Kesadaranku mulai pulih samar - samar. Mataku masih ingin menutup. Di sini terlalu silau dan bising. Tapi mereka belum membiarkanku tertidur lagi. Setiap kali aku memejamkan mata, selalu ada orang yang memanggil dan menepuk pelan pipiku. “Mademoiselle, jangan tidur dulu. Sebentar lagi, Okay?” Suara feminin itu memerintahkan dengan lembut sekaligus tegas di saat yang bersamaan. Aku ingin menjawab. Tapi sesuatu tertanam di mulutku, membuatku susah untuk melakukan hal yang lain selain bernafas dengan teratur dari sana. Mereka masih membicarakan sesuatu, yang aku yakin pasti tentang diriku, tapi aku tak dapat menangkap apapun untuk kupahami. Otakku masih amat berkabut. Yang kuinginkan saat ini hanyalah tidur. Karena badanku terasa luar biasa lelah. Setelah beberapa saat, mungkin karena diganggu terus menerus, kesadaranku kembali meningkat, dan akupun bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. “Ini tak bisa menunggu lagi. Kita harus melakukan operasi secepatnya.” Maksudnya operasiku? Untuk membenarkan sesuatu di jantungku? “Tapi kondisinya baru saja stabil.” Aku? Aku selalu stabil, hei! “Untuk saat ini, masih terlalu beresiko. Tekanan darahnya masih belum normal. Kita dengarkan saran dokter Giuseppe dan kita kita lakukan pengecekan lagi besok. Setelahnya, baru kita putuskan kapan operasinya akan dilakukan.” Operasiku? Yang berarti adalah penentuan hidup dan matiku? Karena kemungkinan keberhasilan amat kecil, dan jika tak berhasil, maka hidupku akan…. Memikirkan hal itu membuat pandanganku jadi semakin mengabur, dan dengung percakapan tenang yang ada di sekitarku mulai meningkat karena panik. Hanya itu yang kuingat sebelum lampu terang yang ada di atasku perlahan menjadi gelap. *** Aku, Cedric, Corrine dan Brigitte menunggu di lorong rumah sakit, di luar kamar Mira dengan hening dan tegang. Tak ada suara apapun yang kami keluarkan. Bahkan kami tak saling berkontak mata. Hanya helaan nafas, dan dongakan untuk memandang pintu kayu berwarna coklat di depan kami yang kami lakukan bergantian di sana yang menunjukkan bahwa kami masih bernafas dan hidup. Pak Tua dan Madame Milguetta sedang berada di dalam. Dari panggilan telepon, kami tahu bahwa Madame Louisa juga sedang dalam perjalanan kemari. Beliau langsung menuju kemari setelah menyelesaikan acara amalnya dari luar kota. Cuaca sedang berangin, menimbulkan beberapa badai di beberapa daerah. Itu sebabnya mereka membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk sampai ke sini. Mira kembali kritis. Beberapa dokter yang bekerjasama melakukan riset dan pemeriksaan untuk penyakitnya bersikeras untuk melakukan operasinya malam ini juga begitu dia sadar dari kondisinya. Tapi Dokter Giuseppe, yang bertanggung jawab atas Mira, menolak hal tersebut karena kondisi Mira masih belum cukup stabil. Beliau meyakinkan mereka untuk menunggu sedikit lebih lama lagi, mungkin besok atau lusa untuk tahu perkembangan selanjutnya. Dan seakan mengamini ucapan dokter Giuseppe, kondisi Mira langsung kembali drop. Membuat semua orang kembali panik. Aku bukan orang yang agamis. Tentu saja aku beragama, hanya saja, aku bukan orang yang rutin datang ke tempat ibadah atau mengingat Tuhan. Tuhan hanya datang di kepala dan hatiku saat aku tak bisa lagi melakukan apapun. Seperti saat ini. Aku terus merapalkan doa - doa yang amat asing di lidahku. Meminta agar Mira segera terbebas dari siksaan ini. Aku merasakan seseorang menyenggol lenganku, membuatku menoleh karena sedikit kaget dan terganggu. Aku sedang sangat khusyuk berdoa di sini. Ternyata Corrine yang entah kapan sudah berganti posisi dengan Brigitte dan sekarang duduk di sebelahku. “Apa?” Bisikanku terdengar amat jelas di lorong tersebut karena suasananya amat sangat sunyi. Bahkan, suara orang berjalan dari lorong samping terdengar keras menggema seperti pukulan palu Thor. “Kau ketakutan.” Balasnya dalam bisikan datar. Seandainya dia bukan Corrine, dan seandainya sekarang ini bukan saat yang amat genting, aku pasti akan berteriak saat menjawabnya. Ketakutan, dia bilang. Apa yang kurasakan lebih dari ketakutan! Seandainya ada frasa lain yang bisa kugunakan selain kata ketakutan, mungkin itulah yang kurasakan sekarang. Takut dan putus asa karena aku tak dapat melakukan apapun untuk melindungi Mira. Bahkan saat ini aku merasa bersalah karena aku masih bernafas dengan gampang, sementara di dalam, Mira harus menggunakan banyak alat bantu hanya untuk melakukan hal sesederhana bernafas. “Ini yang aku maksud kemarin pagi.” Kemarin? Oh, maksudnya tadi pagi?! Aku memeriksa jam tanganku dan terkaget sendiri saat benda itu sekarang menunjukkan jam dua pagi. Sudah selama itu?! “Berhenti bicara omong kosong.” Desahku. “Ini bukan omong kosong, Richard. Saat ini kau masih memiliki kesempatan. Kau harus banyak bersyukur. Kau dengar tadi dokter bilang apa. Saat ini, meskipun kita sedang mengusahakan yang terbaik, tapi kita harus mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk.” "Arrête-toi, stop it.” Aku tidak ingin mendengar apapun tentang hal ini. Kita harus percaya pada usaha kita, bukan? “Tentu saja aku ingin yang terbaik untuk Mira, tapi kadang hal - hal tak berjalan sesuai keinginan kita.” “Stop it, Corrine.” Aku benar - benar tak ingin mendengar hal ini. “Maka dari itu, sekali ada kesempatan, mungkin Mira masih bisa mendengar kita, kenapa tak kau ungkapkan saja apa yang ada di hatimu? Bukankah sesak memendam semuanya sendirian?” Aku langsung berdiri dan berseru padanya, membuat semua yang ada di situ memusatkan fokusnya pada kami. Bahkan Madame Louisa yang masuk dengan tergesa dan wajah berlinang air mata pun berhenti karena mendengar suaraku. “Kalau kau merasa sesak, kenapa tak kau ungkapkan saja perasaanmu pada Villich?! Tak ada yang akan menghalangimu sekarang! Arlaine sudah lama berpulang, mungkin saja dia sudah bisa membuka hatinya dari luka lama. Kenapa kau melampiaskan semuanya padaku?!”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
15/06/2025
0bagus banget
06/06/2025
0diamond
20/10/2024
0Lihat Semua