Beranda/Dicerai, aku jadi ipar si pelakor/
Bab 9 Credit Cardmu bersamaku
Di satu kamar, di rumah utama keluarga Wijaya. Seorang pria muda sedang menelpon.
" Kak, aku sudah mengatur semuanya. Sesuai intruksimu."
" Kamu selalu bisa diandalkan." Suara magnetis lawan bicaranya terdengar.
" Kurasa, isinya hampir terkuras habis. Wanita benar-benar sangat ahli dalam bidang itu." Pria itu mengisap rokoknya penuh khidmat.
Suara terkekeh terdengar.
" Jangan anggap remeh seorang wanita yang marah dan kecewa. Kamu akan menemui nerakamu."
" Kakak ipar ini cukup pintar, dia menghabiskannya tanpa jejak. Namun masih menyisahkan investasi fantastis." Pria muda itu tersenyum puas.
" Kak, pilihanmu benar-benar luar biasa. Kamu memang tidak perna salah menilai."
" Jangan katakan itu, aku belum mendapatkannya."
" Demi kakak ipar, aku akan selalu siap membantumu." Akhirnya pria itu mematikan rokoknya.
" Bagaimana begitu banyak kebetulan, ya? Ini seperti memukul dua musuh."
" Kamu tunggu saja instruksi berikutnya."
" Tentu saja. Senang bekerja sama." Pria itu menyeringai puas.
" Sial! kamu juga diuntungkan disini, brengsek!." Suara makian itu disertai tawa.
Orang yang dimaki justru memiliki tawa lebih keras.
" Aku tidak sabar melihat kejutan."
" Tenang saja. Aku memiliki kejutan lain buat mereka. Tunggu saja!."
" Apa itu?!."
" Kamu akan tahu pada waktunya. Persiapkan dirimu!."
" Aku menantikannya dengan sukarela."
" Aku tutup."
pip!
Panggilan terputus tapi anak muda itu menyeringai senang seperti orang idiot.
" Permainan baru saja dimulai." Gumamnya.
******
Malam itu, Johan kembali ke rumah dengan tampang semrawut. Riana sedang makan mie instan mengabaikannya. Dia tahu suaminya baru pulang dari rumah selingkuhannya, mungkin mereka berantem. Tapi dia terlalu males mengurusinya. Bagi dia, Johan sudah tidak ada kaitannya dengan kehidupannya.
" Enggak masak, Ri?." Riana menggeleng menjawab pertanyaan suaminya itu.
" Aku belum makan, nih." Kata Johan setengah mengaduh layaknya bocah yang belum dikasi makan emaknya.
" Bukannya dari rumah Wena?."
" Ya. Dia....."
" Kupesankan takeway aja, ya? mau makan apa?."
Riana yang tak ingin mendengar apapun tentang mereka cepat memotong ucapan Johan.
" Enggak masak mie aja?." Sudah lama Johan tidak makan masakan istrinya.
" Pesan takeway aja." Riana bersikeras.
" Terserah kamu sajalah." Johan mengalah. Dia benar-benar tidak ingin bertengkar dengan Riana lagi.
" Jadi mau makan apa, nih? Nasi, mie atau apa?." Riana menarik kursinya dan langsung berdiri.
" Mie aja deh."
" Mie apa?."
" Kamu aja yang pilih."
" Mie Titi, ya? toping ayam apa seafood?."
" Toping ayam, deh." Johan memilih.
Riana bergegas menuju ruang tamu tempat dia menyimpan ponselnya.
Johan memandangi Mie yang tersisa di mangkok istrinya. Tanpa ragu dia menyendok mie itu kemulutnya. Ini sangat nikmat padahal itu hanyalah mie instan biasa yang dimasak dengan banyak sayur.
" Pesananmu udah otw, tuh. Bentar lagi datang." Riana kembali. Dia tertegun sejenak melihat makanannya sudah tandas.
" Maaf, aku memakannya." Johan nyengir.
" Tak apa." Riana membawa mangkok kosong itu dan mencucinya.
Tak lama, bel berbunyi.
" Abang ojol udah datang kayaknya." Ujar Riana membuat Johan menyambut pesanannya.
" Ayo, makan bersama." Johan kembali ke dapur dengan senyum sumringah. Mie Titi merupakan makanan favorit Riana.
" Udah kenyang." Riana memberi mangkok pada Johan, membiarkannya membuka sendiri makanan itu dan memindahkannya ke mangkok.
" Kamu makan aja." Riana melenggang ke ruang tengah menonton tv.
Johan memandangi mie itu dengan hati trenyuh. Dia ingat, setiap kali Johan memesan mie Titi, tidak peduli lapar atau kenyang, Riana akan merecokinya.
Johan memakan mie itu dalam diam. Hatinya sesak. Dia tidak bisa menipu diri terus menerus. Johan sangat sadar kalau Riana menghindarinya dan semakin jelas setelah dia meminta ijin menikahi Wena. Meski di permukaan Riana terlihat tenang dan mengikhlaskan, hati dan sikapnya telah berubah.
Dalam beberapa hari ini, Johan berada tepat di rumah tepat waktu. Namun perlakuan Riana tidak berubah, dia menghindar dan acuh.
Malam ini, Johan mencoba menggoda Riana. Johan membungkus Riana dengan pelukan hangat. Napasnya yang hangat menyapu tengkuk Riana.
" Aku lagi datang bulan." Sergah Riana cepat seolah sebaskom air dingin menyiram kepala Johan. Itu penolakan yang terang-terangan. Johan tahu, waktu haid Riana biasanya akhir bulan, dan sekarang baru pertengahan bulan.
" Riana...." Panggil Johan mesra.
" Aku panas. cepat lepaskan!."
Johan melepaskan Riana.
" Aku tidur duluan. Ngantuk."
Dia hanya bisa melihat istrinya memanjat tempat tidur. Masuk ke selimut dan mematikan lampu.
Setiap malam, Riana akan mencari alasan untuk menjauh dari Johan dan tidur lebih dulu.
Disisi lain, Wena berjuang mendapatkan kembali perhatian Johan. Sudah seminggu Johan mengabaikannya dan tak lagi berkunjung ke apartemennya.
Setiap kali dia mencoba mengajak Johan bicara, dia selalu bilang, Ingin pulang menemani Riana.
" Johan, aku benar-benar minta maaf, hari itu aku hanya emosi." Wena menyusul Johan ke tempat parkir.
" Cemburu?." Johan mendelik.
" Kita belum menikah dan kamu sudah cemburu membabi-buta? Dia istriku, kamu sangat tidak layak cemburu padanya."
"Aku akan menyesuaikan diriku, oke?."
" Kita lihat saja."
Johan membuka pintu mobil langsung naik dan berlalu pergi.
Hari berikutnya, di pagi hari.
" Aku akan ke luar kota mengurus bisnis, pergilah ke rumah Wena. Tidak ada yang mengurusmu disini." Kata Riana pagi itu ketika mengantar Johan ke mobil.
Johan merasa sangat buruk, Riana seolah mendorongnya ke sisi Wena lagi dan lagi.
Apa dia benar-benar mencoba melepasku? Pertanyaan itu bergantung di benaknya.
" Akhirnya kamu pulang kesini lagi." Wena menyambut Johan sepulang kantor hari itu.
" Riana keluar kota untuk mengurus bisnis, tidak ada yang mengurusku di rumah."
" Kamu bisa memintaku ke rumahmu kalau begitu."
Johan menggeleng. " Kamu tidak bisa ke rumah, kita harus menghargai Riana. Kita bisa bertemu dimanapun tapi jangan berpikir di rumah." Johan menegaskan.
Wena menggiling giginya. Meski Johan kembali ke rumahnya, tapi di bibirnya hanya ada satu kata yang terus dia sebut, Riana. Hati Wena memanas. Setelah membicarakan istrinya yang hebat, Johan tertidur di sofa.
Melihat pria yang dicintainya terkapar nyenyak, Wena memiliki pikiran usil.
" Sayang, kamu menyanjung istrimu setinggi langit sebagai istri baik, berbudi luhur, murah hati." Bisik Wena memandangi wajah tidur Johan.
" Bagaimana kalau dia melihatmu di rumah selingkuhannya tertidur pulas sangat nyaman.Hemmm."
Wena yang telah beralih dari outfit kantor menjadi baju seksi menggoda.
Clek!
Satu foto mesra tercipta. Dia mengirim foto itu ke kontak Riana. tidak lupa caption
" Suamimu di Rumahku"
" Riana sayang, bagaimana reaksimu? kaget, marah, cemburu?." Wena mencibir menatap layar smartphonenya.
" Oh....aku sedang keluar kota mengurus bisnis jadi aku menyuruhnya ke rumahmu karena di rumah tidak ada yang urus. Daripada rumah berantakan kalau saya pulang, akan lebih baik kalau dia tinggal di rumahmu, kan? anggap saja membiasakan diri. sebentar lagi kalian juga menikah. Tidak merepotkan kamu, kan?." Wajah tersenyum Wena menjadi kaku membaca balasan Riana.
" Bukankah aku istri yang murah hati? aku rela membagi suamiku pada wanita yang sangat menginginkannya. Anggaplah aku berkompromi agar kamu tidak menjadi perawan tua." Balasan lain menyusul disertai emoji tersenyum bahkan ada tiupan hati.
Ingin rasanya Wena membanting ponselnya itu.
Istri Murah hati?
wanita yang sangat menginginkan suaminya? perawan tua?
kata-kata itu meledak di kepala Wena.
" Credit Cardmu Bersamaku." Pesan lain muncul lagi disertai foto kartu kreditnya berlatar meja restoran mahal.
Mata Wena memerah melihat foto itu. Dia ingat bulan lalu Johan mengatakan dia perlu uang dan meminta bantuannya. Dia secara sukarela memberinya kartu kredit dengan limit tiga ratus juta. Siapa sangka, hartanya itu justru jatuh di tangan istri selingkuhannya yang tengah menikmati makan mewah di restoran ternama sedang dia harus memasak dan mengurus suami orang itu disini.
" Makasih, loh"
Caption itu disertai emoji tiupan hati yang berderet-deret.
" Ternyata kamu orangnya murah hati juga dan loyal. Pantas Johan sangat ingin menikahimu. Dia memang menyukai wanita yang murah hati. Aku murah hati memberikan suamiku padamu dan dan kamu murah hati memberiku kartu kredit dan uangmu yang lain di masa depan(itu kata Johan). Kita memang klop, ya? akur - akur ya kita jadi istri-istri Johan. Biar aku bisa pelesiran Mulu dan kamu bisa menghabiskan banyak waktu dengan Johan. Ummuaachh."
Kali ini, Riana mengiriminya emoji hati besar.
Wena menatap sebal pada Johan yang mendengkur.
" Dia pelesiran dan aku merawat orang ini? itu juga menggunakan uangku?."
Amarah Wena mengamuk dalam dadanya. Dia menghapus semua pesan itu agar dia tidak membacanya lagi yang semakin dia membacanya dia panas dan marah.
Meski begitu dia masih mengomfirmasi pernyataan Riana.
" Apa Riana tahu kamu kesini?." Pancing Wena saat mereka makan malam.
Johan tidak menyembunyikannya. Dia mengangguk.
" Dia yang menyuruhku kesini karena tidak ada yang mengurusku di rumah."
Kata Johan yang sibuk makan tanpa melihat perubahan wajah Wena.
" Bisnis apa yang dia urus?."
" Dia ingin membuka restoran dan mengolah kafe."
" Apa dia menggunakan uang yang kuberikan padamu?."
Johan mengangguk lagi.
Meski Wena memiliki banyak pertanyaan, dia tidak berani bertanya lagi. Dia takut kalau dia mendengar jawaban yang tak diinginkan dan tanpa sadar melempar piring karena emosi yang tak terbendung .
" Jadi, wanita jalang itu memang mengatakan yang sebenarnya." Batin Wena memberikan lirikan mematikan pada Johan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (568)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bgus
11d
0mantap
25/08
0ceritanya sng5 bgud
12/04
0Lihat Semua