" Ayo... mulai mengatur, ini sudah sore lho... " Seru Rima memberi komando. Meski ada pelayan, mereka lebih suka melakukannya sendiri. Davan dan Jerry memeriksa tempat Outdoor. Riana yang bertugas memeriksa peralatan memasak outdoor termasuk tempat barbeque dan bumbunya. Walaupun mereka menyajikan makanan jadi, mereka tetap menyiapkan perlengkapan untuk memanggang sendiri. Rendy dan Owen yang sama-sama suka makan dan masak merasa lebih cocok membantu Riana di bagian dapur luar. Di kantor Frans, mereka yang dijuluki skuad kakak ipar sudah berkumpul. " Bukankah ini terlalu cepat. " Frans melirik Jam tangannya. " Tidak apa-apa, kita bisa menghabiskan banyak waktu mengobrol dengan kakak ipar." Ujar Kevin yang baru datang dia hari lalu. Lainnya langsung melihat kearah Warly yang menyesap tehnya dengan tenang. " Mungkin mereka belum selesai menyiapkan makanannya." Frans masih keberatan untuk pergi. " Itu juga bagus, jadi kita bisa membantu sekalian. " Rendra menyahut dan langsung mendapat koor persetujuan. Mereka langsung mengangkat jempol untuknya. " Haiya..." Frans menghela napas. Hanya bisa berdoa Yunfa tidak marah karena membawa mereka lebih cepat dari waktu yang disepakati. Yunfa sangat berkulit tipis, dia akan malu kalau persiapannya belum sempurna tapi tamunya sudah datang. Frans mencoba merangkai alasan dalam benaknya. " Tenang, kami akan mengatakan pada kakak ipar, kamilah yang sangat lapar dan ingin cepat datang. " Ujar Edwin yang menebak kemelut hati sahabatnya itu. " Baiklah, ayo berangkat kalau begitu." Sejumlah mobil mewah membelah keramaian sore itu menuju Villa Yunfa yang masih sibuk bersama teman-temannya mengatur persiapan jamuan makan malam. " Ri, rasanya tempat pemanggang ini kurang cocok disini." Kata Rendy yang telah menanggalkan kemejanya meninggalkan singlet yang terpotong lebar dibawah. Riana yang sering berolahraga bersama Rendy juga tidak sungkan mengenakan tan top karena mereka harus angkat-angkat barang, tidak baik bila pakaian luar mereka terkena keringat berlebih. Sejumlah mobil datang membuat Yunfa dan Diva yang sedang menata bagian depan terkesima untuk sesaat. " Bukannya ini masih lama, kok sudah datang?. " Protes Yunfa tapi tidak berani cemberut di depan teman-teman suaminya. " Kakak ipar, jangan marah, kami lah yang ingin datang lebih cepat"Edwin menepati janjinya dan berbicara untuk Frans. Yunfa hanya bisa memberi mereka jalan sambil mengirim pandangan peringatan ke Frans yang mulai berdoa dalam hati. Edward yang menangkap sinyal itu hanya bisa menahan tawa. " Ayo... masuk dulu." Kata Warly bereaksi dengan cepat. " Kami juga ingin membantu." " Kakak ipar, dimana kami meletakkan ini." Suara Kevin menyita perhatian Yunfa. Tampaknya, mereka datang dengan bawaan masing-masing. Rima dan Davan membantu menerima bawaan tamu mereka, Diva mengarahkan mereka ke outdoor tempat Jerry yang masih sibuk. " Wah....ada dapur juga, kita bisa memanggang, kan?. " Seru Ken dengan gembira. " Sial! Apa mereka pramusaji, badan mereka terlalu bagus. aku tidak percaya diri kesana sekarang." Sambungnya lagi. Sontak semua mata mengarah ke halaman belakang yang dibatasi kaca transparan. " Itu Rendy, kan?!." Erik berkata dengan suara agak nyaring. Mendengar adiknya disebut, Rendra menyeruak mereka dan melihat adiknya hanya mengenakan singlet yang sangat terbuka. " Jangan melihat!. " Hardiknya mengambil langkah besar sambil menanggalkan jasnya. " Oh... itu adik legendaris Rendra?! tubuhnya benar-benar bagus." Edwin dan Kevin kompak berkomentar. " Tutup matamu! siapa yang mengijinkanmu melihat?!. " Jovan menarik Kevin menjauh. " Yang cewek juga nggak kalah seksi loh, sekarang banyak cewek langsing, tapi tubuh mereka hanya daging dan lemak semua, terlalu lembek untuk disentuh." Ken mengeluarkan pendapatnya juga. " Itu kakak ipar. " Bisik Erik pada Edward, namun suaranya masih lolos keluar ke telinga yang lain. " Sut.. suuiit...." Ronald bersiul nakal. " Wah.... kakak ipar benar -benar seksi. Aku benar-benar terlambat kali ini." Katanya melempar tatapan provokatif kearah Warly yang langsung menendangnya pergi. Edward dan Erik terbahak. Rendra yang tiba di area dapur outdoor menggiring Rendy dan Riana untuk berganti baju. Dia menggantikan mereka mengatur hal-hal di sana. Warly dan Edward datang membantu. " Rendy kok ada disini?." Tanya Warly saat mereka selesai. " Aku juga tidak tahu, aku belum sempat bertanya." Jawab Rendra dengan wajah gelap. " Apa dia tidak menelponmu?" " Tidak. " Rendra secara reflek memeriksa ponselnya. " Sial! HP ku dalam mode pesawat." Katanya menggaruk kepalanya sesal. " Sepertinya, dia yang akan memarahiku. " Warly tertawa mendengar keluhan temannya itu. Tak lama, mereka berkumpul di meja besar untuk menikmati makanan pembuka. " Bukankah ini senior Warly?!. " Celetuk Luna saat mereka mulai mengobrol ringan. Riana yang tengah berbicara dengan Owen mengangkat matanya untuk mendapati wajah yang dikenal. " Oh.... sungguh kebetulan, kita bertemu lagi senior disini." Ungkapnya agak terkejut. Melihat ekspresi Riana, teman-teman Warly bersemangat mengulik hubungan mereka. " Jadi kakak ipar.... eh... maksudku teman kakak ipar ini mengenal Warly?. " Ronald orang pertama yang bersuara. " Ya... kami satu sekolah dari sekolah tingkat pertama sampai sekolah menengah." Riana menjawab. " Kurasa kak Warly cukup populer. " Celetuk Kevin. " Jangan ditanya, kak Warly sangat populer. " Kata Luna berapi -api penuh semangat. " Kak Warly ini, senior Idola di sekolah. " Riana Menambahkan. " Kok Yunfa nggak kenal Warly pertama ketemu? katanya teman Riana dari SMA juga?. " Frans ingat pertanyaan ini setelah sekian lama dia lupa tanyakan. " Aku nggak perna lihat kak Warly waktu SMA. " Jawab Yunfa yang juga bingung. " Yunfa pindah ke SMA kami setelah kak Warly pindah juga. " Diva menjelaskan. " Kalau nggak salah, kak Warly pindahnya saat mepet banget mau ujian." Kata Riana. " Aku pindahnya setelah penaikan kelas. " Yunfa menambahkan. " Karena Warly idola sekolah, jadi banyak cewek yang suka dong. " Kata Jovan. " Iyalah." Ucap Luna. " Tapi dia masih jomblo sekarang" Ledek Edward. " Mungkinkah ada diantara kalian yang pernah naksir Warly?" Selidik Frans sambil bercanda. Riana dan temannya saling lihat kemudian tertawa bersama. " Sepertinya dugaan saya benar" Kata Frans, percaya diri. Riana menggeleng. "SMA, kita tuh nggak kepikiran untuk pacaran" Ucap Diva. "Genk kita tuh bocah banget" Riana menimpali ucapan Diva. " Kalau dipikir-pikir, kita emang nggak pernah kepikiran untuk jadi pacar ka Warly, sih. Karena secara status aja nggak bisa disamakan, belum lagi yang naksir banyak banget sampai mereka berantem sendiri" Riana bercerita. " Emang kamu seterkenal itu Warly?" Edward sangsi. Warly hanya mengangkat bahunya acuh. "Tapi emang pernah dipanggil ke ruang guru terus diintrogasi soal siapa pacar saya" "Terus?" Rendra bertanya. " Aku nggak milih siapapun, aku aja bingung, mereka yang berantem, kenapa saya yang dicecar" Warly menggeleng, tersenyum geli mengingat masa- masa sekolahnya. Keriuhan tanggapan mereka mendengar cerita Warly. " Penggemar kak Warly saat itu se-gila sasaeng loh" Ujar Luna. " Apaan sasaeng?" Rendra berbisik pada Rendy. " Fans yang toxic, berlebihan sukanya sampai melanggar privasi artis" Rendy menjelaskan pada kakaknya. "Dulu, Riana dan kak Warly ada adegan drama. Dia sampai digantikan oleh penggemar kak Warly. Tadinya dia menjadi pasangan Warly tapi karena orang itu, dia hanya bisa menjadi pelayan" Cerita Luna. "Kak Warly sebagai Pangeran dan Riana sebagai putri, namun orang itu menyogok staf untuk berganti peran" " Ada seperti itu?"Warly agak terkejut mendengar cerita Luna. " Lho.... kak Warly nggak ingat?!" " Aku ingat tentang drama itu dan peran Riana yang menjadi pelayan setia. Tapi, aku nggak tahu kalau dia berganti peran" Tentu saja Warly Ingat karena saat itulah dia mulai menyukai Riana.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgus
11d
0mantap
25/08
0ceritanya sng5 bgud
12/04
0Lihat Semua