Bab 91 Manipulasi

Cahaya matahari yang masuk ke sela kamar menganggu Reno. Ia mengerjap kesilauan sebelum mendesah dan menutupi wajahnya. Seluruh badannya terasa remuk, tetapi ia harus tetap bangun dan mengurus banyak hal pagi ini.
Pertama-tama ia akan datang ke restoran dan memastikan daftar semua barang belanjaan dan mengecek berbagai keperluan tambahan lainnya. Daftar tersebut akan diserahkan pada orang kepercayaannya yang mengelola keuangan dan pembelian barang. Lalu ia harus ke kampus untuk mengikuti kelas pagi. Lepas dari situ ia akan menemui beberapa orang, salah satunya Monik. Ia berharap gadis itu masuk kelas hari ini sehingga Reno tak harus datang ke rumahnya.
Walaupun Reno tahu di mana rumah Monik, ia merasa tidak nyaman saat datang terakhir kali. Ibu tiri Monik terlihat sangat antusias dengan kedatangannya. Wanita itu berkata Monik jarang membawa temannya ke rumah setelah Endah meninggal. Dari cerita panjang lebar yang disampaikan ibu tiri Monik, Reno tahu betapa tertutupnya gadis itu.
“Apa kue buatan Tante enak?”
Setiap kali akan bercerita istri Tora tersebut bertanya dengan nada riang tentang bagaiman pendapat Reno tentang rasa kue, pudding pencuci mulut, sampai sirup yang sedang dinikmati. Reno berharap Monik segera muncul dan memberinya alasan untuk pergi dari wanita baik yang kelewat atraktif itu.
Perutnya serasa akan meledak jika diisi lebih banyak lagi makanan. Syukurnya Monik muncul dengan balutan kemeja kasual dan jin, memberi kode agar Reno mengikutinya.
“Terima kasih kue dan minumannya, Tante.” Reno pamit dan mengikuti Monik yang sudah menghilang dari ambang pintu dapur.
Reno bisa melihat ekspresi wajah ibu tiri Monik mendadak sendu. Sepertinya hubungan mereka tidak terlalu baik selama ini. Reno bisa membayangkan betapa cangungnya besar dengan wanita yang bukan keluarganya.
“Mamamu sangat baik.”
Langkah Monik terhenti sebentar. Reno pikir ia akan berbicara, tetapi kemudian gadis itu melangkah lagi dengan cepat. Jadi ia menyangka Monik tersinggung dengan ucapannya. Ia mengingatkan pada dirinya bahwa memuji orang yang dianggap asing seorang gadis tabu.
“Ada apa?” tanya Monik setelah dipersilakan duduk.
Kursi besi dengan dudukan busa yang tebal tersebut tertata rapi. Di depannya ada kolam ikan dan berbagai tumbuhan yang tersusun menjadi vegetasi buatan.
“Ah … aku benar-benar tidak sopan. Apa kamu mau minum sesuatu?”
Membayangkan meminum sesuatu lagi membuat Reno mual. Ia sudah terlalu banyak makan dan minum saat menunggu Monik tadi. Dengan sopan ditolaknya Monik kali ini. Jika tidak menolak, ia akan mengalami masalah dengan lambungnya sepulang dari mengunjungi Monik.
“Ada apa kemari?” tanya Monik.
Karena Reno tidak minum apapun, ia juga tak meminta apapun. Ia menyilangkan kaki di atas pahanya dan menautkan jari-jarinya di atas meja, menanti jawaban Reno.
Luka di dahi Monik masih baru. Kemarin saat ia datang bersama Rayna, luka tersebut mengerikan karena masih mengeluarkan darah. Sekarang masih cukup mengerikan disertai lebam dan jahitan yang masih baru.
“Sekali lagi aku minta maaf.” Andai saja mereka datang lebih cepat ke lokasi syuting, luka Monik mungkin tidak ada. Namun, sayangnya semua sudah terlambat dan hanya penyesalan yang bisa dirasakan Reno sekarang.
“Bukan kesalahanmu. Ini bukan luka yang besar.”
Monik pasti gadis yang sangat baik karena tidak mempermasalahkan luka yang diterima dari Sena. Namun, Reno tahu luka di wajah bagi seorang gadis adalah masalah serius. Ia pernah mendapat luka jahitan di pahanya karena jatuh dari pohon semasa kecil. Mamanya sangat khawatir jika luka itu serius.
Reno terkesiap dengan ingatannya sendiri. Ia merasa kasihan sekali pada Monik. Makanya tadi ia merasa heran. Ibu tiri Monik sama sekali tidak memperlihatkan kekhawatiran terhadap putrinya. Apakah mereka semua menganggap biasa-biasa saja luka yang diderita Monik.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Reno pelan.
Ia tak memandang Monik dan memperhatikan coran marmer di bawah kakinya. Ia tahu Monik tidak akan segera menanti jawabannya. Bahkan Reno bersiap untuk diusir jika Monik tersinggung dengan pertanyaan tersebut.
“Sena cemburu padaku.”
Yah, itu memang sudah diduga Reno. Bahkan ia bisa melihat sendiri bentuk kecemburuan Sena. Namun, itu buktinya Sena sangat mencintainya. Akan tetapi, kecemburuan Sena tidak terkendali dan melukai orang lain.
“Dia mungkin juga akan mengatakan jika aku yang menghasut Adit nanti.”
Reno memandang bingung. Tidak mungkin Monik ikut serta. Gadis itu juga hampir dicelakai Adit. Ada dua kali Adit mencoba mencelakai Monik jika ia tak salah ingat.
“Tidak mungkin begitu. Sena … hanya cemburu saja.”
Reno bisa merasakan kergauannya sendiri dalam nada suaranya. Ia memang tidak yakin. Ada banyak hal yang disembunyikan Sena darinya. Mulai dari saat Adit mengumumkan hubungan keduanya sampai saat ini. Ada banyak hal yang tidak diketahui.
“Tentu kamu tidak akan semudah itu percaya padaku. Aku tidak punya bukti. Aku pernah menyerang Sena. Bahkan kita tidak pernah mengobrol sebelumnya. Kasus Sena yang membuat kita terhubung.” Monik tersenyum tidak berusaha mempertahankan argumennya.
Ia tahu yang dikatakan Monik benar. Monik sudah mengakui semua kesalahannya sampai saat ini. Bukankah tidakannya menjadi umpan adalah bentuk penebusannya dan ia berhasil melakukan itu.
“Ini hanya salah paham saja. Percayalah padaku.” Reno sungguh-sungguh mengatakannya. “Aku akan bicara lagi pada Sena dan memberinya pengertian. Dia salah paham.
Monik menatap Reno. Namun, Reno sama sekali tidak bisa mendeskripsikan tatapan tersebut. Ia membalas Monik dengan tatapan yang mengatakan, “Percayalah padaku”.
***
“Reno datang?”
Sena sedang meringkuk di atas ranjangnya kembali. Ia lekasi bangun dan memperbaiki rambutnya yang berantakan dan kusut. Namun, butuh waktu lama menatanya dengan baik dan sudah tidak ada waktu sekarang.
Kamarnya sudah dibersihkan tadi saat ia mandi. Semua benda yang berserakan di lantai sudah kembali ke tempatnya. Bahkan vas bunga yang pecah telah diganti dengan yang baru berikut dengan tanaman di dalamnya.
Saat Adit sampai di lantai dua dan menemukan Sena di teras—Sena menolak untuk bertemu di dalam kamar karena menurutnya tempat itu masih berantakan—rambutnya sudah terlihat cukup baik. Rambut panjangnya disanggul tinggi. Matanya juga sudah tidak terlalu bengkak. Perasaannya sudah lebih baik dari tadi pagi. Semua beban yang awalnya dipendam sendiri telah dibagi pada Ratih.
“Ma-af soal kejadian kemarin.” Suara Sena masih parau. Ia menangis cukup lama dan pasti ada efek yang masih tertinggal selain lingkaran hitam di sekeliling mata.
“Tidak masalah. Aku mengerti kalau kamu mungkin tertekan.”
Sena merasa sangat senang mendengarnya. Ia ingin menghambur ke dalam pelukan Reno dan sekali lagi mengatakan penyesalan. Ia minta maaf karena sudah marah-marah tanpa alasan pada pemuda yang disukainya ini.
“Sena aku ….”
“Reno aku ….”
Mereka hampir serempak bicara. Keduanya tertawa menangapi keantusiasannya saat ini. Maka sebagai tuan rumah yang baik, Sena mempersilakan Reno bicara lebih dulu.
“Aku mau kamu tahu apa yang ada dalam pikiranmu salah besar.”
Sena tersenyum. “Aku tahu … kamu tidak mungkin mengkhianati seperti Adit.” Sena masih belum terbiasa menyebut nama Adit. Nama itu masih terasa seperti makhluk menakutkan.
Reno terbelalak tidak suka dan langsung menyahut, “Tidak … aku mana mungkin!” Ia menghela napas. “Aku dan Monik hanya berteman. Dia orang baik Sena. Ia sangat menyesal sudah melakukan hal buruk padamu,” terang Reno.
“Dia tidak menyesal!” Nada bicara Sena kembali meninggi.
Reno mendesah. Rupanya Sena masih belum tenang. Ia putuskan tidak lagi membahas Monik. Ia akan mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
“Dia sudah merencanakan semuanya, Ren. Dari mulai Adit sampai saat ini. Semuanya sudah dalam rencana Monik. Kamu harus percaya padaku.”
Reno tak bisa merespon sekarang. Perkataan Monik tadi terngiang kembali. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Sena merasa nyaman dan kemudian mendengarkan.

Komentar Buku (44)

  • avatar
    SetianiHeni

    bagus bangetttt

    02/06/2025

      0
  • avatar
    SaputriNiken

    Smngtt kakk

    18/03/2025

      0
  • avatar
    AuliaSindi

    sangat seru

    18/11/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru