Suster Jane kini duduk di dalam mobil Sbastian dalam diam sambil menatap jalanan London yang terlihat sepi malam itu. Udara terasa dingin meski salju sedang tidak turun. Sbastian melajukan mobilnya berputar-putar tak tentu arah. Dia sendiri tidak tahu tujuan sebenarnya akan ke mana. Dia hanya ingin menjadikan Suster Jane sebagai tawanannya agar suster itu mengatakan keberadaan Carla. “Besok pagi saya ada jadwal jaga. Jika saya terlambat ini semua salah Dokter,” ucap Ssuter Jane dengan nada dingin. Sbastian tak peduli dengan hal itu yang ia pedulikan saat ini adalah mengetahui tentang keberadaan dan keadaan Carla, “Jika kau ingin aku mengantarmu pulang, cepat katakan di mana Carl!” ucap Sbastian dengan tegas. Suster Jane menghela nafas berat, ia menatap Sbastian dengan tatapan kesal, “Aku tidak tahu,” ucap Suster Jane singkat. Sbastian mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya, kini dia menatap wajah suster itu, “Jangan membohongiku! Kau tadi sendiri yang bilang kalau kau tidak akan memberi tahuku keberadaannya meski kau tahu.” Suster Jane tersenyum sinis, “Saya hanya mengatakan seandainya, itu bukan berarti saya tahu,” Suster Jane memberikan penyangkalannya. “Kau jangan beramain-main denganku!” ucap Sbastian dengan geram. Suster Jane tersenyum meremehkan, “Kenapa juga Anda tiba-tiba ingin tahu keberadaan Carla? Bukankah selama ini Anda selalu ingin dia pergi dari hidup Anda? Jika sekarang dia tiba-tiba menghilang seperti ini bukankah itu seharunya menajdi kabar baik untuk Anda? Dokter bisa bersyukur sekarang karena tidak lagi mendapatkan gangguannya!” ucap Suster Jane dengan raut wajah yang sulit diartikan. Setelah mendengar kata-kata dari Suster Jane, pria bermata hijau itu pun melakukan rem mendadak pada mobilnya yang menyebabkan Suster Jane merasa terkejut hingga jidatnya terbentur dasbor mobil. Meski melihat suster itu terbentur dasbor mobilnya, Sbastian tetap tak peduli. Dia mengabaikannya. “Saya bisa melaporkanku ke polisi atas tindakan penyerangan,” Suster Jane memberikan ancamannya. Sbastian tersenyum sinis, “Aku tidak takut sama sekali. Silahkan saja kau laporkan aku!” tantang Sbastian. Suster Jane tahu tidak ada gunanya untuk berdebat dengan Sbastian dan memberikan ancaman pada pemuda itu. Sbastian tidak mungkin takut dengan ancaman yang diberikannya. “Katakan di mana Carla!” Sbastian tetap bersikeras untuk mengorek informasih dari Suster Jane meski suster itu telah berkali-kali mengatakan pada Sbastian bahwa dirinya tidak mengetahui keberadaan Carla. “Jangan berbohong padaku!” ucap Sbastian dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. “Apa sebenarnya tujuan Anda mencari tahu keberadaan Carla?” tanya Suster Jane dengan tatapan menyelidik. Sbastian terdiam. Matanya masih menatap tajam suster itu. namun, otaknya sedang mengembara. Ia bingung harus memberi jawaban seperti apa. Dia sendiri tidak tahu dengan jelas kenapa dirinya mencari-cari Carla dan ingin mengetahui keberadaan perempuan bermata abu-abu itu. “Kenapa Anda diam? Anda tidak memiliki jawaban bukan?” Suster Jane kembali bersuara setelah tak kunjung mendapatkan jawaban dari Sbastian. Sbastian berusaha keluar dari lamunannya, “Alasanku ingin bertemu Carla bukanlah urusanmu. Kau hanya perlu memberi tahuku di mana dia sebenarnya,” ucap Sbastian dengan tegas. Suster Jane tersenyum meremehkan, “Saya tidak tahu dan jawaban saya akan tetap sama. Sebaiknya sekarang Anda membiarkan saya pergi dari mobil Anda ini! Saya tidak berguna untuk Anda karena tidak bisa memberikan informasi yang Anda mau.” Sbastian nampaknya tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Suster Jane atau lebih tepatnya dia tidak mau mempercayai ucapan suster itu. Keputusasaannya untuk mencari tahu keberadaan Carla membuat dirinya berharap banyak pada Suster Jane. “Aku tidak peduli kau berguna atau tidak. Kau akan tetap di sini bersamaku sampai aku bisa menemukan keberadaan Carla,” ucap Sbasian dengan volume suara yang lebih rendah, matanya kini menatap jalanan di depannya yang terlihat lenggang. Suster Jane membuang nafas kesal, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil Sbastian dan memundurkan sandaran itu ke belakang untuk menyamankan dirinya. Ia tidak lagi berniat untuk meladeni Sbastian yang keras kepala. Di sisi lain, Sbastian masih duduk dengan tegap di balik kemudinya sambil menatap jalanan di depannya. Otaknya terusa mencari cara untuk menemukan keberadaan Carla. Gadis bermata abu-abu itu benar-benar telah membuat hidupnya kalang kabut. Dia sama sekali tidak nyaman dengan kondisi dirinya saat itu. dia tidak senang dibuat menunggu dalam ketidakjelasan. Dia tidak senang terkungkung dalam rasa penasaran. Dia tidak senang seseorang membuatnya merasa tidak berguna. “Apa Anda benar-benar akan menahan saya di sini sampai esok hari?” ucap Suster Jane tiba-tiba dengan mata terpejam setelah terjadi keheningan di antara keduanya selama lebih kurang satu jam. “Jika perlu sampai beberapa hari ke depan, sampai aku menemukan perempuan gila itu,” ucap Sbastian sambil menatap jalanan yang semakin lama semakin sepi. Suster Jane tertawa sinis, “Anda menyebutnya gila tapi Andalah yang sebenarnya gila.” Sbastian mengalihkan tatapannya dari jalanan di depan, kini dia menatap wajah Suster Jane. Suster itu masih memejamkan matanya, “Jangan asal bicara kamu!” ucap Sbastian tak terima. Suster Jane tersenyum meremehkan, “Saya tidak asalh bicara. Anda memang sudah terlihat gila. Lihat saja sekarang keadaan Anda! Anda terlihat putus asa mencari keberadaannya hingga harus menjadikan saya tawanan,” ucap Suster Jane tanpa rasa gentar sedikit pun. Sbastian nampak tak senang mendengar ucapan suster itu, namun dia memilih untuk diam dan tak lagi membela diri. Ada rasa lelah di hati dan pikirannya. Ia benar-benar tidak tahu apa pun tentang Carla. Sangat berbeda dengan gadis bermata abu-abu itu yang tahu banyak hal tentangnya. “Carla selalu bisa menemukan keberadaanku, di mana pun aku berada. Seolah dia memasang GPS di tubuhku,” ucap Sbastian tiba-tiba dengan lirih. Suster Jane membuka matanya ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh dokter berhati dingin itu. lalu, Suster Jane pun menatap wajah Sbastian lamat-lamat, ada ekspresi tak biasa yang ditunjukkan oleh wajah pemuda itu. “Seharusnya aku tidak perlu repot-repot mencarinya, dia pergi dengan sendirinya dan itu kemauanku sejak awal, tapi entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa ada hal yang tidak benar dalam kepergiannya yang begitu mendadak. Diriku serasa tidak bisa membiarkannya menhilang,” ucap Sbastian yang terlihat bingun dengan perasaannya sendiri. Suster Jane terus mengamati wajah dokter bermata hijau itu dengan intens. Ia melihat ada gurat kesedihan yang terpancar dari mata Sbastian. Entah mengapa Suster Jane dapat merasakan keputusasaan pria itu. Perempuan empat puluh lima tahun itu tiba-tiba merasa tidak tega melihat keadaan Sbastian yang seperti itu. Akhirnya, Suster Jane pun memutuskan untuk mengataka hal yang sebenarnya. Dia memutuskan untuk memberi tahu Sbastian tentan keberadaan dan keadaan Carla. Dia juga memutuskan untuk mengatakan sebuah kebenaran tentang gadis bermata abu-abu itu, kebenaran yang tidak banyak diketahui oleh orang lain. “Saya tahu di mana dan bagaimana keadaannya,” ucap Suster Jane dengan berat hati. Kejujuran Suster Jane itu membuat Sbastian terkejut dan secara spontan menatap suster yang duduk di sampingnya itu. ∞
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (136)
Tya Bjirr
bagus
03/12
0
Mau ambil akun gwApa lu
sangat menarik cerita nya juga bagus enak di baca untuk sehari hari
bagus
03/12
0sangat menarik cerita nya juga bagus enak di baca untuk sehari hari
18/10
0saya sagat sukak
24/09/2025
0Lihat Semua