Beranda/Om Duda, Nikah Yuk!/
89
Diana kini tengah bersiap-siap, perempuan itu akan ikut membantu merapikan barang yang akan dibawa Amel ke kediaman yang baru saja selesai. Gadis tersebut setelah pulang kuliah kemarin, dia bergegas merapikan apa saja dibawa ke rumah sepasang suami istri. Karena ia diam di sana selama sebulan, melayani Amel sesuai hukuman.
"Huh, cewek sekece gue masa jadi babu," gerutu Diana.
Sang Mama yang masuk tanpa mengetuk pintu, membuat Diana menoleh lalu memilih mengecek barang yang hendak dibawa.
"Gak perlu bawa pakaian banyak-banyak, kamu di sana cuma sebentar," lontar sang Mama.
Wanita itu berkata sambil mendekati sang putri. Ia duduk di ranjang dan menaruh makanan di nakas.
"Ayo makan dulu, pasti kamu lapar bukan. Nanti Kakakmu bakal anter kamu, sampe ke rumah baru mereka," seru wanita itu.
Diana langsung menoleh memandang sang Mama. Ia beranjak dari tempat menuju ranjang. Tatapan lesu terpancar dari mata perempuan itu.
"Mah ... Apa gak bisa nego gitu, jangan aku yang jadi pembantu. Mendingan kita nyari pembantu buat gantiin aku," pinta Diana.
Sang Mama menghela napas, ia menggeleng sebagai jawaban. Diana langsung memajukan bibir lalu mengambil sarapan yang dibawakan wanita itu.
"Makasih ya, Mah."
Dia hanya membalas dengan anggukan, memandang putri yang hendak menjalani hukuman akibat ulah sendiri. Wanita itu menyayangkan hal tersebut, ia menyalahkan diri karena tidak bisa mendidik sang anak.
"Ayo Diana, cepat! Kamu nanti pas sampe harus beberes," seru sang Kakak.
Lelaki itu membuka pintu dan berkata demikian. Membuat kedua perempuan tersebut menoleh memandangnya.
"Sabar dong, Ka. Aku kan mau sarapan dulu," ucap Diana.
Pria tersebut akhirnya menunggu sang adik untuk sarapan. Beberapa kali lelaki itu melirik jam di tangannya, Diana memandang sang Kakak merasa kesal. Ia langsung menaruh piring yang isi belum habis di nakas.
"Khawatir banget sih, ya udah ayo kita pergi," ujar Diana.
Mereka akhirnya berangkat, sedangkan di tempat lain. Kini memang libur ke kampus, Amel masih bergelung dengan selimut. Raffa yang sudah terbangun, memandangi sang istri.
"Jangan ngeliatin terus, nanti makin cinta lagi."
Suara Amel terdengar serak khas bangun tidur. Tetapi, mata wanita itu masih terpejam, sedangkan Raffa yang mendengar hal tersebut mengulas senyum kecil.
"Kamu emang selalu buat aku makin cinta, ya udah yuk. Kamu kan udah bangun, ayo cepet mandi, kita mau pergi ke suatu tempat," seru Raffa.
Lelaki itu berkata demikian seraya memencet sebentar hidung Amel. Membuat wanita tersebut mendengkus lalu bangkit dari tidur untuk bersandar di kepala ranjang.
"Kamu ini ganggu aja sih, Mas! Sekarang kan libur, aku pengen tidur," keluh Amel.
Wajah wanita itu tertekuk, bibirnya cemberut menandakan jika ia sedang kesal. Melihat paras sang istri yang merajuk, pria tersebut terkekeh.
"Udah nanti dilanjut tidurnya di mobil, sekarang kamu mandi dan cepet masuk mobil. Aku nunggu di sana," lontar Raffa.
Raffa pergi setelah mengatakan itu dan mengecup kening sang istri. Mendengar perintah suaminya, Amel mendengkus, tapi menuruti apa yang disuruh. Dengan malas menuju bilik mandi untuk membersihkan diri.
"Wah, ternyata Mas Raffa udah nyiapin segala hak, memang suamiku yang terbaik," seru Amel.
Wanita itu langsung berendam di bath up, menikmati hangatnya air. Setelah merasa sudah rileks, ia segera bergegas mengeringkan tubuh dan memakai pakaian yang telah disiapkan Raffa.
"Ampun ... suamiku bener-bener, kaya gini juga disiapin. Mesum banget sih," gerundel Amel.
Kini keduanya tengah di perjalanan, Raffa mengemudi dengan santai. Sedangkan Amel sedang mengisi perut. Wanita itu sangat lahap, ia sangat menyukai masakan suaminya.
"Mas, masakanmu itu enak banget. Kenapa malah jadi pengusaha bukan koki," lontar Amel.
Mendengar perkataan sang istri, Raffa langsung melirik lalu fokus ke jalanan lagi.
"Udah ada yang jelas di depan mata, lagian aku memang ingin menjadi pembisnis. Masak itu cuma buat aku iseng aja, kebanyakan malas makan masakan luar," balas Raffa.
Amel menganggukan kepala saat mendengar jawaban sang suami. Wanita itu menyodorkan sendok yang berisi makanan ke bibir Raffa, lelaki tersebut mengulas senyum.
"Makasih, Sayang. Kirain kamu lupain aku," kata Raffa.
Lelaki itu melahap apa yang disodorkan istrinya, lalu fokus ke jalanan lagi. Sedangkan Amel tidak menyahuti, karena nada dering dari handphone.
"Ngapain Shilla nelepon," gumam Amel.
Raffa yang mendengar itu mengedikan bahunya. Amel hanya memutarkan bola mata malas. Lalu menaruh bekal dan langsung mengangkat telepon dari sang adik ipar.
"Gue mau ke apartemen lo ya, gue lagi diperjalanan nih," seru Shilla.
Istri Raffa mengerjapkan mata mendengar suara Shilla yang menggelegar. Wanita itu bahkan sampai menjauhkan benda pipihnya sesaat lalu menempelkan lagi ke telinga.
"Astagfirullah, bukannya ucapin asalamu'alaikum. Lo malah ngomong sambil teriak, bisa budeg kuping gue," omel Amel.
Terdengar kekehan Shilla dari benda pipih itu. Amel yang mendengar hanya mendengkus.
"Gue lagi gak di apartemen, lo gak perlu ke sono," ujar Amel.
Shilla yang mendengar itu memekik, membuat Amel menjauhkan ke telinga lagi. Raffa yang mendengar hal tersebut lalu merebut benda pipih istrinya lalu langsung melost spaker handphone.
"Udah deh gak usah lebay, kamu kan tinggal puter balik. Lagian ngapain sih ke mau ke apartemen, pasti galau ya gak punya pacar," ledek Raffa.
Shilla yang mendengar itu wajahnya langsung datar, ia mematikan sambungan telepon tanpa memberitahu. Mereka yang mengetahui itu, saling pandang dan Raffa membalas dengan mengedikan bahu.
"Kamu keterlaluan banget sih, kasian tau!" omel wanita itu.
Ia langsung mengambil benda pipih miliknya dan memasukan ke tas. Wanita itu membuang muka membuat Raffa menghela napas. Sedangkan di tempat lain, Diana dan sang Kakak telah sampai di kediaman milik Amel.
"Ya ampun ... besar banget rumahnya, bahkan halamannya luas."
Diana terpaku memandang sekitar, sedangkan sang kakak yang telah memarkirkan mobil langsung menyenggol adiknya.
"Ayo cepat! Kamu kan harus segera beres-beres, kamu tuh jangan norak deh," tegur lelaki itu.
Lelaki itu turun dari mobil, lalu bergegas ke kediaman. Diana yang melihat hal tersebut mengeryitkan alis dan segera mengejar sang Kakak.
"Ka, kan bawaan Diana juga belum di keluarin, kok Kakak udah lari mau ke dalam aja. Sekarang kaya Kakak lho yang norak," tutur Diana.
Pria yang berstatus kakak Diana itu langsung melayangkan tatapan tajam. Membuat perempuan tersebut tanpa sadar menundukan kepala karena merasa takut.
"Urusan itu bisa ditunda nanti, sekarang kita harus siap-siap menyambut Amel. Karena ini suprise buat dia dari suaminya," jelas lelaki itu.
Mulut Diana langsung membentuk huruf O saat mendengar penjelasan sang Kakak. Melihat tingkah adiknya yang aneh, pria tersebut memilih menarik lengan Diana membuat perempuan itu memekik kaget.
"Sabar napa, Ka! Gila, beruntung banget si Amel bisa jadi istri cowok itu," lontar Diana.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (207)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
mantap sekliii
21/04
0alur yang berbeda
19/05/2025
0gilaaa bagussss
26/04/2025
0Lihat Semua