"Nila buka pintunya!" panggil suara pria dari luar sembari mengetuk pintu. TOK!TOK!TOK! "Buka pintunya!" Teriakan keras itu terdengar mengganggu, tampak gadis yang buru-buru berjalan membuka pintu. Entah siapa tamu di jam malam seperti ini, "Siapa sih?" batin Nila penasaran, mendapati kehadiran Rangga yang berdiri sempoyongan. Kerah bajunya terlihat berantakan, bau alkohol tercium kuat. Lancang sekali dia berkunjung dalam keadaan mabuk bahkan di tengah malam, "Kok kamu bisa tahu rumahku?" sontak Nila mengerutkan alis, bergerak mundur saat tubuh pria tadi melangkah masuk. Dia menatap risih Rangga yang menyandar pada kursi, kehilangan kesadaran sampai bertindak seperti orang gila. "Ayo, ikut denganku. Aku kesini untuk menjemputmu!" ajak Rangga sambil tersenyum, berceloteh dengan mata terpejam. Kesusahan berdiri tegap menghadap Nila, "Setelah menjebakku kemarin. Kamu masih berani muncul di depanku?" ujar Nila membulatkan mata, "Apa yang kamu maksud?" Rangga mengangkat alis, "Aku cuma mau kamu kembali. Tapi adik sepupumu yang bodoh malah menghancurkan rencanaku," "Lihatlah, aku sudah datang. Ayo kita bersama seperti dulu! Aku tahu kamu masih mencintaiku--" bujuk Rangga merendahkan suara, mengulurkan tangan sambil melangkah maju. Jelas Nila kembali menjauh, "Sudah aku bilang, aku ga mau lagi berurusan denganmu! Kenapa ga ngerti juga??" "Kenapa kamu berteriak? Padahal dulu kamu adalah gadis penurut. Pasti kamu ketularan pria buta itu kan? Tapi, gapapa aku akan tetap menerimu." "Ayo, kita pergi. Biarkan saja suamimu yang buta itu sendiri," Raut Nila terlihat sangat muak. Kenapa juga dia harus meladeni penyusup yang datang ke rumahnya? Tak sengaja menoleh ke belakang, mendengar langkah lirih Elang yang menghampiri. "Ada apa?" Nila terdiam sedikit merasa panik, semoga saja pria itu tidak salah paham karena Rangga dibiarkan masuk ke dalam rumah. "Ini, aku denger ada yang teriak-teriak di luar. Pas aku buka ternyata Rangga---aku gatau kenapa dia bisa tahu alamat kita." ungkap Nila menjelaskan secara rinci, Menatap Elang yang terus melangkah mendekat, tiba-tiba mencubit hidung berkat aroma pekat yang mengganggu. "Padahal mabuk, tapi dia bisa kesini." gumam Elang dibuat takjub, "Hei, bukankah ini kakakku yang hebat?" sapa Rangga tersenyum lebar, berjalan sempoyongan menghampiri pria di depannya. "Gapapa." sontak Elang mengangkat telapak sebagai isyarat pada gadis yang terlihat khawatir. Nila mengawasi dari sisi lain dengan perasaan cemas, bagaimana kalau Rangga mengamuk dan berbuat nekat. "Kamu masuk saja, biar aku yang urus.." suruh Elang tanpa menoleh, "Baiklah, tapi hati-hati. Rangga bisa saja memukulmu karena mabuk," jawab Nila terdengar ragu untuk pergi, "Tenang saja. Aku akan mengurusnya dengan baik," gumam Elang menunggu gadis tadi pergi sebelum menjalankan aksinya. "Hei, kamu mau kemana?" celetuk Rangga memanggil pria yang sedang berjalan menutup pintu rumah. Dengan wajah datar Elang mengamati gerak gerik pria tadi, untuk berdiri tegap saja susah bahkan kedua matanya berulang kali terpejam berkat terlalu banyak meminum alkohol. "Gara-gara kamu, Nila harus merasakan pengalaman buruk di hidupnya." Tangannya mengepal kuat seakan sedang bersiap sebelum melepaskan pukulan. BUK! Pendaratan pertama mengenai pipi hingga Rangga dibuat jauh tersungkur, "Ini untuk kebodohanmu yang sudah menyakiti Nila." "Sial! Siapa yang berani memukulku?!" pekik Rangga kesusahan bangkit, berpijak pada kedua tangan sebelum berdiri. Namun usahanya gagal berkat pukulan lain yang Elang berikan. BUK! Kali ini tepat di tengah punggung sampai pria itu terbaring kesakitan. "Dan ini, untuk kebodohanmu karena masih berani datang!" "Siapa itu? Beraninya nyerang dari belakang?!" sontak Rangga mengamuk, hilang akal setelah mabuk sampai tak sadar dengan perbuatan Elang. Reaksi tersebut membuat Elang tersenyum, mulai terhibur dan tak ragu melanjutkan pukulan lain. Ditariknya belakang baju Rangga untuk membantu duduk sebelum menarik kerahnya, BUK! BUK! "Ini untukmu karena mencoba mendekati istriku!" Hantaman keras mengenai kedua pipi yang membuat pria itu semakin mengamuk. "Berhenti memukuliku!" Elang melepas cengkraman, berdiri sambil menunggu Rangga yang berusaha bangkit sendiri. "Siapa sebenarnya kamu?!" bertanya sambil mengacungkan telunjuk. "Aku kakakmu," sahut Elang dengan singkat, melihat tubuh Rangga kesusahan berdiri tegap. "Tidak. Kakakku cuma pria buta! Dia ga akan bisa memukulku kayak tadi. Cepat katakan, siapa kamu?!" teriaknya mulai geram. "Apa gapapa kalau aku ninggalin mereka berdua?" celetuk Nila mendengar kebisingan dari arah lain. Kakinya berhenti di depan pintu kamar, singkat berpikir merenungkan keputusannya tadi. Tentu khawatir meninggalkan Elang bersama pria mabuk, "Gimana kalau Rangga tiba-tiba menyerang Elang? Lebih baik, aku ikut ngawasin!" Nila berbalik pergi, "Tapi aku memang kakakmu. Dan sayang sekali, aku sebenarnya tidak buta." jawab Elang tak ragu mengakui, lagipula setelah sadar pria itu tak akan mengingat apa saja yang terjadi. "Bohong. Katakan, siapa kamu?! Kenapa kamu berpura-pura menjadi dia!" pekik Rangga hendak membalas pukulan, Tapi mudah bagi Elang dalam menghindarinya, dia mengelak lalu membanting kembali tubuh Rangga agar terjatuh ke atas lantai. BRAK! "Elang!" teriak Nila, berlari keluar setelah mendengar suara benturan keras. Semoga dia tak mendengar pengakuan Elang, Tertegun melihat kondisi pria yang terbaring di atas lantai dengan luka memar di wajah. Rangga tampak mengerang kesakitan sedangkan Elang hanya diam berdiri berpura-pura tak tahu apapun, "Apa yang terjadi? Kamu gapapa?!" ujar Nila menghampiri, sibuk memiringkan tubuh Elang ke samping untuk memastikan kondisinya. "Iya, aku baik-baik saja." Elang mengangguk santai dengan wajah polos. "Terus, kenapa Rangga kayak habis--" "Dia jatuh sendiri." tegas Elang memotong ucapan yang hendak ditanyakan. "Tadi, kayaknya dia mau mukul aku. Tapi gara-gara mabuk, malah jatuh sendiri." Nila termenung mendengar jawaban, sedikit tak percaya karena penampilan Rangga cukup parah kalau hanya sekedar jatuh. "Ya sudah, biarkan saja dia. Nanti aku telfon Herman, biar diurus----sampah kayak dia harus dibuang ke tempat sampah." celetuk Elang mulai panik, Bergegas menggandeng lengan Nila dan mengajaknya masuk, segera mengalihkan perhatian agar tak dicurigai. "Ayo, cepat tidur! Ini sudah malam." ----------------‐------ Keesokan paginya, Beberapa warga perumahan berkumpul, mereka dihebohkan dengan penemuan pria dewasa yang tertidur di atas tempat pembuangan sampah. "Hei, lihat! Apa yang dia lakukan disana? Apa dia orang gila?" "Tapi dia memakai setelan jas---kenapa dia tidur disini?" cibir para wanita saling berbisik. Sibuk melihat dengan tatapan jijik, Rangga perlahan membuka mata mendengar keributan yang terjadi, tak menyangka dijadikan tontonan banyak orang. "Kenapa aku bisa ada disini?" batinnya mengernyit kebingungan, dikelilingi tumpukan sampah bahkan tubuhnya berada dalam bak berukuran besar. "Sial!" hardik Rangga bersusah payah keluar dari sana. "Bau sekali.." bisik para warga yang masih melihat, Berhasil membuat Rangga kesal, matanya melotot memandang mereka. "Ngapain lihat-lihat? Ga ada kerjaan lain? Pergi sana!" Amukannya berhasil membuat semua orang lari ketakutan. Dengan cepat Rangga mengibas sampah yang masih menempel lalu berjalan pergi, "Ahrg, kenapa tubuhku sakit semua? Gara-gara kebanyakan minum, aku ga ingat apapun! Apa yang terjadi semalam?" sibuk menggerutu, sesekali menyentuh pipi yang terasa nyeri. Kring..kring..kring.. Bunyi telfon mengalihkan perhatian, segera Rangga merogoh saku sigap menerima panggilan dari orang penting. "H-halo, selamat pagi." sapanya berusaha sopan, "Bukankah anda yang mengajak saya untuk kerja sama?" "Benar, pak. Itu saya," jawab Rangga sangat antusias. "Apa kita bisa bertemu siang ini? Kebetulan saya ada waktu luang." ujar suara pria dibalik telfon. Memberikan kabar baik yang membuat Rangga kegirangan. "Tentu! Tentu saja bisa. Bapak tentukan saja tempatnya, saya pasti datang tepat waktu." *BERSAMBUNG.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
25/10
0keren
12/10
0keren bagus
06/10
0Lihat Semua