Ciara, Tama dan Devan saling pandang, sama-sama Mengerutkan kening melihat satu mahluk manis yang hanya duduk menopang dagu sembari tersenyum. Bibir tebalnya terus mengembang semenjak datang dan duduk di kursi. Entah jin apa yang sedang merasuki dia. Ciara menyenggol lengan Tama, “Tuh, anak. Kenapa, sih?” Tama hanya menganggkat bahu, “Kesambet mungkin.” Rayyan tidak mengubris bisikan sahabatnya, masih asyik berkelana dalam hayal indah. Kejadian di kafe malam kemarin masih terasa membekas. Entah mengapa Aida menjadi mahluk paling manis yang terus bergelayut dalam memori. “Eh, Aldo ke mana?” tanya Ciara bergantian menatap Devan dan Tama, “tuh anak dari kemarin susah amat dihubungi. Ada yang tau?” Rayyan menyudahi lamunannya, membuang napas lega tersenyum semringah. Melentangkan kedua tangan menumpunya pada atas kursi, “Paling juga lagi ngurusin pacar-pacarnya.” “Pacar yang mana? Diandra itu?” tanya Ciara mengejek. Rayyan mengangguk, “Mereka 'kan lagi deket.” “Kasian Diandra. Salah makan apa coba, sampe kepincut sama cowok modelan kayak Aldo,” Ciara berujar pelan, menggeleng-gelengkan kepala prihatin. “Tuh, dia orangnya.” Devan berkata datar, membuat ketiga sahabatnya kompak melihat ke arah pintu kelas. Benar saja, Aldo masuk menenteng tas pada satu bahu dengan wajah tanpa aura, suram. Menghiraukan keempat sahabatnya. Melempar tas ke meja lalu menjatuhkan bokong hingga membuat bunyi ngilu dari perpaduan antara kaki kursi dan lantai, Tama melirik Devan dengan segudang tanya. Ciara memicingkan mata, menatap lurus wajah lusuh lelaki tampan yang hanya menekuk. Tidak ada sapaan seperti biasa mereka bertemu, Aldo menyandarkan punggung membiarkan kepala mendongak, memejamkan mata. Terdengar deruan napas berat menjadi jawaban untuk mereka. Rayyan yang duduk di sampingnya menyenggol lengan. Namun, Aldo tetap bergeming. Hanya berdehem kecil tanpa sedikit pun membuat pergerakan. “Kenapa lagi, nih anak satu.” Tama berkomentar, Devan setuju. Ciara bangkit, mendekati Aldo sedikit berjongkok. Ketiga sahabat lainnya hanya menatap tidak ingin tahu, sudah mengerti jika gadis itu akan melakukan hal konyol. Benar saja, Ciara terkekeh saat berhasil mencoret wajah Aldo dengan palpoin. Sigap si lelaki membuka mata, tersentak. Menatap garang Ciara dan segera menghapus noda pada kulit bersihnya, “Apaan, sih, Cia?!” Ciara memasang wajah tanpa dosa dengan acungan dua jari, “Ya, lagian kenapa, sih. Lo? Pagi-pagi udah murung. Putus cinta?” “Nggak usah sok tahu,” balasnya kesal. Ciara menjulurkan lidah kembali duduk, “Gue bukan sok tau, tapi pengen tau.” “Iya.” Rayyan menimpali setuju, “lo ada masalah apa? Cerita aja kali.” Aldo mengangkat bahu, kembali menyandarkan punggung mendongak menatap langit-langit kelas, “Suntuk. Gue butuh hiburan.“ “Setuju.” Kali ini Devan ikut antusias. Setelah perkelahian dengan Reno malam kemarin, dia pun merasa membutuhkan waktu sempurna untuk memanjakan diri. Ide Aldo sepertinya hal tepat, “Lo setuju 'kan, Tam?” “Gue ngikut aja.” “Oke. Keputusan finalnya berarti kita pergi liburan, biar gue cari agenda bulan ini.” Ciara meraih gawai pada saku, tangan lincahnya menari di atas layar mencari sesuatu. Membuka kalender lalu memekik girang, “Minggu depan ada tanggal merah dua hari. Gimana kalau kita pake waktu yang itu.” Rayyang mengangguk-anggukan kepala, “Terus, kita mau liburan ke mana?” Mereka kembali diam. Masing-masing mencari lokasi paling tepat, libur dua hari tentu tidak cukup jika pergi ke tempat jauh, menghabiskan waktu di jalan rasanya tidak mampu menghilangkan penat. Justru menambah mumet. “Pantai.” Ciara memekik girang, “gue rasa itu tempat paling asik. Nggak ngabisin waktu juga.” Keempat sahabatnya saling tatap, lalu kemudian mengangguk. Tama kemudian berujar, “Gimana kalau kita nginap satu hari. Gue tau di mana tempat yang cocok buat ngilangin penat.” “Setuju.” Devan mengangkat suara semangat. “Gue juga,” timpal Aldo, walau wajahnya masih tertekuk. Rayyan pun sama seperti mereka. “Oke. Finalnya kita ke pantai sesuai arahan Tama, minggu depan gue yang jemput jam tujuh pagi.” Devan membuat keputusan, “Cukup bawa satu mobil saja. Kalian cuma perlu siapin perlengkapan.” Kompak mereka mengangguk setuju. Sepertinya hati kelima sahabat itu memang sedang membutuhkan liburan, melepas penat dari kungkungan kegundahan. “Mmm ... gue, boleh ajak seseorang, nggak?” tanya Rayyan malu-malu. Dia menatap wajah sahabatnya dengan penuh harapan. “Tentu, ini bebas, kok.” Rayyan memekik girang, dia bahkan sudah meloncat-loncat ke depan mengundang gelak tawa seisi kelas. Ciara mengangkat buku menutup wajah, mendengus menyembunyikan rasa malu karena memiliki sahabat konyol seperti Rayyan. *** “Bisa 'kan, Ai?” Rayyan memohon. Setelah pulang sekolah, dia sengaja terlebih dulu ke kafe, maksud hati ingin menemui Aida dan mengajaknya pergi bersama minggu depan nanti. Aida memasang mimik gusar. Selain karena permintaan Rayyan juga keras kepalanya yang terus saja menganggu, padahal dia sudah menegaskan jika mereka tidak perlu saling bertukar sapa apalagi sampai berduaan. Semua demi kebaikan kedua belah pihak. Gadis berambut ikal itu menggeleng pelan, “Maaf, tapi saya nggak bisa ikut. Lagi pula saya harus kerja.” “Ayolah, Ai. Lo nggak perlu mikirin soal kerja, biar gue yang bilang ke manager bila perlu ke bokap.” Aida membulatkan mata, dia kembali menggeleng. Kali ini lebih cepat, “Jangan. Tolong jangan memaksa, saya nggak bisa ikut.” Rayyan membuang napas pasrah. Cukup sulit membujuk dan mendapatkan simpati gadis baik seperti Aida, dia menyimpan harapan penuh atas persetujuan sang gadis. Namun, semua berbuah hampa dan hanya sia-sia. “Jadi, lo beneran nggak bisa ikut, Ai?” tanya Rayyan pelan. “Maaf,” jawab Aida, “saya harus kembali kerja, permisi.” Rayyan membiarkan gadis itu berlalu, menatap punggung Aida. Mendesah gamblang. Harapannya pupus seiring derap langkah yang menjauh, dia mengacak-acak rambut frustrasi. Mempertanyakan apa yang kurang dalam diri hingga Aida tidak bisa meliriknya walau sesaat. Dia melangkah gontai ke arah kursi pojok tempat biasa berkumpul. Mengempaskan diri hingga bokong mendarat sempurna dengan keadaan kaki terselonjor, bayang wajah Aida dan penolakannya masih begitu menyiksa. Baru kali ini dia merasa sakit karena penolakan. Tangan Rayyan terangkat menyentuh dada, “Aneh, rasanya kok sakit, ya. Apa gue suka sama Aida?” Rayyan membulatkan mata. Sigap duduk dalam keadaan tegap, meraih jus avokad yang tersedia lalu meneguknya tanpa sisa. Sekelebat bayangan gadis itu melintas, Rayyan mengucek mata lebih memastikan. Mungkin saja hanya berhalusinasi. Namun, semakin dia menajamkan mata semakin bayangan itu nyata. Aida tersenyum padanya dengan langkah mendekat, tentu saja Rayyan membalas hal serupa, “A–Aida?” Kini, gadis itu benar-benar berdiri di hadapannya. Rayyan menelan ludah saat tubuh indah itu sedikit berjongkok menyeimbangi posisi dengan dirinya yang duduk, tangan sang gadis terangkat menyentuh pipi Rayyan lalu teralih pada bibir dan .... “Biasa aja tuh, bibir.” Ciara memukul pelan bibir Rayyan yang sedikit maju. Tawa Devan, Tama dan Aldo terdengar membuyarkan lamunan. Rayyan celingukan mencari Aida, tetapi menghilang. Berubah menjadi Ciara yang masih berjongkok di depannya. Rayyan menjauhkan wajah lalu kembali menyandarkan punggung. Kikuk juga malu karena sudah membayangkan Aida, dia juga kesal karena tawa keempat sahabatnya masih terdengar. Terlebih Ciara. Ah, gadis itu selalu saja membuat mood-nya hancur. “Nggak lucu,” lirihnya, “Lo juga, Ci. Apaan kali.” Ciara terkekeh lalu duduk di sampingnya, “Lagian lo, kita panggil-panggil nggak denger.” “Pantes aja lo ngibrit pulang duluan, ternyata cuma mau ngayal doang.” Tama berujar di sela tawa. Tentu saja langsung mendapat pelototan si empunya. “Hayo, ngayal apa, lo, Ray. Masih siang bolong juga,” timpal Devan yang juga masih tertawa. “Dasar, jomlo akut.” Aldo membalas ejekan sahabatnya. Rayyan berdecak, dia juga mengutuk diri yang bisa-bisanya membayangkan Aida, “Lo semua ngapain ke sini, sih?!” “Lha, emang nggak boleh?” “Tau, ah.” Rayyan membalas kesal. Menghiraukan ejekan sahabatnya, panas telinga mendengar tawa empat mahluk menyebalkan seperti mereka. Itu menurutnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss
16/05/2025
0sangat bagus
12/05/2025
0bagus bngt lah
07/05/2025
0Lihat Semua