"Saya benar-benar mohon maaf Bu Lisa jika saya dianggap lancang tapi saya tidak pernah punya keinginan apapun. Kejadian tadi refleks yang saya lakukan karena saya merasa iba dengan apa yang menimpa Bu Lisa saat ini." Prayoga berbicara sambil berdiri menatap ke arah Lisa yang masih terbaring di atas ranjang ruang perawatan rumah sakit. "Saya tidak perlu mendapatkan rasa iba dari siapapun, Pak Prayoga. Saya sudah terbiasa mengalami ini semua. Jika Bapak memang serius ingin menolong saya, tolong jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itu membuat nilai Bapak menjadi berkurang di mata saya." Prayoga menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. Dia tahu bahwa apa yang dia lakukan bisa saja menjadi salah di mata Lisa karena mungkin Lisa menganggap dirinya telah berbuat kurang ajar. "Baiklah Ibu Lisa. Kalau memang begitu saya permisi dulu. Saya akan meminta karyawan-karyawan Ibu untuk datang menggantikan saya menjaga Bu Lisa." "Tidak perlu Pak Prayoga! Saya akan menghubungi putra saya. Saya memiliki anak-anak dan mereka pasti akan bisa menjaga saya. Dan saya berterima kasih karena Pak Prayoga sudah menolong saya sampai di titik ini dan saya mohon jangan melakukan apapun lagi, biarkan saya melakukan apa yang saya inginkan sendiri." Dengan sangat tegas Lisa mengucapkan kalimat itu. Dalam rasa malu yang masih terus saja muncul bersimpul-simpul, Prayoga akhirnya memilih pergi meninggalkan Lisa bahkan tanpa mengucapkan kata permisi sama sekali. Dia melangkahkan kakinya meninggalkan ruang perawatan Unit Gawat Darurat sementara Lisa masih terbaring di sana dan belum dipindahkan. Di depan ruangan itu, Prayoga bertemu dengan Pak Amir dan beberapa karyawan yang rupanya menyusul saat tahu bahwa majikan mereka harus dirawat inap di rumah sakit. "Pak Prayoga, bagaimana keadaan Bu Lisa?" Pak Amir lebih dahulu mendekati Prayoga daripada karyawan-karyawan yang lain karena Pak Amir memang lebih mengenal Prayoga dibanding mereka. "Ibu Lisa sudah dirawat Pak hanya menunggu kondisinya membaik kemudian bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi dulu. Tolong Pak Amir jaga dengan baik, jika memang Bu Lisa memiliki anak atau saudara atau siapapun yang bisa menjaga, minta tolong untuk segera dihubungi ya, Pak!" Prayoga berbicara sambil menyembunyikan wajahnya dari Pak Amir. Melihat itu Pak Amir tahu bahwa pasti sedang terjadi sesuatu yang tidak nyaman bagi Prayoga. "Mohon maaf, Pak Prayoga. Sebenarnya ada apa?" Pak Amir yang bijak tiba-tiba saja bertanya sambil berbisik. "Bu Lisa tidak mau saya yang menjaga beliau. Mungkin karena dia merasa tidak nyaman karena dia menganggap bahwa dirinya adalah perempuan bersuami tidak layak dijaga oleh seorang laki-laki lain selain suaminya." Kalimat bernada putus asa itu dikeluarkan begitu saja oleh Prayoga membuat Pak Amir dan juga karyawan yang lain terpana. "Saat istri sakit memang layaknya yang menjaga itu suami sendiri. Tapi kalau suaminya sedang main gila dengan perempuan lain, lalu harus berharap kepada siapa?" Tiba-tiba seorang perempuan mengeluarkan kalimat tersebut membuat Prayoga semakin menunduk. "Hush! Kamu itu bicara apa? Jangan ikut campur dalam urusan majikan! Kita ini hanya karyawan." "Habisnya, aku sebel dengan tingkah majikan kita. Dia itu perempuan cantik, pintar, punya keahlian, punya banyak uang, mau-maunya dimanfaatkan oleh laki-laki seperti suaminya yang tidak bertanggung jawab itu. Sudah ditinggal menikah lagi, tidak dinafkahi, anak-anaknya dibiarkan terlantar. Dirinya harus mencari uang sendiri, masih juga membela dan mencintai." "Mungkin dia merasa kasihan terhadap suaminya. Bukankah perempuan memang mudah sekali merasa kasihan?" "Itu bukan karena dia merasa kasihan tapi karena dia memang perempuan bodoh. Harusnya dia menggunakan pikiran, cerdasnya itu untuk berpikir. Bukankah hidup ini pilihan? Mau sampai kapan dia menderita seperti ini?" Karyawan-karyawan itu masih juga saling melempar kata. Sementara Pak Amir dan Prayoga saling berpandangan lalu kemudian Prayoga meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun. Pak Amir yang berdiri di sana merasa terbengong-bengong melihat aksi Prayoga. Pada kenyataannya Prayoga memang laki-laki tampan dan punya banyak uang, dia juga tidak memiliki istri, tidak memiliki kekasih. Itu sebabnya ketika Prayoga bertemu dengan Pak Amir dan bercerita, Pak Amir lantas ingin memperkenalkan Prayoga dengan majikannya yang bernama Lisa karena Pak Amir sudah lama bekerja di tempat Lisa sebagai tukang kebun yang merawat tanaman-tanaman Lisa juga membersihkan taman yang ada di depan rumah Lisa dan juga yang ada di depan paviliun rumah tersebut. Pak Amir sama sekali tidak ingin memisahkan Lisa dengan suaminya tetapi melihat kondisi rumah tangga Lisa dengan lancangnya Pak Amir berusaha untuk memperkenalkan Lisa dengan Prayoga. Dia sama sekali tidak memikirkan hal-hal buruk tentang perkenalan itu, dia hanya ingin Lisa memiliki sahabat, jika toh nanti ada jodoh antara Lisa dengan Prayoga itu urusan takdir Tuhan. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh Pak Amir ketika pertama kali Pak Amir memperkenalkan Prayoga pada Lisa sebagai pembeli produk-produk makanan yang diproduksi olehnya. Lalu jika sekarang ternyata Lisa merasa keberatan dengan kehadiran Prayoga hanya karena dirinya menganggap bahwa Prayoga terlalu bersikap berlebihan padanya yang masih bersuami, Pak Amir sama sekali tidak tahu tentang hal itu. "Pak Amir tidak usah terlalu dalam dipikirkan, yang penting Pak Amir tidak punya niat buruk terhadap Bu Lisa." Suara itu muncul begitu saja membuat Pak Amir sontak menganggukkan kepalanya. "Iya Pak, andai saja saya ini bukan karyawan, saya pasti akan menasehati Bu Lisa agar dia menjadi perempuan pintar dan tidak menjadi perempuan bodoh lagi." "Menyedihkan sekali melihat kenyataan bahwa masih ada perempuan yang bersikap seperti Ibu Lisa itu. Harusnya dia tahu bagaimana menempatkan diri dan menghargai dirinya sendiri. Untuk apa berharap pada laki-laki yang tidak mencintai kita sementara ada laki-laki yang mencintai kita kita biarkan saja hilang begitu saja." "Oalahhhh! Mumet!" "Sudah, sudah, kita jangan sibuk memperbincangkan tentang Bu Lisa. Bagaimanapun juga, kita adalah karyawannya. Yang terpenting sekarang, satu persatu dari kita masuk ke ruang Unit Gawat Darurat itu untuk menjenguk beliau. Tentang hal yang lain-lain, biarkan itu menjadi urusan pribadi Bu Lisa saja, kita tidak perlu ikut campur."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
09/05
0sangat bagus
16/04/2025
0bagus banget ceritanya
18/03/2025
0Lihat Semua