logo text

Bagaimana Kalau Kau Menikah Denganku?

Zanara merangsek ke ruangan di mana Mark dirawat, dan yang tampak di hadapannya adalah Mark yang masih terbaring lemah tetapi sudah mampu berkomunikasi seperti biasa. Mengetahui kedatangan Zanara, wajahnya tampak berbinar.
Sangat jauh berbeda dengan ketika ia berusaha melecehkan Zanara. Saat itu, ia tampak seperti seorang iblis yang menjelma dalam wujud manusia.
"Zee ... aku tahu kau pasti akan datang. Karena kau masih mencintaiku, benar, kan?" ucap Mark, lirih. Apa yang terlihat di depan mata Zanara bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Mark tampak sangat alami dan total—andaikan ini sebuah sandiwara.
"Aku bukan mencarimu untuk mengetahui kondisimu, Mark. Juga bukan seperti apa yang kau katakan barusan. Aku kemari untuk bertanya apa yang sebenarnya kau inginkan."
Pria itu tersenyum, lemah. "Kau sudah tahu apa yang kumau, Zee. Mengapa bertanya lagi? Aku tak akan berhenti sampai kau kembali padaku. Kau dan anak kita."
Kalimat yang diucapkan Mark memang berhasil mendinginkan hati Zanara. Namun, hanya untuk sesaat. Karena di detik berikutnya Zanara melanjutkan tujuannya. Kini giliran ia yang mengutarakan apa yang menjadi keinginannya.
"Kau sudah mengkhianatiku, Mark. Dan kau sangat tahu jelas bagaimana pria yang telah mengkhianatiku akhirnya tak akan pernah mendapat kesempatan kedua. Maka itu berlaku juga untukmu. Terima kasih untuk kenangan yang kau berikan, juga Marion. Kini hanya Marion hal berharga yang tersisa darimu yang tak akan pernah kutolak. Bahkan aku akan mempertahankannya."
"Apa kau yakin? Kau yakin tak ingin berdamai denganku dan menghentikan masalah ini? Zee, mengapa kau begitu egois dan keras kepala? Mau sampai kapan kau mempermainkan kehidupan Marion?"
"Kau yang mempermainkannya, Mark Anderson! Jangan bicara seolah kau peduli padanya, karena kau telah menghancurkan hati dan kehidupan ibunya, maka sampai kapan pun kau tak akan pernah mendapatkan hatinya!"
Mark tampak tak melakukan perlawanan. Ia hanya mendesah lelah, dan itu terdengar oleh Zanara.
"Aku pun lelah dengan semua ini, Mark. Kumohon hentikan semua ini. Aku berjanji akan membawa Marion rutin untuk mengunjungimu, asalkan kau berjanji tak akan memperpanjang masalah ini. Namun, hanya itu yang bisa kuberikan."
Mark mengangguk mengerti. Beberapa kali ia kembali menghela napas. Wajahnya yang masih pucat tampak tak berkeinginan untuk mengalah atau menyerah, meski apa yang dijanjikan Zanara cukup melegakan baginya.
Bukan itu yang ia inginkan. Ia menginginkan sebuah keluarga yang utuh, dengan status yang benar. Ia tak ingin mengulang apa yang dilakukan oleh ibunya dulu, hingga ia harus diasuh hanya oleh kakek dan ayahnya dan tak pernah tahu bagaimana rasanya sentuhan seorang ibu. Ia ingin Zanara dan Marion, itu saja.
"Mark ... kumohon hentikan semua ini. Tidakkah kau kasihan pada Marion? Dan jangan lupakan Max, ia darah dagingmu juga, kan?"
"Aku sudah melakukan kewajibanku terhadap Max, aku menyokong segala biaya dan kebutuhannya juga Laura. Aku memberikan salah satu aset berhargaku pada Laura untuk Max nantinya, jika itu yang kau permasalahkan."
Zanara menggeleng, tak setuju dengan perkataan Mark. "Bukan itu yang kumaksud. Ia juga membutuhkan kasih sayang darimu. Aku tak ingin ada kecemburuan antara mereka, Max dan Marion."
"Zee ... tolong jangan membuat semua menjadi rumit, aku hanya menginginkan—"
"Jawabanku tetap sama, Mark. Aku dan Marion tak akan pernah kembali padamu. Hanya itu tadi yang bisa kujanjikan padamu, dan kau tahu aku tak pernah mengingkarinya."
Mark mendengkus lemah. "Gabriel. Apakah ia yang sekarang menjadi kekasihmu? Bukan dokter itu?"
"Itu bukan urusanmu, Mark."
Mark mengangguk lagi.
"Kalau begitu, sampai berjumpa di pengadilan, sayang. Karena aku tak akan pernah rela membiarkanmu menjadi milik orang lain. Aku bahkan mempertahankanmu sepanjang hidupku. Kau cinta pertamaku, Zee. Dan akan selamanya menjadi cintaku. Karena itu ... maafkan aku jika melakukan ini. Ini semua hanya agar kalian kembali padaku," ucapnya terbata dan masih dengan kondisi yang lemah.
Namun, Zanara tak mampu menjawab selain menahan kesedihan yang berjejalan dalam hatinya. Cukup sudah apa yang ia perjuangkan hari ini. Inilah yang harus ia hadapi sekarang. Dan ia akan mempertahankan Marion, bagaimana pun caranya.
***
Zanara kembali ke mobil dengan langkah gontai. Ia tahu semua pasti akan berakhir seperti ini. Namun, satu hal yang tidak ia pahami, mengapa Mark begitu bersikukuh tak akan melepaskannya dan Marion.
Gabriel menyadari perubahan ekspresi Zanara saat kembali. Wanita itu gelisah, tetapi berusaha menyembunyikannya dari Gabriel, terlebih Marion.
"Apa yang terjadi di dalam sana, Zee? Apakah ia berbuat sesuatu padamu?" tanya Gabriel, tampak mencemaskan sahabatnya. Wajar jika ia bersikap demikian, Zanara baru saja mengalami hal yang cukup mengerikan yang bahkan tak bisa dibayangkan oleh Gabriel.
Namun, Zanara hanya menggeleng. Ia sedang tak ingin membahasnya dalam perjalanan. Ia meminta Gabriel untuk melajukan mobil menuju ke rumah, agar ia bisa menceritakan detail pembicaraan antara dirinya dan Mark.
Pria itu mulai berkonsentrasi pada jalanan di hadapannya, Hingga saat tiba di rumah Zanara, Gabriel menanti wanita itu menemani Marion untuk beristirahat. Tak lama kemudian, Zanara kembali dan menyodorkan pada pria itu lembaran yang sudah kucel dan tak beraturan.
"Aku nyaris merobek benda itu. Aku muak dengan apa yang dilakukan oleh Mark. Aku lelah harus menghadapi hal semacam ini, dan lagi-lagi Marion yang menjadi korban atas keegoisan kedua orang tuanya," keluh Zanara.
Gabriel mempelajari apa saja yang tertulis di sana, ada beberapa hal yang dimaksudkan sebagai sarana mediasi, dengan kata lain tuntutan itu akan dihentikan jika Zanara bersedia kembali pada Mark.
"Lalu, apa jawabanmu?"
Zanara mengedikkan bahu. "Menurutmu apa jawabanku? Tentu saja aku menolaknya, Gabe, aku tidak gila!"
Zanara kemudian menghela napas dan menghempaskan tubuh di atas sofa, tepat di sisi Gabriel.
"Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Apakah kau siap menghadapinya di pengadilan?" tanya Gabriel, setelah memutar tubuh menghadap wanita yang kini tengah memijit keningnya.
"Aku tak tahu, Gabe. Apakah kau punya ide?" tanya Zanara, kemudian bangkit dan membenarkan duduknya. "Ah ... aku bisa gila jika terus-menerus berurusan dengan pria itu. Tak bisakah ia membiarkan aku dan Marion hidup tenang?"
"Apakah kau tak pernah terpikir untuk kembali padanya?" tanya Gabriel, lagi.
Zanara menggeleng.
"Tak akan pernah. Andaikan ia adalah satu-satunya pria di dunia ini, aku lebih memilih untuk sendiri dan menikmati kebersamaanku dengan Marion."
Gabriel mengangguk paham. Sebesar itu luka yang telah ditoreh Mark terhadap Zanara hingga wanita itu sama sekali tak memberi kesempatan Mark untuk masuk meski hanya sebentar. Mungkin sama seperti saat dulu Gabriel menjadi seorang pecundang dan memutuskan hubungan dengan Zanara secara sepihak hanya karena alasan yang tak masuk akal.
"Apakah kau tak takut menghadapi Mark seorang diri, Zee?" Lagi-lagi Gabriel bertanya. Seolah ada hal yang ingin ia ucapkan, tetapi tak sanggup karena ragu akankah Zanara memberinya kesempatan untuk itu. Ataukah memang benar bahwa Zanara memang telah mencintai Jayme.
"Entahlah. Lebih tepatnya aku tak tahu harus berbuat apa."
"Bagaimana kalau ...." Gabriel menjeda kalimatnya yang kemudian justru memancing rasa ingin tahu Zanara. Wanita itu pada akhirnya menegakkan tubuh dan menanti Gabriel melanjutkan kalimatnya.
"Bagaimana kalau kau menikah denganku? Aku tahu kau mungkin bosan karena ini adalah ajakan ke sekian. Namun ... sungguh aku tak punya cara lain untuk memintamu selain dengan cara ini. Dan tidakkah kau berpikir bahwa mungkin saja ini merupakan cara takdir memberi kesempatan bagi kita?"
Zanara tampak membuka mulut hendak mengatakan sesuatu. Namun, kedatangan seseorang menghalangi berbagai tujuan yang telah tersusun di kepalanya. Pria itu berdiri di ambang pintu, menyodorkan sebuah amplop coklat dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.

Komentar Buku (15)

  • avatar
    Afiq Afiq

    sangat bagus dan murah

    22/08/2025

      0
  • avatar
    Suci Suci

    bagus bangettt

    26/05/2025

      0
  • avatar
    fahrimuhammad

    lumayan sihhh bagi sayaa mah

    21/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru