logo text

Bab 50 TITIK TEMU

"Waw hebat ya ortu gue, nggak nyangka," ucap Raina terpaku.
"Eh bentar dulu, tapi gue nggak tau sebenarnya siapa yang bukan anak mereka," jelas Sei.
"Ya udah pasti abang gue lah, secara mereka ngehindarin gue tiba-tiba. Pake acara bohong lagi bilang nginep di rumah tante, yang satu sibuk kerja," ketus Raina.
Ajun yang sedari tadi menyimak hanya bisa menganggukkan kepala. Entah ia mengerti atau tidak yang pasti banyak pertanyaan di dalam kepalanya.
"Sebentar, tapi ada benernya juga sih kalo Luka anak kandungnya. Mereka pergi bertiga pasti cari tempat tinggal baru terus hidup bahagia bertiga tanpa Raina," terka Ajun.
"Lu bisa diem nggak!" bentak Sei.
"Luka cuman cerita ke gue kalo kalo bokap lo yang bilang semuanya pas kalian lagi di Bali. Meski sakit tapi dia berusaha nyembunyiin itu dari lo," jelas Sei.
Ingatan Raina tertuju pada sikap Luka setelah mereka berlibur. Ternyata semua diam yang diartikannya menyebalkan itu semata untuk menutupi luka hati yang dirasakan Luka. Namun mengapa Luka harus menahannya sendiri jika ia adalah anak orang tuanya? Segudang pertanyaan membelenggu di dalam kepala Raina.
Sejurus kemudian ia terpikir untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya.
~~~~~~~~~~~~~~~~
"Mama nggak nyangka kita bisa balik ke rumah dalam keadaan lega kayak gini," ucap Mama di dalam mobil.
"Papa juga khawatir sama Raina, berhari-hari terabaikan oleh kita semua," timpal Papa.
"Sogok cake juga baekan dia," imbuh Luka terkekeh.
Semalaman telah mereka habiskan dengan saling mengobrol di dalam villa. Pagi ini saatnya mereka pulang untuk sedikit menjelaskan kesalahpahaman pada Raina. Harapan mereka Raina mampu menerima Luka yang ternyata bukanlah kakak kandungnya. Sepanjang jalan mama takhentinya menggenggam tangan Luka yang duduk di kursi belakang. Perasaan lega bercampur haru telah mereka lalui seharian. Kini saatnya membuka lembaran baru dengan status baru.
Sampailah mereka di depan istana yang selama dua puluh dua tahun Luka habiskan bersama mereka.
"Bi ...!" teriak Mama memasuki rumah.
"Buk, maaf dari kemaren Bibi udah neleponin tapi nomor Ibuk nggak aktif," ucap Bibi.
"Iya disana nggak ada sinyal jadi kami matiin ponsel semua, Raina belum pulang sekolah Bi?" tanya Mama yang kini terduduk di sofa.
"Bu, Non Raina dari kemarin pagi pergi dia bilang lagi minggat terus bawa tas juga," jelas Bibi.
"Paling ke rumah Oma," timpal Papa.
"Bibi udah nelepon ke sana tapi nggak ada," jawabnya.
Papa, Mama, dan Luka serempak terkejut dan saling pandang. Pasalnya Raina takpernah pergi jauh selain ke rumah Nenek. Papa bergegas berganti baju untuk mencari Raina bersama Luka.
"Pah, Mama ikut ya," pinta Mama.
"Mama istirahat di rumah aja, Papa sama Luka aja yang cari ya," jelas Papa.
"Iya Mah, paling dia dirumah temennya," timpal Luka menenangkan.
Sementara itu Raina yang telah check out dari hotel sedari pagi memutuskan untuk mendatangi kosan Ajun kembali. Taklupa ia mengajak Sei untuk bertemu disana. Raut wajah tegang dirasakan oleh mereka bertiga yang kini terduduk dikamar Ajun.
"Kak, lu mau bantuin gue kan?" tanya Raina melirik ke arah Sei.
"Jangan macem-macem lu yak, perasaan gue nggak enak," jawab Sei menolak keinginan yang belum disampaikan.
Raina melirik juga ke arah Ajun. Namun respon yang ia dapatkan tetap sama. Ajun menggelengkan kepala pertanda tidak mau mengabulkan keinginannya.
"Oke deh kalo nggak ada yang mau bantuin gue," Raina bangkit dari duduknya merapihkan baju di dalam tasnya.
"Gue tinggal minggat jauh dari kota ini. Mm ... enaknya gue jadi anak punk apa pemandu lagu di karokean atau open BO aja kali ya enak cepet dapet duitnya," ucapnya melirik sinis ke arah Sei dan Ajun.
"Oke fine! Gue bantuin, mau apaan? Asal jangan yang aneh-aneh lu yak, apalagi open open segala gue laporin kak Seto lu," ancam Sei.
Raina meletakkan tasnya kembali seraya menyeringai lebar. Ia menjelaskan rencananya untuk mencari tahu apakah ia benar-benar anak orang tuanya ataukah bukan.
Mereka saling merapatkan duduk di atas tempat tidur sembari mendengarkan arahan Raina.
"Oke pertama, gue bakalan bikin seolah-olah gue kabur dari rumah. Jadi tolong cariin kosan buat gue yak," lirik Raina pada Ajun.
"Beres, mau yang full furnish atau yang bebas bawa cowok?" tanyanya.
Ppplllaaakk
Tamparan mendarat di pipi kanannya. Sei yang kesal dengan ucapan Ajun taksegan menamparnya beberapa kali.
"Aww ... becandanya kuli ah," rintih Ajun mengusap pipinya.
"Lagian otak lo tuh cuci, isinya sampah plastik," gerutu Sei.
"Ya kalo nggak bebas cowok masuk gue nggak bisa ikut meeting sama kalian ntar," sangkal Ajun.
"Udah pokoknya atur aja gue percaya sama lo. Kedua, selama gue menginvestigasi silsilah keluarga gue tolong kalian back up gue yah. Apapun yang terjadi jangan pernah kasih tahu kalau gue lagi dalam masa penyelidikan," jelas Raina.
"Kalo yang pertama nyariin kosan gue bisa Ren, tapi yang kedua gue nggak yakin," jawab Ajun menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.
"Gue bayar!" ucap Raina antusias.
"Oke deal!" jawab Ajun menjabat tangan Raina.
Mereka segera berkeliling komplek di sekitar kosan Ajun mencari kosan untuknya. Takbutuh waktu lama mereka mendapatkan kosan khusus wanita yang takjauh dari kosannya. Setelah membayar mereka masuk untuk memastikan Raina akan aman disana. Kosan minimalis dengan gaya modern lengkap dengan kasur, meja, kursi, serta kamar mandi dalam membuat Raina akan betah disana.
"Gimana suka nggak?" tanya Ajun.
"Oke kok gue suka, thanks ya Kak," kata Raina melirik Ajun dan Sei.
"Pokoknya kalo ada apa-apa langsung kabarin kita ya, eh gue aja duluan," ucap Sei.
"Lebih deket gue sih Ren, kalo ada apa-apa tinggal lari ke kosan gue," timpal Ajun.
"Gue nggak akan ngerepotin kalian lagi kok, sampai semua yang gue cari dapet," ujar Raina tersenyum.
"Kita pulang dulu ya," ujar Sei mengusap lengan Raina.
"Hati-hati ya kak."
Sedangakan papa dan Luka sibuk mencari Raina hampir ke semua teman-temannya. Dari rumah Bagas, basecamp hingga ke rumah Sei.
"Pah udah sore ini kita nyari kemana lagi yah," ucap Luka.
"Teman-temannya udah kamu hubungi semua?" tanya Papa yang tengah fokus menyetir.
"Udah Pah, Raina nggak sekolah juga hari ini katanya," jawab Luka.
Entah mengapa perasaan Luka ingin bertemu dengan Sei. Meski ia tahu bahwa Raina membenci Sei, tetapi itu usaha terakhirnya untuk menemukan Raina. "Pah nggak ada salahnya kan kalo kita nanya ke Sei?" usul Luka. Papa hanya mengangguk dan menancapkan gasnya. Ditengah kemacetan kota sore hari membuat pikiran yang tidak-tidak terpikirkan kembali.
Sesampainya di depan rumah Sei, terlihat Papa Sei tengah meminum kopi di teras rumah.
"Hei bro Jodi, apa kabar? Tumben ini sore-sore kesini," ujar Papa Sei.
"Helo bro Alex, lama nggak ngopi bareng ya," jawabnya.
"Om Sei ada?" Luka melirik ke dalam rumah.
"Ada ada, yok masuk dulu," ajak Papa Sei.
"Kita lagi buru-buru bro, Raina lagi ngambek jadi pergi dari rumah nggak bilang kemana, makanya mau nanya ke Sei barangkali tau Raina dimana," jelas Papa.
"Oh ya sebentar tak panggilin Sei dulu, duduk dulu bro," ujar Papa Sei seraya masuk ke dalam rumah.
Sei yang tahu akan kedatangan Luka terlihat bingung. Di satu sisi ia telah berjanji pada Raina untuk menyembunyikan hal ini, tapi di sisi lain ia kasihan oada Luka dan keluarganya karena khawatir oada Raina.
"Sei kamu tahu dimana Rain?" tanya Luka menggenggam tangan Sei. Tanpa berkata Sei hanya menggelengkan kepala.
"Sei, beneran nggak tahu Raina dimana? Kasihan ini Luka sama Papanya khawatir," timpal Papa Sei.
"Enggak tahu Pah beneran, lagian Rein kan mainnya bukan sama Sei, coba cariin ke temen mabarnya Om," jawab Sei melirik Papa.
Luka yang sadar bahwa Sei tengah berbohong mencoba menanyainya kembali.
"Sei please kalo lo tahu tolong kasih tau kita, dia nggak pulang dari kemaren pagi loh, ini kita harusnya udah bisa lapor polisi tapi kita usaha terakhir dulu nanya ke elu," ucap Luka dengan berlinang air mata.
"Nggak tahu Luka, lagian ngapain gue umpetin Rein," jawab Sei.
"Udah udah, kalo gitu kita pamit dulu ya, Sei kalo tahu info apapun kabarin Om ya," ujar Papa menenangkan.
"Iya Om."
Akhirnya Papa dan Luka kembali ke dalam mobil dengan perasaan kecewa. Luka yang takmampu menahan kesedihannya hanya mampu menitikkan air mata sepanjang jalan bersama Papa. Betapa khawatir itu sangat menyiksanya. Papa yang mulai pasrah memilih untuk melaporkan ini ke kantor polisi.
Sementara itu Raina mulai mencaru tahu asal-usul dirinya. Tante Weni adalah satu-satunya adik dari Mamanya. Informasi sekecil apapun akan sangat membantunya dalam memecahkan masalah ini. Raina memesak ojeg online untuk pergi ke rumah tante Weni. Dengan sedikit was-was karena takut jika orangtuanya telah menelepon saudara mereka menanyakan keberadaan Raina.
Tok tok tok
"Iya sebentar," jawab seseorang dari dalam rumah.
"Malem tante," sapa Raina.
"Eh Rain tumben kesini, mama papa mana?" tanya Tante Weni celingukan melihat parkiran rumahnya.
"Enggak ikut Tan, aku sendirian. Aldo ada tan? Aku kangen," ucap Raina basa-basi.
"Ada lagi maen, ayok masuk!" ajak Tante.
Rainapun kebingungan memulai penyelidikannya dari mana. Tidak mungking ia mengatakan sejujurnga maksud dari kedatangannya. Ia pun mencari momen yang tepat untuk menanyakannya.
"Rein kamu tidur sini kan? Om mu lagi di luar kota soalnya, kamu bisa tidur di kamar Aldo," ujar Tante.
"Oke. Eh Tan bentar lagi kan anniv mama papa, aku mau bikin surprisse," ucap Raina mulai memancing obrolan.
"Wah sweet banget, emang mau ngasih kejutan apa?" tanya Tante mulai penasaran.
"Aku mau kasih kejutan dekor kamar mereka Tan, tapi aku butuh foto-foto muda mama papa, Tante punya nggak? Kalau ada sih yang ada akunya juga biar aku nggak terlupakan juga ehehe," ujar Raina.
"Foto yah, bentar bentar," Tante berpikir.
Jantung Raina berdegup kencang menunggu apakah rencananya kali ini akan berhasil. Ia berharap tantenya itu tidak curiga akan permintaannya.
"Tante sih nggak punya Ren, tapi di rumah oma ada deh kayaknya," jelas Tante.
"Yang ada akunya pas kecil Tan?" tanya Raina memastikan.
"Iya, kamu tuh kemana-mana pasti diajak terus, kak Mer itu paling sayang sama kamu, apa yang kamu minta pasti dikasih," jelas Tante.
"Sama abang juga?" tanya Raina kembali.
"Ya pokoknya kalian itu anak paling beruntung deh punya orang tua penyanyang," jawab Tante.
Merasa penyelidikannya sudah cukup, Raina bergegas pamit untuk menuju ke rumah omanya malam itu juga. Entah mengapa ia sangat ingin sekali mengetahui semua tentang dirinya dimasa kecil.
Raina berpamitan pada tantenya untuk pulang karena ada tugas sekolah yang belum dikerjakannga. Tante Wenipun percaya saja karena memang takada masalah yang ia ketahui sebelumnya.
Gelapnya malam tidak menyurutkan niat Raina untuk mengunjungi rumah oma. Masih dengan ojeg online yang selalu setia menemaninya.
~~~~~~~~~~~~~
Mama nampak termenung memandang langit takberbintang dari jendela kamarnya. Mengkhawatirkan putri semata wayangnya yang entah sekarang berada dimana. Di tengah lamunannya, ia tersadar oleh ponsel yang takhenti berbunyi sedari tadi.
[Halo Kak, Raina udah sampe rumah belum? Soalnya hp-nya ngga aktif pas pulang dari sini]
[Raina ke rumah mu?]
[Iya tadi bilangnya mau nginep sini, terus pulang katanya ada tugas sekolah belum beres]
[Nanti biar papanya kesana ya]
Mama menutup panggilan dengan terburu-buru. Segera ia mengabari papa untuk pergi ke rumah tante Weni. Harapannya kembali menyeruak kala mengetahui Raina baik-baik saja.
Sementara itu di kantor polisi Luka dan papa telah selelai membuat laporan orang hilang. Sebelum kembali pulang papa menerima telepon dari mama yang mengabarkan keberadaan Raina.
"Iya iya Papa kesana sekarang," ucap Papa menutup panggilannya.
"Pah kenapa?" tanya Luka.
"Mama bilang tadi tante Weni nelpon katanya Raina abis dari sana, kita kesana sekarang," jawab Papa.
"Pah biar Luka yang bawa mobilnya," ujar Luka menawarkan.
Luka memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap segera bertemu dengan Raina. Ia tidak perduli dengan tubuhnya yang mulai lemas akibat taknafsu makan sedari siang.
~~~~~~~~~~
Pukul 21.00 Raina telah sampai dikediaman omanya. Terlihat sepi tak berpenghuni. Maklumlah oma hanya tinggal bersama pembantu dan perawatnya. Sesekali mama dan tante Weni menjenguk untuk memastikan keadaannya.
Tok ... tok ... tok ...
"Oma ... Oma ...!" ucap Raina sedikit berteriak memanggil.
"Iya sebentar sebentar," Bi Sarti membukakan pintu.
"Oma udah tidur Bi?" tanya Raina yang sedikit menggigil akibat gerimis yang mengguyurnya.
"Owalah Non Raina kenapa malem malem kesini mana basah gini, udah masuk dulu," katanya seraya memeluk Raina.
Kilatan petir sesekali memancarkan cahayanya. Pertanda hujan deras sebentar lagi akan membasahi seluruh tanah disana. Raina berganti baju yang memang sudah ia simpan disana. Bibir pucatnya takhenti bergetar menahan dingin.
"Non ini tehnya diminum ya mumpung masih anget," ujar Bibi menyodorkan segelas teh.
"Ma ... makasih Bi."
Ruang tamu oma selalu remang-remang oleh lampunya. Raina merasakan hangat yang bukan berasal dari sweater dan selimutnya. Hangat khas pelukan oma. Matanya mulai terpejam perlahan. Sebuah kasur busa di depan televisi membuatnya nyenyak merebah disana.
Ddduuaarrr
"Astagah!" Raina terkejut kala suara petir menyambar dengan kencangnya. Ia mengucek matanya memastikan sekelilingnya. Lampu kuning temaram membuat pandangannya terbatas. Bayangan hitam membentuk siluet manusia berdiri tegak di atas kepalanya. Rambut panjang tergerainya menyeruakan bau minyak kelapa.
Disipitkan matanya untuk memperjelas siapa dia.
"HHHHAAAAAAA HANTUUUU!" teriak Raina kala Oma menundukkan wajah.
Suaranya membangunkan bibi dan perawat oma disana. Dengan terkekeh khas lansia, oma takhenti menertawakan Raina.
"Ah Oma ngagetin tau, kalo aku jantungan gimana," ucap Raina kesal.
"Harusnya Oma yang kaget, kenapa kamu malem malem gini kesini? Sendirian ujan-ujanan pula," timpal Oma.
"Emang aku nggak boleh kangen sama Oma," manja Raina memeluk Oma.
"Ini bukan kangen, tapi pasti ada maunya," jawab Oma.
Bi Sarti muncul dari dapur membawakan wedhang jahe beserta kue basah kesukaan Raina. Taklupa mbak Yuni perawat oma ikut berkumpul disana.
"Wah jajan pasar kesukaan aku!" kata Raina antusias.
Raina duduk di lantai bersandar ke kaki oma. Dilahapnya kue basah itu satu persatu.
"Coba sekarang sambil kamu makan kuenya, cerita ke Oma kamu lagi ada masalah apa di rumah?" tanya Oma mengusap rambut Raina.
"Nggak ada Oma, cuman kangen aja pengen main kesini," jawab Raina dengan mulut penuh kue.
"Nggak mungkin Oma nggak percaya. Biasanya kamu kabur kesini kalo lagi berantem sama abangmu kan?" terka Oma. Raina hanya menggelengkan kepala.
"Lagi dimarahin mama?" terkanya kembali. Raina masih menggeleng.
Oma yang semakin penasaran mencoba mengambil piring kue dari Raina. "Cerita dulu baru makan lagi," ucap Oma. Tenggorokannya yang seret memaksa Raina menenggak wedhang jahe hangat didepannya.
"Aaahhh."
Oma, bi Sarti, dan mbak Yuni menatap Raina penuh tanda tanya. Menunggu Raina menceritakan apa yang tengah ia alami sekarang. Hingga memaksanya kemari dimalam dingin seperti ini.
"Nungguin yaaaa," ledek Raina.
Plakk
Sebuah pukulan kecil mendarat di atas kepalanya. Oma yang gemas menjewer telinga Raina.
"Aw aw iya iya ini mau cerita," rengeknya.
"Kalau iseng lagi Oma tinggal tidur nih, biarin kamu di gondol genderuwo sana," ancam Oma.
"Iya iya nggak, ini cerita dimulai."
Raina memulai ceritanya dari awal hingga akhirnya ia datang kemari. Kecurigaan terhadap keluarganya memaksa ia mencari tahu ada apa sebenarnya. Bi Sarti dan mbak Yuni mengangguk-angguk mendengarkan cerita Raina. Begitupun oma yang sesekali menghela napas dalam mendengar cucunya bercerita.
"Jadi gitu Oma, Bi, Mbak," tutup Raina dalam ceritanya.
Lagi-lagi mereka mengangguk bersamaan. Seolah paham akan keadaan yang dialami Raina saat ini.
"Loh kok nggak ada yang komen sih, sedih gitu kek," protes Raina.
"Bibi ikut prihatin Non, tapi sebaiknya Non tanya baik-baik ke ibu bapak biar jelas," ucap Bibi mengomentari.
"Nah iya, dari pada Non tahu dari orang lain mending tanya baik-baik," imbuh Yuni.
"Enggak! Mereka aja ninggalin aku, harusnya mereka cariin aku, tapi sampe sekarang nggak. Malah abang yang diajak pergi," ketus Raina.
Oma menghela napas dalam sebelum mulai berbicara.
~~~~~~~~~~~~~~~~
Tok tok tok
"Tante Tan, buka pintunya!" panggil Luka sedikit berteriak.
"Abang jangan teriak ini udah malem," tegur Papa.
Cekrek
"Masuk dulu," ujarnya mempersilahkan.
Dengan ketegangan yang terpancar dari wajah Luka dan papa, membuat tante Weni khawatir akan Raina. Dijelaskanlah maksud kedatangan Raina hingga ia pergi kembali. Tante Weni tidak mencegahnya karena memang taktahu apa yang tengah terjadi dikeluarga mereka. Kembali lagi Luka dengan kekecewaannya takmenemukan Raina.
"Mas udah coba telpon temen-temennya?" tanya Tante Weni.
"Udah, bahkan udah buat laporan juga ke kantor polisi," jawab Papa.
Luka menundukkan kepala sambil mengusap wajahnya sendiri. Papa yang khawatir pada Luka akhirnya mengajakknya pulang untuk beristirahat.
"Ya udah kalauitu kita pamit ya. Kalau nanti Raina kesini lagi tolong cepat hubungin ke rumah," ujar Papa.
Tante Weni hanya mengangguk dan mengusap bahu Luka. Ia mengantarkan mereka ke depan pintu rumahnya.
Malam itu papa menenangkan Luka dengan kata-kata bijaknya. Mencoba pasrah kepada Tuhan dan terus berusaha. Meski mereka takbisa membayangkan bagaimana sedihnya mama yang menunggu mereka kembali pulang bertiga.
"Raina kamu dimana?" batin Luka berkali-kali menyebut nama Raina.
~~~~~~~~~~~~~
Ddeeeggg
"Hah!" pekik Raina.
"Kenapa?" tanya Oma.
"Deg degan Oma," jawab Raina.
"Ya kalo nggak deg degan bukan orang dong Non," ledek Yuni.
"Oke lanjut Oma ceritanya."
Oma mulai bercerita tentang silsilah keluarganya. Termasuk sejarah hidup anak-anaknya.
"Mery itu anak pertama Oma, seorang wanita tangguh dan pekerja keras. Kalau sudah cinta dia akan menjaganya sampai kapanpun."
"Pantesan papa kesemsem banget sama mama," gumam Raina merebahkan kepalanya di atas pangkuan Oma.
"Mama kamu itu wanita hebat, kalau Raina sering diomelin itu tandanya mama sayang sama Raina," jelasnya. Air mata Raina perlahan menetes teringat kedua orang tuanya.
"Meski begitu kamu harus tahu yang sesungguhnya. Raina udah besar Oma yakin bisa menyikapi masalah dengan bijak ya," ucapnya.
Raina terduduk dan mulai menatap serius ke arah Oma. Ia tak sabar menunggu bagian yang ia cari sedari kemarin.
"Sebenarnya abangmu Luka itu bukanlah anak mama."
Bak disambar petir tubuh Raina melemas takpercaya. Dugaannya selama ini bahwa ia bukanlah anak kandung mama papa ternyata salah. Bahkan kini ia yang sangat merasa bersalah meninggalkan keluarganya.
Oma melanjutkan ceritanya. Persis dengan apa yang diceritakan mama pada Luka. Persahabatan dengan Elena adalah awal mula kisahnya. Raina mencoba menahan tubuhnya agar tetap tegar mendengar tiap kata kalimat dari bibir oma.
Bi Sarti dan mbak Yuni mendekat dan menenangkan Raina yang kini tangisannya telah pecah.
"Eh cucu Oma nggak boleh sedih, semua yang ditakdirkan Tuhan itu pasti ada hikmahnya. Jangan benci sama takdir ya," nasehat Oma.
Tangis Raina membuat pilu siapapun yang mendengarnya. Didekapnya cucu pertamanya itu penuh iba.
Perasaan Raina takmenentu. Ia taktahu bagaimana harus meminta maaf pada orangtuanya. Bagaimana harus menatap Luka dengan status yang berbeda.
"Besok Oma temenin ngomong sama mereka ya, sekarang tidur udah malem," ucap Oma mengusap air mata Raina.
"Raina mau tidur sama Oma," rengeknya.
"Iya yuk, Oma udah ngantuk banget ini," ajaknya.
Entah karena kelelahan atau karena merasakan lega, takbutuh waktu lama bagi Raina untuk terlelap. Oma mencoba menghubungi mama melalui pesan singkat untuk mengabarkan Raina baik-baik saja. Taklupa menyuruh mereka bertiga datang ke rumah esok hari.
"Hhhuuaaa ..." tangis Mama pecah membaca pesan itu.
"Mah Mama jangan sedih gini, Luka janji bakalan nyari Raina, apa perlu Luka keluar lagi sekarang nyari," ucap Luka menenangkan Mama di atas tempat tidurnya.
"Papa juga cari sekarang Ma, tapi berhenti nangisnya ya," ujar Papa panik. Mama hanya menggeleng dan menggenggam tangan Luka dan papa.
"Adek di rumah Oma, barusan WA Mama, kalian apa nggak nyari kesana sih," bentak Mama.
"Hah kita udah kesana kok Ma tadi siang tapi nggak ada," jawab Luka.
"Ya udah kita kesana," Papa melirik ke arah Luka.
"Yuk Pa!" ucap Luka. Seketika tangan mama menahan mereka.
"Oma udah cerita semuanya. Kita semua disuruh kesana nanti pagi. Sekarang semua istirahat ya, biarkan adek disana nenangin diri dulu. Besok kita bareng-bareng kesana," jelas Mama.
"Nanti dia kabur lagi Ma, kayak ke tante Weni," jelas Luka.
"Enggak enggak, oma bisa diandalkan udah. Sekarang semua istirahat, Papa telepon om Aris suruh batalin laporan ke polisi. Abang makan dulu kamu seharian belum makan," suruh Mama.
Tanpa menjawab apapun papa dan Luka kompak memeluk erat mama. Rasa bahagia menyelimuti mereka meski belum bertemu dengan Raina.
~~~~~~~~~~~~~~~~
Ke esokan paginya.
"Ma ... Pa ... cepetan udah siang ini nanti macet!" teriak Luka.
"Ya ampun Abang kebiasaan deh mode tarzannya keluar," Mama keluar kamar dengar setelan rapi plus kaca mata hitam modisnya.
"Mama ini mau jemput anak apa mau ke pantai sih, segala pake kaca mata item kek tukang urut," ledek Papa.
"Ih ini mata Mama kan Sembab gara-gara mewek seharian kemaren, udah jangan protes ayok berangkat.
Luka sangat bersemangat menuju rumah Oma. Taklupa ia menyiapkan strawbery cake kesukaan Raina di jok belankang bersama mama.
Perjalanan panjang yang hampir memakan waktu dua setengah jam membuat Luka gelisah. Ia ingin cepat-cepat memeluk Raina. Meluapkan seluruh rindunya.
Sementara itu Raina masih tertidur pulas di kamar oma. Suara musik keroncong dari radio tape oma takmampu membuatnya bangun seketika.
"Oma, Non Raina nggak di bangunin?" tanya Bi Surti.
"Jangan dibangungin biarin aja dia kecapekan," jawab Oma dari kursi goyangnya.
Tin ... tin ...
Suara klakson mobil terdengar. Luka beserta mama papa telah sampai disana. Ia berlari membawa kue bak anak kecil. Oma tersenyum melihat Luka.
"Oma!" Luka memeluk erat Oma.
"Cucu ganteng Oma, bawain kue buat Oma ini?" Oma melirik ke arah box kue Luka.
"Mm ... Oma kan gulanya tinggi jadi nanti Luka beliin yang kueker aja ya, ini buat Raina," jelas Luka.
"Yah Oma sedih deh," ledek Oma.
"Iya iya sepotong ya," balas Luka.
Mama dan papa menyusul dibelakang Luka. Terpancar seringai senyum diantara mereka. "Perasaan Oma yang udah tua kenapa kamu yang pake kaca mata," ledek Oma.
Luka berjalan menuju kamar mencari keberadaan Raina. Ia takmau mengganggu reuni keluarga diruang tamu oma. Ya, tante Weni pun diundang untuk hadir hari ini. Sedikit merayakan kebahagian keluarga telah ditemukannya Raina.
"Eh Mas Luka, itu Non Raina di kamar oma, masih tidur," ucap Yuni terkekeh.
"Mbak ambilin piring sama pisau ya," pinta Luka.
Langkah Luka bergetar kala memasuki kamar. Terlihat Raina tertidur pulas dengan gaya bebasnya. Suara dengkuran khasnya terdengar bahkan dari pintu kamar. Luka meletakkan kuenya di atas meja. Dihampiri Raina yang takada manis-manisnya saat tertidur. Diusap pelan kepalanya hingga Raina sedikit nyaman.
"Mmmhhhh," Raina perlahan meregangkan ototnya.
Usapan Luka pada rambutnya berubah menjadi temepeleng yang membuat Raina terbangun seketika.
"Aduh! Apaan sih main poles poles aja sini lo berani gue hajar!" teriak Raina. Matanya yang masih terpejam takbisa mengetahui keberadaan Luka dihadapannya.
"Heh melek dulu tu mata," ketus Luka.
Perlahan Raina mengucek matanya. Samar-samar Luka jelas nampak dihadapannya. "Hah Abang ngapain disini!" Raina celingukan.
"Nggak usah sok amnesia deh," Luka menghampiri dan memiting kepala Raina.
"Kalo mau minggat itu share lok dulu ke Abang, hah. Jangan malah kesana kesini kek maen petak umpet hah," Luka berkali-kali mencubiti pipi Raina.
"Aw aw ... sakit ihhh lepasin!" teriak Raina.
Merasa lega akhirnya Luka melepaskan kepala Raina. Dipandanginya gadis itu dengan penuh kesal. Sorot matanya bak ingin mengajak berperang. Perang yang membuat siapapun tidak merasa tersakiti tentunya.
"Gue nggak minggat anjir, cuman maen aja. Lagian kalian juga pergi nggak ngajak-ngajak gue," ucap Raina ketus.
"Berani sekarang ya elu gue, sini ha," Luka kembali memiting Raina.
"Lepasin!" Raina menggigit tangan Luka. Ia berteriak dan lari keluar kamar.
Luka dan Raina bak tom and jery yang tengah bertengkar. Mereka saling kejar-kejaran hingga ke ruang tengah. Raina bersembunyi dibalik kursi mama. Sedangkan Luka dibelakang kursi goyang oma. Mereka saling meledek menumpahkan kegemasan mereka masing-masing.
"Mama tolongin itu masak dia poles-poles Adek, di cubit-cubit gini," Raina mempraktekan kelakuan Luka.
"Boong Luka di gigit Ma sama anak Mama yang ganas itu, pantesan aja jomblo nggak ada yang mau," ucap Luka takkalah meledek.
"Yeeee bawa-bawa status lo, dasar playboy cap botol ABC!" teriak Raina.
Semua orang disana tertawa melihat tingkah laku mereka. Tanpa ada rasa kecewa atau kesedihan seperti sebelumnya. Begitupun dengan oma yang bahagia kedatangan anak cucunya.
Tante Wenipun datang bersama Aldo anaknya. Reuni keluarga beda generasi ini terjadi karena Raina. Gadis periang yang mampu membuat LUKA DALAM DIAM.
~TAMAT~
Terimakasih sudah membaca kisah Luka dalam Diam. Masih ada 2 bab terakhir yang akan terbit cetak loh :) Penasaran sama ending yang sesungguhnya? Apakah Luka akan menemukan kembali keluarganya? Atau tetap bersama Raina? Yang pasti endingnya tidak terduga. Untuk pemesanan boleh DM ke IG author @devidasti ya, jangan sampai Raina dan Luka nggak ada kejelasan, makanya peluk yuk 😊

Komentar Buku (943)

  • avatar
    Ami Kusbini

    campur aduk dong perasaan nya baca ini sambil rebahan di kamar😭😭emg penulisnya gk pernah gagal si bagus banget 😭❤❤

    22/12/2021

      1
  • avatar
    Ahmad Ajjha

    good

    29/06

      0
  • avatar
    Florenth Nuak

    ka season 2 nya gak ada yah aku udah nunggu dari tahun 2021 loh ka😆😭soalnya aku masih ingt sampe kucari dinoveltoon pun gk dpt ..

    08/10/2025

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda