logo text

Bab 7: Tajamnya Ucapan

Ini hari pengumuman kelulusan sekolah tempat Hanum belajar. Tidak ada acara apapun yang diselenggarakan selain mendatangkan wali murid untuk mendengar pengumumannya langsung. Hari ini Hanum tidak berangkat sekolah. Dia kurang enak badan. Sedari malam demam.
Pintu rumah terbuka. Ibu masuk menuntun sepeda ontel yang biasa Hanum gunakan untuk berangkat sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah memang tak jauh, hanya sekitar 1,4 kilometer.
"Gimana, Bu?" tanya Hanum  mengeraskan suara, tepat setelah menjawab salam.
"Nilaimu bagus. Kamu masuk lima besar terbaik satu angkatan," jelas Ibu seraya menyerahkan amplop putih berisi Surat Keterangan Lulus.
Jika biasanya Hanum selalu meraih peringkat dua di kelas, kali ini dia meraih peringkat lima, dari satu angkatan. Bagus, setidaknya dia sudah benar-benar membuktikan tetap mempertahan prestasi meskipun digempur masalah dengan keluarga Gus Rahman.
"Alhamdulillah," gumam Hanum seraya meraih amplop itu lantas membuka. "Aku akan tetap melanjutkan SMK, Bu."
Ibu mengangguk kecil, "Kamu memang harus melanjutkan sekolah. Buktikan pada dunia kalau kamu layak dan bisa."
"Ibu percaya padaku?" tanya Hanum resaya menatap iris Ibu, mencari letak ketulusan didalamnya.
Ibu mengangguk. "Ibu selalu percaya padamu." Kedua sudut bibir pucat Hanum terangkat sempurna. Dari sorot tatapan Ibu, dia benar-benar menemukan ketulusan.
Ibu mendaratkan pantat di tepi ranjang. Tangannya terulur menyentuh kening Hanum, hangat, keadaanya sudah membaik. "Num," panggil Ibu seraya menatapnya, "Ibu harap, apapun yang terjadi padamu setelah ini, kuat, iya, Nak. Jangan pernah goyah, ingat tujuan awalmu. Buktikan, Num. Ibu selalu mendoakanmu."
Hanum menatap Ibu lekat. "Ibu juga akan selalu mempercayai dan membelaku?"
Ibu menggeleng kuat, wajahnya berubah tegas. "Tidak, Num. Tergantung apa masalahnya. Ibu akan mencari tahu sebab dan akibat. Ibu akan mencari tahu siapa yang salah. Dan, akan membela yang menurut Ibu benar. Kalaupun kamu yang salah, Ibu sendiri yang akan turun tangan menghukummu."
"Kalau ada fitnah baru dan aku tersudut?" tanya Hanum bimbang. "Aku cuma punya Ibu yang mempercayaiku. Kalau suatu hari Ibu gak percaya sama aku gimana?"
Tangan Ibu berhenti di atas pundak Hanum. "Jaga kepercayaan yang udah Ibu berikan. Itu saja."
Ibu beranjak. Saat menyibak kelambu, suara Hanum menghentikannya. "Kalau aku tidak bisa menjaganya, bagaimana, Bu?"
Ibu menoleh, menatap sekilas. "Doakan saja Ibu segera dipanggil Sang Pencipta."
Ibu benar-benar berlalu, meninggalkan Hanum dengan detak jantung memburu. Sekujur tubuhnya menghangat, aliran darah terasa bergerak.
"Aku akan berusaha menjaga kepercayaan darimu, Bu. Doakan aku," lirih Hanum dengan suara lemah. Tatapan matanya kosong.
***
"Setelah ini mau ngapain? Nikah? Atau ngajak nikah anak Gus lagi?" tanya Mak Tik saat melihat Hanum hendak mengangkat jemuran yang telah kering.
Sakit panas di tubuh Hanum baru saja menghilang. Kali ini dia harus merasakan panas di hati. Hanum menatap Mak Tik. "Aku sekolah, Mak. Sayang kalau gak lanjut."
Mak Tik memutar bola mata. "Sayang katamu? Kamu gak lebih sayang dengan orang tuamu yang ngenes karena tingkah lakumu? Anak gadis yang berani ngajak nikah putra Gus!" Mak Tik menaikkan nada bicara pada kalimat terakhir. Raut wajahnya menunjukkan cemoohan. "Sok cantik banget sampai berani gitu. Udah benar-benar gatal sampai mau buru-buru nikah? Atau, merasa gak laku selama ini gak ada cowok yang deketin? Dasar murahan!"
Hanum meremas baju kering yang sudah disisihkan, siap diangkat. Hanum menarik napas perlahan, mengembuskan perlahan juga.
"Kenapa? Gak terima? Toh, kenyataannya emang gitu, kan?" Wanita setengah baya itu semakin menjadi. Nada bicaranya pun sengaja dirubah untuk mengejek. "Mbok, iya, ngaca sebelum bertindak. Kamu itu siapa? Asalnya dari mana? Anak kemarin sore, anak orang gak punya, anak orang miskin ilmu kok sok-sokan minta dinikahi anak Gus. Iya ogah, lah, anak Gusnya. Dia masih terlalu waras untuk menerimamu."
Sudut dada Hanum nyeri, benar-benar nyeri mendengar penuturan Mak Tik. "Mak, aku gak pernah buat masalah sama, Mak. Tapi kenapa Mak sebegitunya sama aku?"
"Karena kamu anak orang yang paling kubenci. Gegara Bapakmu kembali ke Jember, warisan yang harusnya dibagi lagi harus diberikan ke Bapakmu cuma karena ini bagian milik nenekmu!"
"Tapi kan aku gak ada sangkut pautnya sama semua ini, Mak." Suara Hanum bergetar.
"Tetap saja. Kamu anaknya. Kamu ikut tinggal di sini. Nanti kamu dan adikmu juga yang akan memiliki ini," ucap Mak Tik menggebu-gebu dengan intonasi tinggi.
"Aku hanya anak, Mak. Aku tidak mau ikut campur urusan orang tua. Apa lagi tentang warisan." Dalam hati ada kelegaan, setidaknya Hanum tahu alasan mengapa Mak Tik sangat membenci keluarganya. Akan tetapi, di sisi lain dia juga sedikit heran, Mak Tik dan nenek saudara, jika tanah ini memang bagian nenek, lantas mengapa Mak Tik tak terima tanah ini diberikan pada Bapak?
"Oh, gak bisa. Nanti kamu juga yang akan memilikinya. Secara gak langsung kamu juga penyebab tanah ini gak jadi dibagi rata keluarga Jember. Nenekmu sudah transmigrasi ke Lampung. Katanya tanah di sana luas, kenapa Bapakmu balik ke Jember? Dasar, tidak punya rasa syukur! Pantas saja anaknya murahan." Mak Tik menekan kalimat terakhir.
Hanum menarik napas panjang. Mak Tik sudah sangat kelewatan. Wanita itu sudah sangat menguras kesabaran Hanum.
Dengan suara bergetar Hanum berujar, "Mak sangat tidak pantas menghinaku seperti itu. Mak juga punya anak perempuan, juga menantu perempuan. Meskipun anak perempuan Mak sudah menikah, tapi hal itu juga gak menutup kemungkinan hinaan Mak padaku kembali ke anak perempuan Mak Tik."
Hanum sengaja menjeda untuk mengumpulkan kekuatan. "Omongan itu doa, Mak."
Amarah Mak Tik tersulut. "Halah, gak mungkin omonganku balik ke anakku. Anakku itu orang baik, berilmu, gak mungkin dia serendah kamu!" Wajah Mak Tik memerah, jari telunjuknya menunjuk Hanum. "Jangan sok menasehati orang tua kamu! Lihat dulu dirimu, berkaca! Sangat gak pantas kamu omong kata gitu. Gak diajari sopan santun kamu sama Bapak Ibumu, ha? Dasar murahan!"
"Bapak Ibuku ngajari aku sopan santun, kok, Mak. Sangat mengajari sejak aku kecil. Bahkan Bapak Ibuku juga mengajariku jangan menghina orang lain meskipun gak suka sama orang itu. Bapak Ibuku selalu ngajari aku untuk menjaga lisan. Karena lisan lebih kejam dari pedang jika digunakan untuk melukai orang." Hanum menjeda sejenak sebelum berujar dengan penuh penekanan disetiap kata. "Dan, aku bukan gadis murahan! Aku gak pernah melakukan yang Mak Tik tuduhkan, sama sekali enggak!"
Hanum berlalu, tanpa membawa baju yang siap diangkat dalam rumah. Dia menutup pintu, bersamaan itu dia juga menutup teling dan hatinya. Dia akan mulai belajar untuk tak menggubris omongan seperti Mak Tik, atau jelmaan Mak Tik lain yang akan lebih menyakitinya. Baginya yang lebih penting saat ini adalah kesehatan hati, mental, dan jiwanya sendiri. Setelah itu dia akan mulai berjuang untuk kehidupannya, menata ulang semuanya, tanpa memikirkan celotehan orang lain.
Bersambung ....

Komentar Buku (49)

  • avatar
    MarinaAnanda salwa

    bagusss bangett ceritanyaa sukaa bangettt💕💕😍

    04/07/2025

      0
  • avatar
    Nurul Auliya Rambe

    Bangus banget ceritanya kak

    21/03/2025

      0
  • avatar
    NainahNaima

    janganlah durhaka sama teman

    14/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru