Mertua

Aku terbangun menjelang subuh ketika seseorang menepuk - nepuk pipi dan memencet hidung sehingga kelabakan kehabisan nafas . Kesadaranku belum kembali sempurna ketika melihat seraut wajah yang masih nampak basah , mungkin usai berwudhu tepat berada di hadapanku.Kaget .
"Bangun, udah mau subuh " katanya . Aku bangun dan duduk sambil menunggu semua nyawa terkumpul. Dan aku baru ingat, dia suamiku kemarin aku menikah dengannya. Seketika wajahku terasa memanas ketika aku meraba kepala bahwa aku tak mengenakan kerudung. 
" Mas ke masjid dulu ya " pamitnya sembari meraih sajadah . Dia mengecup keningku lembut. Dan lagi - lagi aku merasakan wajahku memanas . Aku hanya tersenyum ketika dia melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu kamar. 
Usai sholat subuh aku duduk di tepi ranjangku, mengingat kejadian semalam . Kalau kalian berfikir telah terjadi yang iya - iya semalam di ranjangku maka kalian salah besar . Percayalah tak segampang itu untuk kami melakukan kegiatan yang iya - iya sementara kami baru saling mengenal . Atau tepatnya bagiku tak semudah itu untuk aku menyerahkan segalanya kepada lelaki yang sudah menjadi suamiku . 
Aku ingat obrolan kami semalam. Dia menepuk kasur di sisinya memberiku kode untuk duduk di sisinya . 
" Sini , duduk sini jangan jauh - jauh dong " katanya . Aku tertunduk malu - malu meong, yakali masak langsung menerjangnya . 
" Mas cuma mau duduk deket istri Mas masa jauhan gini ga enak " dengan berjingkat aku mendekatinya. Lalu duduk di sampingnya . 
" Masa sama suami sendiri masih pake kerudung, Mas kan pengen lihat rambutnya istri Mas " dia meraih wajahku dan menangkup dengan kedua tangan . Matanya meminta persetujuan, dan aku menganggukan kepala. Perlahan dia membuka ikatan kerudung bergoku. Zaman itu yang lagi hits kerudung dengan tali yang di ikat di belakang kepala. Duh kerudung pet non pet dan antem belum ngehits apalagi kerudung 2 layer 3 layer bahkan kerudung pinguin belum tercipta. Aku menundukkan kepala , malu ketika rambutku sudah tanpa penutup. Alhamdulillah kemarin sempat keramas , semoga masih ada jejak - jejak aroma aloevera di rambutku. Mas Gena mengusap rambutku, mengurai ikatannya dan menyusurinya .
" Rambut kamu bagus" duh adek ga bisa di gini in Mas , ga tahan ga tahan pengen remes - remes dan ketjup - ketjup kamu deh . Kenapa manis banget dirimu wahai suamiku . Tapi diriku kan masih perawan polos , harus jaga image. Pipiku mungkin sudah semerah tomat . 
" Kamu mulai kapan pake kerudung?" dia bertanya sambil masih mengelus - elus rambutku yang panjangnya melewati bahu. 
" Dari SMP, ibu nyuruh pake jilbab " jawabku lirih. 
" Pantes hitam banget gini, ketutup terus si . Jangan gugup, Mas ga ngapa - ngapain kok kaya gini aja cukup . Ayo tidur , kamu pasti capek banget " aku bengong, beneran nih ga ngapa - ngapain? Sejujurnya aku belum siap juga . Mas Gena merebahkan badannya dan meraihku agar berbaring di sisinya . Kami saling terdiam beberapa jenak . 
" Anggap saja kita kakak adek dulu, sampai kamu terbiasa sama Mas ya . Pelan - pelan saja sebisa dan sesiapnya kamu jadi seorang istri . Melihatmu sudah di sisi Mas , tidur di sisi Mas dan kamu sudah menjadi istri Mas , untuk saat ini itu semua sudah cukup bagi Mas " lanjutnya . Sejujurnya aku tak mengerti apa yang di katakan . Aku hanya bisa menganggukan kepalaku dan berusaha memejamkan mata . Ngantuk , ngantuk dan ngantuk. 
Lamunanku terhenti takala pintu kamarku menyeruak , dan Mas Gena yang usai dari masjid masuk ke kamar. Dia tersenyum, menampilkan kedua lesung pipitnya yang menggemaskan. Ish Ish pengen cubitttt . Dia berjalan menghampiriku , dan mengulurkan tangan .Memintaku untuk mencium punggung tangannya . 
" Jalan - jalan yuk nyusurin desa , Mas pengen tahu gimana kehidupan desa " ajaknya . Aku melirik jam di meja belajar ku. Masih jam setengah 6 . 
" Ayok Mas , hari ini pasaran. Aku ajak ke pasar aja nyari sarapan " aku langsung meraih jilbab ku dari balik pintu kamar . Memakai nya dengan cepat kemudian meraih kaos kaki di lemari. Dia mengganti baju koko dengan kaos . Di depanku melepas baju kokonya , duh keperawanan mata eikeh ternoda cyn . Cuma Ayah dan kakek yang biasa telanjang dada di depan ku. Aku pura - pura tidak melihatnya menyibukkan diri dengan kaos kaki. Fiuf satu menit yang menegangkan . Dia melepas sarungnya , dengan ekor mataku melihat pergerakan dia . Nyaris aku pingsan Alhamdulillah di balik sarung ada celana pendek tiga perempat. 
" Udah siap belum?" tanyanya , aku mengangguk. Kami keluar dari kamar beriringan. Di rumah masih ramai , di luar rumah para tetangga tengah sibuk membongkar tenda dan menata kursi - kursi yang akan di kembalikan ke balai desa. Beginilah kehidupan desa, guyub rukun. Desa memiliki properti pesta yang bisa di pinjam warganya , hanya membayar biaya perawatan . 
" Mbak Anis mau kemana?" tanya Bu Yayuk, tetanggaku yang tengah mengelap piring - piring di ruang tengah. 
" Ke pasar bu, mau nyari sarapan . Bosen sama makanan yang di rumah " jawabku. 
" Oh ya wes hati - hati, itu Mas Gena nya di gandeng biar ga hilang loh " goda Bu Yayuk. Aku hanya tersenyum, beberapa orang yang ku temui mengajak berbasa - basi sebentar. Bahkan ada yang menggodaku terang - terangan. 
Aku memutuskan mengajak suamiku, ya ampun bibirku masih kaku mengucap kata suami melewati jalan pintas yang berupa tegalan . Aroma khas pedesaan tercium oleh hidungku, ah desaku yang ku cintai . Mas Gena anteng berjalan mengekoriku yang berjalan cepat - cepat. 
" Hati - hati Nduk " dengan logat Sunda yang kental memanggilku Nduk. Hatiku menghangat seketika. Nyaris semua orang di keluargaku memanggilku Nduk, bahkan teman - teman dekatku berlaku demikian . Dan aku sangat menyukainya . 
" Nduk tunggu dulu " aku menghentikan langkah, berbalik menunggu dia sampai di hadapanku. Dia menjalin jari - jarinya dengan jari - jariku. 
" Begini lebih baik " katanya lagi. Aku tertegun sejenak, sekali lagi ada kehangatan memenuhi hatiku. Kami berjalan bergandengan tangan . 
Pasar di desaku hanya buka seminggu dua kali setiap Senin dan Kamis . Aku berjalan sambil menyapa orang - orang yang berlalu lalang, para pedagang yang sudah aku kenal sedari kecil. Aroma pasar yang selalu ku rindukan . Aku berdiri di depan penjual pecel yang di bungkus daun jati. 
" Mbok , kalih nggih di bungkus " ucapku ramah. Simbok penjual pecel menatapku dengan berbinar. 
" Wah manten anyar iki, bagus tenan tho Mbak Nis Mas mu iki " puji Simbok sambil tersenyum manis ke arah Mas Gena .
