Bab 46

Alfan dan Sekar saling menatap, mendengar kata-kata Dara yang penuh kepanikan. Ancaman ini nyata, dan siapa pun yang mengejar Sekar tidak akan berhenti hanya karena mereka mencoba melindunginya. Alfan menghela napas panjang, menyadari bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk menghadapi ancaman ini.
“Dara, tunjukkan pesan itu padaku,” kata Alfan sambil mengulurkan tangan. Dara segera menyerahkan ponselnya, dan Alfan membaca pesan tersebut dengan seksama.
“Jangan coba-coba melindungi Sekar. Dia tahu apa yang telah dia lakukan, dan cepat atau lambat, kami akan mendapatkannya. Jika kalian ingin tetap aman, serahkan dia pada kami.”
Alfan meremas ponsel Dara dengan kuat, amarah terlihat jelas di wajahnya. “Mereka benar-benar tidak main-main. Mereka bahkan sampai tahu bahwa Sekar bersama kita.”
Sekar menggigit bibirnya, merasa bersalah sekaligus ketakutan. “Alfan, Dara, aku tidak ingin kalian dalam bahaya. Kalau orang-orang itu mengejarku, aku seharusnya tidak melibatkan kalian. Mungkin aku memang harus pergi...”
Dara segera memegang tangan Sekar, menatapnya dengan penuh kesungguhan. “Jangan bicara begitu, Sekar. Kami adalah keluargamu sekarang. Kami akan melewati ini bersama-sama, apa pun yang terjadi.”
Alfan mengangguk setuju, meskipun ia tahu risikonya besar. “Benar, Sekar. Pergi sendiri tidak akan menyelesaikan masalah ini. Jika mereka sudah berani mengancam kita, berarti mereka akan terus mengejarmu, ke mana pun kamu pergi.”
Sekar terdiam, hatinya berkecamuk antara ingin melindungi orang-orang yang peduli padanya dan perasaan takut pada orang-orang dari masa lalunya. “Tapi... mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan dariku.”
Alfan menghela napas dalam. “Itu sebabnya kita harus melawan balik, Sekar. Kita akan mencari tahu siapa orang-orang ini dan apa yang mereka inginkan darimu. Mungkin kita bisa membongkar jaringan mereka sebelum mereka punya kesempatan mendekat lagi.”
Dara menatap Alfan dengan ragu. “Alfan, ini berbahaya. Kita tidak tahu seberapa dalam mereka terlibat, atau seberapa jauh mereka akan pergi demi mendapatkan Sekar.”
“Justru karena itu kita harus bertindak sekarang,” kata Alfan tegas. “Jika kita diam saja, kita hanya memberi mereka kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Kita harus mencari tahu semua informasi yang mungkin bisa membantu kita mengungkap siapa mereka.”
Sekar menghela napas, merasa sedikit lega mendengar tekad Alfan dan Dara. Namun, ia tahu bahwa mereka semua akan menghadapi risiko besar jika benar-benar melawan orang-orang ini.
“Aku akan mencoba menghubungi beberapa teman lamaku yang mungkin tahu lebih banyak tentang organisasi ini,” ucap Alfan, berpikir keras tentang langkah berikutnya.
Sekar menatapnya penuh harap. “Kamu yakin mereka akan membantumu, Alfan?”
“Aku tidak yakin, tapi kita harus mencoba. Apa pun yang bisa membantu kita mempersempit pencarian akan sangat berguna,” jawab Alfan.
Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu mengejutkan mereka bertiga. Mereka saling berpandangan, rasa cemas kembali meliputi. Dara segera bergerak menuju pintu, namun Alfan menahannya.
“Tunggu, Dara. Jangan buru-buru membukanya. Biarkan aku yang memeriksa dulu.”
Alfan berjalan perlahan ke arah pintu dan mengintip melalui lubang intip. Di sana berdiri seorang pria paruh baya dengan raut wajah serius. Ia tidak mengenali pria itu, tetapi penampilannya terlihat rapi, seakan ia datang dengan tujuan tertentu.
“Siapa Anda?” tanya Alfan dari balik pintu, suaranya tegas namun berhati-hati.
“Aku datang untuk bicara dengan Sekar,” jawab pria itu. “Aku punya informasi penting yang mungkin bisa membantu kalian menghadapi orang-orang yang sedang mengincarnya.”
Alfan terdiam sejenak, mempertimbangkan apakah pria ini bisa dipercaya. Namun, rasa ingin tahu dan harapan untuk mendapatkan petunjuk membuatnya memutuskan untuk membuka pintu sedikit, cukup untuk melihat pria tersebut dengan lebih jelas.
“Maaf, siapa Anda sebenarnya? Dan mengapa Anda ingin membantu kami?” tanya Alfan.
Pria itu tersenyum tipis, seakan sudah mengantisipasi pertanyaan tersebut. “Nama saya Bima. Saya dulu bekerja dengan beberapa orang yang sekarang mengejar Sekar. Tapi percayalah, saya sudah lama meninggalkan organisasi itu. Saya tahu apa yang mereka inginkan, dan saya juga tahu betapa berbahayanya mereka.”
Sekar yang mendengar percakapan itu dari kejauhan segera berdiri dan berjalan mendekat. “Anda kenal mereka?” tanyanya penuh penasaran.
Bima menatap Sekar dengan sorot mata penuh simpati. “Ya, dan saya tahu persis apa yang mereka inginkan darimu. Jika kamu mempercayai saya, saya bisa membantu kalian keluar dari situasi ini.”
Alfan dan Dara saling berpandangan, bertanya-tanya apakah mereka bisa mempercayai pria ini. Sekar pun merasa ragu, tetapi ada sesuatu dalam sorot mata Bima yang membuatnya merasa bahwa ia tulus.
“Baiklah,” kata Alfan akhirnya. “Masuklah. Tapi kami tetap ingin tahu detail tentang siapa saja yang sedang mengincar Sekar dan mengapa.”
Bima mengangguk dan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di kursi yang ditawarkan oleh Dara dan menarik napas dalam, seakan sedang mempersiapkan diri untuk mengungkap rahasia yang berat.
“Organisasi yang mengejar Sekar ini bukan organisasi biasa,” jelas Bima. “Mereka punya jaringan luas, dan mereka mengincar Sekar karena... dia memiliki informasi yang sangat mereka butuhkan.”
Sekar mengernyit, merasa bingung. “Informasi? Saya bahkan tidak tahu apa yang mereka inginkan.”
Bima menatapnya tajam. “Justru itulah yang membuatmu sangat berharga bagi mereka. Ada sesuatu dalam hidupmu, mungkin sesuatu yang tidak kamu sadari, yang mereka butuhkan untuk melanjutkan misi mereka. Dan jika mereka tidak bisa mendapatkannya darimu... mereka tidak akan segan-segan menggunakan cara apa pun.”
Dara menelan ludah, wajahnya tegang. “Apakah itu berarti mereka akan terus mengincar Sekar, apa pun yang terjadi?”
Bima mengangguk pelan. “Ya, dan itulah sebabnya kalian harus sangat berhati-hati. Orang-orang ini tidak akan berhenti hanya karena kita berusaha melawan.”
Alfan mengencangkan rahangnya, rasa marah kembali muncul di dalam dirinya. “Kalau begitu, kita harus mengungkap mereka lebih dulu. Apa pun yang mereka rencanakan, kita harus menghentikannya.”
Bima mengangguk setuju. “Saya akan membantu kalian semampu saya. Tapi ingat, setiap langkah yang kita ambil akan membawa risiko besar. Kita harus selalu waspada.”
Sekar, yang sejak tadi mendengarkan dengan cemas, tiba-tiba merasakan tangan Dara menggenggamnya erat. Dalam hati, ia merasa sedikit lebih tenang, karena tahu bahwa ada orang-orang yang siap berdiri di sisinya, apa pun yang terjadi.
Namun, saat mereka mulai merencanakan langkah berikutnya, suara ketukan lain terdengar di pintu—kali ini lebih keras, bahkan menggema. Mereka semua terdiam, menyadari bahwa ancaman mungkin telah tiba lebih cepat dari yang mereka kira.
Dengan jantung berdebar, Alfan memberi isyarat kepada yang lain untuk tetap diam. Ia melangkah mendekati pintu dan mengintip keluar. Yang dilihatnya membuat darahnya berdesir: sekelompok pria dengan wajah serius dan postur yang mencurigakan berdiri di luar, seakan siap memaksa masuk kapan saja.
Alfan kembali menatap Bima dengan sorot mata tegas. “Kita mungkin harus bertarung lebih cepat dari yang kita rencanakan.”

Komentar Buku (943)

  • avatar
    SusantiSusi

    baguss ceritanya tp kurang lama 🥺🥺

    02/06

      0
  • avatar
    PratamaAzriel

    bagus

    29/08/2025

      0
  • avatar
    Kkkevan

    special

    01/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru