Cuti Bersama

"Apa anda dan Nyonya belum baikan?" celetuk Herman berdiri sambil menata lembar kertas,
Berbasa-basi membuka obrolan pada pria yang tampak sibuk membaca berkas.
"Hm?" Elang melirik sekilas."Dari mana kamu tahu kalau kita bertengkar?"
"Tadi, saya tidak sengaja melihat dari luar. Nyonya memimpin rapat sambil membentak---tidak seperti biasanya,"
"..." Elang terdiam mengingat perdebatan mereka,
Bukan ingin memihak namun dia sedang merencanakan sesuatu guna memuaskan rasa kecurigaannya. Hingga terpaksa bersikap sedikit kasar pada seseorang,
"Soal cuti yang ditawarkan ke Nila, apa dia sudah mengambilnya?" lugas Elang mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya sudah," Herman menyahuti lirih.
"Kalau begitu, urus juga cuti buatku."
"Ha?" Ia tercengang mendengar keputusan tiba-tiba,
Berbeda dari Nila yang memang mendapat tawaran sebagai imbalan sebab telah berhasil menjalankan proyek bagi perusahaan.
Elang malah meminta hal mustahil di tengah beban kerjanya sebagai pemimpin dua perusahaan besar.
Kalau tak dituruti maka Herman akan mendapat amukan, namun jika diiyakan pasti mendatangkan masalah untuk dirinya sendiri.
"Oh, ya. Aku juga mau kamu menyelidiki sesuatu tentang Kasih---"
"Tadi pagi aku melihatnya bertemu dengan pria bertato, mereka terlihat akrab. Tapi Kasih tidak pernah membahas soal pria itu,"
"Coba cari tahu siapa dia dan apa hubungan mereka. Mungkin saja ada sesuatu yang sengaja Kasih sembunyikan dariku,"
"Baik, Pak." Herman mengangguk paham,
Sambil terus menata berkas ke dalam map, perlahan matanya melirik pada pria yang telah berdiri. Dengan santainya meninggalkan pekerjaan,
"Lho, anda mau kemana?"
"Mencari Nila," jawab Elang lanjut melangkah pergi begitu saja.
Tanpa rasa bersalah menyerahkan setumpuk beban pada bawahannya.
"Hh, bulan depan aku harus minta kenaikan gaji."
----------------
Di sisi lain,
Nila berdiri menghadap rak, mencari lembar berkas yang entah diletakkan dimana.
Matanya terus mencari dengan jemari menyelip singkat setiap benda di sana. Begitu tergesa-gesa meski tak dikejar waktu,
"Sial! Ada dimana sih? Kenapa dari tadi ga ketemu---"
TOK!
TOK!
"CK! Masuk." sahut Nila tanpa menoleh,
Mendengar suara ketukan pintu dari luar dia masih bersikap tak acuh.
TOK!
TOK!
"Hh, sudah kubilang masuk!" bentak Nila menoleh dengan raut kesal,
Sekilas tertegun mendapati Elang telah berdiri dan tersenyum ramah.
"Buat apa kamu ke sini?" tegur Nila menatap malas,
"Laporan auditnya belum selesai. Tunggu saja, besok pasti selesai..." Kembali berbalik memunggungi,
Elang berjalan maju sembari mengamati, sekilas diliriknya lembar kertas yang tergeletak di atas lantai. Langsung diambil dan disodorkan,
"Apa ini yang kamu cari?"
"...?" Nila menoleh, mengenali berkas tersebut.
"Hh!" dengusnya, cepat meraih lalu berjalan membuka jarak di antara mereka.
Perdebatan tadi menyisakan kesal di hati yang membuat Nila malas meladeni suaminya.
Dengan raut angkuh dia menduduki kursi. "Kalau ga ada hal penting cepat keluar. Aku masih banyak pekerjaan,"
"Selesaikan saja. Akan kutunggu di sini," sahut Elang berdiri sambil berpangku tangan.
"Apa sebenarnya maumu?"
"Tidak ada, aku cuma mau mengajakmu pulang." menjawab santai,
"Pulang? Jangan ngaco. Aku ini cuma karyawan biasa, bukan pemilik perusahaan yang bisa pergi seenaknya."
"Tapi, kamu kan istri pemilik perusahaan." sanggah Elang merendahkan suara,
"Kantor sama rumah itu beda. Kita ga boleh mencampurkan masalah pribadi ke pekerjaan---kamu sendiri yang bilang, kan?"
"Kalau mau pulang, pulang aja sendiri." ucap Nila bersikap cuek,
"..." Elang masih diam di tempat,
"Udah sana, cepat pergi."
"Kamu mau ikut aku pulang, atau kupaksa?" cicit Elang melangkah maju.
"Idih, apaan sih? Ga jelas banget." Nila mengernyit muak, enggan bertatap muka.
"Ayo pulang,"
"Ga mau."
"Ya sudah, biar kugendong." tegasnya menekuk lutut, bersiap membopong tubuh gadis yang langsung berdiri.
"Ini bocah kenapa sih? Tiba-tiba banget, kayak ga pernah berantem aja. Harus banget, yah? Aku kan masih kesel karena masalah tadi!" Nila menggerutu dalam hati,
"Kamu pulang duluan saja, nanti kususul kalau pekerjaanku sudah beres."
"Tidak. Kita pulang barengan, sekalian mampir ke toko buat beli koper." imbuh Elang bersikukuh,
Seperti anak kecil yang tak menerima penolakan.
"Herman bilang, kamu sudah setuju mengambil cuti. Aku juga sudah mengatur cutiku---jadi kita langsung siap-siap sekarang untuk bulan madu besok."
"Dia masih memikirkan soal bulan madu? Kupikir sudah lupa." batin Nila mulai terbujuk,
Sempat berpikir jika Elang tak akan membahasnya. Terlebih setelah perdebatan yang terjadi di antara mereka,
"Ayo," lanjut Elang mengulurkan tangan.
Meski sedikit ragu, Nila menyambut sambil membuang muka. Sikap jaimnya tampak menggemaskan sampai menerbitkan senyum kecil di wajah Elang,
Mereka pun pergi melewati lorong dengan tangan saling bergandengan, sontak membuat para karyawan yang melihat tercengang.
Secara tak langsung keduanya menepis rumor buruk perihal keretakan serta kehadiran orang ketiga di pernikahan mereka.
"Hh?!" Nila terbelalak,
Dari parkiran dilihatnya sosok yang baru saja lewat bersama pria lain.
Tanpa pikir lama, dia menarik lengan Elang guna membuntuti. Berharap hal ini bisa membuktikan secara langsung,
"Ada ap--"
"Hust!" tegur Nila mengacungkan telunjuk,
Mereka bersandar pada dinding, sambil menyelinap mengikuti dari belakang. Menemukan Kasih berbincang dengan seseorang,
"Siapa pria itu?" batin Elang mengernyit curiga.
Dari jauh keduanya saling bertatap muka, bahkan Kasih diam menerima sentuhan tangan yang membelai rambutnya.
"Apa Kasih sudah menikah?" bisik Nila penasaran,
"Entahlah, aku tidak tahu."
Mata mereka tak henti menatap, berusaha menguping namun tak bisa. Sampai pria itu merangkul tubuh Kasih dan mengajaknya pergi menaiki sebuah motor ninja.
"Ayo, kita ikuti mereka." ajak Nila antusias,
Elang yang dilanda curiga tak lagi ragu, langsung mengangguk setuju dan berlari menuju mobil. Mengejar jejak motor tadi sampai berhenti di sebuah gedung terbengkalai,
Mobilnya dibiarkan terparkir cukup jauh, sambil mengamati dua orang yang telah masuk ke dalam sana.
"Sepertinya ada yang ga beres---mungkin mereka tahu kalau kita mengikuti dari belakang," ujar Nila dibuat gugup.
Kakinya ragu untuk turun, melihat situasi sekitar yang begitu sepi seperti pojok kota tak berpenghuni. Bagaimana jika ada jebakan atau rencana licik yang bisa membahayakan keselamatan mereka?
"Gimana kalau kita pulang saja? Atau kamu telpon Herman, biar dia mengirimkan orang untuk mengawal kita."
"Itu akan membutuhkan waktu lama. Bisa-bisa kita ketinggalan jejak sebelum pengawal datang," imbuh Elang melepaskan sabuk pengaman.
Sigap membuka pintu dan melangkah turun, diikuti Nila yang masih merasa cemas,
Pria bertato tadi tampak berbadan kekar dan berwajah garang, jadi wajar jika membuatnya ketakutan.
"...?" Elang melirik singkat, ujung kepala gadis yang merangkul lengannya dengan erat.
"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa."

Komentar Buku (7)

  • avatar
    MusthofaputriBabygemol

    bagus banget

    25/10

      0
  • avatar
    SaidAchmad

    keren

    12/10

      0
  • avatar
    NoNino

    keren bagus

    06/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru