logo text

18. Kepedulian.

"Dewa, aku masih penasaran sama kamu. Apa yang udah ngebuat kamu menerima dia jadi karyawan kamu?" Cellin baru saja masuk ke ruangan Dewa, tetapi perempuan itu sudah memberondong dengan segelintir pertanyaan panjang. Pertanyaan beberapa hari lalu yang belum sempat dijawab Dewa dengan jelas. 
"Kamu masih mau bahas itu lagi?" Dewa hanya menoleh cuek. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya. 
Cellin berdiri sambil bersedekap di depan Dewa yang tengah berkutat pada pekerjaannya. 
"Kan kemarin kamu ngehindar terus, Wa. Aku cuma nanya,” sungut Cellin. 
"Dia lagi nganggur. Dan lagi butuh pekerjaan banget. Kebetulan kita kan lagi butuh karyawan, jadi ya … aku terima dia jadi karyawan kita,” jelas Dewa dengan sabar. 
"Bener? Kamu nggak ada tujuan lain, kan?" 
Dewa menghela nafas beratnya. Sebelumnya, Cellin bukanlah perempuan pencemburu. Dia tidak mudah terpedaya. Tetapi ini baru pertama kalinya Cellin terlalu repot mengurusnya sampai sejauh ini. Dewa tertawa dalam hati, mungkin karena Julia itu sebelumnya pernah menjadi mantan kebanggaannya, jadi wajar-wajar saja Cellin cemburu. 
Dewa berdiri, dan berjalan menghampiri Cellin. Lelaki itu menangkup pipi Cellin penuh sayang. Mengarahkan fokus perempuan itu padanya. "Kamu cemburu atau kamu curiga?" Dewa menaikkan alisnya. 
Cellin menggenggam kedua tangan lelakinya yang berada di pipinya. Ia meremasnya dengan pelan. Rasa was-was kalau Dewa akan selingkuh mulai berkurang. 
"Dua-duanya. Kita udah bertunangan, makanya aku ketar-ketir. Banyak di luar sana yang gagal dalam hubungannya hanya karena masa lalu mereka hadir lagi. Padahal mereka hampir menikah."
Dewa mencubit pipi Cellin gemas. "Kan itu mereka. Bukan aku, ya beda lah. Lagipula waktu itu kamu bilang kalau kamu sibuk. Semua urusan di sini, kamu suruh aku yang handle," ujar Dewa mengingatkan. "Kamu masih ingatkan?" 
"Ya tapikan, Wa, dia mantan kamu. Aku jadi curiga lah,” ujar Cellin. 
Dewa mengecup kening Cellin lumayan lama. Semua rasa was-was berangsur hilang. 
"Cellin, percaya sama aku. Aku nggak bakal ngecewain kamu," tegas Dewa dengan mata fokus tajam mengunci tatapan mata Cellin. "Hubungan aku sama Julia udah lama selesai. Aku nggak bakal balik lagi sama dia." 
"Aku pegang janji kamu, Wa," ujar Cellin berat hati. 
Cellin harus sabar, ia harus berbaik sangka dulu. Berpikir positif dan jangan asal menuduh. Cellin berusaha menyakinkan diri sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja. 
***
"Selamat pagi Dek Julia …." 
Julia, Laras, dan Aeera yang kebetulan berada di depan spontan menoleh. Mencari tahu siapa gerangan yang terdengar begitu semangat dalam memanggil nama sahabatnya tersebut. 
Merasa terpanggil, Julia pun menyunggingkan senyuman ramahnya. "Eh, Mas Bambang. Tiap hari datang ke sini, kayaknya Mas doyan banget sama roti dan kue di sini ya?" tanya Julia. 
"Iya, di sini rotinya emang dari dulu langganan aku semua. Apalagi kebetulan yang jualan kamu. Jadi bakal tambah rajin Mas beli di sini." 
Julia tertawa renyah mendengar gombalan dari Herlambang. Sesungguhnya gombalan dari Herlambang tidak pernah sampai membuat dirinya jatuh hati. Sampai sekarang Julia hanya menganggap pria berkulit cokelat itu teman, kakak, atau saudara. 
"Siapa aja yang suka makan roti dan kue? Ibu atau bapak?" tanya Julia basa-basi. 
Bambang tampak berpikir sejenak. Sebenarnya keluarganya tidak terlalu suka dengan roti atau kue. Tadi hanya akal-akalan Herlambang saja dalam mencari alasan. 
Lha wong roti sama kuenya di rumah masih utuh. Bapak sama Ibuk cuma makan dikit. Batin Herlambang. 
"Itu … keluarga aku memang semuanya suka banget makan roti dan kue. Tadi disuruh mampir lagi,” jawab Herlambang berbohong. 
"Ohhh …." 
"Iya, Dek." Herlambang menatap Julia. Ia sebenarnya ingin mengobrol banyak, tetapi ia sadar kalau dia adalah lelaki yang payah dalam hal mengait perempuan. Obrolan merekapun selalu garing. Herlambang sadar diri. Tetapi ia hanya lelaki yang ingin terus berusaha. 
"Trus ini Mas mau beli yang mana?" tanya Julia hendak melayani Herlambang. 
"Kayak biasanya itu loh, tapi donat cokelatnya yang banyak ya!" 
"Oke, Mas."
Julia sibuk memasukkan beberapa roti dan kue ke dalam bungkusnya. Herlambang dalam dia mengamati. Pikiran bawah sadarnya terus menyemangati untuk berusaha mengambil hati Julia. 
Ayo, terus ajak dia ngobrol, Bambang. Batin Herlambang. 
"Dek, ngomong-ngomong nanti kamu pulang jam berapa?" 
Julia menatap Herlambang sebentar. "Enggak tentu sih, Mas. Mungkin nanti sekitar jam empat. Memangnya kenapa, Mas?" 
"Cuma nanya …. Eh, ndak. Gini loh … Mas cuma mau nawarin kamu supaya nanti pulangnya bareng Mas aja." Raut wajah Herlambang terlihat sangat berharap. 
Julia tersenyum manis. 
"Nggak usah, Mas. Nggak enak ngrepotin Mas nanti.” Jawaban dari Julia sukses membuat Herlambang kecewa. 
"Nggak repot kok. Mas malah seneng," ujarnya berusaha merayu Julia. Apalagi bisa berduaan sama Julia, Herlambang malah bakal senang sekali. 
"Nggak usah, Mas. Hmm, bentar ya Mas, aku mau ke belakang sebentar ngambil roti yang udah jadi."
Julia berjalan ke belakang meninggalkan Herlambang sendirian. Lelaki itu tampak mengerti dan memilih untuk duduk menunggu. 
"Shtttt, itu mas-mas medok pacar kamu, Jul?" tanya Laras penasaran. 
Julia menggeleng cepat. 
"Ya, bukanlah. Dia anaknya penjual nasi pecel langganan aku," jelas Julia. 
Laras mengintip dari dalam. "Oh, ngebet banget dia. Berjuang tanpa kenal lelah. Tapi kamunya cuek banget." 
"Ya gimana ya. Udah aku tolak, dianya tetep ngeyel." 
Julia yang hendak kembali ke depan tiba-tiba berhenti. Ia memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Pandangannya terasa kabur. Dari belakang lehernya terasa dingin, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. 
"Eh, kamu kenapa, Jul?" Laras berjalan cepat menghampiri Julia. Waspada kalau sampai Julia pingsan. 
"Duh … aku kok pusing banget ya,” keluh Julia memegang erat bahu Laras. Dan belum ada satu menit tiba-tiba Julia jatuh pingsan. Laras berteriak panik. 
"Loh, Dek Julia kenapa?" tanya Herlambang berlari menghampiri Julia. Ia sibuk menepuk-nepuk pipi Julia berharap perempuan itu segera sadar. 
"Minggir …. Eh, lo apain karyawan gue?" Dewa yang tiba-tiba datang dan melihat Herlambang megang-megang Julia seenaknya menjadi kesal. Dia mengira karyawannya tengah diganggu. 
"Ndak saya apa-apain kok, Mas. Sumpah!" kata Dewa. Dua jemari tangannya mengacung. 
Laras hendak membantu, namun segera disuruh pergi oleh Dewa. 
"Laras. Kamu kembali bekerja. Julia biar saya yang urus,” perintah Dewa yang segera diangguki oleh Laras dengan ragu. 
Cellin yang ingin memeriksa dapur terkejut melihat salah satu karyawannya pingsan. Cepat-cepat ia menghampiri Julia, Dewa, dan Herlambang. 
"Ini kenapa, Wa?" tanya Cellin panik. 
"Nggak tau, Julia tiba-tiba pingsan."
Cellin celigukan. "Ambilin minyak kayu putih, dong! Mana cepat!" perintah Cellin kepada salah satu karyawan yang nganggur. 
"Nggak sadar-sadar lagi. Kayaknya dia lemes banget deh," ujar Cellin setelah mencoba menyadarkan Julia namun gagal. 
"Dewa, kita harus bawa dia ke rumah sakit,” ajak Cellin. 
"Iya …. Iya …." Dewa dan Herlambang mengangguk bareng. Namun mereka berdua hanya diam mematung. 
Cellin menatap kedua lelaki itu gregetan. "Cepetan dong. Kalian lemot banget, sih!" 
"Aku harus ngapain?" tanya Dewa bingung. 
"Ya kamu gendong lah. Bawa ke mobil!" 
Dewa melongo. Menatap Cellin tidak yakin. "Kamu nggak cemburu?" 
"Ya cemburu sih, tapi aku khawatir banget soalnya," keluh Cellin yang masih berusaha menyadarkan Julia. 
Dewa menatap Herlambang yang sedari tadi hanya diam tidak berguna. "Biar dia aja. Dia kan cowoknya Julia. Eh, lo angkat Julia gih. Jangan cuman plonga-plongo!"
Herlambang mengangguk cepat. "Sini biar saya yang angkat." Herlambang mencoba mengangkat. Namun ia sama sekali tidak kuat. "Duh, berat Mas. Ndak kuat saya,” keluh Herlambang. 
"Lo gimana sih, lo kan pacarnya!" 
"Masih calon Mas, belum diterima."
Cellin menghela nafas sebal menyaksikan kelakuan tidak penting kedua orang di depannya itu. 
"Udah, lo siapin mobil. Julia biar gue yang angkat." 
"Memangnya kuat, Mas?" tanya Herlambang dengan nada bodohnya. 
Cellin dan Dewa yang melihat respon Herlambang begitu lemot semakin kesal dibuatnya. "Lo bacot amat sih, udah cepetan!" teriak Cellin dan Dewa barengan. 
"I-iya ...." Herlambang segera berlari keluar menyiapkan mobilnya. 
"Sayang, kamu jaga toko ya." Sebelum Dewa pergi mengangkat Julia, Dewa mengusap rambut Cellin penuh sayang. Menyakinkan perempuan itu kalau tidak akan terjadi apa-apa. 
***
"Bisa bicara dengan pihak keluarga?" Dokter yang menangani Julia keluar mencari anggota pasien yang bersangkutan. Dewa maju. 
"Saya yang bertanggung jawab atas pasien tersebut, Dokter." 
"Anda siapanya? Suaminya atau-"
"Saya atasannya. Dia karyawan saya," jelas Dewa. 
Dokter tersebut mengangguk mengerti. Lalu ia menjelaskan kalau Julia tengah mengandung. Usia kandungannya sekitar delapan minggu. Dokter menyarankan supaya Julia banyak istirahat dan tidak boleh terlalu stres. Mengetahui fakta tersebut, Dewa sangat kaget. 
Dewa keluar ruangan tersebut dengan syok. Pikirannya penuh dengan pertanyaan siapa kiranya ayah dari anak yang di kandungan Julia. Seingat Dewa, Julia adalah perempuan baik-baik yang sangat mustahil melakukan hubungan terlarang sebelum menikah. Atau jangan-jangan seseorang telah memaksanya berbuat demikian. Atau malah sebenarnya Julia memang sudah menikah. Tapi dengan siapa? Herlambang? 
"Jadi gimana, Mas? Dek Julia sakit apa?" tanya Herlambang tidak sabaran. 
Dewa menatap Herlambang curiga. Jangan-jangan. "Lo yang ngehamilin, Julia?" tuduh Dewa. 
Herlambang melotot. "Ya ampun, Mas. Amit-amit. Mana tega saya ngelakuin hal jahat kayak gitu sama Dek Julia," sergah lelaki berkulit gelap tersebut dengan tangan mengibas panik. 
"Lha terus siapa dong kalau bukan lo. Semenjak Julia kerja sama gue, cuma lo mulu yang dateng ngapelin Julia." Dewa memincingkan matanya. "Jangan-jangan lo bohong lagi. Tanggung jawab nggak!" seru Dewa sambil menarik kerah leher Herlambang. 
Herlambang tetap kukuh mengelak. "Ya mana saya tau siapa yang udah ngelakuin itu sama Dek Julia. Mentang-mentang muka saya kurang ganteng, Mas seenaknya nuduh saya yang enggak-enggak lagi. Endak baik lo Mas, menilai seseorang dari fisik gituh. Gini-gini saya orangnya baik dan ngerti toto kromo!" sela Herlambang. 
"Gue kan cuma nanya sama lo. Kenapa lo ngegas sih!" Dewa emosi. 
"Iye ... iye ... saya yang salah. Mas yang selalu bener,” ujar Herlambang mengalah namun terlihat kesal. 
Bersambung. 

Komentar Buku (75)

  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    26/09/2025

      0
  • avatar
    Maryam

    bagus

    22/05/2025

      0
  • avatar
    rmdnidimas

    kerennn bangett novellnyaa

    26/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru