Richard's Ternyata Madame Louisa menghampiriku ke taman. Aku menunduk memberikan hormatku pada wanita ini. Keadaan Madame Louisa juga tal terlalu baik. Aku mengetahuinya setelah beberapa saat kembali kr istana untuk mengawal Pak tua. Perempuan ini bisa saja dijatuhi hukuman berat dengan tuduhan menyembunyikan keturunan raja. Hal yang dilakukannya untuk menolong seorang sahabat. Hukum kadang memang dibuat dengan pertimbangan yang matang, tapi dalam prakteknya, terkadang malah jadi lucu dan tak tepat guna. Tak berperasaan juga. Dia memintaku untuk mengikutinya ke sebuah bangku di teras rumah sakit. Di sini lebih manusiawi dinginnya karena lebih terlindung dari terpaan angin akhir musim gugur. Musim dingin sebentar lagi akan tiba. Entah bagaimana caranya, ingatanku melayang pada Mira; dia yang tahun ini kesulitan menghadapi musim dingin. Berkal - kali mimisan dan pingsan sehingga harus bermalam di rumah sakit. Aku duduk tenang dan diam di samping Madame Louisa. Menunggu apapun yang hendak dikatakannya. Pas ada alasan kan kenapa beliau menyusul. Mana mungkin hanya karena ingin ditemani duduk saja. "Kau pasti berpikir kalau aku adalah Nenek yang paling tega di dunia." Mulainya. “Kenapa anda berpikir begitu?” Tanyaku tak mengerti. “Karena aku lebih membela orang lain daripada cucuku sendiri?” Ah, rupanya masih membicarakan hal yang barusan tadi. Secara garis darah, memang Corrine bukan siapa - siapa Madame Louisa. Madame Milguetta adalah adik dari mendiang Mama Arlaine. Jadi selain Arlaine, cucu madame Louisa hanyalah Mira. Aku diam saja. Lagipula, aku tak tahu harus menanggapi bagaimana. Menyuarakan apa yang ada dalam pikiranku dengan gamblang, tentu saja bukan pilihan yang bijak. Jadi lebih baik aku diam. Mungkin Madame Louisa menangkap sinyalku, dan akhirnya melanjutkan penjelasannya. “Ibunya datang menemui Kakaknya yang saat itu masih amat depresi pasca melahirkan dengan bayi berusia dua tahun. Mereka kurus sekali dan tak terawat. Di beberapa bagian tubuh Milguetta penuh luka lebam. Meskipun begitu, sebanyak apapun aku dan yang lain bertanya, Milguetta tetap bungkam siapa pelakunya. Hingga saat ini, kita semua tak pernah tahu siapa sebenarnya Ayah Corrine.” Ah, benar. Aku kadang lupa tentang Corrine yang tumbuh tanpa Ayah. Masa lalu gadis - gadis ini… lumayan membuat pedih hati. “Beruntung, anak itu tak mendapatkan trauma apapun.” Lagi, Madame Louisa melanjutkan. “Kami merawat mereka dengan sepenuh hati. Milguetta amat ketakutan saat itu. Berkali - kali dalam tidurnya dia berteriak, memohon untuk diselamatkan karena dia takut orang itu akan menemukan mereka. Dia membutuhkan perlindungan, jadi kami memberinya identitas baru. Menyekolahkannya dan akhirnya dia mampu keluar menghadapi dunia sebagai dirinya yang baru.” Usiaku sama dengan Corrine, dan saat aku masuk dan mulai berkontak dengan keluarga istana, usiaku sudah tujuh tahun. Saat pertama kali aku bertemu Arlaine. “Dengan identitas baru, tempat tinggal baru dan pekerjaan baru, Milguetta menjadi semakin stabil. Dia juga bisa menjadi ibu yang baik bagi Corrine, dan membantu Eva membesarkan Arlaine. Kami hidup tenang selama beberapa saat, Corrine pun tumbuh normal, sebelum semua tragedi itu kembali terulang dan membuatnya jadi amat trauma. Kau tentunya sudah tahu sendiri bagaimana detailnya.” Aku mengangguk menyetujuiya. “Bagiku, dia sama seperti Mira dan Arlaine. Dan sebagai manusia, kita tidak bisa selalu tampil sempurna. Corrine juga bisa melakukan kesalahan. Dia bersalah karena tak sensitif dengan keadaan Mira. Tapi menurutku tak selayaknya kita menghakimi dia secara sepihak. Apalagi, dia sudah meminta maaf. Dia benar - benera menyesal, Richard. Dia tak bermaksud begitu pada Mira. Gadis itu menyayangi Mira seperti seorang Kakak menyayangi adiknya sendiri. Saat mendengar tentang Mira akan datang, dia orang pertama yang menyambut ide itu dengan gembira. Selama ini, selain Arlaine, dia tak punya teman sebaya lain. Dia sering dikucilkan karena status orang tuanya. Itu membuat hatiku sakit luar biasa.” *** Setelah mengusir Corrine secara tak langsung tadi, aku sedikit merasakan perasaan bersalah dan tak tenang. Apakah aku yang terlalu sensitive? Ataukah Corrine memang memaksudkannya seperti itu? Aku mendengar suara berisik dari koridor. Tapi terlalu pelan untuk mengidentifikasi suara siapa saja yang ada di sana. Karena terlalu lelah overthinking sendirian, akhirnya aku hanya duduk menatap langit - langit kamar sendirian. Keadaanku cukup lumayan. Aku sudah bisa bangun untuk duduk dan kembali berbaring sendiri. tapi kata dokter, aku mungkin, lagi - lagi, harus belajar berjalan untuk melatih keseimbanganku dan kekuatan otot kakiku karena mereka lumayan lama tak digunakan. Sudah berapa lama, sih aku di sini?! Aku menoleh saat pintu bergeser terbuka. Aku dalam fase tak merasakan emosi apapun barusan. Tapi saat orang tersebut masuk ke dalam kamarku, dinding pertahananku seketika jebol seperti dihantam beton dengan kuat. Aku langsung menangis terisak seperti bocah yang kehilangan mainannya, membuatnya bergegas melangkah dengan langkah kaku menghampiriku. “Cherie…” “Daddy… Hiks.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
15/06/2025
0bagus banget
06/06/2025
0diamond
20/10/2024
0Lihat Semua