logo text

Bab 18 Pasti Ada Alasan

Rahel bergegas mengambil jaket dan kunci motornya yang sudah ada di ruang televisi karena ia sengaja menaruhnya di sana tadi malam. Nica yang sudah siap, menunggu Rahel di halaman dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya. Tak lupa setelah memakai helm, Rahel mengunci rumah lalu menyalakan motor tepat di depan pagar. Sedangkan Nica bertugas menutup pagar sebelum menaiki motor sang kakak.
Hanya kemacetan yang menemani perjalanan mereka pagi ini, seperti pagi hari pada umumnya. Macet sudah seperti hal yang biasa saja setelah mereka keluar dari kawasan rumah. Beruntungnya mereka, karena jam masih pukul enam lebih lima belas menit jadi Nica tidak akan terlambat datang ke sekolah.
"Lo hari ini ngapain aja di sekolah? Tesnya kan udah selesai."
"Biasa, classmeet. Paling nanti pulang siang. Kalau udah balik gue kabarin lo ya, jemput gue, Kak."
"Enggak sama temen lo? Bukannya udah dikasih izin bawa motor sama orang tuanya, ya?"
“Cuma sehari doang,” ungkap Nica seraya memasang muka lesu. "Kata orang tuanya kalau naik motor kurang aman."
"Ya elah. Udah besar kali anaknya. Terus mau dibeliin mobil gitu?"
"Mungkin. Gue juga belum tanya, tapi kemarin dia bilang kalau bakalan dijemput sama sopir lagi, tapi enggak tahu sampai kapan."
Rahel terkekeh-kekeh. "Ya udahlah … permintaan orang tua mau gimana lagi? Kuliah gue juga masih lama, jadi masih bisa kalau nganter atau jemput lo."
"Iya."
"Setengah jam sebelum pulang kabarin gue."
"Kenapa?"
"Gue mau pergi habis ini, jadi nanti kalau jaraknya jauh dari sekolah lo, gue bisa tuh memperkirakan sampai sekolah lo jam berapa. Jadi lo nunggu gue enggak akan kelamaan."
"Tumben memperhitungkan waktu."
"Di suruh beli camilan juga, 'kan? Sekalian mau beli beberapa baju, lumayan buat tambah-tambah persediaan kuliah.
Nica mengangguk-angguk paham. "Pantes." Mereka pun sudah sampai di depan sekolah. Nica melepas helmnya lalu memberikannya pada Rahel. "Hati-hati. Eh Kak, udah pamit mamah kalau mau pergi?"
"Belum, nanti gue kabarin."
"Oke."
Rahel menjalankan motornya ke salah satu rumah sahabatnya, Rika. Entah bagaimana kabar sahabatnya yang lain, yaitu Puspa. Ia jarang sekali menerima pesan dari Puspa setelah dirinya bertemu dengan Marcel beberapa minggu lalu.
*
"Hah?! Ngapain? Di cafe ajalah. Masa iya ke sana? Kalau siang nanti kepanasan, lo yakin?" tanya Rika.
"Ya elah, sebentar aja kali, Rik. Ini kan masih pagi juga, masa iya ke taman siang-siang? Gue kan ngajaknya sekarang."
"Bilang dari tadi."
Rahel mengelus dadanya. "Lah, lo aja yang nggak paham. Makanya kalau belum selesai ngomong jangan dijawab. Dengerin sampai tuntas dulu baru berkomentar. Kurang-kurangin tuh nonton mulut yang suka nyinyir, udah ketularan dikit, 'kan?"
“Lah, kok bahas sampai tontonan gue?” tanya Rika tak terima. "Beda kali sama nyinyir, gue cuma ngerespon omongan lo, tapi belum sempat dengarin secara keseluruhan. Beda jauh sama nyinyir, Rahel." Kini gantian dia yang mengelus dadanya.
"Berawal dari kurang mendengarkan secara tuntas, maka terbentuklah gosip ini dan itu. Dari sana terciptalah mulut-mulut nyinyir. Jadi, dengerin dulu omongan orang, terus disaring … baru deh berkomentar."
“Tapi, Hel ….”
"Inget! Itu pendapat gue. Jangan sampai lo meniru yang kayak gitu."
"Iya deh. Gue siap-siap dulu."
"Buruan, takut kesiangan gue."
"Iya, sabar." Rika langsung lari meninggalkan Rahel yang tengah duduk di ruang tamu sambil menikmati kue kering yang sudah diletakkannya di meja sedari tadi.
"Gue ajak yang lain nggak ya?" gumam Rahel pelan sambil mengetuk-ngetuk ponsel yang ada di genggamannya. “Nggak usah deh, gue kan butuh ketenangan …,” batinnya.
Sesekali mengambil kue yang lain untuk mencicipi aneka rasa kue-kue yang menggiurkan itu. Kurang lebih sepuluh menit ia menunggu Rika, sembari menikmati kue yang ada di hadapannya. Sang sahabat kini sudah siap untuk menemaninya pergi ke taman yang dulu sering ia kunjungi.
"Ayok! Makan mulu, belum sarapan?"
"Kuenya enak, hehe. Udah kok, gue sarapan sama roti."
“Emang enak.” Kemudian Rika menyahut, "Nggak ada yang tanya menu sarapan lo apa."
Membuat Rahel mengumpat, "Sialan!" Dia mengambil kunci lalu memakai helm dan jaket.
Sambil tertawa-tawa, Rika mengejek, "Kebiasaan kalau udah kalah nggak bisa jawab."
"Biarin, ayok buruan."
"Sabarlah, tutup pintu dulu."
*
Sampai di taman, Rika dibuat terkejut saat seseorang mendekati Rahel. Rahel pun tampak terkejut melihat lelaki itu. “Lo hutang cerita sama gue, Hel …,” ucap Rika setelah beberapa menit mengamati wajah Rahel yang semula tampak biasa-biasa saja, kini berubah drastis.
"Iya, gue tahu."
Rika meninggalkan Rahel yang tengah duduk di bangku taman dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Ia memilih untuk berkeliling taman sendiri karena tak ingin mengganggu urusan sahabatnya dengan laki-laki itu.
Sedangkan Rahel, ia merasa aura ketegangan tengah menyebar dalam dirinya. Memejamkan matanya kuat-kuat, telapak tangan yang terkepal ia buka perlahan. “Huh. Lo udah nggak ada rasa sama dia Rahe Elasia Ananta … camkan itu baik-baik!” batinnya meneriakkan kebenaran yang memang seharusnya ia miliki.
Laki-laki itu berdeham sebelum memulai pembicaraan, ada rasa takut menghinggap dalam diri laki-laki itu sebelum memulai perbincangan. “Rahel … gue mau jelasin semuanya ke elo. Ada alasan di balik perbuatan gue beberapa tahun yang lalu, dan gue mohon sama lo, supaya lo mau mendengarkan gue baik-baik, Hel …,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
“Nggak! Gue nggak akan ngederin omongan lo. Sampai kapan pun! Sampai kapan pun dan bagaimana pun, gue nggak akan pernah mau denger. Ketemu lo sekarang udah jadi salah satu kesalahan, yang sekarang gue sesali …,” ujar Rahel di dalam hati.
Menarik napas panjangnya, Daniel berusaha lebih lembut. "Rahel, aku minta maaf. Meskipun nggak akan bisa menutup sakit hati atau lukamu sekali pun, Hel … tapi setidaknya dengerin aku, aku bener-bener mau minta maaf. Tolong kali ini Hel, dengerin aku." Ingin sekali Daniel memegang erat tangan Rahel bahkan mendekap tubuh gadis mungil itu, namun ia takut. Takut jika gadis itu menolaknya, bahkan menolak dirinya secara kasar. Ia terlalu takut.
Rahel menatap beberapa pejalan kaki yang sedang berolahraga mengelilingi taman dalam diam. Sekuat tenaga ia menahan untuk tidak memandang laki-laki yang duduk di sampingnya. “Jangan keluar! Dia cowok sialan. Nggak pantes lo nunjukin air mata di depannya! Bisa bahagia dia nanti kalau lihat lo nangis, Hel. Jangan cengeng! Kuatin hati kayak lo pas lagi sendiri dulu, tanpa dia setiap hari. Inget! Lo bisa tanpa dia Rahel,” suara hatinya mengingatkan lagi.
Daniel menunduk, raut mukanya penuh dengan penyesalan. "Rahel. Tolong, seenggaknya dengerin dulu. Jangan diem kayak gini, Hel. Kamu, ka-mu buat aku takut," suara Daniel yang terdengar bergetar seperti menahan isak tangis, dan itu berhasil membuat Rahel tertawa.
"Takut? Takut apa maksud lo? Takut kalau gue bakal kesambet gitu?" tanya Rahel dengan tawa yang dibuat-buat karena tak ingin menunjukkan kesedihan di matanya.
"Bukan, Hel. Dengerin dulu Hel, aku mohon. Sebentar, cuma hari ini aja, bakal aku jelasin semuanya ke kamu. Semua yang udah terjadi sama aku sampai-sampai milih pergi beberapa tahun lalu, dan sekarang … sekarang aku milih balik lagi Keputusan udah bulat untuk nemuin kamu sekarang, Hel."
"Bukan takut gue kesambet? Terus lo takut apa?" tanya gadis itu masih diiringi dengan tawanya.
"Takut kehilangan. Ketakutan terbesar yang ada di diri aku sekarang, nanti, dan mungkin sampai kamu nggak akan mau nerima aku lagi, Hel."
Rahel diam sejenak lalu melanjutkan tawanya yang sempat terpotong karena mendengar ucapan Daniel, hingga memperlihatkan gigi putihnya. "Lo nggak sadar? Lo udah kehilangan gue beberapa tahun lalu, dan itu pilihan lo sendiri Daniel, bukan kehendak dari gue."
"Maka dari itu, gue nggak mau kehilangan elo lagi. Dengerin gue kali ini, dan gue jamin elo mau balik lagi sama gue. Gue serius." Lagi-lagi Rahel tertawa namun kedua matanya tidak menyiratkan kebahagiaan seperti bibirnya yang menunjukkan kegembiraan.

“Daniel-Daniel … lo kalau ngomong enak banget ya. Kayak kue yang gue makan tadi di rumah Rika tahu nggak?! Jangan serius ah, gue enggak suka. Karena keseriusan udah buat gue kehilangan.” Tatapan Rahel menjadi kosong. Ia kemudian berujar, “Tanpa pikir panjang dia rela melakukan, bahkan menimbulkan kepedihan yang parahnya lagi, aku tidak tahu siapa yang akan berhasil menyembuhkan.”
Rahel bangun dari bangku taman. "Ingat! Jangan meyakinkan aku jika aku sudah tak mau mendengar alasanmu, karena kamu sendiri yang telah melanggar janji, janji yang coba kamu buktikan, namun dengan sekejap kamu musnahkan." ucap Rahel dengan mulut bergetar lalu meninggalkan Daniel yang terdiam karena mendengar kalimat terakhir yang baru saja keluar dari bibir Rahel.
"Maaf, Hel … maaf, Rahel …," ucap Daniel pelan setelah menatap punggung Rahel yang sudah menjauh dari hadapannya.
Berteriak kesal, Ia menjambak rambutnya kuat-kuat. Sesekali meninju bangku dengan kuat, guna menyadarkan dirinya akan kesalahan yang telah ia lakukan. Tak lama air mata turun membasahi pipi Daniel. Laki-laki itu menangis, menyesali perbuatannya dulu. Karena ia memang tak punya pilihan selain menjauh dari gadisnya. Ya, gadisnya dulu, sebelum ia memilih pergi dari hidup Rahel.
Akan tetapi, ia bertekad dengan kesungguhan untuk memiliki gadis itu lagi. Tak ingin ia menyerah begitu saja karena percaya bahwa Tuhan pasti akan membantunya jika berusaha dan terus berdoa. Tak peduli dengan sekuat tenaga gadis itu atau dengan apa pun Rahel berusaha menolak dirinya, Daniel akan tetap membuktikan bahwa dirinya memang sungguh-sungguh ingin menarik gadis itu dalam dekapan.
"Tunggu aku Rahel. Akan aku lakukan sekuat yang aku bisa, supaya kita kembali bersama. Aku berharap Tuhan mengabulkan. Doaku pada-Nya saat ini, memilikimu kembali."
Menenangkan diri dengan duduk di bawah salah satu pohon taman. Rahel menekuk lutut lalu membenamkan kepalanya di situ. Memeluk kakinya kuat-kuat, berusaha meredakan tangis yang keluar sedari tadi agar terdengar lebih pelan lagi. Ingin sekali ia menahan bibir agar tidak bergetar, namun rasa sedih yang menyerang hebat dirinya sulit ia kendalikan.
Hingga ada seseorang yang menepuk pundaknya pelan. Rahel yang masih terbawa suasana kesedihan enggan mendongakkan kepalanya. Ia membiarkan tepukan dari orang itu. "Rahel," suara yang sangat ia kenal terdengar setelah orang tersebut mengucapkan namanya.
Rahel sesegera mungkin menyampingkan tubuhnya dari orang itu, enggan menunjukkan kesedihannya. "Kenapa malah di sini? Ayok! Berdiri dong, jangan kayak gini."
"Gue pengen pulang …," ucapnya pelan dan masih tak ingin menghadap ke lawan bicaranya.
"Kalau masih kacau mending di sini dulu. Cari tempat yang enak buat cerita, jangan pulang terus dipendam sendirian. Lo punya sahabat. Apa gunanya gue kalau elo nggak pernah cerita masalah lo sama gue?"
“Gue pikir, gue bisa ngelewatin ini sendiri Rik. Gue rasa gue kuat tanpa bantuan orang terdekat gue.” Rahel tak bisa membendung lagi tangisannya. "Tapi nyatanya gue rapuh. Ujung-ujungnya gue cerita juga sama lo …."
Rika tersenyum, ia duduk di samping Rahel, lalu memeluk pundak sahabatnya itu. Ia tahu bahwa Rahel bertingkah konyol selama ini semata-mata hanya ingin menutupi kesedihannya. "Itu gunanya sahabat. Mungkin benar, kalau lo bisa kuat dengan berdoa sama Tuhan atau pilih sendirian, tapi enggak ada salahnya kalau elo cerita sama gue. Gue sahabat lo, suka dan duka harus lo bagi sama gue. Gue nggak mau cuma tahu lo pas lagi bahagia aja, Hel. Gue lebih seneng lagi kalau elo cerita semua yang lo rasain ke gue … karena apa? Itu artinya elo menganggap gue lebih dari sahabat."
Dengan sesenggukan Rahel mengangguk. "Makasih banget udah jadi sahabat gue. Gu-gue enggak tahu mau cerita sama siapa. Terlalu sakit gue pendam i-ini sendiri …."
"Iya sama-sama. Udah, mending sekarang tarik napas pelan-pelan, terus hembuskan. Lo ulangi beberapa kali, baru deh kalau udah plong, elo ceritain semuanya ke gue tentang hubungan lo sama cowok tadi."
"Gu-gue nggak bisa. Kalau gue ceritain semuanya dari awal, gue bakal nangis lagi … ja-jangan semuanya, ya …," pinta Rahel sesekali mengucek matanya.
Rika sambil menahan tawanya menyahut, "Iya, semau lo aja ceritanya. Gue enggak maksain."
"Oke. Tu-tunggu gue tenang dulu."
"Si-siap," jawab Rika dengan berpura-pura gagap, meniru Rahel karena dampak dari menangis. Rahel yang tahu dirinya digoda hanya menyenggol tubuh Rika pelan.
Setelah kurang lebih sepuluh menit ia menenangkan diri, Rahel mulai bersuara. “Dia cowok yang pernah deket sama gue sebelum gue kenal sama lo. Lebih tepatnya lagi waktu gue duduk di bangku SMP ….”
"Sebentar, gue potong dulu. Maaf nih, gue mau tanya … lo pernah suka sama cowok? Kok aneh gitu ya, lo kan anti sama cowok."
"Nah, dengerin gue dulu baru komen. Kebiasaan banget."
"Iya lanjut deh."
"Tadi gue ngomongnya sampai gue duduk di bangku SMP, kan?" Rika mengiyakan. “Sebelumnya gue kenal dan cukup dekat sama dia dari SD, dan dia tahu kalau gue kehilangan sahabat kecil gue waktu SD.” Rika tampak mendengarkan baik-baik dan meminta Rahel melanjutkan pelan-pelan. Menguatkan Rahel dengan sesekali mengusap-usap lengan Rahel.
"Dari situ Daniel merasa kalau gue butuh teman pengganti. Pengganti dari sahabat kecil yang pergi gitu aja ninggalin gue." Terlihat masih ada rasa kecewa dari pancaran mata Rahel, tapi di sana juga terselip rasa bahagia. “Singkatnya, sekitar setahun lebih gue deket sama dia. Daniel memutuskan untuk jujur sama apa yang dia rasain saat bersama-sama dengan gue, Rik. Kejujurannya itulah yang membuat gue sadar kalau gue ternyata juga punya rasa yang sama ke dia.”
Rika tampak terkejut mendengarnya, tak menyangka bahwa Rahel sudah mengetahui tentang cinta-cintaan sejak dini. “Setelah ungkapan kejujuran kita berdua dalam hal perasaan masing-masing, kita ngisi hari-hari dengan hal-hal yang membuat gue benar-benar merasa bahagia. Setiap ucapannya, sikapnya, dan perbuatan yang dia lakukan membuat gue bersyukur sama Tuhan, gue amat sangat bersyukur punya seseorang yang sayang sama gue dan selalu ada buat gue karena mamah sama ayah yang super sibuk ngurus kerjaannya.” Dielusnya punggung Rahel.
Rahel tersenyum getir kala mengingat itu lagi, sakit sekaligus senang. Ia kembali angkat bicara, katanya, "Dia jadi sahabat dan sekaligus pasangan gue, itu yang gue pikirkan saat itu. Sampai dia janji kalau enggak akan pergi seperti sahabat masa kecil gue. Gue percaya, karena terbukti dari semua perbuatan dia selama di sekolah itu. Sampai akhirnya dia hilang kabar setelah kita memasuki hari-hari bebas ujian. Benar-benar hilang tanpa kabar."
"Wow! Enak juga ya ada sahabat, ditambah lagi kayak pacaran. Paket lengkap itu. Eh bentar dulu, gue mau tanya deh, sahabat kecil lo itu kan cowok, ya? Marcel bukan?"
"Ya, betul banget. Dia itu Marcel."
"Nggak nyangka gue kalau elo yang pecinta tugas pernah jatuh cinta sama pria."
"Haha, bisalah. Gue normal, itu alasan gue kenapa enggak mau membahas laki-laki, karena gue udah pernah sakit hati."
"Tapi Hel, lo belum pernah tahu alasan dia pergi tiba-tiba, 'kan? Pasti ada alasan di balik kepergiannya yang mendadak."
"Ada atau enggak, gue tetap gak mau denger semua alasan basinya. Karena apa pun itu, gak akan bisa menghapus luka yang udah dia goresin." Rahel menatap rumput yang ada di bawah kakinya dengan sorotan mata tajam, mengingat kembali kesalahan laki-laki yang pernah ia sayangi.

Komentar Buku (25)

  • avatar
    RahmawatiAisyah

    kakk baguss banget

    13/04/2025

      0
  • avatar
    Putra bbo CityBadrun

    kasih 5bintang

    23/02/2025

      0
  • avatar
    ElzamzamiDastan

    enak

    15/02/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru