Sore kini bergilir tiba. Matahari seakan berpamit pada bumi untuk beranjak ke peraduannya. Setelah menikmati kebersamaan kami yang singkat itu, Exel dan aku akhirnya harus kembali dan meninggalkan gubuk kecil penuh kenangan itu, “Aku tidak menyangka kau masih menyukai masakan itu, Exel.” Suara Mommy yang mengagumi selera Exel yang tidak berubah, “Kau persis sama dengan Uncle Derrekmu, ah, aku jadi teringat lelaki terindahku. Karena itu aku selalu menyiapkan Iga, karena aku tidak bisa melupakan makanan kesukaanya itu,” lanjutnya. “Jika demikian, bisakah Mommy memasaknya untukku, anggaplah aku pengganti uncle Derrek.” “Tidak sayang, biar Liana yang menyiapkannya, dia jago dalam membuatkan menu resepnya.” “Aku tahu, karena itulah, aku tidak bisa makan dengan baik tanpa dia, dia memahami benar apa yang kusukai. Bahkan keluarga dan pelayanku saja tidak bisa menyamai masakannya.” Aku hanya mendelik menjawabi pujian Exel yang terkesan berlebihan itu. Meski aku tahu dia tulus mengatakannya. Exel menyungging senyum geli, sesekali dia menyentil hidungku. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku sedari tadi. Kak Rhiana tidak begitu banyak bicara. Dia hanya tersenyum menanggapi setiap candaan kami. Begitu juga dengan Krishtian, pacar barunya. “Sebelum kalian pergi, bisakah aku bicara empat mata dengan Liana, Exel.” Ujar kak Rhiana tiba-tiba. Tanpa rasa curiga, Exel menoleh ke arahku, lalu mengangguk menjawabi Rhiana. Mendapat izin dari Exel, aku dan Rhiana meninggalkan sofa tamu tempat mereka berkumpul. “Apa kau dan Exel benar-benar baik-baik saja, Liana?” satu kalimat tanya yang terlontar dari kak Rhiana. Tidak mengherankan bagiku, karena masih dalam ingatanku, terakhir kali aku berbicara dengannya adalah ketika aku mengadukan nasib mengenaskan yang kualami ketika baru pertama kali bersama Exel. “Kak Rhiana, Exel mengalami kelainan biologis yang disebabkan oleh trauma psikisnya. Apa yang pernah dialami, cukup aku yang tahu, Kak. Tapi setelah mendengar cerita darinya, sungguh, ini semua salahku. Aku mencoba menyembuhkannya, dan perlahan, dia berusaha membebaskan diri dari trauma biologisnya.” “Apakah itu berhasil?” Rhiana masih menatap intens kepadaku. Aku pun mengangguk tersenyum. Kemudian melepas pandanganku ke depan. “Awalnya aku ragu, Kak. Tapi aku mencobanya. Dan kami sudah melakukannya tidak sekali, tanpa penyiksaan fisik seperti yang sering ia lakukan. Hasilnya, dia bisa Kak, Exel akan sembuh. Exel akan menjadi lelaki normal lagi, dokter juga mengatakan demikian.” “Jadi, maksudmu, sekarang Exel sudah tidak bermain kasar lagi?” “Hm, bisa dikatakan begitu.” Ada perasaan lega dan bahagia tersirat di ujung bibir Rhiana. Setidaknya perempuan itu masih memiliki harapan untuk merebut Exel dari tangan Liana. Sama seperti yang pernah ia lakukan di masa dulu. Tidak ada yang mengetahui, jika di balik wajah lugu Rhiana, sungguh dia sangat membenci kebahagiaan dan keberuntungan yang dimiliki oleh Liana. Termasuk menjadi ratu di keluarga Benertho. Itulah sebabnya, mengapa ia dulu lebih memilih pertunangan dari pada pendidikannya. Dan dengan mengirim Liana sebagai penggantinya, dia berhasil memisahkan Liana dan mendapatkan Exel. Namun sayang, nasib sial menghampiri Rhiana, karena salama menjadi tunangan Exel, ia tidak pernah bahagia, malah seperti yang diceritakannya, ia kerap mendapat siksaan fisik ketika berhubungan biologis dengan lelaki itu. Selama satu tahun, Rhiana menanggung semua itu. Dan kini kisah itu kembali terulang lagi, ia harus merebut kembali Exel setelah lelaki itu terbebas dari penyakit kelainan yang dideritanya. Berkat sang adik, Liana. Itulah Rhiana, wanita yang lebih memilih menuai dari pada menanamnya. Dan dalam hal ini selalu Liana yang menjadi pionnya. Maafkan aku adikku tersayang, tampaknya tugasmu kini sudah selesai, saatnya kau kembali ke posisimu, karena gelar Nyonya Benertho sejak awal adalah milikku, bukan kamu. Monolog batin Rhiana. Sore itu, langit sudah terlihat hampir gelap di ufuk. Sekembali dari kediaman keluargaku, Exel membawaku menikmati sensasi matahari terbenam di sebuah perbukitan yang agak jauh dari jantung kota. Exel membuka Cap mobilnya, kami keluar membiarkan angin menyapu rambut geraiku. Ku lihat Exel mematik api rokoknya, kelihatannya angin di atas bukit ini cukup membuat dia merasa kedinginan. Kami duduk di Cap depan mobil menikmati perguliran matahari yang hampir terbenam. Memandang puas pedaran warna mega yang memanjakan. “Wow, indahnya,” lirihku “Kau menyukainya?” ucap Exel menjulurkan tangannya memintaku untuk mendekat di dalam dekapan kedua apitan kakinya yang terduduk di Cap depan mobil. Aku mendekat dan merasakan kedua tangan Exel mengalung di leheraku. Lelaki itu menyusupkan wajahnya di leherku seakan mulai bermanja padaku, “Liana, jangan lagi meninggalkanku, oke?” lirihnya mengusut-ngusut kulit leherku. “Hm, tidak lagi. Exel, dari mana kau menemukan tempat indah ini?” tanyaku mengalihkan pikiran Exel yang sudah ingin bertindak pada tubuhku. Bukan untuk menyakitiku, melainkan mengajakku bercumbu di tempat terbuka itu. Tidak menjawabiku, lelaki itu memutar tubuhku dan detik berikutnya dia mendaratkan lumatan liar yang tidak bisa aku kendalikan. Ku rasa kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan diri, begitu juga dengan aku yang sudah terbawa sensasinya. “Aku ingin memiliki bayi, Liana.” Apa? Aku tidak menduga jika dia menganggap serius alasan bohong yang kuberikan kepada kakakku ketika di rumah tadi. Aku membatu, aku tidak berani menyanggupi permintaannya, karena sejujurnya untuk saat ini aku belum siap untuk memiliki bayi. Karena ada sebuah kisah yang sebaiknya aku tutup dari Exel untuk saat ini.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (401)
Nadiraumairaa
ceritanya bagus banget thor😍😍
di lanjut dong season 2 nya, beneran ga sabar nih nunggu nyaaa
22/06/2022
1
rahmandaniMeta
kisahnya bagus bermanfaat.bagus di baca buat kakain buruan bacaaa sekranggggg
ceritanya bagus banget thor😍😍 di lanjut dong season 2 nya, beneran ga sabar nih nunggu nyaaa
22/06/2022
1kisahnya bagus bermanfaat.bagus di baca buat kakain buruan bacaaa sekranggggg
24/01/2022
0iya yang bersedia
04/04
0Lihat Semua