Sejenak Luka dan Raina hanya saling diam menatap langit-langit kamar. Entah mengapa perasaan aneh menyelimuti Raina kala itu. Udara dingin khas kawasan puncak tak terasa lagi seketika. Raina yang gugup dan sedikit berkeringat pun di sadari oleh Luka. "Dek," ucap Luka membuka percakapan. "Hmm," jawab Raina. "Kamu mau tau sesuatu nggak?" tanya Luka yang tiba-tiba memiringkan badannya menghadap Raina. Seketika tubuh Raina sedikit bergetar. Keringatnya tak mampu di sembunyikan dari dahinya. Gugupnya membuat Luka merasa heran dengan sikap Raina. "Ta...tau apa?" tanya Raina. "Abang tuh sayang sama kamu dek," Luka mengusap keringat di dahi Raina. *Deeegggg Jantung Raina seolah berdegub kencang bak akan terlepas dari tempatnya. Ia membayangkan hal yang tidak-tidak akan di lakukan kakaknya itu. "Te..terus?" "Kamu sayang sama abang nggak?" tanya Luka. Luka menatap Raina sangat dekat hingga Raina dapat merasakan hembusan napas Luka saat itu. Tangan Raina sibuk mencengkeram sprei hingga terlihat akan lepas dari kasurnya. Raina tak menjawab pertanyaan Luka, namun ia hanya mengangguk pelan yang berarti ia juga menyayangi Luka. "Kamu mau abang bahagia kan pastinya?" tanya Luka lagi. Raina yang sudah tak keruan pun lagi-lagi hanya mengangguk pelan. "Abang sekarang udah pacaran sama Sei, dan itu salah satu kebahagiaan abang, abang harap kamu juga merasakan kebagagiaan itu dek," jelas Luka. Seketika perasaan aneh yang Raina rasakan berubah menjadi perasaan kecewa yang teramat dalam. Degub kencang jantungnya perlahan memelan seiring kesadarannya akan hubungannya dengan Luka hanyalah saudara kandung. "Dek, kok diem aja? kamu nggak suka sama Sei ya?" tanya Luka. "Enggak, aku juga seneng kalo abang seneng, be happy bang," ucap Raina menatap Luka dengan senyum. "Makasih ya dek," jawab Riko. Raina yang sudah tak merasakan gerah pun bangun dari tempat tidurnya dan mulai menuju kamar mandi. Disana sudah tersedia sebuah bak kolam air panas yang menunggu. "Dek mau berendem sekarang?" tanya Luka yang memperhatikan Raina. "Iya lah, kan tujuan ke sini mau berendem," jawab Raina. Raina yang ingin menepis perasaan kecewanya pun segera melucuti pakaiannys untuk berendam. Terlihat tubuhnya yang sangat menggoda mata lelaki manapun yang menatapnya. Raina hanya mengenakan pakaian dalam yang terlihat seperti bikini dengan warna hitam menggoda. Luka ysng sontak kaget melihat Raina itu seketika memalingkan wajahnya. "Dek kamu yakin berendem pake gitu doang, udah gede kamu tuh jangan kek anak kecil," ujar Luka. "Apa sih, masak mau berendem make jaket kan nggak lucu, udah sini nggak usah ngeres otaknya," ucap Raina. Luka pun gugup dengan pemandangan adiknya yang menggoda itu. Tak terasa perlahan gairah Luka mulai menaik seiring suara Raina yang tengah berendam dengan memainkan airnya. "Bang, yakin nih nggak mau berendem?" goda Raina. "Ntar nunggu kamu beres aja gantian," jawab Luka menyembunyikan kegelisahannya. "Adek lama loh berendemnya, ya udah kalo mau nunggu," ujar Raina. Luka yang merasa tidak tahan akhirnya ikut berendam bersama Raina. Di tanggalkannya baju juga celana dan hanya tersisa celana pendek yang ia kenakan. "Kenapa sih gugup gitu, adek juga nggak akan ngintipin punya abang aelah," ujar Raina tersenyum. "Apaan sih enggak," jawab Luka perlahan memasukan tubuhnya di dalam bathup. Luka merendamkan tubuhnya dengan posisi berhadapan dengan Raina. kaki Raina yang di luruskan membuat Luka terpaksa membuka kakinya supaya ada ruang untuk merendam seluruh kakinya. Raina yang terlihat rilex pun memejamkan matanya seolah menikmati. "Aw aw aw, panas banget sih ni aer masaknya pake gas yang berapa kilo yak," ucap Luka yang kepanasan. "Bang bae bae jadi telor rebus tar," celetuk Raina dengan senyum menggodanya. "Sue, kamu juga awas