logo text

Bab 17 Nasib Ibu Tiri

“Lalu?”
Suci ragu mengatakannya. “Dia seperti ingin merebut Agha dariku.”
***
Suci menggenggam tangan Agha sambil memandangi wajahnya dengan sendu. Wajah Agha masih sangat pucat dan tidak menunjukkan tanda-tanda jika dia akan siuman.
Berapa lama semua ini akan terus berlangsung? Rasanya Suci tidak sanggup menahan kesedihannya melihat Agha menderita, tapi tak bisa bersuara.
Suci ragu, apakah Agha mendengar setiap bisikan lembut yang dia bisikan di telinga Agha supaya tetap terus bertahan baginya.
Bahkan sudah beberapa hari Suci tak tidur. Ia sengaja terus begadang karena takut dia tidak terbangun ketika Agha memanggilnya sambil berteriak kesakitan.
Suci terisak-isak pelan. “Kapan kamu akan bangun, Nak? Ibu sangat merindukanmu. Apakah kamu nggak kangen sama ibu?”
Jemari Agha di genggaman Suci bergerak lembut. Alhasil, wanita itu terkejut. “Sayang! Ya ampun, kamu sudah sadar! Ini Ibu, Sayang ….” Suci tersenyum semringah sambil membelai rambut Agha.
Perlahan-lahan kelopak mata Agha terbuka. Agha menatap lampu di atasnya bingung. Cahaya putih yang menyoroti ke arah wajahnya sangat menyilaukan.
“Ibu …,” lirihnya dengan suara serak.
Suci menangis penuh haru. Dia sangat bahagia. Akhirnya dia bisa mendengar lagi suara sang putra. “Iya, Nak. Ibu di sini, Sayang,” jawabnya tersenyum bahagia.
Agha berusaha mengerakkan kepala untuk memandang ke sekeliling. “I-ini di mana, Bu? Kenapa aku bisa ada di sini? Kamar ini bukan seperti kamar aku?” tanya Agha. Wajah bocah itu terlihat masih lesu dan tatapannya sayu.
“Kamu berada di rumah sakit, Sayang. Tapi semuanya sudah baik-baik saja.” Suci tersenyum manis. Dia sengaja tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya supaya jangan membebani pikiran Agha. Apalagi dia baru sadar dan belum sepenuhnya pulih
Suci berharap Agha tidak mengingat kecelakaan naas itu.
“Rumah sakit?” Wajah tampan itu terlihat sedikit terkejut. “Memangnya aku sakit apa?”
“Sudah, ya, Sayang. Kita jangan membahas soal itu dulu, apalagi kamu baru bangun. Oh, ya. Kamu pasti lapar, kan? Sekarang kamu mau apa? Makan atau minum?”
“Aku lapar, Bu.”
“Kamu mau makan apa?”
“Makanan yang hangat, apa saja, tapi jangan makanan yang hambar.”
“Baiklah, Ibu akan carikan ...”
“Ja-jangan, Bu.” Agha mengeratkan genggamannya saat Suci hendak berdiri. “Ibu nggak boleh pergi ke mana pun. Aku takut, kalau aku diculik, bagaimana?”
Suci tertawa kecil, matanya jelas berkaca-kaca. Dia sangat bahagia karena bisa kembali melihat kepolosan Agha. “Tidak ada penculik di sini, Sayang. Adanya Ibu.”
“Aku takut, Bu ….” Agha mulai merengek pelan.
“Baiklah, baiklah.” Suci berusaha menahan tawa. “Ibu akan tetap di sini untuk menemani kamu. Ibu akan minta suster untuk mencarikan makanan, tunggu sebentar, ya.”
Suci menelepon pihak rumah sakit. Tak lama kemudian, seorang suster masuk ke kamar inap.
“Permisi, Bu. Ada apa memanggil saya?” Suster itu tersenyum ramah, sopan sekali. “Wah, ternyata adik tampan sudah bangun, ya.”
Agha hanya tersenyum kecil. Rasanya dia tidak memiliki tenaga hanya sekadar berbicara panjang lebar.
“Saya bisa minta tolong bawakan makanan yang hangat untuk anak saya, Sus?” tanya Suci.
“Tentu saja, Bu,” jawab suster itu.
“Tolong, ya, Sus. Terima kasih.”
“Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu ….”
Suster itu pergi, meninggalkan keduanya.
“Oh ya, Bu. Tante Zulfa di mana? Dia pasti menungguku juga, kan?” Agha sangat merindukan gurunya yang baik itu.
Senyum Suci seketika sirna, tatapan lembutnya berubah menyorotkan kebencian. “Tante Zulfa nggak ada, Nak.”
“Kok nggak ada, Bu? Apa Tante Zulfa nggak khawatir padaku, ya? atau berniat untuk datang menjengukku?” tebak Agha kecewa.
Suci sedikit jengkel. Kenapa Agha malah menanyai dia, bukan Ayahnya?
“Tante Zulfa itu nggak peduli sama sekali dengan kondisimu, Sayang. Jadi berhentilah menanyakan dia, oke?”
“Dia sangat peduli denganku, Bu. Kenapa Ibu tiba-tiba menyuruhku untuk tidak menanyakan tante Zulfa lagi?”
“Kamu tidak perlu tahu, Nak. Ini semua demi kebaikan kamu. Ibu minta, mulai detik ini, kamu harus menjauhi tante Zulfa, ya?” Suci tersenyum penuh harap.
Wajah Agha berubah ketus. Ia menatap Suci jengkel dan kesal. Kenapa Ibunya ingin memisahkan dia dari Tante Zulfa yang baik? Tante Zulfa tidak pernah menyakiti atau melukainya.
Agha langsung berbalik badan dan memunggungi ibunya.
Suci terenyak cukup lama, sedikit kaget dengan perubahan sikap Agha. “Nak, kamu kenapa malah membelakangi Ibu? Apa kamu marah?” Suci membelai rambut Agha. Hatinya remuk, bahkan sekarang Agha sampai memusuhinya karena memintanya menjauhi Zulfa.
Sebenarnya ada apa dengan mereka? Kenapa kini Agha sangat bergantung pada Zulfa?
Agha tetap diam membisu.
“Dia bukan guru yang baik, Sayang. Dia bisa membawa pengaruh buruk bagimu,” jelas Suci lembut. “Ibu tidak ingin kamu berubah menjadi anak yang nakal. Kamu kemarin lihat, kan? Tante Zulfa sampai berani memukul teman-teman kamu. Bagaimana kalau nanti dia memukul kamu juga?”
Suci mencoba menjelaskannya, berharap Agha akan mengerti dan berhenti merajuk.
“Aku minta Ibu jangan menyuruhku untuk menjauh dari tante Zulfa.” Suara Agha terdengar dingin dan datar.
Suci terdiam tak percaya. Bagaimana bisa kata-kata itu ke luar dari mulut Agha sendiri? Kenapa Agha tak pernah mendengarkan ucapannya lagi?
“Kenapa kamu nggak mau, Sayang?” Suci berusaha menahan tangis. Dia sangat kecewa. Anak yang sembilan tahun dia besarkan dengan susah payah, kini berani menentangnya. “Kenapa kamu sangat menyayangi guru kamu itu?”
“Tante Zulfa baik. Dia selalu mengajakku jalan-jalan.”
“Jadi Ibu tidak baik?”
“Tentu saja Ibu sangat baik, seperti bidadari.”
“Lalu kenapa kamu tidak mau menuruti Ibu?”
“Karena aku nggak mau kehilangan guru sebaik tante Zulfa, Bu. Tante Zulfa sudah membuatku menjadi murid berprestasi di kelas. Bahkan Tante Zulfa yang sudah membelaku saat aku di-bully oleh teman-temanku.”
Pujian Agha sangat menoreh luka di hati Suci. Apakah sebaik itu Zulfa di mata Agha? Apakah dia kurang menyayangi anaknya sebagai seorang ibu?
Suci menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya dan seketika air matanya tertumpah. Ia meremas-remas ujung baju sambil menangis pedih tanpa suara.
Kenapa? Kenapa aku hanya ditakdirkan sebagai ibu tiri Agha? Di mana anak yang sudah kulahirkan? Apa mungkin tertukar di rumah sakit?
Suci membenci dirinya sendiri. Dia gagal dan tak becus menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri. Bahkan dia tidak tahu di mana keberadaan anak yang ia lahirkan serta tak bisa membahagiakan Agha.
“Ibu …? Ibu kenapa menangis?” Agha menyesal telah membuat wanita paling berjasa dalam hidupnya itu bersedih.
Suci segera menghapus air mata. “Ibu … ibu nggak apa-apa, Nak,” dia berusaha tersenyum manis, menyembunyikan kekecewaannya.
“Apa Ibu menangis gara-gara aku?”
“Ibu sama sekali nggak marah padamu.”
***
Tbc

Komentar Buku (91)

  • avatar
    PNal dzkir

    seru banget anjayy pokoknya ada sedih nya ada ketawa nya

    24/12

      0
  • avatar
    Salwa 0721salwa

    keren

    03/10

      0
  • avatar
    dethanyana

    novelnya bagus banget😀🙏

    14/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru