Beranda/KEJUTAN DI HARI PERNIKAHAN UNTUK SUAMIKU DAN KELUARGANYA/
bab 27
KEJUTAN DI HARI PERNIKAHAN UNTUK SUAMIKU DAN KELUARGANYA BAB 27 Klik, gawai di tutup, Rendi pun menyeringai di balik setir mobil, kini dirinya tengah mengikuti kemana Sinta pergi, karena keinginan besarnya saat ini adalah menghancurkan Sinta sehancur-hancurnya. "Ini baru permulaan Sin, selanjutnya akan ada yang jauh lebih pedih yang akan kamu terima, bersiaplah untuk menjalaninya," ujar Rendi sembari menyeringai. **** Rian melangkah gontai menuju rumahnya, dia sudah panas dingin karena setelah ini pasti istrinya\ akan mencercanya habis-habisan. "Huh, semoga di masih bisa aku rayu," batin Rian sebelum dirinya masuk ke dalam rumahnya. "Masih ingat jalan pulang juga kamu Mas," ucap Desi sinis menyambut kepulangan suaminya itu. "Dek, Mas minta maaf," ucap Rian sembari menunduk. "Udah ketahuan aja baru minta maaf, kenapa sih Mas kamu tega banget sama aku, apa kurangnya aku buat kamu Mas, dan lagi kenapa harus dengan Sinta Mas, dia itu adikku!" ucap Desi berapi-api. "Dek, Mas khilaf, Mas minta maaf, kamu kan tau gimana Mas, sudah pasti Sinta yang telah menggoda Mas, dan namanya Mas laki-laki Mas ya tergoda Dek." "Aku memang sudah menduga jija Sinta yang menggodamu, tapi kenapa kamu ladenin dia Mas, harusnya kamu ngomong dong sama aku, biar aku usir dia dari kemarin-kemarin." "Iya Dek, Mas minta maaf, Mas khilaf, Mas janji selanjutnya gak akan berhubungan lagi sama dia." "Yaudah, untung cinta, kalau enggak udah aku potong itu burung kamu Mas," sungut Desi. "Ya jangan dong Dek, nanti kalau gak punya ini kamu gak puas sama Mas dong," ucap Rian sembari memegang anu nya. "Bodo, daripada di obral sana sini, dikira aku perempuan hobi pake barang bekas apa." "Jadi beneran nih kamu udah maafin Mas." "Iya!" "Tapi kok masih ketus gitu?" "Masih kesel." "Kalau lagi kesel gitu kamu tambah cantik tau." "Gombal," ucap Desi sedikit ketus tapi tetap ia tersipu. "Enggak Lah, masa sama istri sendiri gombal." "Hemmm." "Eh Dek, tapi…" "Tapi apa?" ujar Desi menatap Rian penasaran. "Tapi gara-gara kasus itu Mas jadi dirumahkan sama Bos." "Ya terus?" "Ya kalau Mas gak kerja gimana mau nafkahin kamu, bantu Mas dong." "Apa?" "Kamu datang ke kantor Mas, dan jelaska sama Bos kalau itu bukan Mas, itu hanya editan, bilang saja Mas difitnah karena sudah menolak cintanya Sinta, mau ya? Please," ucap Rian penuh harap. Lama Desi terdiam dan tampak berfikir hingga akhirnya. "Yaudah aku mau, tapi dengan syarat." "Apa itu Dek?" "Jika sekali lagi aku tau kau nyeleweng, karirmu akan tamat Mas, dan kau harus angkat kaki dari rumahku, ngerti?" Sesaat Rian menelan ludahnya dengan susah payah karena ancaman dari Desi, tapi dirinya tak punya pilihan lain selain mengiyakan ucapan Desi, karena hanya itu penyelamat karirnya. "Iya, terserah kamu aja, Mas ngikut." "Yaudah sana makan dulu, besok kita ke kantormu buat nemuin Bos mu itu." "Oke Sayang, makasih ya, kamu memang istri terbaikku." "Kalau ada maunya aja baru deh baik-baikin," cebik Desi, sementara itu Rian hanya cengengesan saja. **** "Bu maaf permisi, saya lagi cari kontrakan, dan saya lihat ada papan pengumuman jika rumah ibu di kontrakan, kira-kira apa masih ada yang kosong?" Perlahan pemilik kontrakan itu melihat Sinta dari atas hingga bawah, dan sesaat dirinya teringat dengan berita yang sedang viral itu. "Kamu kan perempuan yang terlibat skandal dengan seorang PNS yang lagi viral itu ya?" tanya pemilik kontrakan menyelidik sementara Sinta hanya tertunduk. "Sebenarnya ada sih yang kosong," ucap pemilik kontrakan sengaja menjeda, Sinta pun menatap si pemilik itu dengan binar bahagia di matanya, karena jika sampai ditolak maka ini sudah penolakan yang keLima setelah dirinya berusaha mencari kontrakan kesana kemari. "Jadi saya bisa tinggal disini?" "Siapa yang bilang gitu?" "Jadi maksud Bapak?" "Kamu saya tolak, tentu saja saya tidak mau nama kontrakan saya jadi jelek gara-gara ada kamu tinggal disini, TAPI, saya bisa membantu kamu jika kamu mau," ucap Bapak itu sembari menatap Sinta penuh arti. "Maksud Bapak?" "Saya bisa berikan kamu tempat tinggal, bahkan gratis, asalkan kamu mau sama saya," ujar si Bapak yang bernama Pak Wito sembari tersenyum nakal ke arah Sinta. "Maaf, maksud Bapak apa? Bisa di perjelas lagi? Saya tidak mengerti." "Saya bisa kasih kamu tempat tinggal dan itu gratis asalkan kamu mau jadi simpanan saya, gimana?" "Apa? Saya jadi simpanan bandot tua kayak kamu? Ogah!" sentak Sinta. "Yaudah kalau gak mau ya gak masalah, sana pergi, saya jamin gak akan ada yang mau memberimu tempat tinggal biarpun kamu bayar, karena video kamu itu sudah viral, silahkan pikirkan baik-baik tawaran saya Sebelum saya berubah pikiran, atau silahkan angkat kaki dari sini." Cukup lama Sinta berpikir hingga Pak Wito jengah menunggunya. "Gimana? Lama amat mikirnya, yaudah kalau tidak mau, sana pergi, saya masih banyak urusan" "Eh, iya iya Pak, saya mau," akhirnya Sinta menuruti keinginan Pak Wito, itu dikarenakan ia terpaksa, karena pasti tidak ada yang mau menampungnya lantaran dirinya sudah viral menjadi pelakor. Hari-hari Sinta berikutnya sudah dipastikan akan suram karena ia sudah terlalu jauh melangkah menuju lembah hitam, jika kemarin Riana yang terjatuh ke dunia gelap itu kini justru keadaan berbalik, kini Sinta lah yang harus menjalani profesi itu, sebagai pemuas laki-laki hidung belang. "Begitu dong, daritadi kek, jadinya kan gak perlu saya gertak dan ngancam kamu segala, ya kan sayang," ucap Pak Wito yang kini sudah merangkul pundak Sinta. "Eh kita mau kemana Pak?" "Sebelum menempati rumahku yang mewah di jalan Y, aku mau nyicip kamu dulu, anggap saja sebagai tester, tenang saja kalau nanti rasanya mantap aku pasti kasih kamu bonus." "Tapi Pak, kalau nanti ketahuan orang gimana? Atau mungkin ketahuan istri Bapak?" "Kamu tenang saja, komplek ini aku yang berkuasa, tidak akan ada yang berani mengusikku, dan lagi istriku sedang ada di luar kota makanya saat ini aku bebas." Dengan sangat terpaksa Sinta pun mengikuti Pak Wito ke dalam rumahnya, dan menuruti kemauan dari pria hidung belang tersebut. **** "Sinta, Sinta, pisah denganku bukannya membuat hidupmu menjadi bahagia melainkan hanya nestapa yang kau dapatkan, itu adalah balasan yang setimpal untuk orang licik dan serakah sepertimu, setelah semua hartaku kau gerogoti lalu dengan begitu mudahnya kau buang aku bagaikan sampah, kini lihatlah, keadaan sudah berbalik, kini justru dirimulah yang menjadi seonggok sampah itu," gumam Rendi saat dirinya tengah mengawasi Sinta dari balik pohon yang dekat dengan rumah Pak Wito.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (89)
Ranii
wahh bagus sekali novelnya ini merupakan novel favorit aku
wahh bagus sekali novelnya ini merupakan novel favorit aku
21/12/2021
0Bagus
13/06/2025
0sukaaa
11/04/2025
0Lihat Semua