Richard’s Mira marah besar saat tahu aku gagal pulang kerumah hari ini karena menemaninya seharian. Dia mendengar rencana gagal itu saat Mam menelponku dan menanyakan kenapa aku belum datang juga. DIa mengomel lama sekali. Pipi dan hidungnya memerah karena terlalu lama menangis dan matanya sembab. Tapi entah kenapa justru terlihat sangat menggemaskan di mataku. Dia masih mengomel sampai sekarang, menyuruhku untuk bergegas pulang. “Hei,” Aku menangkap tangannya yang melambai ke segala arah menggambarkan emosinya. “Lalu kau bagaimana? Seenaknya menyuruhku pergi. Daddy mu akan pulang larut, ingat?” “Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Jawabnya angkuh. “Mira, aku tidak bisa meninggalkanmu.” Hening. Kalimat itu tidak salah, tapi keheningan yang mengikuti seakan - akan menyerukan jika kalimat itu kurang tepat. Terlebih karena wajahnya kagetnya yang mendadak pias setelah mendengar kalimatku. S*al! Kenapa semua kalimatku terdengar ambigu kalau diucapkan untuknya?“Aku di sini untuk mengawalmu, okay?” Akhirnya kutambahkan. “Tapi kau sedang cuti.” “Tidak juga. Cedric cuti, ya. Tapi aku hanya ikut pulang ke sini karena kalian ke sini. Jika kalian memutuskan untuk keluar daerah, maka akupun harus ikut ke sana.” Terangku yang dibantah gelengan kuat. “Tidak. Kau sudah lama tidak bertemu keluargamu. Kau bahkan tidak pulang saat natal. Mereka pasti merindukanmu. Kau juga butuh berlibur. Pulanglah.” Dia memaksa. Pemaksaan yang sia - sia karena aku tetap tidak akan kemana - mana. Pak Tua tadi sudah menanyaiku tentang hal ini. Dan aku memutuskan untuk menemani Mira, sehingga Pak Tua bisa ke rumah Si Tua Arnaud untuk bertemu teman - temannya. Hal yang jarang dilakukannya. Jika aku menjawab sebaliknya, Pak Tua itu tidak akan berangkat. Karena Mira tidak boleh dibiarkan sendiri. “Bagaimana kalau kau ikut pulang bersamaku?” Itu satu - satunya solusi yang terpikir olehku. Selain itu, keluar dari rumah ini mungkin bisa memperbaiki suasana hatinya. Jujur saja, dia terlihat kacau saat ini, walaupun dia berusaha kuat menyembunyikannya. Dia tidak menangis lagi, tapi wajahnya terlihat tegang dan pucat. Tangannya gemetaran meskipun dia berkali - kali menyembunyikannya di antara kedua kakinya. Tanpa terduga, dia menggeleng gugup. “Non, ini waktumu dengan keluargamu. Aku tidak ingin mengganggu.” Aku menangkap nada kerinduan di sana. “There’s no such thing. Besides, Mam will be happy to see you in person, finally. Bersihkan dirimu. Aku akan mengabari Ayahmu.” “Richard…” Aku mendorongnya ke kamar mandi dengan cepat, membuatnya tidak punya waktu untuk memproses. Aku mengemasi barangku untuk satu malam, lalu menghubungi Pak Tua. Mengabarkan bahwa Mira akan ada di rumah peternakan bersama keluargaku. Mengatakan padanya untuk tidak khawatir dan menikmati waktunya bersama teman - teman tuanya. Mira masih berusaha menolak ajakanku saat kuminta dia berkemas untuk semalam. Berdalih tidak ingin mengganggu acara keluarga dan semacamnya yang tidak kugubris sama sekali. Karena memang tidak ada hal seperti itu. Aku memang kangen dengan keluargaku, tapi kehadirannya tidak akan menjadi pengganggu. “Cukup bawa untuk semalam saja, dengan begitu, kita punya alasan untuk pulang ke sini besok. Dan Mam tidak memiliki kesempatan untuk menyekap kita lebih lama lagi.” *** Peternakan orang tua Richard tidak begitu besar, menurut ceritanya. Tapi bagiku, ini luas sekali. Kami akhirnya sampai di depan rumah kayu bercat putih yang tidak terlalu besar tapi jelas terawat. Sebenarnya aku benar - benar tidak ingin ikut. Tidak ingin mengganggu bonding time mereka. Ya, aku cukup tau diri untuk tidak terus - terusan menjadi pengganggu, karena faktanya, Richard lama tidak pulang karena aku adalah alasan utamanya. Dia menghabiskan terlalu banyak waktunya untuk menjagaku, dan itu membuatku merasa tidak enak. Kami turun dari mobil dengan ransel di punggung, dan dari pintu depan, seorang wanita tua, hampir seusia Brigitte berlari menyambut dan langsung memeluk putranya dengan pekikan senang. Ibunya Richard memiliki mata dan rambut persis seperti Richard, hanya terlihat lebih lembut. “Perasaan Mam saja atau kau memang terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku melihatmu?” Sapanya saat memeluk Richard, membuatku merasa bersalah. Kuakui, aku memberinya masa sulit selama hampir delapan bulan aku di sini. And he does the same for me. Tapi entahlah, mendengar orang lain mengomentari hasil karya tidak langsungku membuatku tersentil juga. Richard berdecak, terdengar agak jengah tapi senyum bahagia di wajahnya tidak dapat disembunyikan. Dia bahagia bertemu keluarganya. “Mam, aku membawa Mira serta.” Katanya menunjuk kepadaku. Lagi-lagi raut wajah seperti itu. Terkejut, dan seperti sudah mengenalku lama dan akhirnya kini dipertemukan kembali. “Mira?” “Oui, Madame.” Aku mengangguk kikuk memberi salam. “Mon Dieu! Ini benar - benar kau. Tunggu sampai Pap bertemu denganmu…” Lanjutnya dengan nada bicara yang cepat hingga aku sulit mengerti. “Siapa yang bertemu denganku?” Suara berat dari pagar pembatas yang kukira ladang menyela. Seorang laki - laki, sepantaran Daddy? bukan, mungkin lebih tua, mendekat dari arah sana. Aku masih berdiri di samping mobil. Cukup tau diri untuk tidak mengganggu reuni kecil keluarga Richard. Tapi mendadak pria tersebut menoleh dan memandang tepat kearahku, wajahnya menunjukkan kekagetan. “Eva?” “Mira, Pap.” Richard mengoreksi. Aku meliriknya gugup karena pria ini masih terfokus padaku walaupun sudah mendapatkan jawaban. “Bonjour. Saya Mira.” Kataku kikuk karena orang itu belum mau mengalihkan pandangnya hingga beberapa lama. “Cheri, kau menakutinya.” Tegur Ibu Richard. “Maaf.” Kata laki-laki itu akhirnya. “Maafkan aku. Aku hanya terharu dan terlalu senang melihatmu tumbuh dengan baik seperti ini.” Katanya sambil mengulurkan tangan padaku, yang kusambut ragu - ragu. “Oh, mari masuk! Hari ini panas sekali. Dan banyak anak sapi bermain sampai tepi hutan. Pap mengejar mereka sejak subuh tadi.” Ibu Richard membawa kami semua masuk ke dalam rumah. “Semoga kau betah di sini, Cherie. Anggap saja rumahmu sendiri. Richard akan mengantarkanmu ke kamar.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
15/06/2025
0bagus banget
06/06/2025
0diamond
20/10/2024
0Lihat Semua