Marion menangis sejadinya mendengar perkataan Mark yang sebenarnya sama sekali belum ia pahami. Mengapa pria itu mengatakan kalau dirinya adalah ayah kandung Marion? Mengapa Jayme bukan ayahnya sementara selama ini Jayme-lah yang ia kenal sebagai pria yang selalu ada dan menyayangi juga melindungi dirinya. Bahkan ia bisa merasakan betapa Jayme menyayanginya. Kini ketika Mark mengatakan hal semacam itu, secara tak sadar ia telah menghancurkan perasaan gadis kecil itu. Mark bukan bermaksud membuat Marion bersedih, karena ia sendiri sudah cukup pening menghadapi urusan persidangan yang juga tak pernah diinginkannya. Satu hal yang ia mau adalah bisa berkumpul kembali bersama Zanara. Namun, karena wanita itu begitu keras kepala dan terlanjur membencinya, mark terpaksa melakukan ini semua. Dan ternyata taktiknya membawa Marion bukanlah ide yang bagus. Gadis kecil itu justru begitu merepotkannya. Mark menyukai anak-anak, tetapi ia akan kebingungan setiap kali seorang anak menangis, karena entah mengapa mereka pasti akan selalu mencari ibu, bukan ayah. Dan kini ia merasakan sendiri bagaimana repotnya berurusan dengan anak kecil yang menangis. “Aku mau mama ...,” tangis Marion, masih dengan permintaan yang sama. Tidak mungkin bagi mark untuk membawa Zanara datang atau membiarkan Zanara mengambil kembali Marion. Namun, Mark sungguh harus mengurus gadis kecil ini, karena dalam waktu beberapa hari ia akan membawa Marion pulang kembali ke Evermont untuk selamanya. Mark berjongkok kembali, kemudian menatap bola mata berwarna hazel yang mengingatkan Mark akan mantan istrinya yang kini sudah dimiliki oleh pria lain itu. Mark mengusap kepala Marion, berharap gadis kecil itu akan tenang dan berhenti menangis. Namun, semua sia-sia. “Marion, ayah tidak bisa menjanjikanmu bertemu mamamu, tetapi ayah bisa janjikan bahwa kau akan baik-baiik saja dan berbahagia selama hidup bersama ayah.” Marion masih tersedu. Sesekali ia menggeleng, tanda bahwa ia tak ingin mendengar bujuk rayu dalam bentuk apa pun. Yang ia inginkan hanya Zanara dan Jayme. Mark akhirnya hanya bisa mendesah. Ia tak mungkin membiarkan gadis itu menangis terus-terusan. Mark akhirnya menggendongnya, kemudian membawa Marion ke dalam kamarnya. Ia menyodorkan pada gadis itu segala mainan yang telah ia siapkan, demi bisa menghibur dan membujuk agar gadis kecil itu tenang. Ternyaat memang sulit. Marion sama keras kepalanya dengan Zanara. “Sudahlah ... aku benar-benar tidak tahu bagaimana membuatmu tenang. Kau boleh memainkan mainan apa pun, aku sudah siapkan untukmu. Salah satu asisten rumah tangga juga akan menjagamu, aku pergi dulu.” Mark keluar dari kamar Marion, kemudian bergegas menuju ke mobilnya. John yang sejak tadi berjaga di luar, mengejar langkah Mark. “Tuan, apakah Anda membutuhkan sopir?” tanya pria itu. Mark menggeleng. “Tidak, John. Aku akan mengemudi sendiri sekadar berjalan-jalan berkeliling. Tolong kau jaga Marion, jangan sampai ia melarikan diri seperti yang dilakukan ibunya beberapa tahun lalu.” John mengangguk patuh, kemudian kembali ke tempatnya semula setelah Mark terlihat menjauh. Mark memang benar-benar hanya berkeliling. Menghadapi Marion beberapa jam saja seolah sudah menguras energinya adan merusak suasana hatinya. Bagaimana mungkin ia bisa begitu sabar menghadapi Zanara yang keras kepala, tetapi ketika harus menghadapi putrinya sendiri, ia malah kewalahan? Mark mengemudikan mobilnya perlahan. Ia sama sekali tidak berniat menemui Zanara. Ia tak ingin wanita itu mengira kalau dirinya sudah menyerah menghadapi Marion. Namun dalam batinnya tergelitik untuk mampir atau Cuma sekadar memberi sesuatu bagi wanita itu sebagai tanda kasih darinya. Haruskah? Untuk apa? Ia melakukan semua itu pun tak akan membuat Zanara kembali padanya. Malah bisa jadi ia akan babak belur dihajar oleh suami wanita itu. Mark akhirnya memutar haluan dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia tak ingin meninggalkan Marion terlalu lama. Ia tentu saja masih trauma dengan kepergian Zanara, dan dalam pikirannya, Marion bisa saja melakukan hal yang sama. Gadis itu sangat cerdas, ia tak ragukan itu. Mark melangkah dan membuka pintu kamar Marion dengan sangat perlahan dan hati-hati. Ia menemukan gadis kecil itu tertidur di lantai dengan mata yang sembab. Marion menangis sampai tertidur. Ada rasa iba yang menggelayuti hati Mark. Haruskah seperti ini? Menjadikan anak sebagai korban atas keegoisan orang tuanya? Tidak ... bukan dirinya yang egois, melainkan Zanara. Andai saja wanita itu setuju untuk kembali padanya, mungkin Mark tak akan melakukan tindakan seperti yang sekarang ia lakukan. Mark menggendong tubuh mungil itu dan membaringkannya di atas ranjang. Membungkus tubuh gadis itu dengan selimut dan memandangi wajah polos yang tengah terpejam itu. Gadis kecil itu adalah bentuk cinta antara dirinya dan Zanara, dulu. Ia dan wanita itu bahkan baru saja menjalani manisnya pernikahan. Belum genap satu tahun, dan masalah sudah datang silih berganti. Semua itu memang kesalahannya. Tak perlu dipertanyakan mengapa Zanara akhirnya pergi meninggalkannya. Wanita baik hati yang setia itu masih juga ia sakiti. Kini ia hanya bisa menyesali dan meratapi kemalangan kisah cintanya. Mark membelai kepala gadis kecil yang merupakan darah dagingnya itu. Memandangi wajah yang cantik dan lucu yang mungkin sangat menyenangkan hingga Jayme yang bukan siapa-siapa pun begitu menyayangi dan menyukai gadis kecil itu. “Mama ... aku mau mama ... mau papa ...,” igau Marion, yang membuat Mark hanya bisa mendesah. Jika Marion sudah ada di pelukannya, haruskah ia menikah lagi agar ada yang mengurus gadis kecil itu? Namun, bagaimana jika nanti Bernadette tahu dan menuntut, karena ia dan wanita itu sudah menyetujui perjanjian. Dengan bodoh dirinya menanda tangani surat-surat itu. Jika ia menikah lagi, bagaimana jika wanita yang dinikahinya tak bisa menyayangi Marion dengan baik? Mark kemudian beranjak dari tempatnya. Memandangi Marion lebih lama justru akan menyakitinya. Bagaimana pun ia adalah seorang ayah, mana mungkin bisa melihat kesedihan putrinya? Ia sudah terlalu banyak melakukan kesalahan selama ini, maka ia pikir, dengan membawa Marion untuk tinggal bersamanya akan menjadi kesempatan baginya memperbaiki segala kesalahan itu. Mark kemudian mengambil ponselnya, menekan sebari nomor yang baru saja ia dapatkan tetapi seolah telah ia hafalkan di luar kepala. Tak berapa lama, seseorang menjawab panggilannya di seberang. “Aku tak akan lama, hanya ingin mengatakan, dalam beberapa hari, entah besok atau lusa, aku akan kembali ke Evermont. Aku ingin bertemu dan membicarakan beberapa hal mengenai Marion, apakah kau bisa?” Wanita di seberang mendesah, kesal. “Kau sudah dapatkan yang kau inginkan, sekarang apa lagi? Kau dengarkan kata-kataku, Mark, aku akan mengambil Marion kembali bagaimana pun caranya!” tegas Zanara. Mark mendengkus, meredam nyeri yang menyayat kala mendengar bagaimana nada bicara Zanara padanya saat ini. Ia masih ingat betapa lembut wanita itu terhadapnya, terhadap semua orang. Kini Zanara telah menjadi pribadi yang berbeda. Dan itu semua mungkin karenanya. “Aku tak akan lama. Jika kau tidak percaya, aku akan datang ke rumahmu. Suamimu boleh menemanimu. Kumohon. Anggap saja ini merupakan salam perpisahan dariku. Aku tak akan mengganggu hidupmu lagi,” pintanya lagi. “Ya, kau tidak akan mengganggu kehidupanku, tapi akan kupastikan kau tak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak selama kau tidak mengembalikan Marion pada kami.” “Terserah, kau boleh mengancam dan melakukan apa saja terhadapku. Besok aku akan datang. Sampai jumpa.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus dan murah
22/08/2025
0bagus bangettt
26/05/2025
0lumayan sihhh bagi sayaa mah
21/05/2025
0Lihat Semua