jadi kacang rebus, hahaha," tawa Luka pecah seketika. Akhinya setelah hampir setengah jam mereka berdua berendam, rasa kantuk Raina pun tak bisa tertahan. Ia pun mulai bangun dan membilas tubuhnya di bawah shower yang berada tepat di sebelah bathup rendam. "Udahan dek?" tanya Luka yang masih berendam. "Dah ah, udah ngantuk banget nggak kuat," jawab Raina yang telah selesai membilas badannya. Raina pun mengganti bajunya untuk segera membaringkan tubuh di atas kasur. Tak lama Luka pun menyusul Raina untuk segera tidur. Namun saat Luka akan menaruh ponselnya di atas meja, ia pun mendapati bahwa mamanya berulang kali menghubunginya. "Loh mama ngapain nelpon, kan tadi udah bales oke," gumam Luka. "Tadi abang wa nya gimana emang?" tanya Raina. "Abang bilang kita nggak pulang, soalnya lagi nginep di sini," jawab Luka. "Hmm siap-siap aja besok pulang kena omel ini," ucap Raina. "Ya udah lah tidur aja," Luka pun tidur di samping Raina yang nampak lelelahan itu. Terlihat dari tidur pulasnya yang tidak menunggu waktu lama. Luka membelai lembut wajah Raina sebelum ia ikut tertidur di sampingnya. Di tengah malam saat Luka dan Raina telah terlelap, tiba-tiba suara ketukan pintu tak berhenti mengganggunya. *Tttookkk tttookk tttookkk "Mmhhh siapa sih, ganggu banget orang lagi tidur," omel Luka yang setengah membuka matanya berjalan menuju pintu. *Cceekkrreeekkk "Hah ma pa, kok ada di sini?" Betapa terkejutnya Luka mendapati mama dan papanya telah berada di hadapannya. "Adek mana bang?" tanya mama. "Tuh lagi tidur pules. "Ini mama mu ngajak honeymoon papa ke sini, abis kamu wa tadi," ujar papa. "Aduh kalian kenapa pesen yang one bed sih, kenapa nggak yang double bed," ucap mama. "Iya udah abis ma kamar yang double bednya," jawab Luka. Mama segera menaruh tas dan membuka jaket tebalnya. "Pa kamu yang di kamar sana aja ya, mama di sini sama adek," ujar mama. "Iya ma, yok nak," ajak papa pada Luka. "Loh katanya mau honeymoon, kok malah pisah tidurnya?" tanya Riko heran. "Emm itu anu, mama capek banget perjalanan tadi jadi pengen tidur nyenyak, papa mu kan tidurnya ngorok jadi mama tidur sama adek ya," jelas mama. "Udah ayok, kamu kan tahan sama ngoroknya papa," papa menarik tangan Luka. Akhirnya malam itu Luka pun tidur di kamar yang berbeda dengan papa. Sedangkan mama tidur dengan Raina. Luka sempat bingung dengan sikap orang tuanya saat itu. Jika benar mereka ingin berlibur untuk menghabiskan waktu bersama, mengapa harus ke tempat sama dengan yang Luka kunjungi. Bahkan menginap pun harus sama. Namun pikiran itu tak di hiraukan Luka lebih jauh. Pagi pun menampakkan sinarnya. Raina yang semalam tidur lebih dulu, kini terbangun dengan tubuh yang segar. "Mmmhhhh enak banget tidurnya hhhuuaahhh," Raina mengucek matanya. "Astaga, mah kok ada di sini?" Raina terkejut mendapati mama yang tertidur di sampingnya. "Semalem mama sama papa nyusulin kalian ke sini, sekalian liburan," ujar mama yang masih memejamkan matanya. "Terus papa sama abang mana?" tanya Raina. "Tidur di kamar lain," jawab mama. "Aduh bingung sama keluarga inih," ucap Raina berjalan menuju kamad mandi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (943)
Ami Kusbini
campur aduk dong perasaan nya baca ini sambil rebahan di kamar😭😭emg penulisnya gk pernah gagal si bagus banget 😭❤❤
22/12/2021
1
Ahmad Ajjha
good
29/06
0
Florenth Nuak
ka season 2 nya gak ada yah aku udah nunggu dari tahun 2021 loh ka😆😭soalnya aku masih ingt sampe kucari dinoveltoon pun gk dpt
..
campur aduk dong perasaan nya baca ini sambil rebahan di kamar😭😭emg penulisnya gk pernah gagal si bagus banget 😭❤❤
22/12/2021
1good
29/06
0ka season 2 nya gak ada yah aku udah nunggu dari tahun 2021 loh ka😆😭soalnya aku masih ingt sampe kucari dinoveltoon pun gk dpt ..
08/10/2025
0Lihat Semua