logo text

Bab 18 Tamu Yang Mengejutkan

Sehari setelah ritual pemakaman jasad Exel selesai, suasana kediaman keluarga Benertho tampak hening dan biasa-biasa saja. Pabio masih sama dengan rutinitas kantornya, Meine dengan kegiatan sosialitanya. Ada yang berbeda hari itu. Pabio merengut heran ketika sedang membaca bacaan paginya mengenai berita bisnis. Salah satu perusahaannya yang sedang bermasalah, tepatnya perusahaan yang sedang diurus oleh Exel hingga mengalami kecelakaan pesawat, kini berangsur-angsur membaik.
“Aneh,” lirihnya.
“Ada apa, sayang? Apakah ada yang menarik di berita hari ini?” suara Meine yang baru mencapai meja makan dan menikmati potongan roti dan mengolesinya dengan selai cokelat kacang.
“Tidak. Aku hanya merasa ada yang aneh dengan semua ini. Perusahaan kita yang di bagian selatan Amerika, tiba-tiba berangsur membaik. Ancaman resesi yang sangat ditakukan oleh pemegang saham tidak terjadi. Apa kau merasa ini terasa aneh?”
“Oh, ya, Tuhan. Apakah kau bisa tidak berperasangka, Pabio. Mungkin saja itu berkat kerja keras Exel. Setelah menyelesaikan masalah itu, dia mengalami kecelakaan.”
Pabio mengacuhkan komentar istrinya itu. Lelaki yang kini mem-fokus-kan pupil matanya pada deretan huruf kecil di lembaran besar itu. saat Meine menikmati kelezatan rasa makanannya, seorang pelayan datang dengan membawa sebuah telpon.
“Nyonya, ada telpon untuk anda,” ucapnya menyerahkan benda kecil itu ke tangan Meine.
“Halo,” sapa Meine di sela kunyahannya.
“Halo, Tante, apakah aku mengganggumu?” suara Rhiana dari seberang.
“Ada apa, Rhiana?”
“Apakah Tante ada acara hari ini?”
“Tidak. Ada apa?”
“Aku ingin mengajak Tante mengunjungi Liana. Kita akan bersama-sama melihat keadaannya, Tante. Bukankah saat seperti ini keberadaan kita sangat penting baginya?”
Meine menatapa suaminya untuk sesaat, lama wanita itu menimbang kata-kata Rhiana yang masuk dalam logikanya.
Malas meminta pendapat sang suami, Meine menyanggupi begitu saja tawaran Rhiana. Akhirnya wanita itu pun segera meminta supirnya untuk membawa dirinya ke kediaman Villa Liana.
****
Kediaman Villa milik Liana, sebuah pertemuan tidak terduga sedang berlangsung. August, pria yang sempat singgah di hatinya ketika ia sedang menjadi pengganti bagi Rhiana di Boston. Lelaki yang hampir saja merenggut kehormatannya saat itu.
“Mau apa kau kemari, August?” tanya Liana yang sudah membimbing tetamunya ke ruang tengah. Dari arah sudut pojok ruangan, ada Demmed yang diam-diam menyimak percakapan Rhiana dan tamu lain dalam ruangan itu.
Sejujurnya, baik Rhiana maupun Liana tidak mengetahui sosok August. Pria yang menopang aktivitasya pada sebuah kursi roda.
“Aku merindukanmu, Liana,” jawab lelaki itu tampak tenang.
“Tapi aku sudah bersuami.”
“Oh, ya? Kalau begitu bolehkah aku bertemu lelaki beruntung itu?”
Liana terdiam. Ia menundukkan wajahnya mengenang kepergian yang baru saja ia sebuatkan di hadapan lelaki memuakkan itu.
“Hemm, dia tidak akan menjawab August, karena baru saja adikku ini menjanda. Jadi kupikir, sebaiknya kau membawanya pergi jauh dari keluarga Benertho. Karena yang berhak menjadi nona muda di keluarga itu adalah aku,” ujar Rhiana yang menyela percakapan keduanya. Nasa wanita itu sudah terdengar sangat tidak mengenakkan. Lihat saja, cara dia menatap adik kandungnya sendiri sungguh seperti musuh. Oh Tuhan, Bunda Maria! Apa kesalahan Liana hingga mendapatakan kebencian Rhiana yang teramat itu.
“Aku tidak tahu maksud kedatanagan kalian apa, tapi kumohon, pergilah, aku sedang tidak ingin menerima tamu saat ini,”ucap Liana merendah.
Terasa aneh, mendengar kalimat pengusiran Liana yang sangat halus, membuat August menyungging sebuah senyum. Sesaat pria tampan dengan rambut Blond putihnya itu memberikan senyum tipis dan singkat.
“Aku hanya ingin bertemu dengan wanitaku. Apakah aku salah?”
“August, hubungan kita sudah berakhir. Bahkan sebelum aku menyelesaikan pendidikanku. Apalagi yang kau inginkan?”
“Aku ingin kau kembali. Aku ingin memilikimu lagi. Aku ingin mendapatkanmu apapun caranya.”
“Percuma saja, August. Hatiku sudah kuberikan untuk lelaki lain, yaitu suamiku. Sejak dulu hangga seterusnya.”
“Tapi dia sudah meninggal, Liana,” sergah August dengan nada yang mulai meninggi.
“Aku tidak peduli!” sanggahnya.
“Alasan aku menolakmu, dari dulu dan saat ini juga adalah sama yaitu, aku tidak mencintaimu. Karena cinta yang aku miliki untuk Exel sejak kami masih kecil. Andai saja wanita licik ini tidak memisahkan kami dengan alasan pendidikan itu, mungkin kami sudah memiliki keluarga yang harmonis. Dan kamu tidak perlu terluka karena cinta yang sepihak.” Liana sudah tidak bisa berkompromi dengan emosinya.
Sikapnya pada lelaki itu sudah tidak se-ramah dulu. Akan tetapi, sangat disayangakan, percakapan mereka tertangkap oleh pendengaran Meine yang baru saja tiba dan bergabung di ruang tengah itu
“Apa yang sudah kudengar ini?” suara Meine yang melengking dari arah pintu. Liana sungguh sangat terkejut dengan kedatangan mertuannya itu. Matanya menatap nanar pada Rhiana yang menyeringai sinis ke arahnya.
Lengkap sudah perangkap yang disiapkan Rhiana untuk adikknya Rhiana. Tujuan untuk mengeluarkan Liana dari keluarga Benertho akan segera tercapai.
Lihat bagaiman tatapan Meine kepada Liana yang sudah tidak terlihat hangat lagi. Hubungan antar lelaki yang sedang duduk di kursi roda itu sudah sampai di telinga Meine.
“Katakan padaku, ada apa sebenarnya, Liana?” tanyanya menegaskan dugaannya.
Meine belum mengetahui wajah lelaki yang sedang duduk di kursi roda, membelakanginya. Wanita itu mem-fokus-kan diri pada Liana yang sudah terlihat gusar.
“Mommy, aku ….”
“Tidak ada, Tante. Aku hanya membantu mantan pacarnya untuk bertemu dengannya. Namanya August, lelaki yang ada di depan Tante ini,” ucap Rhiana dengan nada menyudutkan. Wanita licik itu beringsut mendekti Meine. Tatapan Meine sudah tidak terlihat memerah, begitu mendengar status yang disebutkan oleh Rhiana.
“Manta? Liana, apakah benar lelaki ini adalah mantan kekasihmu? Lalu mengapa kau menikahi putraku? Sadar wanita murahan!”
Liana memejamkan kedua matanya. Hatinya menjerit dan menagis mendengar sebuah kalimat penghinaan dari wanita yang baru kemarin begitu lembut menyapanya.
“Sungguh wanita murahan. Dan sekarang kau dan mantan bodohmu ini, menginjakkan kaki di kediaman Villa putraku. Dasar wanita tidak tahu malu!”
Lelaki yang duduk di kursi roda itu sudah tidak tahan mendengar semua sumpah serapah yang dilontarkan Meine kepada Liana. Wanita idamannya. August lantas memutar kursi rodanya dan menghadap pada Meine, dengan sorot mata membunuh.
“Cukup, Nyonya Benertho! Hentikan hinaanmu itu kepada Liana!”
Mata Meine membulat lebar bahkan sangat sempurna, melihat wajah lelaki yang sedari tadi menyimak penghinaanya.
“Tante? Ada apa denganmu?” tanya Rhiana yang terheran melihat reaksi Meine terhadap lelaki di hadapannya itu.
“Rhiana, dia … dia ….”
“Ya dia August teman dan juga mantan kekasih Liana,” balas Rhiana mengedikkan bahunya.
“Bukan! Dia ….”

Komentar Buku (401)

  • avatar
    Nadiraumairaa

    ceritanya bagus banget thor😍😍 di lanjut dong season 2 nya, beneran ga sabar nih nunggu nyaaa

    22/06/2022

      1
  • avatar
    rahmandaniMeta

    kisahnya bagus bermanfaat.bagus di baca buat kakain buruan bacaaa sekranggggg

    24/01/2022

      0
  • avatar
    Irfan Laia

    iya yang bersedia

    04/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru