TOK TOK TOK Suara ketukan pintu kamar Liana yang membangunkan ia dari lamunannya. “Nyonya, ada Nyonya besar dan Tuan besar ingin bertemu anda!” seru Demmed dari balik pintu. “Lagi?” gumam Liana yang terheran dengan kedatangan mertuanya itu. “Baik aku akan menemuinya. Tapi bisakah mereka menungguku? Aku harus melakukan persiapan!” pekik Liana dari dalam kamar. “Baik, Nyonya!” jawab Demmed. Pagi itu Meine dan Pabio sengaja menemui Liana di Villa. Tentu bukan sekedar kunjungan biasa. Lebih tepatnya ingin mendesak Liana lagi untuk menikah dengan pangeran Estephant. Apalagi setelah mereka mendengar berita kunjungan Liana kemarin ke istana, cukup membuat Meine dan Pabio tak percaya dengan kepercayaan Liana. “Selamat pagi, Momm, Dadd,” sapa Liana. Meine dan Pabio menoleh ke arah sumber suara. Liana mempersilahkan kedua mertuanya untuk duduk. Tanpa mengulur waktu, Pabio langsung pada topik paginya. “Bagaimana keadaanmu, Liana?” tanya Meine memulai percakapan. “Aku baik, Momm.” Hening. Meine terdiam. Ia menunggu Pabio yang harus menghela napas dalam sebelum mengangkat suaranya. “Aku dengar kemarin kau menemui putra mahkota. Apa hasil pembicaraanmu?” “Jadi, Mommy dan Daddy datang sepagi ini hanya untuk menanyaknhal itu?” “Sudahlah jangan banyak bicara kamu Liana, jawab saja pertanyaan Daddymu.”Meine terdengar tak sabaran. “Seperti yang kalian ketahui. Aku menyelamatkan keluarga Benertho. Pangeran akan menarik semua perusuh di perusahaan Benertho dan saham perusahaa akan stabil lagi.” Tepat saat kalimat Liana usai, sebuah notifikasi aplikasi pembaca saham masuk ke layar iPad Pabio. Apa yang baru saja diceritakan oleh Liana langsung terbukti. Ia tidak menduga, jika gadis biasa itu begitu ringannya menyelesaikan hal seberat ini. “Apa yang kau katakan kepada pangeran hingga dia menurut begitu saja kepadamu?” tanya Pabio heran. “Ada apa sayang?” suara Meine menyela. “Saham perusahaan kembali normal. Para investor yang kemarin membelot kini sudah berbalik ke perusahaan,” jelas Pabio. Meine tercengang tidak percaya. Hanya dalam hitungan delapan jam gadis itu bisa mengembalikan semua ke keadaan normal. Meine beringsut mendekat ke sisi Liana. Diraihnya tangan Liana lalu menggenggam dengan hangat. Demmed yang diam-diam memperhatikan dari belakang, hanya menggelengkan kepalanya seraya memutar bola mata. Lelaki itu tidak menduga jika orang tua majikannya tega menukarkan menantu mereka hanya demi kehormatan keluarga. Lebih miris lagi mereka meminta Liana untuk melupakan putra mereka sendiri. Mendengar masalah selesai, Meine dan Pabio meninggalkan Villa Liana. Akan tetapi belum jauh ia meninggalkan pintu Villa, wanita itu berbalik dan menatap ke arah Liana. “Lusa adalah pesta penyambutanmu. Sebagai wanita pilihan raja kau akan disambut dengan sebuah upacara khusus. Persiapkan dirimu. Barang kali Raja akan memberikan beberapa tes kepadamu.” “Baik, Momm,”jawab Liana tak banyak berkomentar. Seperginya kedua mertua Liana dari Villa itu, wanita berbadan dua tersebut kembali memasuki lantai Villanya. Namun belum jauh kakinya melangkah masuk, sebuah tangan menarik kasar tubuh Liana. Membuat wanita itu berbalik dan tersentak luar biasa. “Kakak?” herannya. “Aku datang kemari mau menagih janjimu, apa kau sudah menolak pangeran Estephant?” Rhiana tiba-tiba datang menemui Liana di Villanya. Dari berita yang ia dengar perusahaan Benertho sudah kembali aman. Mendengar hal itu, Rhiana dapat menyimpulkan jika Liana sudah menerima pernikahan tersebut. Karena itulah, wanita itu mendatangi Liana pagi ini. “Kakak! Lepaskan! Kau menyakitiku!” pekik Liana yang meringis kesakitan oleh cengkeraman Rhiana. Dari kejauhan, Demmed mengamati apa yang dilakukan kakak beradik itu. Dari cara mereka berinteraksi sudah dapat dipastikan jika pertemuan ini bukanlah pertemuan yang menguntungkan. “Nona Rhiana melabrak Nyonya. Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya pada suara dari seberang. “Tunggulah. Bersabarlah. Kirimkan aku rekaman dari semua aktivitas Liana sepanjang hari ini,” ujar lelaki yang berada di seberang sana. Demmed beranjak, memenuhi permintaan orang itu. Sementara di ruang depan sebuah penyiksaan sedang berlangsung. PLAK PLAK PLAK PLAK Sebuan tamparan tanpa jeda diberikan oleh Rhiana kepada adikknya itu. Tamparan itu sukses membuat Liana tersungkur ke lantai seraya memegangi pipinya yang sakit. “Sudah kukatakan, tolak pernikahan itu, jalang! Apa kau tuli!” BUKK BUKK Rhiana menendang-nendang tubuh belakang Liana persis seperti orang yang sedang menendang hewan. “Kakak, aku tidak berdaya. Keluarga Benertho dalam ancaman. Bagaimana bisa aku menghancurkan keluarga dari pria yang sangat aku cintai hanya demi egoku. Jika kau mau, kenapa tidak kau katakan saja kepada pangeran kalau kau menyukainya.” Suara Liana di sela isakan tangisnya. Dengan sisa kekuatan yang ada, Liana berusaha menahan sakit pukulan dan tamparan dari Rhiana. Hatinya benar-benar tidak menduga jika kakak kandungnya sendiri bisa sejahat ini. “Kakak, apa sebenarnya yang kau mau? Mengapa kau begitu membenciku? Bukankah aku ini adik kndungmu?” “Huh! Siapa juga yang mau punya adik sepertimu. Menjijikkan! Apa kau pikir selama ini aku senang memiliki kerabat seperti mu? Tidak! Kau kesialan buatku, Liana! Dulu kau merebut Exel dariku dan sekarang kau malah mendapat pria yang diinginkan semua wanita. Hehh! Jalang sepertimu membuat ku muak saja!” Rhiana membungkukkan tubuhnya. Sebelah tangannya dengan kasar menjambak rambut tebal Liana. Sorot tajam dan membunuh sudah menampil di wajah wanita itu. Liana ketakutan melihat sisi lain kakaknya itu. Sosok yang bersembunyi di balik kebaikannya selama ini. “A-apa yang te-telah ku lakukan padamu, Kak?” suara Liana penuh getaran, wanita itu kini menggigil menahan sakit di tubuhnya. “Sejak kecil seharusnya aku yang bersanding dengan Exel, karena itu aku mengirimmu ke Boston. Tapi dasar berengsek Exel... Dia malah mengidap penyakit memalukan itu dan membuatku jadi korban. Lalu di pernikahan aku sengaja meminta mu untuk menggantikanku kau malah jatuh cinta kepadany. Apa namaya kalau kau sudah merebut kebahagiaanku jalang!” “Aaaaaa! Sakit, Kak!” jeritan Liana semakin melengking. Bahkan sudah memenuhi seluruh ruangan yang ada di Villa itu. Tidak tega melihat tuannya yang tersiksa, akhirnya Demmed berjalan mendekat dan melerai kedua wanita itu. “Hentikan Nona Rhiana!” interupsinya dari arah dalam.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (401)
Nadiraumairaa
ceritanya bagus banget thor😍😍
di lanjut dong season 2 nya, beneran ga sabar nih nunggu nyaaa
22/06/2022
1
rahmandaniMeta
kisahnya bagus bermanfaat.bagus di baca buat kakain buruan bacaaa sekranggggg
ceritanya bagus banget thor😍😍 di lanjut dong season 2 nya, beneran ga sabar nih nunggu nyaaa
22/06/2022
1kisahnya bagus bermanfaat.bagus di baca buat kakain buruan bacaaa sekranggggg
24/01/2022
0iya yang bersedia
04/04
0Lihat Semua