Thirty Three

Pada saat Xiao Chen kecil ikut menyaksikan pertarungan antara Raja Naga melawan kelaliman yang dilakukan oleh Kaisar Ji Li, saat itu ia berusia sepuluh tahun. Kilas balik peristiwa kembali ke kejadian ketika ia bertemu dengan Jenderal Hou yang merupakan salah satu jenderal di Klan Siluman Rubah Kuno, sang jenderal berkata padanya jika ia dapat berkultivasi ketika umurnya mencapai dua belas tahun.
Namun, karena keadaan, akhirnya di usianya yang kesepuluh, Xiao Chen kecil diajak berlatih oleh Li Yu dan Guru Han, demi satu tujuan yakni mempertahankan dirinya dari pertempuran yang mungkin saja terjadi setiap saat, karena pada saat itu dunia persilatan berada dalam keadaan kacau.
Kaisar Ji Li dengan ambisinya yang menggebu dan ketamakannya, berniat untuk merebut mustika yang dimiliki oleh kedua lembah yakni, Lembah Seribu Bunga dan Lembah Tengkorak, selain itu sang kaisar pun ingin menguasai seluruh dunia persilatan dan mengendalikannya di bawah kepemimpinannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, pada saat sang kaisar menyerbu Lembah Seribu Bunga, Raja Naga datang dan ikut membantu para siluman serta para pengikut lembah untuk melawan sang kaisar. Akhirnya, sang kaisar pun dapat ditaklukan dan ditawan di Istana Raja Naga di laut dalam.
Untuk membayar semua kejahatan yang telah dilakukannya, Sang Buddha menghukum Kaisar Ji Li di ruang bawah tanah di Istana Raja Naga yang hanya diterangi oleh beberapa obor yang dapat menyala di kedalaman laut.
Pada saat itu, kedua tangan dan kedua kaki Kaisar Ji Li dirantai ke dua pilar besar nan kokoh yang berdiri tegak di ruang bawah tanah istana. Di ke empat penjuru ruang bawah tanah tersebut dijaga oleh empat buah makhluk laut yang memiliki rupa wajah layaknya ikan bergigi tajam dengan tubuh tegap layaknya manusia pada umumnya.
Tidak hanya itu saja, di pintu masuk menuju ke ruang bawah tanah itu dijaga oleh beberapa pasukan laut yang memiliki kekuatan di atas rata-rata pasukan pada umumnya. Para pasukan khusus itu memang diberi pelatihan yang berbeda oleh Raja Naga sendiri dengan tujuan agar dapat mempertahankan istana pada keadaan genting atau menjaga tahanan yang berilmu tinggi.
Kaisar Ji Li sendiri entah kapan akan dibebaskan, Sang Buddha memintanya untuk merenungkan semua kesalahannya dan belajar mengendalikan napsu serta hasrat tak terkendali yang bersarang di hatinya. Menyedihkannya, setiap sang kasiar memberontak, tubuhnya akan terasa seperti dicabik-cabik oleh kuku binatang buas, hingga sang kaisar menjerit kesakitan dan memohon ampun.
Dua belas tahun berlalu sejak kejadian itu, kini Xiao Chen telah tumbuh dewasa. Ia telah menginjak usia dua puluh dua tahun. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik menawan dengan tubuh tinggi semampai, ramping, mata yang bulat, hidung yang mancung serta bibir mungil berwarna merah muda. Para pria di kediaman Li Yu sangat menyukai gadis itu, hingga mereka berlomba-lomba untuk memenangkan hatinya, tetapi tidak ada satu orang pun yang tahu jika Xiao Chen mencintai Li Yu.
Seiring bertambah usianya, Xiao Chen kecil tumbuh dewasa dengan berada di bawah asuhan dan pengawasan dari Li Yu sendiri, membuat gadis itu menyukai dan mencintai paman angkatnya sendiri. Rasa itu tumbuh dengan sendirinya tanpa dapat ia cegah.
Gadis itu menyimpan rapat perasaannya, karena ia tahu bahwa semua itu tidaklah benar. Ia ingin mengubur semuanya, tetapi rasa yang tumbuh dalam hatinya terlanjur dalam dan mengakar kuat. Hal ini membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dengan baik ketika berlatih dan berkultivasi.
Rupanya hal ini diketahui dan disadari oleh Li Yu sendiri, pria itu sesekali menangkap pandangan Xiao Chen yang menatap padanya dengan tatapan yang berbeda. Dia ingin menepis pikiran buruknya itu, tetapi semakin hari, sikap Xiao Chen padanya semakin berbeda. Gadis itu seakan menjaga jarak darinya dan berusaha menghindar.
Hingga suatu malam, Xiao Chen berinisiatif untuk pergi ke gubuk kecil di tengah hutan di belakang kediaman Li Yu untuk sekedar menenangkan dirinya. Ia pun berjalan sendirian di kegelapan malam melewati hutan lebat yang gelap dan tanpa pencahayaan hanya dengan membawa sebuah lentera di tangannya.
Meski, perasaannya sedikit takut dan resah, ia tetap memberanikan diri terus berjalan melewati hutan lebat tersebut sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Terkadang terdengar suara-suara aneh dari dalam hutan dan Xiao Chen sendiri bingung dengan suara-suara yang ia dengar.
Ia melangkah perlahan terus masuk hingga ke tengah hutan, tidak jauh dari situ ia sudah dapat melihat gubuk milik Li Yu yang hanya diterangi oleh beberapa obor yang tertambat di pilar-pilar kayu yang menopang kuat gubuk tersebut.
Saat langkah kakinya mulai sampai di teras gubuk itu, Xiao Chen dengan langkah ragu mulai menimbang apakah ia perlu masuk ke dalam atau tidak? Tetapi, akhirnya dia memutuskan untuk tetap masuk ke dalam.
Setelah menutup pintu masuk, ia pun berjalan menuju ke kamar tidur Li Yu dengan langkah perlahan. Akhirnya, ia pun sampai di depan pintu kamar milik paman angkatnya tersebut. Dengan hati-hati, saat kedua tangannya hendak mendorong pintu ke arah dalam, tiba-tiba terdengar suara dari dalam, tampaknya seperti suara dua orang pria yang tengah berbincang.
Xiao Chen pun bertanya-tanya, siapa gerangan yang berada di dalam kamar? Bukankah gubuk ini letaknya sangat tersembunyi? Bukankah Paman Li Yu sedang berada di ruang latihan? Lalu, siapakah mereka berdua?
Meski banyak pertanyaan melintas di kepalanya, namun rasa penasarannya mendorongnya untuk menguping pembicaraan kedua orang tersebut.
“Li Yu, apa kau tahu tujuanku datang kemari?” tanya Guru Han.
“Ya, Guru. Ini mengenai Xiao Chen, kan?” jawab Li Yu.
Guru Han menghela napas panjang, lalu melanjutkan bicara.
“Ia sudah dewasa, sudah waktunya kau melepasnya dan menikahkan dia dengan seorang pria dari keluarga baik-baik yang mau menerima asal usulnya. Mengapa sampai sekarang kau masih membiarkannya melajang? Apa dia masih memiliki penglihatan seperti ketika dia masih kecil?” tanya Guru Han.
“Awalnya aku pun berniat untuk menikahkannya dengan salah seorang anak dari seorang pejabat di ibukota. Tetapi, sesuatu menahanku. Aku tidak rela melepaskannya pergi. Aku sudah tidak pernah mendengar dia mendapat penglihatan-penglihatan lagi.”
“Apa yang menahanmu? Jangan katakan jika kau menyukainya sebagai seorang wanita? Ingat, Li Yu, dia bukan manusia biasa. Dia seorang siluman rubah yang telah berkultivasi. Apa kau sadar itu? Tubuhmu bukan tubuh manusia biasa. Kau separuh dewa,” ucap Guru Han.
Li Yu terdiam dan tidak menjawab. Kepalanya tertunduk lesu dan pria itu menatap jauh ke sudut ruangan yang tidak terlalu terang. Guru Han semakin curiga, dia menoleh dan menatap wajah Li Yu dengan sorot mata tajam dan tatapan serius.
“Li Yu, katakan padaku, apa yang aku pikirkan benar? Tolong jangan biarkan aku menderita karena rasa penasaranku ini,” pinta Guru Han.
Li Yu menengadahkan kepalanya, membalas tatapan Guru Han dan menjawab, “Iya benar, Guru.”
“Apa?” seru Guru Han terhenyak mendengar jawaban yang meluncur dari mulut murid kesayangannya. Xiao Chen yang berdiri di balik pintu pun ikut tak kalah terkejutnya dengan Guru Han. Jantungnya serasa lepas dari posisinya semula.
To be Continued ....

Komentar Buku (84)

  • avatar
    Ahmad Ajjha

    bagus

    26/06

      0
  • avatar
    SandiTasya

    maiyakca plis 100

    23/06

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    good

    11/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru