Richard’s “Mira?” Aku menjentikkan jariku di depan wwajahnya saat mendadak dia terlarut dengan pikirannya sendiri, membuatnya tergagap. “Huh? Ya?” Tentu saja aku tak keberatan memandangi wajahnya saat dia sedang tak memperhatikan seperti tadi. Rambutnya yang kusut dan menutupi sebahian wajahnya, dahinya yang berkerut halus karena berpikir, matanya yang bulat dan jernih, hidung mungilnya, lalu bibirnya yang merah dan sedikit terbuka. Pemandangan yang membuatku seketika mengingat bagaimana rasanya saat bibir itu menempel di bibirku, saat lidahku membelai lembut lidahnya dan membuat Mira melenguh pelan menggoda. Tapi justru karena bayangan itulah aku harus menghentikan diriku sendiri. Karena jika kuteruskan, aku tak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada kami berdua. Apalagi saat ini kami hanya berdua di dalam kamar, dan dia hanya memakai gaun tidur lengan pendek yang terlihat kebesaran di tubuh kecilnya. Aku tahu ini aneh, tapi bagiku, perempuan yang memakai baju kebesaran justru terlihat seksi di mataku. Nah, aku harus benar - benar berhenti. “Kau melamun. Ada yang kau pikirkan?” “Huh? Oh, tidak… tunggu. Kau belum menjawab pertanyaanku.” Dia mengerucutkan bibirnya kesal. “Aku masih memiliki tugas untuk kuselesaikan di sini. Jadi tak mungkin aku meninggalkan posku.” “Tapi Lyn bilang….” “Dia sudah pergi bersama dengan pengawal elite kerajaan yang lain. Dia akan aman.” “Richard…” “Hm?” “Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Apa yang kalian sembunyikan dariku? Kau sering sekali memberitahuku tentang hal - hal yang harus kuketahui di sini dulu. Kenapa sekarang tidak lagi?” “Ah…” Aku melayangkan mataku ke arah lain, tak bisa langsung menjawab pertanyaan Mira tersebut. Ini pertanyaan yang sedikit sulit dijawab. Jika pemilihan kataku salah, Mira akan salah paham padaku. Dan aku tak ingin hal itu terjadi. Hubungan kami sudah cukup renggang akhir - akhir ini sejak kami memasuki istana. Kesibukannya mengikuti pelatihan dan hal - hal yang harus kuselesaikan bersama Pak Tua dan Cedric, membuat kami tak sedekat dulu lagi. Dan aku tak ingin menambah jarak tersebut. “Apakah terjadi sesuatu pada Granny Louisa? Apakah dia…” Suara Mira melemah, wajahnya berkerut dengan mata berkedip cepat untuk menghentikan air mata yang sudah nyaris jatuh di pipinya. “Hell! No! Dia baik - baik saja!” Aku menjawab dengan cepat bahkan tanpa berpikir. Melihatnya sedih seperti itu membuat hatiku tergerak. “Jadi Granny baik - baik saja? Dia masih hidup? Bisakah aku bertemu dengannya Richard? Please?” Aku memaki dalam hati karena dua alasan. Pertama karena aku ceroboh tak memikirkan apa yang keluar dari mulutku, dan yang kedua karena ekspresi memohon yang kulihat di wajah Mira membua pikiranku berkelana liar. Aku mengutuki reaksi tubuhku yang terlalu jujur dan mendamba. memang, sejak kepergian Arlain, aku tak lagi bersama dengan wanita manapun. Dan sejak mengawal Mira, aku juga nyaris tak pernah lagi menyentuh alkohol. Hampir dua tahun aku hidup menyeripai santa, dan mengejutkannya, aku masih hidup bahkan sampai sekarang. Dan lucunya, seseorang yang bisa membuatku kuat menghadapi semua ini adalah seseorang yang juga menjadi kelemahan terbesarku, gadis yang saat ini berada di depanku. Lucu, padahal dulu, aku berpikir bahwa aku tak akan bisa bertahan dengan Mira. Sifatnya yang keras kepala dan lidahnya yang tajam tak bisa kutolelir. Namun apa yang terjadi sekarang? Bahkan satu hari tanpa bertemu dengan gadis kecil ini membuatku tak tenang. Dan aku bilang aku tak memiliki perasaan apa pun pada Mira selain hasrat, rasa penasaran dan keputusasaan karena kehilangan Arlaine? “Richard?” Mataku kembali terfokus pada bibir merah jambu yang sedikit terbuka setelah memanggil namaku dan mata yang memandangku dengan penuh kepolosan dan pertanyaan. Lalu, semuanya terjadi begitu saja tanpa ada peringatan dan tak mampu kami cegah. Aku meraih Mira, menaikkannya ke atas pangkuanku lalu menarik kepalanya turun untuk menunduk dan melumatnya dengan rakus, seolah rasa manis yang kurasakan dari bibirnya adalah sumberk kehidupan yang selama ini aku cari dan butuhkan. Mira jelas kaget. Tubuhnya sedikit menegang pada awalnya, namun lama kelamaan, tubuhnya melemas dan seolah lebur menyesuakan dengan tubuhku yang keras. Dan tepat seperti yang aku perkirakan, sekali aku menyentuh Mira, tak akan cukup hanya satu sentuhan, satu kecupan, dan satu pelukan. Aku ingin lebih. Rasanya seperti rasa haus yang tak hilang meskipun sudah minum banyak sekali. Aku tak bisa berhenti. “Richard…” Suara desahan Mira yang tertahan di mulutku terdengar lirin dan pasrah, sama sekali tak menyurutkan niatku untuk terus menikmati manis bibirnya. Bahkan saat kebutuhan akan oksigen semakin mendesak, aku hanya menggeser bibirku dari bibirnya dan menyusuri lehernya. “Non, belum cukup. I want more,” kataku dengan suara serak yang bahkan tak kukenali sebagai suaraku sendiri. Aku tak tahu sudah berapa lama aku menahan Mira, yang jelas, saat aku tersadar karena suara pekikan Mira, gadis itu sudah berada di bawahku, dengan kancing depan baju tidurnya yang terbuka dan memamerkan pendak kirinya yang telanjang. Bagian atas payudara kirinya ikut menyembul di balik kain penutup tubuhnya, dan aku berada di antara kedua kakinya, menekankan bukti gairahku ke pusat tubuhnya. “Mon Dieu, Mira. Maafkan aku. Kau tak apa?” *** “Mira. Maafkan aku.” Kalimat yang diucapkan Richard tadi pagi terus saja terngiang di kepalaku dengan gaung tak menyenangkan yang membuat kepalaku menjadi pening. Sekarang sudah jam sebelas malam, dan aku sama sekali belum mengantuk. Mataku masih terbuka lebar tanpa ada tanda - tanda untuk mengakhiri hari dan beristirahat. Padahal besok aku harus bersiap untuk kelas pagi bersama JJ, bertemu dengan Granny Louisa, ijin yang entah bagaimana akhirnya kudapatkan dari Richard dan Daddy, sebelum sore harinya harus bersiap untuk jamuan minum teh barsama para putri bangsawan di rumah Mademoiselle Viella. Semoga aku tak salah mengingat namanya. Dia adalah putri Grand Duke satu - satunya, dan merupakan salah seorang yang berpengarih di kerajaan dan pemerintahan. Aku ingat JJ dan Richard bilang aku harus terlihat baik di depannya. Sesuatu yang tak kumengerti karena seharusnya sebagai anak Daddy yang merupakan keturunan langsung dari raja terdahulu, aku lebih punya power. But who am I to argue? Seharian tadi, setelah… wajahku kembali menghangat, diikuti dengan bagian - bagian tubuhku yang lain, dan berakhir dengan gelenyar yang berjedur mendamba di antara kedua pahaku saat mengingata pa yang terjadi tadi pagi. Tentu saja aku dan Richard pernah berciuman sebelumnya. Dan saa aku bilang ciuman, itu bukanlah sekedar krcupan, melainkan ciuman intense yang bisa membuat organ dalam kita mendadak berubah menjadi cair dan meleleh. Namun yang tadi pagi… bahkan ciuman pertama kami rasanya tak sedahsyat itu. Dan aku malu mengakui bahwa aku menikmatinya, aku sedikit kecewa saat itu berakhir. Terlebih saat Richard malah meminta maaf. Rasanya seperti kami baru saja melakukan kesalahan yang fatal. “Mungkin baginya itu memang kesalahan fatal.” Aku bergumam sendu. Meringis saat kurasakan tusukan nyeri di dadaku. “I’m in a great danger. Sepertinya aku benar - benar jatuh cinta pada pria yangsama sekali tak memandangku sebagai perempuan.” tapi dari caranya menciumku, apakah dia benar - benar tak tertarik padaku? Apakah itu tak bisa dijadikan tolok ukur? Aku mendengar bagian lain dari diriku bertanya, menuntut. Namun akal sehat dan rasa defensif yang saat ini sedang menguasaiku tak membiarkanku melihat hal itu dari sisi yang lain. Pria mana yang tak akan menyerah jika disuguhi seorang wanita yang penurut? Apalagi setelah kematian Arlaine, Richard hanya terjebak denganku saja, dan tak lagi bertemu dengan wanita lain. Dia bahkan tak bisa kembali ke kehidupannya yang sebelumnya karena aku. Jadi wajar saja jika dia kehilangan kontrol atas dirinya dan kemudian… yah, terjadi begitu saja. Itu sama sekali bukan tanda apa pun. Aku berguling ke samping dan mengangkat lututku ke dada, menggulung diriku sendiri saat dadaku terasa semakin sesak menyadari kenyataan itu. “Apakah bersamaku terlalu mengerikan baginya sampai harus meminta maaf? Bukankan mereka bilang cinta itu indah? Lalu kenapa rasanya sesakit ini? Mama…” Aku menutup mataku saat air mataku mengalir tak terbendung. Rasanya sakit dan sesak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
15/06/2025
0bagus banget
06/06/2025
0diamond
20/10/2024
0Lihat Semua