiri selalu merasa bukan menjadi bagian itu. Om harap, kamu bisa memberikan dampak baik buat anak Om"
"Insyaallah, Om."
Almira tidak bisa berbincang lebih lama karena dari tadi ponselnya berdering dari nomor Lyan.
"Ya sudah. Kamu boleh pulang. Sepertinya Lyan selalu tepat waktu jika masalah kamu. Makasih karena sudah mau menyempatkan waktu berkunjung. Semoga kami tidak salah mempercayakan kamu untuk Lyan. Pergilah! Saya tidak ingin Lyan menyusul ke sini dan membawamu pergi jauh dan tak kembali lagi," ucap Ardhana sambil tersenyum.
"Sama-sama, Om. Almira pamit. Wassalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Almira ikut tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman sebelum pergi meninggalkan Ardhana.
Perbincangan singkat dan serat akan makna ini, membuat Almira merasa dirinya sedikit diterima di keluarga Lyan. Meski banyak yang ingin ia tanyakan pada Lyan, sepertinya Almira harus menunggu waktu yang tepat.
Almira gegas menuju halaman di mana mobil Lyan terparkir. Gegas ia masuk dan tak ingin membuat Lyan marah karena terlalu lama menunggu.
"Maaf menunggu, tadi …"
"Pakai seatbeltmu." Lyan memotong pembicaraan Almira sebelum Almira ingin menjelaskan, membuat ia harus ekstra sabar menghadapi Lyan yang sedang seperti itu. Almira memilih diam dan menunggu Lyan sendiri yang bertanya.
Mobil mengarah ke apartemen Lyan. Almira ingin menolak, tetapi Lyan sepertinya sedang sangat marah. "Bee … kenapa ke apartemen?"
Lyan tidak menjawab. Dia mengajak Almira turun dari mobil dan menggandengnya masuk ke dalam apartemennya. Apartemen itu tampak rapi seperti semula, karena Lyan memang meminta seseorang untuk datang membersihkannya setiap hari.
"Istirahatlah! Saya hendak mandi. Jika berkenan, buatkan saya kopi hitam, tanpa gula."
Ingin menanyakan kenapa kopi yang dibuat harus tanpa gula, tetapi lagi-lagi Almira urungkan. Lyan sedang marah dan Almira tidak ingin membuat Lyan bertambah marah.
Sepuluh menit sudah, Lyan mandi. Almira yang sudah membuatkan kopi, memilih menunggu di atas sofa. Dia mengirim pesan pada Meysila jika dia sedang di luar dan mungkin akan pulang terlambat. Almira belum berani mengatakan, jika Lyan sudah kembali. Ia tak ingin media kembali geger jika tahu Lyan sudah kembali dan datang menemuinya.
Lima belas menit berlalu, Almira merasa mengantuk. Dia bersandar di dinding sofa dan ngantuk menyerang membuatnya terpejam dalam posisi duduk sambil menyilangkan tangannya ke depan.
Lyan keluar kamar mandi dengan keadaan yang sudah lebih baik. Dinginnya air yang merasuki pori-pori kulit, membuat otaknya bisa berpikir dengan jernih. Sengaja ia memperlama proses berendamnya, agar ia siap berbicara dengan Almira mengenai semua yang dilewatinya selama pergi. Ia ingin berbagi cerita, tetapi tidak bisa ia lakukan dengan keadaan marah. Sehingga ia melakukan kebiasaannya meredakan amarahnya, dengan berendam lumayan lama.
Lyan tersenyum saat melihat Almira yang tertidur di sofa dengan posisi duduk bersandar. Ia mendekat dan mengusap pipi Almira perlahan. Ada yang menghangat pada dirinya, dan itu karena melihat wajah wanita yang dirindukannya itu.
"Bee. Maaf, aku ketiduran," ucap Almira kaget saat ada tangan dingin menyentuh wajahnya. "Bee, kenapa belum pakai baju? Baru selesai mandi?" Almira melirik jam di dinding dan ternyata dia belum lama memejamkan mata.
"Sst! Jangan banyak tanya. Kamu lelah ya? Lebih baik istirahat di ranjang. Jangan di sofa seperti itu," ucap Lyan sambil tersenyum. Lagi-lagi setan menggoda imannya sebagai lelaki. Namun, kali ini Lyan tidak ingin terlampau jauh. Ia duduk di samping Almira dan menyeruput kopi buatan Almira.
"Aku ambilkan baju ya? Nggak enak lihatnya begitu," ucap Almira gugup sekaligus takut. Meski ia juga mencintai Lyan, tetapi jika dilakukan dengan cara yang salah maka kesulitan akan banyak hinggap dalam hidupnya.
Tanpa mendengar jawaban Lyan, Almira mengambilkan satu baju dan satu celana untuk Lyan. Tak lupa ia juga mengambilkan celana dalam milik Lyan dan menyelipkannya di dalam baju.
"Pakai saja di kamar mandi. Seharusnya tadi bawa sekalian. Biar waktu keluar kamar mandi sudah tidak t el a nja ng dada seperti itu," omel Almira dengan wajah cemberutnya.
"Lupa, Ai," jawab Lyan sambil tersenyum dan menerima baju yang diambilkan Almira. Melihat Lyan masih saja duduk sambil memandangnya dengan tersenyum membuat Almira menatapnya sebal. "Kalau belum dipake, aku nggak mau ngomong sama kamu, Bee," decak Almira seraya berjalan ke balkon apartemen.
Lyan senang melihat wajah kesal Almira yang bertambah menggemaskan. Ia tersenyum dan segera memakai pakaiannya sebelum Almira benar-benar marah dan meminta pulang.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (347)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
oke
10d
0sukaa bgt sama alur ceritanya🫰🏻
12d
0bagus
17/06
0Lihat Semua