Sepanjang jalan pasar banyak orang mengapa, memberiku ucapan selamat dan memuji suami ku. Rasa - rasanya bintang nya pasar pagi ini adalah kami. Nyaris semua orang di desa mengenalku, bukannya aku sombong ya kakekku dulu hampir seluruh hidupnya mengabdikan diri menjadi kepala desa di lanjut ayahku yang selama 16 tahun juga mengabdikan dirinya menjadi kepala desa. Beberapa tahun yang lalu ayah tidak jago kades lagi karena ingin fokus dengan usaha jual beli palawija milik beliau. Akhirnya saat ini kakak Ayahku yang maju menjadi kepala desa . Sedari kecil sudah biasa orang - orang lalu lalang di rumahku. Bahkan seringkali aku mengikuti Ayah meninjau ke Padukuhan yang di bawahinya . Jadilah nyaris semua orang di desa mengenalku. 
Mas Gena mengajakku duduk di bangku Bambù di bawah pohon waru. Kami menikmati jadah goreng yang tadi kami beli . 
" Nduk...." dia memanggilku lirih. Kepalanya terus memandang ke dalam lalu lalang keramaian di pasar . 
" Terimakasih sudah memilih lelaki biasa - biasa saja ini " lanjut nya kembali lirih. Aku memandang ke arahnya . Aku terpesona pada cara dia mengatalannya . Sebuah getaran halus berdendang di hatiku. Yang membuatku nyaman dan bahagia . Dia menoleh kan kepalanya , memandangku dengan tatapan yang sungguh , Aku melihat tatapan itu dalam mata Ayahku.Meneduhkan dan membuatku aman tetapi tatapan memiliki lebih banyak arti. Ada sorot penuh kasih di dalam sana , untukku. Ada sorot terpesona , kepadaku. Pipiku menghangat, aku ingin menangis . Menangis haru dan bahagia . Aku menundukan kepalaku dan bergumam. 
" Harusnya Anis yang berterimakasih karena Mas yang memilih Anis yang cuma gadis desa dan biasa ini " lirih dan nyaris hanya aku saja yang bisa mendengarnya . 
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁😘😘
" Darimana A?" seseorang menghentikan langkah Mas Gena ketika kami sampai di halaman rumah . Ibu mertuaku. 
" Dari pasar Mah , nemenin Nisa " jawabnya . Beliau melirik ke arah tangan kami yang saling bertautan. Wajah beliau nampak datar. 
Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana Ibu mertuaku, karena kami baru berjumpa sehari sebelum akad. Beliau baik, tapi seperti memasang tembok tinggi kepadaku. Perasaan ku berkata seperti itu. Percaya lah, Aku wanita dan aku di anugerahi kepekaan tinggi. 
" Oh , Mamah mau balik nanti sore .Kamu kapan pulang ke Bandungnya?" Tanya beliau. Kamu? Bukan kalian. Dan Aku merasa ganjil. 
" 3 hari lagi mungkin Mah, lihat nanti lah " jawab Mas Gena . Aku hanya bisa menyaksikan Ibu dan anak itu berinteraksi . Aku berusaha masuk ke dalam obrolan Ibu beranak itu. 
" Mamah mau bawa oleh - oleh apa ? Biar Anis sama Ibu siapin " tanyaku sopan. Wajah Ibu mertuaku yang tadi penuh senyum , mendadak sirna . Menampilkan wajah yang datar kembali. Beliau menoleh kepadaku . 
" Ga usah repot - repot nanti Mama bisa cari sendiri sama Swastika " jawab beliau. Swastika adalah nama adik perempuan suami satu - satunya. Usianya berbeda 3 tahun denganku dan berbeda 8 tahun dengan suamiku. Aku merasa Ibu mertuaku sedikit tidak suka padaku hanya melihat dari ekpresinya saja . Beliau pamit ke rumah Pamanku, dimana keluarga dari pihak suamiku menginap di sana . 
Mas Gena memegang bahuku, kamu berdiri berhadapan. 
" Maafin sikap Mama ya , beliau hanya kaget. Menurut beliau ini terlalu cepat " ucapnya . Aku hanya menganggukan kepala saja . Mas Gena mengusap kepalaku yang terbalut kerudung . 
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Komentar Buku (17)

  • avatar
    NrslfAqila

    fantastis

    23/11

      0
  • avatar
    NovalaYiyit

    bnrn hasilin uang?. maaaff pemula

    26/09/2025

      0
  • avatar
    HijabJawara

    good

    18/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru