"Teressa meninggal." Felix melirik sekilas berkas yang dilemparkan Leon ke hadapannya, tapi kemudian ia memutar kursi kerjanya hingga membelakangi Leon. "Udah tau." "Jadi lo udah tau kalo adek lo meninggal gara-gara majikan lo, dan lo masih bersikap gak peduli?" Setelah membongkar salah satu fakta rahasia Felix, Leon mendengus tak percaya. "Jadi lo ke sini cuma buat ngelampiasin amarah lo cuma karena lo gak bisa ngelindungin pacar lo sendiri?" balas Felix, dan ia dengar, Leonard menggertakkan gigi. "Cukup basa-basinya, gue ke sini atas izin Bos." Suara Leon kembali tenang. "Di mana Shirina Haruki? Kita harus mengamankan dia segera, atau bom waktunya akan benar-benar meledak." "Lo tau 'kan kalo dia lagi gak bisa dilacak?" "Tapi lo bisa 'kan nebak di mana dia sekarang?" Kali ini gigi Felix yang bergemertak, ia segera memutar kursi, tapi sayangnya Leon lebih cepat. Saat Felix berbalik, Leon sudah menodongkan pistol ke kepalanya, membuat dia hanya bisa menatap Leon dengan penuh permusuhan. Pelatuk lain ditarik, Samuel yang sejak tadi berdiri di sisi Felix bertindak cepat dan ikut menodongkan senjata ke kepala Leon, bedanya dengan tangan bergetar. "Ja-jangan macam-macam!" "Denger baik-baik." desis Leon, seolah keberadaan Samuel tak lebih hanya sekedar nyamuk. "Lo beruntung bisa keluar dari organisasi ini dalam keadaan hidup. Gue gak tau, dan gak mau tau apa alasan lo tiba-tiba memusuhi organisasi, tapi jangan sombong, lo. Lo gak seharusnya menantang kami. Kami punya banyak koneksi, jadi kami tau apa yang kalian lakukan selama ini. Sampai sekarang, gak ada yang orang yang melawan kami dan tetap hidup ...." "Berisik, keparat." umpat Felix seraya menyeringai kesal. "Gue udah tau, kali. Jangan diulang-ulang. Bikin males." Leon diam selama beberapa saat. Meski begitu, sorot matanya yang datar tetap terasa menusuk. Tapi itu tak bertahan lama, detik berikutnya dia menurunkan senjata dan mundur perlahan. "Memang ... lo yang lebih tau lebih dari siapapun, Felix Kenandra." kata Leon, "Karena lo adalah mantan petinggi Faksi Naga Kuning." Leon berhenti sebelum membuka pintu. "Meskipun dia adalah anak Bos yang sebelumnya, kami gak akan segan. Saat kami menemukan Shirina Haruki nanti, kami pasti akan membawanya, gak peduli dia hidup atau mati." Setelah pintu tertutup dan keberadaan Leon yang berat sudah lenyap dari ruangan, barulah Samuel bisa bernapas lega. "Aduh, Senior Leonard dari dulu gak berubah. Dia bener-bener serem!" "Halah, dia, sih, gak ada apa-apanya." sahut Felix sambil mengibaskan tangan. "Ada banyak orang di Faksi yang lebih nyeremin dari dia." "Iya, sih, tapi ...." Samuel tersenyum lebar. "Senior pasti lebih hebat dari mereka, karena Senior berani banget buat melawan orang-orang itu sendirian." Felix menyipitkan mata melihat juniornya semasa di organisasi itu. Bagi orang lain, Samuel mungkin hanya orang terlalu lembut yang tidak cocok berada di organisasi, tapi di mata Felix, dia tidak begitu. Samuel selalu tersenyum. Dia mungkin bisa menjadi sangat berguna dan setia, tapi jika salah sedikit, dia bisa saja menjadi musuh yang berbahaya. "Udah cukup bengang-bengongnya, cari lagi Nona Haruki. Kita harus menemukan dia sebelum Faksi." putus Felix, mengabaikan pemikirannya tentang Samuel barusan. "Baiklah, tapi ...." Senyum Samuel tak hilang. "Kalau Nona Haruki sampai menghilang dari pandangan kita juga, itu artinya ... dia gak percaya lagi sama kita 'kan? Kita harus gimana, Senior? Apa harus kita paksa juga?" Seperti riak air yang mendekat dan menggelitik kaki, tetapi kemudian menjauh saat seseorang mencoba menyentuhnya. Seperti itulah Samuel Archer. *** Cewek yang sedang dicari banyak orang itu sekarang berada di perpustakaan kota, terlihat nyenyak memejamkan mata di salah satu meja baca. Dan orang yang memergokinya adalah Abizart. Abi melangkah perlahan menghampiri meja Shirin yang ada di tengah ruangan. Ia membungkuk seraya menyibak rambut Shirin hanya untuk memastikan wajahnya. "Ternyata gak susah, ya, nebak jalan pikiran lo." gumam Abi, "Cewek kayak lo gak mungkin bisa pergi jauh sendirian. Nah, sekarang, gue bisa bawa lo—" "Abi?" Abi refleks menjauh dan menoleh tegang. "Siapa?" "Lah, lupa? Ini gue Arven, temen SMP lo! Gila! Gue kira lo kuliah kedokteran di Amsterdam—!" "Sshh!" desis Abi. Arven benar-benar mengagetkannya, padahal dia sudah was-was karena takut identitas aslinya ketahuan. "Berisik, lo. Lagi di perpus, nih." "Eh, iya. Lupa." Arven mengusap tengkuk seraya mendekat. Matanya lurus menatap Shirin yang ada di belakang Abizart. "Dia temen lo?" "Yeah, adik kelas gue waktu SMA. Lo kenal?" "Hm?" Arven menatap Shirin sejenak, tapi kemudian tersenyum pada Abi. "Enggak, tuh. Gue baru pertama kali liat." "Oh ... terus, lo ngapain di sini?" "Tadinya, sih, mau cari referensi, tapi mumpung ada lo, ngopi dulu, kuy?" Abi melirik Shirin sesaat. "Sebentar aja, ya? Gue lagi sibuk soalnya." "Santai aja, kali." Abi membiarkan Arven berjalan di depannya. Perpustakaan itu nyaris tidak ada orang, membuat gema dari langkah kaki mereka yang sumbang terdengar jelas. "Lo bohong 'kan?" Arven menghentikan langkah dan menoleh. "Hm? Apanya?" "Anak badung kayak lo mana mungkin mau repot-repot nyari referensi ke perpustakaan? Biasanya, lo bakal nyuruh salah satu cewek buat ngerjain tugas lo 'kan?" Sorot mata gelap Abi datar dan mengintimidasi. "Satu-satunya alasan kenapa playboy kayak lo ke perpustakaan itu cuma buat ketemu cewek. Shirin." "Ya, terus?" Arven terkekeh. "Urusannya sama lo, apa?" "Lo gak perlu bohong 'kan?" "Emang, sih. Maaf aja, nih. Gue lagi ada bisnis sama Shirin, jadi gue gak bisa biarin lo ngapa-ngapain dia dulu." Wajah ramah Arven mulai berkedut di antara kalimatnya. Maka dia pun memalingkan wajah hanya untuk menampilkan seringai keji yang tak mampu lagi ditahan. "Terus, gue juga gak suka anak bos geng preman nyebut gue anak badung. Asal lo tau, gue itu lebih berkelas dari lo." Abi menahan tendangan samping Arven yang tiba-tiba seraya buru-buru memasang kuda-kuda. Tetapi serangan Arven cukup kuat untuk menggeser posisinya hingga terhimpit di dinding. Sambil terengah-engah, Abi mundur, tapi dia terlalu lambat. Di hadapannya, Arven melayangkan serangan lain berupa tendangan lurus langsung ke perut. Abi memelotot menahan sakit, mulutnya memuntahkan liur. Di sisi lain, Arven yang tidak lecet sedikit pun kembali tersenyum ramah. Dia menutup serangan dengan satu dorongan lembut yang membuat Abizart jatuh terguling hingga ke bawah tangga. "Nah, itu akhir yang lumayan buat lo, Abi." "Dan ini, adalah akhir buat lo, Arven Deon." "Apa?!" Prang! *** Suara pecahan kaca membuat mata Shirin sontak terbuka. Sebelumnya, Shirin membuat janji dengan Arven untuk membahas barang-barang yang ia pesan, dan ia berpura-pura tidur saat Abizart mendadak muncul. Kenyataan bahwa Athalas merupakan anggota Faksi membuat Shirin juga menaruh curiga pada Abizart. Untunglah, kecurigaannya benar, Abizart hendak menculiknya sebelum akhirnya Arven datang. Dan sekarang, Arven mungkin dalam masalah. Shirin harus kabur, atau menolongnya bila memungkinkan. Dengan kaki gemetar, Shirin bangkit dari kursinya dan berjalan keluar ruang baca. Shirin mengabaikan Abizart yang berusaha menaiki tangga dengan penampilan kacau dan kesakitan. Shirin berjalan lurus ke jendela lorong yang pecah. Dan saat melihat ke bawah, Arven telah tergolek tak berdaya di tanah. Shirin menghela napas, raut wajahnya tenang saat menoleh pada Abizart. "Ternyata Kak Abi juga ikutan, ya?" Abi mendongak, matanya menyipit linglung. "Apa yang ...?" Mata Abi membelalak ketika menyadari situasi, ia menggeleng sambil termundur. "Enggak, Rin. Lo salah paham. Bukan gue yang—tunggu, deh. Gue bakal panggil ambulans." Namun Shirin sudah memutuskan. Saat Abi berbalik, saat itu jugalah kesadaran Abi kembali hilang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (113)
AULIA
ceritanya seru banget!!!!
tapi kalo ada S3 pasti lebih seru....
ceritanya seru banget!!!! tapi kalo ada S3 pasti lebih seru....
18/12/2024
0baguss cerita nyaa
02/11/2024
0DM 💎 1000
20/08/2024
1Lihat Semua